Ekonomi

Ekspor Tembus US$533 Juta, Batik Indonesia Diharap Bisa Dominasi Dunia

Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan industri batik didominasi oleh industri kecil dan menengah (IKM) yang telah menyerap tenaga kerja


Ekspor Tembus US$533 Juta, Batik Indonesia Diharap Bisa Dominasi Dunia
Pengrajin melukis batik tulis di Sanggar Betawi Seraci, Desa Segara Jaya, Kecamatan Taruma Jaya, Kabupaten Bekasi, Selasa, (2/10/2018). Batik yang menampilkan motif yang berkaitan dengan Ibu kota dengan warna cerah berbentuk ondel-ondel, si Pitung, dan Monas dijual dengan harga kisaran Rp100 ribu hingga Rp1 juta per potong kain. (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan industri batik didominasi oleh industri kecil dan menengah (IKM) yang telah menyerap tenaga kerja sebanyak 200 ribu orang dari 47 ribu unit usaha yang tersebar di 101 sentra wilayah Indonesia.

“ Industri batik, yang merupakan bagian dari industri tesktil juga menjadi salah satu sektor andalan dalam implementasi peta jalan terintegrasi Making Indonesia 4.0,” ujar Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita pada acara Puncak Peringatan Hari Batik Nasional 2021, Rabu (6/10/2021).

Menurut Menperin, industri batik mendapat prioritas pengembangan karena dinilai mempunyai daya ungkit besar dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional. 

“ Industri batik kita mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional dan produknya telah diminati pasar global,” ungkapnya.

Kementerian Perindustrian mencatat capaian ekspor batik pada tahun 2020 mencapai US$532,7 juta, dan selama periode triwulan I tahun 2021 mampu menembus US$157,8 juta. 

Menperin menambahkan, batik adalah identitas bagi bangsa Indonesia. Hal ini diperkuat melalui pengakuan UNESCO yang menyatakan bahwa batik Indonesia sebagai salah satu warisan budaya tak benda milik dunia pada bidang Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity.

Meski demikian  untuk menjadi market leader produk batik, banyak agenda yang bisa dilakukan, salah satunya melalui promosi.

" Dengan kerja sama intensif seluruh stakeholders, seperti Kadin Indonesia, Dekranas, Yayasan Batik Indonesia, dan para pelaku usaha, kita bisa mengeksplorasi promosi batik di kota-kota pusat mode dunia, seperti New York, Paris, dan London,” terangnya.

Meski Batik Indonesia sudah diakui oleh UNESCO namun demikian, beberapa negara seperti China, Vietnam, dan Malaysia secara serius menjadikan batik sebagai komoditas ekspor.