Lifestyle

Faktor-faktor yang Pengaruhi Cita-cita Anak

Faktor-faktor yang Pengaruhi Cita-cita Anak
Ilustrasi anak di bangku Sekolah Dasar (SD) (PR and Communication SOS Children's Villages Indonesia)

AKURAT.CO, Setelah menjadi bintang terkenal, Penyanyi Isyana Sarasvati dan aktor Reza Rahardian, mengaku bahwa karier yang mereka tekuni saat ini bukan sesuatu yang mereka cita-citakan saat mereka masih kecil. 

Isyana Sarasvati mengaku, waktu kecil saat berada di bangku SD, dirinya bercita-cita menjadi maestro.

"Waktu kecil kalau yang lain cita-citanya dokter, guru atau pilot. Aku cita-citanya jadi maestro yang mengkondektur jalannya orkestra," ujar Isyana Sarasvati dalam Peluncuran Kompetisi Bintang SMA 2021 Pocari Sweat melalui daring, pada Kamis, (2/9).

baca juga:

"Karena ibu dulu musisi, dulu waktu kecil sering diajak orangtua menonton orkestra terus pas melihat konduktor dari belakang keren tanganya arahin (pemain musik). Jadi, pengen menjadi maestro," sambungnya.

Tak hanya Isyana, ternyata Reza Rahardian juga mengaku bahwa dirinya dahulu tak bercita-cita menjadi aktor. Justru dirinya bercita-cita menjadi pilot. 

"Dulu waktu SD, cita-citanya jadi pilot. Karena dulu ibu juga pernah bekerja di penerbangan dan sering dibawa ke pameran Airshow," kata Reza Rahardian di kesempatan yang sama.    

Ternyata, apa yang dialami oleh Isyana dan Reza juga dipaparkan dalam handbook ditulis Yulianti Siantayani yang dicetak oleh Direktorat Pembinaan Aanak Usia Dini dari Kemendikbudristek, berjudul "Memahami Cita-cita Anak" (2011). 

Dalam handbook ini, dijelaskan bahwa cita-cita anak tebentuk disebabkan oleh tiga faktor, yakni latar belakang pendidikan ibu dan bapak, contoh ibu bapak dan pola asuh. 

Latar belakang orangtua

Latar belakang orangtua cukup berpengaruh dalam mendidik anak. Sebab, Ayah dan Bunda akan memberikan pengetahuan secara sederhana kepada anaknya seperti apa pekerjaan yang mereka jalani.

Misalnya, meski Ayah dan Bunda hanya menjadi petani, orangtua berharap agar kelak anaknya tidak menjadi petani. Bahkan, kalau bisa lebih baik. 

Kalau tetap menjadi petani, tentunya petani modern yang menggunakan teknologi dalam menggarap sawah.

Contoh dari orang di sekitar anak

Orangtua adalah panutan anak-anak di rumah. Orangtua menjadi contoh yang pertama dan utama. Misalnya, Ayah yang bekerja di kantor, memberikan contoh dari sisi penampilan, kata-kata, sikap, dan karakter yang menunjang profesi tersebut. Anak pun mendapat gambaran laki-laki atau wanita yang bekerja di kantor. 

Mungkin di rumah terdapat kakek atau nenek yang berprofesi sebagai guru. Penampilan seorang guru berbeda dengan penampilan pekerja kantor. Penokohan yang berbeda ini dapat diamati anak dengan jelas berikut perilaku, kata-kata dan karakter yang mengikutinya sehingga anak bisa bercita-cita jadi kerja kantoran atau guru karena mengikuti perilaku dan karakter orangtua di rumahnya

Pola asuh 

Sehubungan dengan cita-cita anak, biasanya orangtua memberikan pengertian sederhana tentang peran-peran yang ada di lingkungan mereka. 

Misalnya,saat anak melihat polisi di jalan, anak akan bertanya siapa polisi. Setelah orangtua menjelaskan apa itu polisi, anak ingin menjadi polisi.

Contoh lain, ketika ada orangtua yang menggunakan pola asuh seperti menghafalkan Al-Qura'an sejak kecil karena dorongan orangtua ingin anaknya menjadi penghapal Al-Qur'an, lambat laun anak akan mau dan bercita-cita ingin menjadi penghapal Al-Qur'an.[]