Ekonomi

Erick Ingin Pabrik HSM 2 Krakatau Steel Wujudkan Kemandirian Industri Baja Nasional

Erick Thohir berharap mulai beroperasinya pabrik Hot Strip Mill (HSM) 2 PT Krakatau Steel (Persero) Tbk wujudkan kemandirian industri baja nasional.


Erick Ingin Pabrik HSM 2 Krakatau Steel Wujudkan Kemandirian Industri Baja Nasional
PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) meluncurkan logo baru setelah sekian lama menggunakan logo berbentuk ladle (wadah peleburan besi dalam proses produksi baja) warna merah yang menjadi ciri khasnya selama 50 tahun. (Dokumentasi: Istimewa/Krakatau Steel)

AKURAT.CO, Menteri BUMN Erick Thohir menyatakan mulai beroperasinya pabrik Hot Strip Mill (HSM) 2 PT Krakatau Steel (Persero) Tbk dan diharapkan mampu memenuhi kemandirian industri baja nasional.

“Dengan beroperasinya pabrik HSM 2 Krakatau Steel mampu memenuhi kebutuhan baja dalam negeri sehingga akan mewujudkan kemandirian industri baja nasional. Hal ini akan berkontribusi terhadap penghematan cadangan devisa negara mencapai Rp29 triliun,” ujar Menteri BUMN Erick Thohir dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (18/5/2021).

Krakatau Steel pada Senin malam (17/5) berhasil produksi perdana Hot Rolled Coil (HRC) dari pabrik HSM 2 yang berkapasitas 1,5 juta ton per tahun. Pabrik dengan investasi 521 juta dolar AS ini merupakan pabrik baja yang menggunakan teknologi terbaru dan tercanggih yang mulai dibangun pada 2016.

Pabrik ini menghasilkan produk HRC dengan spesifikasi tertentu antara lain untuk kebutuhan otomotif. Pabrik tersebut mampu menghasilkan ketebalan HRC 1,4- 16 mm dengan lebar mulai dari 600-1.650 mm.

“Pabrik ini adalah pabrik dengan teknologi dan sistem terbaru yang memiliki tingkat efisiensi lebih tinggi. Total penghematan biaya operasional bisa mencapai 25% dari pabrik HSM pada umumnya karena penurunan konsumsi energi dan penggunaan tenaga kerja yang lebih optimal,” kata Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim.

Melalui pabrik HSM 2 ini, kapasitas produksi HRC Krakatau Steel bertambah menjadi 3,9 juta ton per tahun sehingga dapat menekan impor HRC yang mencapai 0,9 - 1,9 juta ton per tahun, sedangkan kebutuhan baja HRC nasional mencapai 4,8 - 5,3 juta ton per tahun.

“Atas dasar data tersebut, artinya kebutuhan HRC sudah dapat dipenuhi oleh pabrikan dalam negeri,” ujar Silmy Karim.

Pabrik baru ini sudah disiapkan untuk mengantisipasi peningkatan kapasitas produksi sampai dengan 4 juta ton per tahun sehingga dalam pengembangannya nanti investasi yang dibutuhkan lebih rendah dibandingkan dengan investasi pabrik kompetitor di dalam dan luar negeri.

Penyelesaian pembangunan pabrik ini yang semula direncanakan beroperasi pada awal tahun 2020 sempat tertunda karena adanya pandemi Covid-19. Kendala yang dihadapi saat itu adalah pada tahap commissioning dikarenakan kesulitan dalam mendatangkan teknisi dari luar negeri. Pabrik HSM 2 ini dibangun oleh konsorsium bersama SMS Group Jerman dan PT Krakatau Engineering.

“Kita bersyukur akhirnya proyek HSM 2 ini bisa selesai karena dengan dioperasikannya pabrik ini akan semakin memperbaiki kinerja Krakatau Steel, terlebih saat ini terjadi peningkatan harga baja dunia pada enam bulan terakhir,” jelas Silmy.[]

Prabawati Sriningrum

https://akurat.co