Olahraga

EKSKLUSIF, RD: Niat Saya Istirahat Tiba-Tiba Hilang ketika Tawaran Rans Datang

Rahmad Darmawan kini merupakan pelatih Rans Nusantara FC.


EKSKLUSIF, RD: Niat Saya Istirahat Tiba-Tiba Hilang ketika Tawaran Rans Datang
Pelatih Madura United, Rahmad Darmawan saat memimpin skuatnya menjalani latihan rutin (TWITTER/@MaduraUnitedFC)

AKURAT.CO, Bagi penggemar sepak bola Indonesia, mungkin sudah tidak asing lagi dengan nama Rahmad Darmawan. Sosok yang akrab disapa Coach RD merupakan salah satu pelatih top Tanah Air yang kini menangani Rans Nusantara FC.

Namun, siapa yang menyangka kalau ternyata pria berusia 55 tahun ini memiliki banyak cerita menarik baik sebelum terjun ke dunia pelatihan sepak bola, maupun dalam perjalanan kariernya sebagai juru taktik banyak klub Indonesia.

Nah, Akurat.co berkesempatan untuk melakukan wawancara eksklusif dengan Coach RD beberapa waktu lalu. Dalam wawancara lebih dari sejam tersebut, juru taktik asal Lampung itu bercerita mengenai banyak hal. Berikut kutipan wawancaranya.

baca juga:

Sebelum bicara ke kepelatihan, bisa diceritakan karier Anda sebagai pemain?

Saya mengawali karier pemain itu justru buat itu saya senang dengan olahraga bulutangkis karena kebetulan ayah saya (suka bulutangkis) dan di rumah saya ada lapangan bulutangkis, yang punya klub bulutangkis itu dulu di kampung kita mainnya pakai lampu petromaks, jadi kita main setiap malam di situ sampai akhirnya saya bener-bener serius dengan bulutangkis sampai kelas lima SD, bahkan kejuaraan antar sekolah dasar kalau di situ, dulu sudah pasti (menang) karena saya latihan rutin gitu. Jadi memang punya prestasi.

Tapi kemudian saya mulai berubah ketika SD kelas enam tuh mulai yang main bulutangkis tuh jarang anak-anak sebaya saya, tapi enggak jauh dari rumah saya agak depan itu ada lapangan bola dan setiap sore ramai teman-teman sebaya semuanya main bola. Jadi saya mulai tertarik dan karena mungkin dasarnya saya sudah terbangun kondisi fisik saya, kemudian dasar olahraga sudah saya dapatkan dari permainan bulutangkis walaupun beda, tapi mungkin fisik dan mental bertanding sebagai seorang bulutangkis, akhirnya bisa dengan mudah belajar sepak bola.

Kemudian saat SMP, saya sudah mulai masuk tim senior di kampung padahal usianya masih SMP kelas dua. Dan saya ingat pertama kali saya harus merelakan patah tangan saya yang kiri ini karena saya masih SMP saya memperkuat kesebelasan STM Perintis Lampung Tengah dan saya kena (cedera tangan).

Tapi itu tidak menutup minat saya menjadi pesepakbola. Saya belajar terus sampai suatu hari saya ditolak masuk klub Metro Putra karena bentuk kaki saya katanya seperti X, jadi larinya kayak bebek. Tapi itu justru, enggak tahu kenapa itu membuat saya marah, tapi marah nya saya positif. Waktu itu saya nonton satu bentuk latihan di TVRI, ada namanya Simon Tahamata, itu pemain yang menjadi idola banyak orang Indonesia karena dia pemain keturunan yang main untuk Tim Nasional Belanda.  

Saya ikuti metode latihan dia yang lucu lucu. Nah salah satunya adalah dengan latihan lari sudah menggunakan ban. Saya ikuti, saya mengubah larinya dengan latihan ban itu. Saya lakukan setiap hari pulang sekolah siang jam 12, saya jam satu sudah di lapangan. Itu setiap hari sampai kemudian suatu saat saya masuk klub kompetitor yang menolak saya. Saat bertanding, saya bikin tiga gol ke gawang klub yang menolak saya sebelumnya. Jadi dari situ saya terpilih masuk tim PON Lampung.

Saya akhirnya terpilih satu-satunya pemain dari Kabupaten Lampung Tengah yang masuk tim PON, namun itu saya umurnya baru 18 tahun. Akhirnya saya masuk tim PON Lampung dan berangkat ke Jakarta ikut kejuaraan PON dan akhirnya saya dapat prestasi waktu itu. Sehingga saya kemudian terdeteksi lah ya oleh tim scouting dari Timnas, waktu itu masuk Garuda 1, itu dipanggil untuk berangkat ke Jakarta. 

EKSKLUSIF, RD: Niat Saya Istirahat Tiba-Tiba Hilang ketika Tawaran Rans Datang - Foto 1
Rahmad Darmawan Pelatih Madura United, Rahmad Darmawan saat memimpin skuatnya menjalani latihan rutin TWITTER/@MaduraUnitedFC

Tapi di dalam proses saya ikut tes itu Sipenmaru (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru), waktu TC (pemusatan latihan) di Jakarta. Saya ikut, tapi begitu pas saya pulang ke Lampung, saya balik mau ke Timnas Garuda, tapi sampai Jakarta Timnas Garuda bubar. Akhirnya semua pemainnya disalurkan bank-bank yang berminat untuk menampung mereka dan mereka akhirnya bermain di Galakarya dan Perserikatan.

Saya ditampung di PPLM, waktu itu saya bergabung dengan beberapa alumni dari Ragunan sampai saya terpanggil PSSI junior dan kebetulan saya juga di perserikatan main untuk Persija. Kemudian main untuk Persija mulai dari 1986 sampai kemudian 1991.

Dan pada 1992 saya main untuk satu tim di Malaysia Army Force selama setahun. Ketika saya mau dikontrak tahun berikutnya, saya enggak boleh sama pimpinan jadi saya balik lagi ke Jakarta dan saya bergabung sama Persija. Kemudian saya main untuk persikota Tangerang sampai saya menjadi pelatih di sana.

Tapi dalam kurun waktu tahun 1987, saya terpanggil oleh Timnas U-23. Kemudian 1988 di Timnas U-23 saya dengan Coach Sartono Anwar dan Coach Benny Dollo. Kemudian naik ke senior tahun 88/89 bersama  almarhum Abdul Kadir. Saya masuk dalam persiapan pra Piala Dunia, kita TC di Belanda dan di Jerman. Waktu saya masuk dalam level senior itu, saya dapat musibah saat uji coba di Jerman, saya cedera kaki lutut kanan. Itu waktu di uji coba terakhir. Momen itu akhirnya mengubur impian saya untuk main di tim senior tahun itu tahun 1989. Begitu saya divonis harus istirahat panjang, justru ada hikmahnya. Kuliah yang selama ini terbengkalai karena aktivitas sepak bola, akhirnya saya seriusin satu tahun. Akhirnya alhamdulillah 1990 akhir, S1 saya selesai di Fakultas Keolahragaan di UNJ. 

