Ekonomi

Erick Thohir Tutup 70 BUMN, Nasib Karyawan Gimana?

Menteri Erick Thohir mengaku telah menutup 70 BUMN, namun ia memastikan tidak akan mengurangi jumlah karyawan


Erick Thohir Tutup 70 BUMN, Nasib Karyawan Gimana?
Erick Tohir saat mendatangi Istana, Senin (21/10/2019). (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO, Menteri BUMN Erick Thohir mengaku telah menutup 70 perusahaan pelat merah yang sudah lama tidak beroperasi. 

"Kami sudah tutup 70 BUMN," jelasnya dalam Orasi Ilmiah bertajuk "Globalization and Digitalization: Strategi BUMN Pasca Pandemi" di Universitas Brawijaya, Malang, Sabtu (27/11/2021).

Erick Thohir menuturkan, 70 BUMN yang ditutup merupakan perusahaan yang sudah tidak beroperasi dari 2008. Perusahaan itu tidak mungkin lagi dipertahankan karena terjadi pemborosan.

"Kalau ada BUMN yang sudah tidak beroperasi dari 2008, ya harus ditutup karena itu realita, dan tidak mungkin terjadi pemborosan kalau memang BUMN-nya sendiri tidak lagi kompit," terangnya. 

Lebih lanjut, Erick Thohir menegaskan bahwa tidak menutup kemungkinan akan ada langkah lanjutan dari penutupan BUMN yang tidak beroperasi. Meski demikian, ia menjelaskan bahwa tidak akan ada pengurangan karyawan atas penutupan BUMN.

Ia mengungkapkan, nantinya karyawan justru akan dikonsolidasikan ke perusahaan lainnya.

"Kita tidak melakukan lay off (pengurangan karyawan), tetapi jobdesk ditambahkan. Tadinya dia berada di kantor, harus keluar sebagai sales," tukasnya.

Sebagai informasi, sebelumnya, Erick Thohir menargetkan perusahaan-perusahaan pelat merah mampu mencetak laba bersih total Rp46 triliun hingga akhir tahun 2021. 

Ia mengatakan sepanjang semester I-2021 seluruh BUMN membukukan laba bersih konsolidasi sekitar Rp26 triliun. Angka itu jauh lebih baik dibandingkan sepanjang 2020, BUMN hanya mengantongi laba bersih sebesar Rp13 triliun. 

“Insyaallah satu tahun ini bisa Rp46 triliun,” ujarnya dalam acara seminar daring di Jakarta, Selasa (23/11/2021) lalu.

Erick Thohir mengungkapkan, perbaikan kinerja di tahun ini tak lepas dari upaya efisiensi dan perbaikan manajemen di perusahaan-perusahaan BUMN. Salah satunya yang dilakukan yakni penggabungan Pelindo I-IV. 

Menurutnya, penggabungan Pelindo memberikan pengaruh positif bagi perkekonomian Indonesia. Sebab, selain bisa menekan biaya logistik, juga dapat meningkatkan kegiatan ekonomi di sekitar area pembangunan pelabuhan-pelabuhan baru. 

Selain itu, diyakini akan meningkatkan kontribusi Pelindo kepada pendapatan negara melalui dividen dan pajak sejalan dengan meningkatkan profitabilitas perseroan. 

“Karena tentu saja kita harus membantu Kementerian Keuangan, di mana saat ini tidak mungkin pemerintah hanya mengandalkan pajak, maka kami terus tekankan efisiensi yang ada di BUMN,” jelas Erick Thohir. 

Di sisi lain, penggabungan itu menjadikan Pelindo sebagai operator terminal peti kemas terbesar ke-8 di dunia dengan total peti kemas sebesar 16,7 juta TEUs. Ini sekaligus membuka peluang untuk Pelindo go global. 

Erick Thohir pun berharap, dengan adanya perbaikan-perbaikan yang dilakukan di perusahaan-perusahaan pelat merah akan semakin meningkatkan kontribusinya kepada negara sehingga dampaknya turut dirasakan masyarakat. 

Tahun ini kita sudah lakukan perbaikan di sana-sini, dan tentu memberikan hal yang positif agar pemerintah punya pendapatan baru sehingga program pemerintah untuk rakyat bisa dijalankan dengan baik,” jelasnya.[]