News

Emir Qatar Kecam Pembunuhan Jurnalis Al Jazeera di Tepi Barat, Tuntut Pelaku Ditindak

Emir Qatar Syekh Tamim bin Hamad al-Thani menuntut pertanggungjawaban dari para pelaku.


Emir Qatar Kecam Pembunuhan Jurnalis Al Jazeera di Tepi Barat, Tuntut Pelaku Ditindak
Kolase foto Emir Qatar Syekh Tamim bin Hamad al-Thani dan jurnalis Al Jazeera, Shireen Abu Akleh. (REUTERS dan Al Jazeera)

AKURAT.CO Pemimpin Qatar angkat bicara soal pembunuhan seorang jurnalis Al Jazeera dalam baku tembak antara kelompok bersenjata Palestina dan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) di Jenin, Tepi Barat. Menurutnya, para pelaku harus diminta pertanggungjawaban.

"Mereka yang bertanggung jawab atas pembunuhan jurnalis AlJazeera Shireen Abu Akleh harus dimintai pertanggungjawaban," tuntut Emir Qatar Syekh Tamim bin Hamad al-Thani dalam jumpa pers di Teheran pada Kamis (12/5), dilansir dari Reuters.

Abu Akleh dikenal sebagai salah satu jurnalis paling terkemuka di dunia Arab. Al Jazeera telah menuduh pasukan keamanan Israel sengaja menargetkan dan membunuhnya. Media yang berbasis di Qatar ini juga telah meminta pertanggungjawaban Israel dan mendesak masyarakat internasional untuk mengutuk pembunuhan tersebut. 

baca juga:

Menurut Kementerian Kesehatan Palestina, wanita 51 tahun itu ditembak di kepala dengan peluru tajam.

Tiga saksi mata mengatakan kepada CNN bahwa para jurnalis telah menjadi sasaran pasukan Israel pada saat kejadian. Padahal, saat tembakan dilancarkan, dilaporkan tak ada pejuang Palestina di samping mereka.

Abu Akleh tertembak meski telah mengenakan rompi pers dan berdiri bersama wartawan lain.

"Kami sedang ingin merekam operasi tentara Israel ketika tiba-tiba mereka menembaki kami tanpa meminta kami untuk pergi atau berhenti syuting. Tidak ada pria bersenjata Palestina di tempat itu. Peluru pertama mengenai saya dan peluru kedua mengenai Shireen. Tidak ada perlawanan militer Palestina sama sekali di tempat kejadian," kata Ali al-Samudi, produser yang tertembak dan terluka.

Sementara itu, IDF mengakui kalau tentaranya telah beroperasi di daerah itu untuk menangkap tersangka yang terlibat dalam aksi terorisme. Menurut IDF, pada saat kejadian, kedua tersangka Palestina dan pasukan Israel saling baku tembak.

"Sebagai bagian dari kegiatan di kamp pengungsi Jenin, para tersangka menembakkan senjata berat ke arah pasukan dan melemparkan bahan peledak. Pasukan merespons dengan menembak. Serangan-serangan itu telah terdeteksi. Kemungkinan sejumlah wartawan terkena, mungkin oleh tembakan Palestina. Hal ini sedang diselidiki. Peristiwa itu kini sedang diperiksa," bunyi pernyataan IDF.

Abu Akleh telah melaporkan tentang penderitaan warga Palestina di bawah pendudukan Israel selama lebih dari dua setengah dekade. Dia lahir dan dibesarkan di Yerusalem dan berasal dari keluarga Kristen, menurut Universitas Bir Zeit, tempatnya menjadi pengajar.

Abu Akleh bergabung dengan Al Jazeera pada usia 26 tahun, ketika kantor berita itu didirikan pada tahun 1997, dan menjadi wajah liputan Palestina untuk jutaan rumah tangga Arab. Selama menjadi jurnalis, ia pun kerap meliput peristiwa perang, termasuk di Gaza tahun 2008, 2009, 2012, 2014, dan 2021, serta perang tahun 2006 di Lebanon. []