Akhirnya saya bisa main bola lagi, kebetulan kaki saya juga sudah sempurna. Pada saat itu, ada tawaran untuk saya untuk masuk PS ABRI yang mau ikut tim untuk Galatama. Akhirnya saya bergabung dengan PS ABRI dan menjadi prajurit ABRI. Tapi dalam perjalanannya tiba-tiba gagal nih PS ABRI untuk bergabung di Galatama karena memang ketika kita berganti kepemimpinan tentu ada kebijakan-kebijakan yang mungkin berbeda dengan pertimbangan-pertimbangan. 

Akhirnya saya tetap fokus main bolanya di Persija (Jakarta), tapi saya tetap berdinas. Sampai akhirnya saat saya ikut Piala Asia 1992 di Singapura, ada tim Kuala Lumpur yang meminta saya untuk bertemu sama mereka. Mereka izin sama Panglima TNI, saya ingat diizinkan Pak Evert Ernest Mangindaan, saat itu asisten Mabes TNI. Akhirnya saya berangkat ke Malaysia selama setahun.

Kemudian pulang dari Malaysia saya masih bermain lagi untuk Tim Nasional di ajang pra-piala dunia dan SEA Games 1993. Lalu terakhir saya main di Timnas itu 1995 di Piala Kemerdekaan, itu persiapan untuk Asian Games. Saya berada di Tim Nasional PSSI Garuda di bawah Coach Anatoly Polosin dan kemudian di satu tim lagi ada PSSI Harimau. Tapi akhirnya tim kami gagal untuk berangkat ke Asian Games.

Jadi kemudian yang menghentikan saya dari aktivitas sepak bola adalah pada tahun 1997, saya harus menderita cedera lagi lutut yang kiri. Kalau dulu yang kanan ketika bersama Timnas, dengan Persikota (Tangerang) saya cedera tahun 1997 lutut kiri, sehingga total saya enggak bisa main. Akhirnya saya meneruskan karier sebagai pelatih karena memang saya kuliah di fakultas olahraga jurusan kepelatihan, jadi saya meneruskan ilmu pengetahuan saya, implementasikan sebagai pelatih Persikota.

Saat pensiun, Anda masih berusia 31 tahun. Apakah memang pemulihan cedera lutut kirinya tidak bisa sama sekali atau bagaimana?

Kalau berdasarkan pengalaman saya yang cedera lutut kanan dulu, praktis satu tahun setengah saya bisa main lagi. Waktu itu saya mencoba untuk mengobati dengan cara saya, karena saya ingat ketika lutut kanan cedera, saya mau naik meja operasi ada keraguan karena ada senior saya yang sudah operasi malah justru total dia enggak bisa main lagi.

Jadi saya mencoba (perawatan) tradisional dan berhasil. Nah kemudian saya coba lagi nih ketika cedera lutut kiri, saya coba berusaha dengan jalan tradisional tapi saya tunggu sampai 1-2 tahun, enggak sembuh. Akhirnya saya dapat tawaran untuk membantu melatih. Waktu itu Andi Lala nyuruh saya fokus bantu dia jadi pelatih. Karena kebetulan saya background-nya seorang sarjana, waktu itu saya punya sertifikat kepelatihan juga. 

Akhirnya saya menjadi asisten sampai saya benar-benar lupa bawa saya masih bisa main. Keasyikan jadi pelatih dan alhamdulillah saya tahun 1999 ikut kursus lisensi A, waktu itu percepatan sehingga bisa lompat dari C ke A. Pada waktu itu sebenarnya saya sebagai observer. Nah tiba-tiba saat kursus itu ada yang mundur. Nah akhirnya kekurangan nih peserta, jadi kami yang observer itu dinaikkan jadi peserta, dicoba terus sampai ujian. Alhamdulillah pada saat ujian dilaksanakan di lisensi A itu, kami masuk tiga besar sehingga ijazah diberikan kepada kami. 

Jadi itu sesuatu anugerah yang di luar rencana, akhirnya AFC memberikan sertifikat kepada kami karena kami mengikuti proses dari awal sampai akhir sampai ujian praktjk dan teori, kami lulus dan dapat lisensi A. Kemudian saya teruskan dua tahun kemudian mengambil lisensi internasional di Jerman dan terakhir saya ikut pro diploma AFC pada tahun 2020.

Saat menjadi pemain, Anda juga berstatus sebagai prajurit TNI. Bagaimana Anda membagi waktu dan fokus saat menjalani keduanya?

Memang di awal-awal saya menjadi seorang prajurit TNI itu ada beberapa hal yang mungkin belum saling mengerti pimpinan dengan aktivitas saya sebagai seorang atlet nasional. Tapi sejalan dengan waktu, pimpinan di kesatuan korps marinir ada yang pemain sepak bola nasional.

Tapi, waktu itu saya dikejutkan dengan begitu saya masuk pertama kali harus berdinas di Ujung Pandang, itu penempatan pertama saya, tiba-tiba dapat panggilan untuk TC bersama PS ABRI. Saya enggak sempat untuk pergi ke Ujung Pandang untuk melapor di sana karena kesatuan Mabes TNI sudah memerintahkan saya untuk TC PS ABRI di Cilangkap. Nah saya berangkat pada surat perintah yang lebih tinggi, waktu itu Mabes TNI. Dalam prosesnya kemudian kesatuan yang di Ujung Pandang itu melapor ke Mabes AL bahwa ini prajurit perwira atas nama Rahmad Darmawan ke mana kok enggak ada. Akhirnya saya dicari oleh Provos, ditelusuri saya ikut PS ABRI sehingga akhirnya kemudian saya disuruh kembali untuk lapor di Mabes TNI AL dan saya lakukan lagi, mengulang. Akhirnya saya dimutasi tidak jadi di Ujung Pandang, tapi di pangkalan Marinir Jakarta. 

EKSKLUSIF, RD: Niat Saya Istirahat Tiba-Tiba Hilang ketika Tawaran Rans Datang - Foto 2
Rahmad Darmawan Pelatih Tira-Persikabo, Rahmad Darmawan. Media Tira Persikabo.

Nah prosesnya sama ketika saya sudah melapor bahwa saya ikut PS ABRI, pimpinan di Mabes AL silakan menyuruh saya ke Mabes AL tapi surat telegram penempatan saya ke Korps Marinir Jakarta di Kwini tertulis satu bulan paling lambat harus melapor. Sementara TC PS ABRI enggak bisa ditinggal karena kita persiapan ke  Malaysia, itu lebih dari dua bulan. Sehingga kembali saya dicari Provos. Jadi ada miskomunikasi di sana. Tapi itu contoh bahwa di awal-awal memang ada sedikit kendala tapi setelah komandan mengetahui betul aktivitas saya, apalagi untuk Tim Nasional sangat mendukung. Setiap saya pindah ke kesatuan pun saya sangat didukung. Dan itu yang membuat saya yakin bahwa atlet seperti saya dan tempat saya berdinas di korps marinir waktu itu sangat dimudahkan dan dibantu.

