News

Ferdinand Hutahaean Kecam Peristiwa Pemenggalan Kepala WN Perancis

Menurut Ferdinand, baik aksi pelecehan agama yang dilakukan Presiden Perancis hingga berujung pada pemenggalan kepala WN Perancis adalah perbuatan terkutuk


Ferdinand Hutahaean Kecam Peristiwa Pemenggalan Kepala WN Perancis
Ferdinand Hutahaean menyampaikan, dalam debat capres-cawapres putaran kelima, Prabowo-Sandi bakal fokus dan memberi perhatian serius pada kesejahteraan sosial dan ekonomi. (AKURAT.CO/Rizal Mahmuddin)

AKURAT.CO, Direktur Eksekutif EWI Ferdinand Hutahaean rupanya juga tuut mengecam sikap Presiden Prancis, Emmanuel Macron yang dianggap menyudutkan Agama Islam. 

"Saya mengecam pelecehan agama Islam atas penayangan karikatur nabi Muhammad SAW di Prancis. Kebebasan tak boleh menyakiti siapapun," kata @FerdinandHaeab3 di Twitter, Kamis (29/10/2020).

Ferdinand Hutahaean juga mengutuk pelaku pembunuhan keji, pemenggalan kepala warga Prancis yang dilakukan atas nama membela agama.

"BELASUNGKAWA BAGI KELUARGA KORBAN!" tulisnya.

Sebelumnya, pegiat media sosial sekaligus politikus Partai Amanat Nasional Mustofa Nahrawardaya mengecam sikap Presiden Prancis, Emmanuel Macron yang dianggap menyudutkan Agama Islam.

"Yth @FranceJakartaID saya mengutuk perilaku negeri Anda menghina Nabi Muhammad SAW, junjungan kami Umat Islam SEDUNIA," kicau Mustofa menggunakan akun Twitter @TofaTofa_id dikutip Akurat.co, Kamis (29/10/2020).

Mustofa berharap Macron meminta maaf kepada umat Islam. Dia menuturkan, dalam hukum Islam orang yang mengina Nabi Muhammad akan mendapat hukuman mati.

"Tapi negeri kami tak menerapkan hukum Islam. Jadi, Anda beruntung," kata dia.

Sebagaimana diketahui, Presiden Prancis dianggap telah menghina Islam setelah menyebutnya sebagai agama yang mengalami krisis di seluruh dunia.

Kemudian sikap Macron terhadap Islam, seperti penerbitan ulang karikatur yang menghina Nabi Muhammad SAW, dan proyeksi karikatur-karikatur tersebut di dinding bangunan, memicu boikot produk Prancis di beberapa negara termasuk Qatar, Kuwait, Aljazair, Sudan, Palestina, dan Maroko.

Kejadian ini bermula saat seorang guru bernama Samuel Paty menunjukkan gambar kartun yang menghina Nabi Muhammad di kelasnya. Ia lantas tewas dipenggal seorang pengungsi Chechnya berusia 18 tahun dalam perjalanan pulang dari sekolah tempat dia mengajar.

Insiden ini berbuntut panjang. Gelombang unjuk rasa terjadi di Prancis untuk mendukung Paty, sedangkan otoritas bertindak keras terhadap Islam, mulai dari menutup sebuah masjid, menggerebek sejumlah bangunan hingga menangkap setidaknya 15 orang.[]

Bayu Primanda

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu