News

Facebook Bakal Setop Teknologi Pengenalan Wajah Otomatis di Foto dan Video, Ada Apa?

Teknologi itu disebut-sebut telah mengumpulkan data 1 miliar wajah orang.


Facebook Bakal Setop Teknologi Pengenalan Wajah Otomatis di Foto dan Video, Ada Apa?
Facebook masih akan menggarap teknologi pengenalan wajah dan bisa saja menggunakannya dalam produk-produknya, mulai dari jejaring sosial hingga kacamata pemotret futuristik di masa depan. (Forbes)

AKURAT.CO, Facebook mengumumkan pada Selasa (2/11) kalau teknologi pengenalan wajah yang dapat mengenali orang secara otomatis di foto dan video yang diunggah di media sosial tersebut akan dihapus. Rencana ini menandai perubahan besar untuk perusahaan yang diketahui mengumpulkan banyak data dari miliaran penggunanya tersebut.

Dilansir dari CNN, perusahaan yang namanya berubah menjadi Meta pada akhir Oktober itu juga mengatakan akan menghapus data yang telah dikumpulkan melalui penggunaan perangkat lunak ini. Teknologi itu disebut-sebut telah mengumpulkan data 1 miliar wajah orang.

Rencana ini diumumkan dalam unggahan blog yang ditulis wakil presiden bidang kecerdasan buata, Jerome Pesenti. Facebook sendiri tengah diselidiki atas potensi bahaya terhadap dunia nyata dari platform media sosialnya usai ada yang melapor bocornya ratusan dokumen internal.

Menurut unggahan Pesenti, sistem pengenalan wajah akan disetop dalam beberapa pekan mendatang. Namun, Facebook masih akan menggarap teknologi pengenalan wajah dan bisa saja menggunakannya dalam produk-produknya, mulai dari jejaring sosial hingga kacamata pemotret futuristik di masa depan.

"Ke depannya, kami masih memandang teknologi pengenalan wajah sebagai perangkat yang ampuh, misalnya, untuk memverifikasi identitas atau mencegah penipuan dan peniruan identitas," tulis Pesenti.

Di sisi lain, ia juga prihatin terhadap kelayakan teknologi tersebut yang semakin banyak dipakai, tetapi nyaris tanpa regulasi, setidaknya di Amerika Serikat (AS).

"Kita perlu mempertimbangkan sisi positif penggunaan fitur pengenalan wajah di tengah kekhawatiran masyarakat yang berkembang, terutama karena regulator belum memberikan aturan yang jelas," sambungnya.

Penghentian penggunaan perangkat lunak dan penghapusan data ini menandai perubahan besar bagi Facebook. Pasalnya, jejaring sosial itu telah menjadi pengguna utama sekaligus pendukung teknologi ini.

Selama bertahun-tahun, para pengguna Facebook dapat memilih pengaturan pengenalan wajah yang secara otomatis menandai mereka dalam foto dan video. Fitur itu pun sangat menguntungkan Facebook lantaran memudahkan pengguna dalam saling berinteraksi, sehingga mereka menghabiskan lebih banyak waktu di Facebook. Menurut unggahan Pesenti, lebih dari sepertiga pengguna aktif harian, atau lebih dari 643 juta orang, telah memilih pengaturan otomatis ini.

Di sisi lain, perangkat lunak pengenalan wajah ini penuh dengan kontroversi atas akurasi dan bias rasialnya. Misalnya, teknologi tersebut terbukti kurang akurat saat mengidentifikasi orang dengan kulit berwarna. Sejumlah pria kulit hitam pun jadi korban salah tangkap akibat penggunaan teknologi pengenalan wajah ini.

Meski belum ada undang-undang nasional yang mengatur penggunaan teknologi tersebut, semakin banyak negara bagian dan kota di AS mengeluarkan aturan mereka sendiri untuk membatas, bahkan melarang penggunaannya.

Menurut Woodrow Hartzog, seorang profesor hukum dan ilmu komputer di Norteastern University, keputusan tersebut merupakan kemenangan yang menunjukkan perlunya advokasi privasi dan adanya kritik berkelanjutan terhadap perusahaan teknologi itu.

"Ini juga menunjukkan bahwa teknologi ini tak bisa dihindari, tetapi juga tidak diperlukan," ungkapnya. []