Anda menjadi marinir sampai 2015, nah pada saat 1998 saya dengar Anda sempat ikut terlibat dalam pengamanan. Mungkin bisa diceritakan sedikit bagaimana saat itu?*

Iya, jadi itu posisi saya sedang di Yogyakarta, waktu itu membawa tim Persikota kemudian mau ada pertandingan Liga Indonesia. Waktu itu sebelum Persikota masuk divisi utama, malam itu saya harus pulang ke Jakarta karena ada siaga satu dan semua prajurit di manapun berada harus kembali ke kesatuan. Saya kembali ke kesatuan. Saya pun ingat detik demi detik bagaimana kejadian pada 1998 itu. Kebetulan saya sebelum ke kesatuan saya mampir pulang ke rumah dulu untuk bawa perlengkapan dan sebagainya, dan saya tahu proses mulai terjadinya kerusuhan di pinggir-pinggir kota sampai saya masuk ke dalam kota, dan sampai saya ada di satuan saya untuk melakukan tugas-tugas di sana itu memang cukup menegangkan. 

Karena berbagai isu berseliweran pada saat itu dan puncaknya adalah malam ketika evakuasi terhadap mahasiswa dari gedung DPR RI dan waktu itu melibatkan korps Marinir. Waktu itu mahasiswa dibawa menuju kampus UNIKA Atmajaya. Nah di situ ada beredar kabar yang berseliweran ya, tapi kuncinya bawa saat itulah saya betul-betul merasakan yang suasana yang mencekam dan kita bersiap betul, kita menjaga ksatriaan dan saya merasakan sekali bagaimana suasana saat itu dan ya cukup menegangkan yang pasti. Itu momen yang cukup excited buat saya. 

Beralih ke karier kepelatihan, berapa lama Anda menangani Persikota?

Saya asisten mulai 1998 sampai 2000. Kemudian tahun itu saya menjadi caretaker menggantikan Sutan Harhara di setengah perjalanan. Di 2001 saya jadi asisten Henk Wullems sampai 2002. Kemudian 2003-2004 saya pelatih kepala. Dan kemudian 2004 terakhir sama Persikota itu memang fenomenal, posisi kita di atas terus. 2005 itu saya hijrah ke Papua.

Anda pernah jadi asisten pelatih timnas dengan Ivan Kolev (2002) dan Peter White (2004). Bagaimana bisa terpilih?

Jadi memang saya tidak tahu juga bahwa akhirnya saya mendapat kesempatan dari sekian banyak pelatih untuk menjadi asisten Timnas ketika itu, apakah dasarnya dari pendidikan kursus, tapi kemudian saya memang beruntung ketika itu saya 2001 menjadi pelatih kepala di Persikota menggantikan Sutan sebagai caretaker, nah di situ memang saya berhasil mempertahankan prestasi yang dibangun oleh Bang Sutan dari bawah. Dia memang membuat pondasi yang bagus dengan almarhum Andi Lala, sehingga saya tinggal meneruskan proses itu dan enggak menemui kendala berarti.

Nah sampai akhirnya dari situlah saya dianggap mampu menjadi seorang pelatih dan itu yang mungkin membuat PSSI menunjuk saya menjadi asistennya Ivan Kolev. Nah saya bersama Bang Heri Kiswanto, Sudarno, Mundari Karya, dan Jaya Hartono. Saya beruntung dan waktu itu saya memang pelatih paling muda ya, usia saya saat menyandang lisensi A itu umurnya baru 30an tahun, masih paling muda.

Saat Anda menjadi asisten dua pelatih asing di Timnas, apakah ada proses transfer ilmu yang bisa Anda dapat?*

Saya bersyukur bahwa saya pernah bekerja dengan pelatih-pelatih hebat di Indonesia. Dengan almarhum Andi Lala, dengan Bang Sutan pernah kerja bareng dan juga pernah dilatih oleh beberapa pelatih-pelatih hebat Indonesia waktu dan pelatih asing. Contoh saya pernah dilatih oleh Ivan Toplak, itu mantan Pelatih Tim Nasional Meksiko di Piala Dunia 1986, terus kemudian Polosin, orang yang sukses melatih Indonesia menjadi juara SEA Games. Tapi dari situlah saya belajar tentang bagaimana cara mereka melatih, metode kepelatihan mereka seperti apa. 

EKSKLUSIF, RD: Niat Saya Istirahat Tiba-Tiba Hilang ketika Tawaran Rans Datang - Foto 3
Rahmad Darmawan Pelatih Sriwijaya FC Rahmad Darmawan memberikan arahan pemain Sriwijaya FC saat melakukan sesi latihan di Stadion Sriwedari, Solo, Jawa Tengah, Sabtu (3/2). Sriwijaya FC akan melawan Arema FC di Stadion Manahan, Solo, Minggu (4/2) dalam pertandingan 8 besar Piala Presiden 2018 AKURAT.CO/Abdul Aziz Prastowo

Saya dalam waktu yang senggang sebagai pemain saya selalu catat, mana yang penting saya catat. Tapi ketika saya jadi asisten, total saya punya catatan lengkap dan buat saya itu tujuannya adalah untuk saya belajar dari mereka semua mana yang tepat untuk diadopsi mana yang harus diperbaiki. Jadi saya sangat berterima kasih saya benar-benar belajar dari pelatih-pelatih hebat yang pernah bersama saya dan juga ketika saya sebagai pemain.

Setelah dari Persikota, Anda hengkang ke Persipura pada 2005 dan langsung juara. Bagaimana bisa?

Oke pertama kali saya merantau enggak tanggung-tanggung saya memilih Persipura, waktu itu memang jujur saya sebetulnya ingin bertahan di Persikota. Tapi saya merasa perlu juga tantangan baru karena saya sudah cukup lama di Persikota dari tahun 1995 sebagai pemain, asisten pelatih, dan pelatih kepala sampai dengan 2004, betapa lamanya saya di sana. Dan saya pengen mencari suasana baru sehingga saya terima tantangan Persipura sebagai pelatih muda untuk merantau di sana 

Di awal-awal kendalanya banyak banget. Saya ingat untuk berlatih saja, ketika saya di sana waktu itu dengan segala keterbatasannya kita harus menyiapkan atau membeli perlengkapan sendiri di Jakarta saya bawa ke Papua kemudian saya reimburse kepada manajemen karena memang ada banyak perlengkapan-perlengkapan latihan yang memang waktu itu belum ada di Papua, jadi waktu itu inisiatif dari kita untuk koordinasi dengan manajemen. Hebatnya manajemen mendukung kita dan semuanya setuju selama untuk metode latihan.

Akhirnya apa yang saya inginkan bisa pelan-pelan kita bangun. Tapi untuk membangun tim Persipura menjadi kuat waktu itu enggak mudah karena perbedaan karakter, kebiasaan. Tiga bulan pertama saya sempat hopeless karena memang ada beberapa treatment yang kita buat itu mental. Sampai akhirnya masa persiapan sampai dengan kompetisi jalan, sampai dengan pertandingan ke sepuluh pun prestasi masih naik turun, menang lalu kalah. 

