Ekonomi

Ekspor Batu Bara Lesu, Pemerintah Jajaki Pasar Baru di 4 Negara


Ekspor Batu Bara Lesu, Pemerintah Jajaki Pasar Baru di 4 Negara
Kapal tongkang pengangkut batu bara melintas di Sungai Musi, Palembang, Sumatera Selatan, Rabu (15/1/2020). Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan produksi batu bara nasional tahun 2020 dapat menembus angka 550 juta ton. (ANTARA FOTO/Nova Wahyudi)

AKURAT.CO Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan, dalam menghadapi terjadinya penurunan impor batu bara tahun 2020 oleh negara-negara pengguna batu bara, pihaknya bakal menjajaki potensi pangsa pasar ekspor baru. Adapun upayanya akan melalui pendekatan government-to-government (G to G).

"Kami sedang mengupayakan pendekatan G to G dalam negosiasi, penjajakan pasar ekspor batu bara ke negara-negara berkembang lainnya, di luar pasar ekspor tradisional Indonesia," ucap Direktur Pembinaan Pengusahaan Batu Bara Kementerian ESDM Sujatmiko dalam sebuah webinar, Jakarta, Selasa (30/6/2020).

Ia mengatakan, beberapa pasar baru yang potensial untuk ekspor batu bara yakni Sri Lanka, Bangladesh, Brunei, dan Pakistan. Keempat negara ini sedang meningkatkan kapasitas industri mereka.

Selain itu, Sujatmiko juga menjelaskan, saat ini kondisi pasar utama batu bara Indonesia sedang sangat terdampak COVID-19, sehingga mempengaruhi konsumsi batu bara.

Cina sendiri saat ini masih melakukan penghentian sementara beberapa sektor industri. Alhasil, mempengaruhi  penggunaan batu bara.

Kemudian Korea Selatan, permintaan batu bara untuk kebutuhan listriknya menurun, dan menggenjot peningkatan unit pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) yang lebih ramah lingkungan. Sedangkan India sendiri masih melakukan lockdown pelabuhan 21 hari.

"Jepang electricity demand berkurang, peningkatan kebutuhan batu bara perlahan digantikan PLTN dan Eropa beralih ke energi terbarukan," ujarnya.

Seperti diketahui, Kementerian ESDM memperkirakan impor batu bara tahun 2020 oleh negara-negara pengguna batu bara diperkirakan akan menurunkan konsumsinya sebesar 100 juta ton.

Hal ini tentu mempengaruhi ekspor batu bara Indonesia yang mana realisasinya hingga Mei 2020 turun hingga 10 persen dari tahun sebelumnya. []