Ekonomi

Faisal Basri: Pemerintah Masih Ngotot Impor Beras yang Jadwalnya Sudah Disusun

Faisal Basri: Pemerintah Masih Ngotot Impor Beras yang Jadwalnya Sudah Disusun
Ekonom Universitas Indonesia (UI), Faisal Basri (AKURAT.CO/Rizal Mahmuddhin)

AKURAT.CO Ekonom INDEF, Faisal Basri mengkritisi pernyataan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi terkait kebijakan impor beras 1 juta ton.

Menurut Faisal meski tak ada impor saat panen raya, namun Mendag tetap mempertimbangkan stok cadangan beras pemerintah (CBP) Bulog yang dinilai semakin menipis.

"Berarti masih ngotot impor beras 1 juta ton yang jadwalnya sudah disusun," kata Faisal Basri dikutip dari cuitan twiiternya, Minggu (21/3/2021).

baca juga:

Mendag Lutfi sendiri mengatakan, usulan impor beras sebanyak 1 juta ton melalui Bulog didasarkan antisipasi terhadap stok CBP yang kian menipis.

Sebagai informasi, Bulog menyimpan CBP sebanyak 800 ribu ton. Namun dari jumlah tersebut, 300 ribu ton di antaranya berasal dari stok beras impor 2018 yang telah mengalami penurunan mutu dan seluruhnya berpotensi tak bisa dilepas ke pasar.

Untuk itu Mendag mengestimasikan CBP yang disimpan Bulog tak mencapai 500 ribu ton. Padahal, menurutnya untuk menjamin stabilitas harga, setidaknya Bulog membutuhkan cadangan 1 juta ton dengan perkiraan pelepasan beras untuk operasi pasar 80 ribu ton per bulannya.

"Jadi hitungan saya, stok akhir Bulog yang kira-kira 800 ribu itu dikurangi stok yang berasal dari impor 2018 itu 300 ribu, berarti Bulog itu stoknya seperti bisa dihitung hanya mungkin tidak capai 500 ribu," ucap dia saat konfrensi pers virtual, Jumat (19/3/2021).

Di sisi lain, serapan beras Bulog dari petani juga masih rendah dengan awal Januari hanya menyerap sebanyak 85 ribu ton gabah petani. Meski bakal meningkat jelang panen raya, namun mendag tetap mengantisipasi serapan gabag Bulog jika tak maksimal karena ada ketentuan kualitas gabah yang bisa diserap dari petani.

Prabawati Sriningrum

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu