Rahmah

Eny Retno Yaqut Imbau KUA Turun Gunung Cegah Perkawinan Anak

Eny Retno Yaqut Imbau KUA Turun Gunung Cegah Perkawinan Anak
Eny Retno Yaqut meminta KUA cegah perkawinan anak (Dok. Kemenag)

AKURAT.CO Penasihat Dharma Wanita (DWP) Kementerian Agama Eny Retno Yaqut memberikan arahan dalam seminar "Cegah Kawin Anak" di Surabaya, Senin (6/2). Hal itu untuk mencegah adanya perkawinan anak di usia dini.

Dalam acara tersebut hadir, yaitu Dirjen Bimas Islam Kamaruddin Amin, Direktur KUA Adib Machrus, Ketua KPAI Ali Maryati, Kepala DP3AK Provinsi Jawa Timur Novi Widiani, dan Kepala Kanwil Kemenag Jawa Timur Husnul Maram.

Pada kesempatan itu Dirjen Bimas Islam Kamaruddin Amin mengungkapkan, jumlah perkawinan anak di Indonesia masih sangat tinggi. Pada tahun 2021, tercatat ada lebih dari 95 ribu peristiwa pernikahan dini (di bawah 19 tahun) dari seluruh Indonesia.  

baca juga:

"Penikahan dini banyak memberikan dampak, seperti terjadinya perceraian dini, pengasuhan yang tidak sempurna, dan juga berpotensi melahirkan keluarga-keluarga stunting yang merupakan tantangan atau masalah Indonesia berikutnya," kata Kamaruddin Amin.

Sementara itu, Penasihat DWP Kemenag, Eny Retno Yaqut mengatakan perkawinan anak memiliki peluang yang sangat besar untuk mengalami hal-hal yang tidak diinginkan, seperti kekerasan fisik, psikis, seksual, dan penelantaran. 

Namun, lanjut Eny, banyak sekali permasalahan yang ditemui di KUA jika menghadapi cegah kawin anak ini.

"Kalau disetujui salah, artinya dispensasinya tinggi. Kalau tidak disetujui juga menjadi masalah lagi, karena kalau anak hasil hubungan itu sudah terlanjur lahir, maka akan menimbulkan problema baru dengan pencatatan dan lain sebagainya," ungkap Eny.

Eny mengimbau penyuluh-penyuluh agama dari KUA untuk bekerja sama dengan Dinas Pendidikan setempat untuk bisa membagikan modul-modul pencegahan kawin dini kepada remaja di sekolah, kemudian dimasukkan ke salah satu media pembelajaran.

"Jadi kita harus jemput bola. Enggak bisa lagi kita mengharapkan remaja datang ke KUA untuk konsultasi. Hari gini mereka lebih suka googling, untung jika website-nya benar, takutnya mereka membaca dari website yang salah," pungkas Eny.[]