Ekonomi

Erick Bocorkan Biang Kerok Krisis Keuangan Garuda Indonesia

Menteri Erick beberkan penyebab krisis keuangan garuda Indonesia, selain pandemi Covid-19 yaitu penyewa pesawat atau lessor


Erick Bocorkan Biang Kerok Krisis Keuangan Garuda Indonesia
Menteri BUMN Erick Thohir saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi VI di Nusantara I, Kompleks Parlemen MPR/DPR-DPD, Senayan, Jakarta, Rabu (20/1/2021). (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengungkapkan beberapa alasan yang menyebabkan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk dalam kondisi keuangan yang terpuruk saat ini. 

Ia menyebutkan bahwa selain karena terpengaruh pandemi Covid-19, persoalan lainnya adalah terkait penyewa pesawat atau lessor. Katanya, saat ini Garuda Indonesia bekerja sama dengan 36 lessor yang sebagian terlibat dalam tindakan koruptif dengan manajemen lama. 

"Sejak awal kami di Kementerian (BUMN) meyakini, bahwa memang salah satu masalah terbesar di Garuda mengenai lessor. Lessor ini harus kami petakan ulang, mana saja yang masuk kategori dan bekerja sama di kasus yang sudah dibuktikan koruptif," jelas Erick dalam rapat dengan Komisi VI DPR RI, Kamis (3/6/2021). 

Ia menerangkan pemetaan itu diperlukan untuk mengetahui lessor yang bertindak 'nakal' guna dilakukan negosiasi yang tepat. Namun di sisi lain,

Erick meyakini sejumlah lessor juga telah bekerja sama dengan jujur. Kendati demikian, harga penyewaan pesawat yang dipatok oleh lessor sekalipun tidak terlibat koruptif, terasa tetap mahal di kondisi saat ini. Sehingga, negosiasi pada tipe lessor ini juga diperlukan.  

"Kami juga mesti jujur, ada lessor yang tidak ikutan dengan kasus itu, tetapi pada hari ini kemahalan karena ya kondisi. Itu yang kami juga harus negosiasi ulang. Nah beban terberat saya rasa itu," tegasnya. 

Dalam kesempatan itu, Erick juga menambahkan penyebab lainnya adalah bisnis model Garuda Indonesia. Menurutnya, seharusnya maskapai pelat merah itu mengubah bisnis modelnya dengan fokus pada pasar penerbangan domestik. 

Hal ini didasari pula pada data kepariwisataan nasional, dimana 78% perjalanan yang dilakukan merupakan turis domestik, sedangkan 22% lainnya adalah turis asing. 

Dia mengatakan tingginya penerbangan domestik tersebut dikarenakan kondisi geografis Indonesia adalah negara kepulauan. Sehingga, salah satu akses melakukan perjalanan antarpulau yakni dengan penerbangan.