Nah akhirnya kita mulai bener-bener bagus itu pertandingan ke-12 atau ke-13, saya ingat sekali performa kita terus menanjak, kita enggak kalah sama sekali tidak kalah. Kita menang terus sampai mendapatkan predikat juara wilayah Timur. Kemudian kita ditunjuk sebagai tuan rumah di babak delapan besar, dan kita menjadi juara lagi setelah final di Jakarta ketemu dengan Persija. 

Kenapa tim begitu sukses? Karena waktu itu beban kepada tim kita tidak terlalu tinggi, karena jujur di awal Ketika saya bicara dengan manajemen, mereka menargetkan tim bertahan di divisi utama, syukur-syukur bisa delapan besar. Waktu itu satu perubahan besar yang juga kita lakukan bersama teman-teman di Papua termasuk sukses karena saya merekrut ada sebelas pemain muda dari PON Papua.

Mulai dari Boaz Solossa, itu liga pertama. Kemudian ada Korinus Fingkreuw, Christian Warobay yang akhirnya terpilih jadi pemain terbaik Liga pada saat itu. Jadi itu kerjasama yang luar biasa ditambah dengan pemain-pemain senior yang juga dapat menjadi panutan seperti Eduard Ivakdalam, Jack Komboy, Marwal Iskandar, Jendri Pitoy. Jadi kita kombinasi yang sangat baik dan harmonis. Yang pasti kekuatan kita ada pada membangun dan menciptakan suatu tim yang penuh dengan tanggung jawab tinggi, rasa saling memiliki ketika itu. Jadi memang sangat luar biasa di Persipura.

Anda sukses di Persipura, tapi kenapa hanya bertahan semusim?

Itu ada ceritanya. Jadi ketika saya di Persipura pada 2005, itu sebetulnya sebelum berangkat ke Papua saya itu menghadap pimpinan komandan korps marinir waktu itu, ada tawaran melatih di tiga tempat PSMS Medan, Persegres Gresik, dan Semen Padang. Nah kemudian, karena jauh dan saran komandan ke Gresik. Saya sudah hampir pasti ke Persegres, batal karena mereka menunjuk Widodo C Putro tahun itu.

Akhirnya saya bingung ini Semen Padang dan PSMS sudah saya tolak, akhirnya saya milih Gresik tapi tahu-tahu batal di menit terakhir. Nah waktu itu pilihan sulit, akhirnya saya terima tawaran Persipura. Waktu itu saya mau melaporkan komandan, tapi beliau tidak ada di tempat karena sedang ada tsunami di Aceh, jadi Panglima Pemulihan Aceh. Kebetulan beliau itu asli orang Aceh, akhirnya beliau ada di sana. Akhirnya saya putuskan koordinasi dengan Dandenma untuk saya berangkat dulu ke Papua, nah berangkatlah ke sana.

Ketika selesai di waktu senggang beliau nonton TV itu melihat pertandingan Persipura lawan Pelita KS, itu saya memperkuat Persipura dan komandan kaget. Saya dipanggil Provos dan balik. Jadi saya dianggap tidak mengindahkan perintah pimpinan. Akhirnya saya diproses, saya mendapat sanksi penundaan kenaikan pangkat satu periode dan hukumannya saya harus ada di Ksatriaan selama tiga hari tiga malam. Jadi dipenjaranya di ksatriaan. Nah itu cerita yang lucu.

Tapi kemudian karena saya sudah enggak bisa mengelak, saya sudah terikat kontrak dengan Persipura, saya tetap memohon untuk dibantu untuk komunikasi dengan pimpinan. Akhirnya Dandenma itu membantu sekali saya untuk bisa komunikasi lagi dengan Dankormar dan saya boleh berangkat ke Papua. Akhirnya Persipura masuk final, saya pun ingat komandan menyuruh saya pakai topi Marinir, itu perintah dari pimpinan. Oke saya waktu itu karena saya terima kasih sudah diberikan satu kesempatan

EKSKLUSIF, RD: Niat Saya Istirahat Tiba-Tiba Hilang ketika Tawaran Rans Datang - Foto 4
Rahmad Darmawan Rahmad Darmawan punya alasan sendiri saat dirinya menerima pinangan Tira Persikabo. AKURAT.CO/Taufik Hidayat

Akhirnya saya juara, nah saya memperpanjang kontrak Persipura. Kita sudah deal dengan Persipura untuk perpanjangan bahkan saya sudah latihan mempersiapkan tim untuk 2006. Saya waktu itu juga sudah memanggil Cristian Carrasco. Tiba-tiba datang surat perintah dari pimpinan bahwa saya harus kembali ke Jakarta karena belum ada surat penugasan untuk saya diizinkan ke Papua.

Saya balik ke Jakarta, ternyata ada pembicaraan khusus. Saya tidak tahu harus ke Persija, akhirnya saya melatih Persija Jakarta. Jadi itu ceritanya panjang tapi oke, persiapan saya dengan Persija hanya seminggu.

Memang hasilnya tidak terlalu mengecewakan tapi di luar target lah jadi saya hanya bisa membawa Persija juara tiga Copa Indonesia pada 2006 dan kemudian hanya bisa membawa Persija masuk di fase delapan besar, kita runner-up di wilayah barat. Waktu itu saya ingat di Gresik dan kami kalah di penyisihan delapan besar.

Setelah itu, Anda ke Sriwijaya FC dan meraih double winner di musim pertama kemudian hattrick Copa/Piala Indonesia. Apakah itu puncak karier sebagai pelatih?

Jadi ceritanya itu sebetulnya saya masih punya kontak kerjasama Persija  dua tahun. Tapi ketika saya merasa bahwa saya gagal untuk membawa Persija ke juara saya ketemu sama manajemen, saya menghadap bilang "karena saya gagal, saya merasa malu. Saya mohon untuk tidak meneruskan kerja di Persija." Manajemen mengizinkan dan bisa mengerti posisi saya waktu itu.

Akhirnya saya hijrah ke Sriwijaya. Waktu itu SFC menargetkan ke saya sama, waktu itu kan akan ada pengurangan jumlah peserta kompetisi ya, yang akan diambil masuk wilayah menjadi satu wilayah itu nantinya masing-masing delapan dari wilayah barat dan wilayah timur. Nah targetnya itu lolos aja, bisa masuk liga utama. Akhirnya saya terima Sriwijaya dan rekrutmen yang saya lakukan saya banyak mengumpulkan pemain-pemain lama Sriwijaya dan pemain-pemain senior. Makanya waktu itu di awal saya diprotes tuh karena saya manggil Charis Yulianto, Isnan Ali, Renato Elias. 

Terus akhirnya di awal-awal kompetisi berjalan memang enggak mudah menarik simpati masyarakat Sumatera Selatan yang notabene dia waktu itu memang tidak begitu menggandrungi sepak bola, tidak sefanatik daerah lain. Tapi ketika di awal pertandingan, di laga ketiga kita mengalahkan Persija, terus mengalahkan Persib, baru penonton habis itu penuh. Itulah yang membuat tim ini makin percaya diri. 

Kenapa timnya sukses karena persiapan kita cukup matang. Saya mempersiapkan tim itu tiga bulan sebelum kompetisi dimulai, sehingga pengaturan periodisasi latihan kita berjalan normal, bisa berjalan seperti apa yang kita rencanakan. Mulai dari weight training, kemudian sampai endurance training, sampai kemudian kita taktikal, sampai uji coba itu dipenuhi semua oleh pengurus. Kita tur ke Jawa, beberapa turnamen kita ikuti itu, jadi runutannya benar lah jadi dari awal udah mulai stabil.

Ditambah kualitas rekrutmen kita waktu itu bagus ya karena mendatangkan the rising star Zah Rahan Krangar. Lalu masuk Keith Kayamba Gumbs di putaran kedua jadi makin menambah tim. Ada Anoure Obiora, Christian Lenglolo, jadi memang komplet. Ditambah lokal-lokal yang punya motivasi tinggi untuk naik lagi. Seperti Charis yang sudah hilang dari Timnas, tapi setelah itu dipanggil lagi. Bahkan dia menyandang kapten Timnas setelah SFC juara. Jadi cerita panjang tapi alhamdulillah kita dikasih rezeki di dua piala kita rebut pada tahun yang sama.

Kalau dibilang apakah itu tahun terbaik buat saya, kalau dari sisi prestasi, iya. Tapi kalau kepuasan saya di dalam dalam membangun sebuah tim, kemudian saya membuat game plan yang ideal dengan sebuah tim yang bagus, sebetulnya ketika saya melatih Persebaya. Sayang tim itu harus akhirnya kalah di delapan besar, padahal kami sangat yakin tim ini akan menjadi juara waktu itu.

Setelah dari SFC, Anda sempat berkeliling melatih klub Indonesia lalu ke Malaysia. Bagaimana bisa terpilih?

Sebetulnya Malaysia sudah melayangkan tawaran tiga tahun sebelumnya dari tahun 2013. Saya minta izin ke kesatuan enggak dikasih, 2014 kirim lagi penawaran ke saya enggak dikasih lagi. Puncaknya di 2015 itu dia kasih penawaran yang ketiga, saya mulai agak gamang. Jujur, saya seorang prajurit tapi satu sisi passion saya itu sebetulnya sepak bola. Ini dua hal yang harus saya pertimbangkan masak-masak, satu sisi waktu itu saya sangat termotivasi. Kenapa ya kok pelatih Indonesia enggak ada yang dipercaya satu untuk melatih klub di luar negeri?

Itu pertanyaan besar yang ingin terus saya buktikan bahwa bisa. Nah, makanya itu salah satunya adalah saya mungkin bisa menjadi satu-satunya atau pertama kali yang pelatih kepala yang melatih di luar negeri. Makanya akhirnya saya konsultasi dengan pimpinan saya di kantor, mohon arahan untuk saya bisa diizinkan melatih di Malaysia, tapi tidak. Ya udah saya bisa mengerti itu.

Tapi pada saat saya mau keluar itu ada tantangan dari pimpinan, saya diminta bikin PS AL juara Piala Panglima untuk diberi izin keluar. Nah mungkin garis tangan, PS AL sudah lama banget nggak juara Piala Panglima, baru satu kali waktu era saya main di PS AL, saya lupa tahun berapa, juara. Habis itu enggak pernah. Nah pas kemarin ada tantangan itu kita juara dan akhirnya surat keluar itu bisa didapatkan dengan cepat.

EKSKLUSIF, RD: Niat Saya Istirahat Tiba-Tiba Hilang ketika Tawaran Rans Datang - Foto 5
Rahmad Darmawan Pelatih Tira Persikabo, Rahmad Darmawan saat menemui awak media pasca pertandingan uji coba kontra Tim Nasional Indonesia U-19 di Stadion Pakansari, Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (12/10) pagi AKURAT.CO/Rusjdi Alatas

Itulah saya memilih karier saya sebagai pelatih karena saya tentu berutang jasa kepada TNI AL khususnya marinir bahwa selama ini mereka membantu saya, sangat membantu saya di dalam hal hal yang ada kaitannya dengan aktivitas sebagai pesepakbola dan pelatih. Tapi memang jujur satu sisi ada motivasi-motivasi lain yang saya pingin buktikan bahwa pelatih Indonesia juga bisa melatih di luar negeri. Jadi hal itu yang membuat saya meneruskan tekad saya.

Menurut Anda, apa perbedaan sepak bola Indonesia dan Malaysia?

Yang pasti itu bahwa membangun karakter satu tim yang berbeda style of play, pattern of play-nya, saya membutuhkan waktu yang enggak mudah juga. Kalau di sana memang jujur mereka sebelum mengambil satu tindakan yang yang tegas, ada proses yang harus dilewati. Biasanya kita akan dipersilakan untuk melakukan presentasi dalam sekian pertandingan kenapa tidak memenuhi target. Itu sebetulnya sebuah peringatan. Kalau yang kedua gagal atau tidak bisa memperbaiki lagi, biasanya kita diputus kontrak.

Tapi saya waktu pada peringatan pertama itu saya mengatakan bahwa mungkin ada keterlambatan pemahaman tentang cara bermain karena biasanya mereka bermain dengan direct play, kali ini mereka harus main dengan build-up, dengan sistem atau karakter yang berbeda. Tapi benar, mungkin saya juga dibantuin sama Tuhan setelah saya dapat peringatan, justru performa tim terus menanjak bahkan pertama kali tim itu bisa lolos di semifinal Piala Malaysia.

Di Malaysia Anda juga terbilang sukses. Lalu apa yang membuat Anda kembali ke Indonesia?

Sebetulnya saya punya kontrak masih sisa satu tahun. T-Team dari Liga 2 Malaysia, kebetulan melewati suatu pertandingan promosi dan kita menang untuk masuk ke Liga 1-nya.

Nah akhirnya satu tahun pertama sukses, saya diperpanjang kontrak dua tahun lagi. Ketika saya berhasil mempertahankan prestasi T-Team ada di liga utama, itu ada kebijakan dari kerajaan negeri karena Terengganu yang tahun sebelumnya sama prestasi kita kalah karena Terengganu itu tim utama dan T-Team pemasok Terengganu. Nah Terengganu kembali naik ke liga utama, jadi ada dua tim. Tapi kebijakan negeri menginginkan satu sister + 1 feeder club, jadi salah satu harus turun karena kalau kita mau menganut sistem itu enggak boleh keduanya yang ada di level yang sama.

Akhirnya tim saya dikorbankan suruh turun ke Liga 2, dan itulah yang membuat saya tidak mau karena kita setengah mati naikkan mereka. Waktu itu pertimbangan saya kalau saya diturunkan ke Liga 2, saya keberatan. Bahkan mereka waktu itu saya perpanjangan tiga tahun lagi kontrak. Mungkin mereka menganggap saya sukses menaikkan beberapa pemain muda yang akhirnya pemain itu bisa menjadi pemain Malaysia termahal,  yaitu Safawi Rasid itu kan dari T-Team.

Saya pun masih ingat gajinya baru 4.000 dolar terus saya sebagai pelatih di sana, waktu itu punya kebijakan boleh menaikkan gaji seorang kalau dia prestasinya bagus dan kita naikkan menjadi 8.000 sampai 10.000 tapi kemudian JDT bayar dia 30.000 dollar. Kita tidak bisa tahan. Tapi itu proses transfer dan saya ingat kita dapat satu miliar dan biaya itu buat TC T-Team Ke Indonesia.

Itulah proses transfer yang terjadi waktu itu, bahwa bisa mengembangkan pemain muda jadi ditawari kontrak tiga tahun lagi. Tapi saya bilang kalau Liga 2, mungkin saya keberatan. Itu jawaban saya akhirnya saya memilih balik ke Sriwijaya.

Saat balik ke Sriwijaya, semua tahu bahwa kali ini Anda dengan tim tersebut tidak berakhir mulus. Lalu pindah ke Mitra Kukar, dan di akhir musim terdegradasi. Apa yang terjadi?*

Itu sebuah pengalaman yang saya enggak terlupakan dalam hidup saya. Jadi, saya sebetulnya dengan berat hati harus meninggalkan T-Team ketika itu dengan membangun sekian lama, tapi kemudian saya kembali bahkan dalam agreement saya dengan Sriwijaya ketika itu, sebetulnya ada satu komitmen.

Waktu itu Sriwijaya mau mengontrak saya setahun, tapi saya baca ada hal yang enggak nyaman karena ada kaitanya dengan politik. Tapi waktu itu digaransi oleh manajer dan diberi kontrak dua tahun. Oke boleh lah, kalau dua tahun kan berarti enggak tergantung dari hasil pilkada. Tapi waktu itu ternyata, itulah sepakbola Indonesia, ketika saya baru mau mulai kerja dengan Sriwijaya dengan menurut saya fase yang sangat baik karena tim itu dalam pramusim kita mampu peringkat ketiga di Piala Presiden dan menjuarai Piala Gubernur Kaltim.

Kita pada saat itu juga peringkat ketiga di klasemen, sebelum putaran pertama berakhir, masih ada empat pertandingan dan kalau kita menang tiga kali di kandang, waktu itu maka kita akan juara grup di paruh musim. Tapi saya harus dikeluarkan bersama delapan pemain inti. Jadi itu sebuah tamparan yang luar biasa buat saya ya, buat syok karena baru pertama kali tidak diperpanjang kontrak sebelum selesai.

Walau akhirnya diralat, saya tetap dipertahankan lagi tapi di dalam proses saya ada di sana itu memang sudah sudah berbeda, karena sekali lagi sudah berbeda. Akhirnya saya mengundurkan diri dan istirahat selama sebulan, setelah itu saya dapat tawaran ke Mitra Kukar.

Saat itu sebetulnya ragu karena dengan Mitra Kukar saya tidak punya masa persiapan yang cukup. Persiapan cukup tapi saya sedang ikut kursus lisensi pro, dan repotnya itu setiap kita masa jeda libur kita nanti masuk harus menyetorkan aktivitas kegiatan kita sebagai pelatih logbook yang harus kita buat, kalau tidak melatih saya tidak punya logbook. Artinya saya gagal untuk saya melatih. 

Akhirnya tawaran itu saya terima, Mitra Kukar dan repotnya ketika ada masa libur itu saya tidak bisa melatih Mitra Kukar. Saya hanya komunikasi lewat WhatsApp kepada asisten-asisten Mitra yang sebelumnya, karena saya waktu itu ada mengusulkan satu asisten saya sebelumnya. Jadi saya hanya komunikasi untuk latihannya, tapi posisi saya ada di Bogor ketika itu karena saya sedang ikut kursus selama Asian Games, kita memantau semua pertandingan di Asian Games.

Dan itu yang terjadi, akhirnya jujur hasilnya tidak maksimal karena begitu saya datang ke sana sudah langsung pertandingan sampai akhirnya tim itu tidak bisa kita selamatkan dan harus turun kasta. Itu satu pengalaman luar biasa, satu tahun yang sangat tidak mengenakkan buat saya karena akhirnya kedua tim itu terdegradasi. Sriwijaya juga setelah saya pergi diganti pelatih baru, ganti pelatih lagi sampai dua kali, akhirnya tidak terselamatkan. Itu pengalaman yang paling enggak enak yang harus bisa saya terima dan jadikan pelajaran.

EKSKLUSIF, RD: Niat Saya Istirahat Melatih Tiba-tiba Hilang ketika Tawaran Rans Datang - Foto 1
Rahmad Darmawan Pelatih Madura United, Rahmad Darmawan, masih tetap memimpin latihan timnya di tengah ketidakpastian kapan Liga 1 Indonesia 2020 bakal dilanjutkan. MADURA UNITED

Setelah pengalaman pahit itu, Anda ke Tira Persikabo dan Madura United. Di Madura, ada pandemi Covid-19. Bagaimana aktivitas Anda dalam melatih?*

Setelah saya dengan Mitra Kukar, saya mendapat tawaran ke Persikabo dan memang tidak bisa menuntaskan tugas sampai dengan akhir kemudian saya ke Madura United. Di sana, baru pertandingan ketiga kita lakukan, kemudian harus berhenti kompetisi. Di masa itulah luar biasa ya hal-hal yang tersulit yang pernah kita alami sebelumnya kalah dengan kondisi ini. 

Karena kita tidak bisa beraktivitas sama sekali, bermain sepak bola dan melatih tim karena memang semuanya harus ada di rumah dengan segala keterbatasannya akhirnya aktivitasnya lebih banyak main sepeda. Setiap hari saya main sepeda. Jadi kalau ditanya apa latihannya? Ya tidak ada, enggak ada latihan karena memang berhenti. Di awal-awal sempat itu kita latihan dengan memberikan homework kepada pemain untuk melakukan latihan untuk pemain kirim video. Tapi setelah jalan dua bulan enggak ada tanda-tanda pandemi akan segera berakhir, malah levelnya meningkat akhirnya total itu berhenti

Jujur, semua tabungan harus terkuras karena memang selama ini kehidupan saya sangat akan bergantung juga dengan kepelatihan waktu itu. Kita enggak mempersiapkan apapun. Ya udah akhirnya kita berusaha untuk survive dengan kondisi itu, oke kita bisa melewati bareng-bareng dan akhirnya setelah praktis dua tahun tanpa kejelasan mulai ada nadi yang lumayan. 

Kita harus bisa menerima juga apa penyesuaian kontrak dan nilai gaji kita semua. Tapi oke, itu lebih baik daripada paling penting tidak hanya soal itu tapi kita bisa beraktivitas kembali sebagai pelatih karena jujur, ketika kita tidak kita tidak mengasah skill kita lagi, ada sesuatu yang hilang. Itu terjadi ketika saya mengawali melatih Madura lagi, itu saya sering konsul ke Coach Aji Santoso, yang awal-awal Persebaya drop juga. 

