Olahraga

Eliud Kipchoge, Raja Maraton Era Media Sosial Belum Habis Ambisi

Eliud Kipchoge, Raja Maraton Era Media Sosial Belum Habis Ambisi
Eliud Kipchoge bersama catatan waktunya usai Maraton Berlin 2018 di Berlin, Jerman Minggu (16/9). (REUTERS/Fabrizio Bensch)

AKURAT.CO, Pelari jarak jauh asal Kenya, Eliud Kipchoge, telah membawa maraton ke level yang berbeda. Tampil sebagai pemilik rekor dunia sekaligus dua medali emas olimpiade beruntun membuat Kipchoge menjadikan maraton sebagai olahraga yang populer di era media sosial.

Lahir di Kapsisiywa, Nandi County, Kenya, 5 November 1984, Kipchoge tak mengelak bahwa keberhasilannya mempertahankan medali emas olimpiade dengan menjadi juara di Tokyo, Agustus lalu, sebagai capaian paling bersejarah dalam kariernya.

Sukses itu menempatkan Kipchoge sebagai orang pertama yang mempertahankan gelar maraton olimpiade selama 41 tahun terakhir. Juga, menjadi orang ketiga yang meraih emas back-to-back olimpiade sepanjang sejarah setelah Abebe Bikila dari Kenya pada 1960an dan Waldemar Cierpinski dari Jerman Barat pada 1976 dan 1980.

baca juga:

“Adalah momen terbaik saya memenangi emas di olimpiade secara beruntun,” kata Kipchoge sebagaimana dipetik dari BBC. “Saya sudah melakukan banyak hal, tetapi emas Tokyo 2020 mengukuhkan semuanya. Itu mengukuhkan apa yang selama ini saya lakukan.”

Kipchoge juga memecahkan rekor dunia dengan catatan dua jam satu menit 39 detik pada Maraton Berlin 2018. Setahun kemudian, Kipchoge mencetak sejarah dengan berlari di bawah 20 detik dalam acara eksebisi di Wina, Austria, sebagai rekor yang selama ini dianggap tak mungkin dilakukan.

“Pacuan terbaik saya adalah mendobrak batas dua jam,” kata Kipchoge. “Alasan pertama (memecahkan rekor dua jam) itu adalah saya menciptakan sejarah dan memberi tahu orang-orang bahwa apapun yang Anda sebut dan kerjakan, bakal Anda dapatkan.”

Pertanyaannya kini, sampai kapankah Kipchoge tetap berlari sebagai seorang profesional dalam kompetisi resmi?

Kipchoge mengaku masih punya banyak target dalam daftarnya. Atlet yang kini dijuluki sebagai “Raja Maraton” itu tetap ingin menyapu semua gelar di enam maraton utama dunia sekaligus berusaha mencari rekor di bawah dua jam di ajang resmi.

“Berlari bermakna hidup bagi saya–tanpa berlari, tidak ada hidup,” kata Kipchoge. “Karier lari telah memberikan saya sejumlah tempat; berlari menghasilkan makanan di atas meja untuk anak-anak dan saudara saya.”[]