Ekonomi

Eskalasi Dengan Israel Terus Meningkat, Bagaimana Keadaan Ekonomi Palestina ?

Dengan konflik yang terlah berlansung puluhan tahun, nyaris ekonomi Palestina tak pernah stabil.


Eskalasi Dengan Israel Terus Meningkat, Bagaimana Keadaan Ekonomi Palestina ?
Tentara Israel menangkap demonstran yang membawa bendera Palestina saat aksi protes di Tepi Barat, Selasa (1/9/2020). Warga Palestina melakukan aksi protes terkait pemukiman Yahudi di desa Jbarah, Tepi Barat yang diduduki Israel. (REUTERS/Raneen Sawafta)

AKURAT.CO Eskalasi serangan Israel terhadap Palestina menjadi sorotan dunia baru-baru ini. Dengan konflik yang terlah berlansung puluhan tahun, nyaris ekonomi Palestina tak pernah stabil.

Saat ini wilayah Palestina hanya menyisakan Jalur Gaza dan Tepi Barat, dengan sebagian wilayahnya  dikuasai Israel. Selain dari donasi asing, warga Palestina menggantungkan hidup dengan bekerja di sejumlah lahan industri, pertanian, dan perkebunan, serta sektor konstruksi, dimana banyak perusahaan milik orang Israel.

World bank dalam laporannya menyebut Ekonomi Palestina berada dalam situasi yang sangat sulit pada tahun 2020 hingga 2021. Palestina sendiri menghadapi tiga krisis yang parah saat ini  wabah COVID-19 yang muncul kembali, perlambatan ekonomi yang parah serta konflik dengan Israel yang makin parah.

Direktur Bank Dunia untuk Tepi Barat dan Gaza, Kanthan Shankar mengatakan Ekonomi Palestina mungkin mengalami kontraksi sebesar 11,5% pada tahun 2020 sebagian karena pandemi Covid-19, menurut Bank Dunia.

Pandemi virus corona memperburuk prospek ekonomi Palestina yang telah menderita defisit fiskal yang terus-menerus dan tingkat pengangguran yang tinggi.

"Selain itu Penolakan Otoritas Palestina antara Mei dan November untuk menerima pajak yang dikumpulkan oleh Israel atas nama Palestina , dan penurunan 20% dalam bantuan berkontribusi pada kesenjangan fiskal melebihi US$1 miliar," kata Sunkar melansir dari Bloomberg, Jumat (14/5/2021).

Selain itu pada tahun 2020 beberapa sumbagan donatur juga berkurang sehingga semakin mencekik ekonomi Palestina yang selama ini mengandalkan bantuan asing. Selain itu Israel telah melarang berbagai kegiatan impor di jalur Gaza sehingga semakin memperparah keadaan negara tersebut.

Bank dunia juga mengatakan banyak warga Palestina yang hidup digaris kemiskinan dengan tingkat kemiskinan 27,5%, dengan  antara lain sebesar 30% di Tepi Barat dan 64% di Jalur Gaza.

Bank dunia juga  mengatakan pengangguran di Tepi Barat mencapai 18,2% dan 48,5% di Gaza yang terpukul parah. Angka pengangguran ini sangat mengkhawatirkan, jauh di bawah rata-rata negara kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara.

"Minimnya kemajuan menuju perdamaian dan rekonsiliasi terus menciptakan situasi ekonomi yang tidak berkelanjutan di wilayah Palestinam," kata Shankar.[]