Saya (lagi) makan sama dia, "Coach sekarang kok bingung ya, kita mau ganti pemain itu rasanya salah ya," jadi ada yang hilang. Jadi kita butuh skill dan membiasakan diri lagi. Ilmu itu memang harus sering diasah. Seorang pelatih ya harus memegang tim. Kalau enggak, walau secara teori menguasai tapi dia punya sentuhan pasti ada bedanya. Jadinya itu penuh dengan kesulitan selama pandemi.

Setelah pisah dengan Madura United, Anda langsung berlanjut ke Rans Cilegon FC. Apa yang membuat Anda tertarik melatih tim "baru" saat itu?*

Jadi malam itu saya juga kaget sore ketemu sama Presiden Madura terus kita bersepakat untuk mengakhiri hubungan kerja. Saya pengen istirahat, karena saya mau refleksi diri saya, kenapa dalam dua tahun terakhir ini, apa yang salah dengan metodologi saya. Ketika saya sudah mendapatkan Pro license, saya mendapatkan hal-hal baru tentang sepak bola modern tentang yang latihan modern yang bisa saya aplikasikan, tapi kenapa justru seperti ini itu pertanyaan besar dalam diri saya. 

Waktu itu saya sempat mau istirahat tapi tiba-tiba malam itu saya ditelepon dan Raffi Ahmad minta ketemu. Waktu itu janjilah di satu tempat ketemu besoknya, Raffi minta saya melatih. Saya enggak enak sama Bambang Nurdiansyah (eks Pelatih Rans) karena itu kolega saya. 

Tapi dia ada kesepakatan dengan Rans, akan diproyeksikan sebagai direktur teknik. Oke kalau gitu, Saya mohon, Coach Bambang lah yang menghubungi saya besok. Malam itu saya belum putuskan, tapi besoknya siang hari beliau telepon saya. Akhirnya kita ketemu lagi sama pihak Rans malam itu juga, akhirnya kita bersepakat untuk melanjutkan pekerjaan di Rans. Enggak tahu tiba-tiba niat saya istirahat kok hilang.

Hilangnya kenapa ya, saya istikharah kemudian hati kecil saya mengatakan bahwa saya harus cepat bangkit karena kalau saya enggak cepat bekerja lagi, saya akan kepikiran dengan saya mendapatkan hal yang kurang mengenakkan dengan klub sebelumnya. Akhirnya ya sudah saya harus bekerja supaya saya lupa. Akhirnya saya di Rans dan Tuhan kasih saya rezeki dengan surprise gitu bisa membawa Rans promosi.

Bagaimana Anda melihat sebuah klub baru yang popularitasnya didongkrak oleh popularitas pemiliknya yang merupakan selebritas?

Awal-awal, jujur Rans itu targetnya enggak masuk liga 1 loh. Waktu ketemu saya malam itu, Rans ingin lolos grup dan bisa masuk fase delapan besar. Itu cukuplah. 

Tapi begitu masuk delapan besar, kita diskusi lagi tanggung nih. Terus karena, jujur, kalau mau lolos ke Liga 1, kita butuh tambahan materi pemain. Akhirnya terpikirkan menambah pemain pemain. Masuklah mereka menambah kekuatan kita dan akhirnya lagi kita dikasih rezeki untuk kita lolos semifinal dan bisa promosi.

Jadi kalau dibilang ini tim yang bertabur bintang karena memang pemberitaan yang besar dan memang waktu itu banyak pemain-pemain yang dulunya pemain hebat bergabung di Rans, betul, saya setuju itu karena saya dulu juga saya di awal-awal seperti itu. Tetapi setelah saya ketemu kemudian Raffi sendiri bicara, presiden dan COO klub bicara, semuanya berjalan dengan baik dan waktu itu melibatkan pemain senior. Mereka diskusi dengan kita.

Perihal pemilihan pemain, apakah Anda semua yang memilih atau manajemen memiliki kriteria?

Untuk yang Liga 1, ya. Mulai dari awal kita mendesain tim ini, kita komunikasi. Tapi di dalam komunikasi saya selalu membuat plan A sampai C soal pemain. Jadi ada yang kategori A masuk, ada juga yang C. Tapi semua diawali dengan diskusi dari pertemuan-pertemuan yang sudah kita lakukan dengan presiden klub, COO sampai kita kemudian mengambil keputusan ini.

Kuota pemain asing Rans saat ini baru dua. Masih tersisa dua lagi, apakah akan mendatangkan pemain bintang kelas dunia?

Tentu kita sudah diskusi, soal siapa nanti akan masuk ya kita tunggu saja. Tapi ada satu pemain sudah ikut latihan kemarin dari Jepang juga. Di awal-awal banyak yang bilang katanya Rans ini yang merusak pasaran. Padahal enggak demikian. Pemain sekarang itu pintar-pintar karena memang punya ilmu marketing yang bagus buat bargaining.

Jadi kadang-kadang kita cuma dijadikan isu aja, tapi itu hal yang wajar lah sekarang bagaimana tinggal ke punya nilai standar untuk seorang pemain. Kalau Rans sampai sejauh ini setahu saya itu sangat komitmen. Kalau dirasa itu kemahalan, enggak akan dikejar-kejar karena memang kita punya ukuran dan standarisasi untuk menentukan pemain yang main di Rans tahun ini.

Kan enggak elok, kalau mungkin kita jor-joran yang setengah mati tapi kemudian nanti kita akan kehabisan bensin. Jadi itulah yang kemarin kita diskusikan juga bersama manajemen dan mereka intinya pengen ada perbaikan dan target, pasti. Saya sendiri berbagai klub sebagai pelatih pengen ada target karena supaya kita juga termotivasi.

Kemarin Rans sempat bermain bareng Rans. Pengalaman apa yang Anda dapatkan dan bagaimana rasanya menjadi 'pelatih' Ronaldinho?

Saya rasa kalau melatih enggak, karena dia datang, sudah disiapkan jersi dan langsung bergabung. Jadi komunikasi pun tidak, saya hanya bilang "oke Ronaldinho silakan Anda main di posisi nomor 10, belakang striker." Saya sampaikan sama pemain tolong semua penonton hari ini mau lihat Ronaldinho main, jadi setiap bola yang kamu dapat prioritas pertama Ronaldinho, kalau dia punya kesempatan, kasih.

Tapi ternyata berbeda karena kemudian intensitas tinggi berjalan. Akhirnya susah banget bola sampai ke Ronaldinho, tapi ada berapa momen harusnya pemain kita kasih ke dia, jadi lupa. Tapi ini hal-hal yang bisa terjadi di sepak bola, pemain juga sudah berusaha juga tapi ya inilah hasilnya harus seperti itu, kita enggak banyak melihat Ronaldinho dengan atraksi-atraksi. Tapi cukup kita diperlihatkan sepakbola yang efektif itu seperti apa.

Setelah bicara klub, sekarang kita ngomongin Timnas. Menurut Anda, bagaimana penampilan Timnas di tangan Shin Tae-yong (STY)?

