Ekonomi

Ekspor Non Migas Dari Hasil Kayu Olahan Solusi Defisit Neraca Perdagangan


Ekspor Non Migas Dari Hasil Kayu Olahan Solusi Defisit Neraca Perdagangan
Pekerja mencatat ukuran kubik kayu jati di sentra kayu Klender, Jakarta, Selasa (27/11/2018). Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengatakan, ekspor produk kayu pada meningkat menjadi US$ 11,07 miliar dari tahun sebelumnya 2017 sekitar US$ 10,75 miliar dan akan ditargetkan pada akhir tahun mencapai US$ 12 miliar. (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI), Indroyono Soesilo menyatakan bahwa defisit neraca perdagangan yang selama ini terjadi harus diantisipasi dan menjadi perhatian bersama. Karenanya perlu dipikirkan langkah-langkah solusinya dalam jangka pendek-menengah.

”Dalam jangka pendek, solusi yang sangat memungkinkan adalah dengan mengoptimasikan pemanfaatan sumber daya alam dan mendorong ekspor, khususnya dari hasil hutan kayu, karena bahan bakunya seluruhnya tersedia di dalam negeri, kandungan lokal seratus persen dan tidak perlu impor barang modal ” kata Indroyono dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Minggu (16/5/2019).

Menurutnya, APHI hadir dalam pertemuan Ke-60 Komite Penasehat Industri Kehutanan Berkelanjutan (ACSFI), sebuah lembaga dibawah Organisasi Pangan dan Pertanian PBB-UN FAO di Vancouver-Canada dan juga menggelar pertemuan dengan industriawan perkayuan Korea di Seoul serta melakukan studi banding ke Vietnam.

“Dari hasil kegiatan tersebut diperoleh kesepakatan untuk menjajagi relokasi industri hulu kehutanan, utamanya plywood, dari Tiongkok ke Indonesia dalam rangka mengantisipasi perang dagang antara Tiongkok dengan Amerika Serikat” jelasnya.

Lebih lanjut Indroyono menambahkan bahwa pada pertemuan dengan industriawan kehutanan Korea yang difasilitasi oleh Kedutaan Besar RI di Seoul, menghasilkan beberapa pilihan potensi ekspor serpih kayu hasil Hutan Tanaman Industri untuk memasok pembangkit-pembangkit tenaga listrik di Korea.

Dari pertemuan bisnis dengan pelaku industri di Vietnam, Indroyono menegaskan terdapat potensi ekspor produk kayu olahan dari Indonesia ke Vietnam senilai USD2,4 miliar berupa moulding dari kayu Hutan Tanaman Industri Akasia dan kayu gergajian dari jenis karet.

”Nilai ekspor produk kayu olahan Indonesia ke Vietnam tahun 2018 baru mencapai USD 275 juta, berarti masih terbuka pasar yang lebar ke Vietnam,”ujar Indroyono.

Dari analisa dan perhitungan APHI terhadap ketersediaan pasokan kayu terdapat potensi kayu olahan Hutan Tanaman Industri non-pulp dalam bentuk moulding sebesar 3,3 juta m3/tahun dengan nilai sebesar USD1 miliar. Selain itu, terdapat pula potensi kayu dari replanting karet yang ditanam rakyat untuk bahan baku kayu gergajian sebesar 3,4 juta m3/tahun dengan nilai USD1 miliar.

“Jika potensi ini dapat dioptimasikan, akan berkontribusi cukup signifikan untuk mengurangi defisit neraca berjalan perdagangan RI,” imbuh Indroyono.

Dalam jangka pendek ini, diperlukan paket kebijakan untuk mempermudah pendirian industri kayu gergajian skala kecil menengah on farm/dekat dengan sumber bahan bahan baku Hutan Tanaman Industri, kebijakan ekspor kayu gergajian dari replanting karet rakyat, dan penyederhanaan sistem tata usaha kayu, terutama untuk pemanfaatan kayu karet hasil replanting karet rakyat.

Sebagai catatan, ekspor produk kayu Indonesia beserta olahannya pada tahun 2017 mencapai USD10,3 miliar dan pada tahun 2018 meningkat menjadi USD12,2 miliar. Dengan demikian, masih ada potensi untuk menambah lagi devisa sekitar USD2 miliar.[]