News

Fadli Zon Apresiasi Nelayan Aceh Selamatkan Muslim Rohingya: Inilah Pengamalan Pancasila


Fadli Zon Apresiasi Nelayan Aceh Selamatkan Muslim Rohingya: Inilah Pengamalan Pancasila
Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon. (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon apresiasi masyarakat Aceh Utara menyelamatkan Muslim etnis Rohingya yang terkatung-katung di tengah laut, akibat kapal motor yang ditumpanginya rusak.

Fadli menilai, sikap warga Aceh Utara merupakan bentuk pengamalan Pancasila, khususnya sila kedua.

"Terpujilah rakyat Aceh yang menyelamatkan pengungsi Rohingya, meskipun ada penentangan dari aparat setempat. Inilah pengamalan sila kedua Pancasila : “Kemanusiaan yang adil dan beradab”." kicau Fadli menggunakan akun Twitter @fadlizon, Sabtu (27/6/2020).

Selain Fadli, International Concern Group for Rohingya (ICGR) turut menyampaikan apresiasi terhadap tindakan nelayan Aceh.

"Tindakan Panglima Laot (lembaga adat laut) dan nelayan Aceh patut diapresiasi yang telah menyelamat 94 pengungsi Rohingya," kata General Secretary ICGR Muhammad Adli Abdullah PhD dilansir Akurat.co dari antara, Sabtu (27/6/2020).

Pada Kamis (25/6), warga dan nelayan Aceh mengevakuasi etnis Rohingya ke daratan Pantai Lancok, Kecamatan Syamtadira Bayu, Aceh Utara. Setelah beberapa hari sebelumnya nelayan Aceh membantu mereka merapat ke Pantai Seneudon, Aceh Utara.

Menurut Adli, banyaknya pengungsi Rohingya ke beberapa negara tetangga merupakan pesan kepada pemimpin ASEAN bahwa perlunya untuk menekan Pemerintah Myanmar agar mengakui hak kewarganegaraan serta hak asasi etnis Rohingya di Myanmar.

ASEAN dianggap perlu mengangkat kembali isu Rohingya dalam pertemuan pemimpin ASEAN ke 36 yang dilakukan melalui telekonferensi, agar tidak hanya membahas soal kerja sama regional mengatasi COVID-19, tetapi juga perlu membahas isu nasib pengungsi Rohingya.

"Karena permasalahan pembersihan etnis atau ethnic cleansing yang dilakukan Pemerintah Myanmar sudah sangat mengganggu stabilitas keamanan regional Asia dan negara tetangga lainnya," kata Adli.

Lebih lanjut, kata dia, negara-negara ASEAN telah sewajarnya meletakkan sikap bersama terhadap isu Rohingya, agar tindakan biadab Pemerintah Myanmar segera berakhir.

"Saya melihat ASEAN tidak melakukan tindakan yang secukupnya untuk menekan Myanmar yang juga anggota ASEAN untuk menghentikan tindakan biadab," katanya.

Menurut Adli, telah banyak pertemuan dan persidangan yang membicarakan isu etnis Rohingya, tetapi belum ada juga jalan penyelesaian yang konkrit untuk menyelesaikan persoalan Rohingya, sehingga akibatnya pengungsi terus membanjiri sejumlah negara tetangga.

Saat dievakuasi jumlah etnis Rohingya yang terdampar terhitung berjumlah 94 orang, namun setelah diverifikasi data ulang, ternyata mereka berjumlah 99 orang.

Diantaranya 17 orang laki-laki dan 49 orang perempuan dewasa, serta 33 orang masih anak-anak dan balita. Saat ini mereka mengungsi di penampungan sementara yakni di bekas Kantor Imigrasi Lhokseumawe di Peuntet, Kota Lhokseumawe.[]