Shin Tae-yong dengan pelatih-pelatih lain, pasti punya dasar metodologi kepelatihan yang mazhabnya mungkin berbeda. Masing-masing punya kekuatan yang melatarbelakangi seseorang pelatih itu apa yang lebih diutamakan dalam memimpin atau melatih tim.

Kalau saya lihat di sini, STY selalu membangun karakter nomor satu, dia mengutamakan kondisi fisik pemain. Yang kedua dia mengutamakan karakter skill nomor dua tapi kemauan kamu bermain itu menjadi ukuran nomor satu. Jadi ya sekali lagi setiap pelatih punya cara pandang yang berbeda dalam membangun sebuah tim. Jadi saya sih fine-fine aja karena apapun hasilnya sama-sama harus bisa kita terima.

EKSKLUSIF, RD: Niat Saya Istirahat Melatih Tiba-tiba Hilang ketika Tawaran Rans Datang - Foto 2
Timnas Indonesia, SEA Games 2021, Shin Tae-yong Timnas Indonesia U-23 bersama pelatih Shin Tae-yong saat melakukan latihan di kawasan Stadion Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta, Kamis (26/5/2022). AKURAT.CO/Sopian

Dari permainan, bagaimana menurut Anda?

Ya kalau dilihat dari sisi permainan, pasti berbeda dengan timnas sebelumnya. Apalagi kalau kita bandingkan dengan ketika dipegang sama Luis Milla. Sekali lagi, karakternya berbeda. Milla dia seseorang yang lebih mengutamakan membangun tim dengan sebanyak mungkin menguasai bola, sementara STY tidak mementingkan itu. Dia mementingkan hasil. Jadi memang dari situ saya sudah berbeda, jadi mana yang lebih baik tinggal penonton nanti yang menilai mana yang lebih baik prestasinya di antara keduanya dan mana yang lebih diterima.

Jadi sekali lagi saya sangat sulit sekali untuk menjabarkan secara detail karena sekali lagi kadang-kadang yang menurut kita baik belum tentu di mata orang menjadi baik, karena setiap orang berbeda persepsi dalam menilai sepakbola. Sepakbola itu sangat heterogen sekali, ada orang yang suka main tiki-taka tapi ada banyak orang enggak suka. Ada orang yang suka main sepak bola fighting spirit tinggi, bermain dengan keras. Tapo ada juga orang yang suka sepakbola, ada orang yang suka melihat skillful seorang pemain sepak bola melewati lawan dan sebagainya. Tapi ada pelatih enggak suka jadi hal seperti itu itu dinamika di dalam sepakbola.

Di dalam kepelatihan sendiri selalu ada tiga filosofi di sepak bola dan itu harus dihormati. Yang pertama ada sepakbola position, yang mengutamakan permainan. Kedua progresif position, itu lebih dominan untuk bola cepat di depan tapi melalui satu zona per zona melalui passing pendek seperti Liverpool. Yang ketiga direct play, jadi ada tiga filosofi. Semuanya tidak ada yang jelek, semuanya bagus dan setiap pelatih berhak memilih dari tiga filosofi sebagai acuan dia melatih. 

Dan seorang pelatih harus punya filosofi, karena dengan mengambil filosofi maka fokus latihan akan bisa dapatkan apa nih hari ini. Jadi semuanya sah-sah saja dan silakan penonton yang menilai.

PSSI saat ini tengah memproses tiga pemain keturunan untuk dinaturalisasi. Apakah naturalisasi memang dibutuhkan Indonesia untuk saat ini?

Naturalisasi itu buat saya itu suplemen. Jadi suplemen itu kan bukan suatu kewajiban ya. Kalau makanan pokok yang harus kita makan ya makanan pokoknya keseharian kita. Tapi suplemen ya seperti kita mau makan vitamin apa kalau sayur-sayuran, buah-buahan cukup, protein semua cukup, ngapain makan suplemen? Tapi suplemen kita butuhkan manakala kita kekurangan hal-hal yang lain tadi.

Begitu juga sepakbola Indonesia, kalau kita mau naturalisasi silakan sesuai dengan kebutuhan kita saja. Jangan asal menaturalisasi, jangan asal ini kita butuh semua posisi. Ya tentu saya enggak setuju, tapi kalau proses naturalisasi yang dilakukan untuk membangun kebanggaan Timnas Indonesia kemudian ada proses pembelajaran yang didapat dari proses naturalisasi untuk pemain yang lain mengikuti profesionalitas mereka dengan lebih baik lagi, kenapa tidak gitu? Tapi sekali lagi harus diukur persentasenya. Jangan dominan nantinya naturalisasi yang mengisi skuat tim nasional.

Karena tentu juga mungkin tidak akan membanggakan kita juga kok kalau kita kemudian menjadi juara dengan sebelas pemain naturalisasi. Tentu akan lebih bangga kalau menempati posisi keempat, tetapi dominan ada banyak orang Indonesia yang ada di sana.

EKSKLUSIF, RD: Niat Saya Istirahat Melatih Tiba-tiba Hilang ketika Tawaran Rans Datang - Foto 3
Rahmad Darmawan Rahmad Darmawan saat masih melatih Tim Nasional Indonesia. ANTARA.COM

Tahun depan, agenda internasional padat mulai dari Timnas U-23 di SEA Games, Timnas U-19 di Piala Dunia U-20, dan tim senior Piala Asia. Bila nantinya STY keteteran dan Anda ditawari kembali melatih Timnas, apakah Anda bersedia?

Saya selalu katakan, saya ingat 2016 saya melatih di Malaysia dan baru tanda tangan kontrak tiga bulan atau empat bulan. Nah Timnas manggil kan, saya pulang.

Jawabannya saya waktu itu "Oke saya bersedia melatih Tim Nasional. Silakan bicara dengan klub." Artinya buat Tim Nasional saya akan siap. Tapi saya bukan orang yang ambisius, tapi kalau negara memanggil, saya siap. Tapi saya tidak terlalu berambisi untuk ada di sana.

Pesan untuk penggemar sepak bola Indonesia?

Saya kira penggemar sepakbola Indonesia makin pintar ya dan kepandaian mereka tentu sejalan dengan dunia modern yang menggiring mereka ke komentar-komentar yang pasti juga akan bisa mempengaruhi kebijakan dari satu klub untuk bisa seperti apa kepada para pemain dan pelatih serta tim itu nantinya

Karena sekarang juga era digital, era banyak yang baru belajar gadget, orang baru belajar untuk bermedia sosial melalui Instagram. Kita lihat sekarang kan jujur banyak sekali setiap habis pertandingan itu kalau iseng baca itu memang luar biasa. Ada hal yang positif, tapi banyak juga yang negatif yang disampaikan dan itulah kita harus benar-benar bijak di dalam menyambut hal-hal seperti ini. 

Kita tetap fokus sebagai pelatih dan tentu saja para penggemar saya berharap mereka bisa memberikan masukan-masukan yang baik, yang bijaksana kepada timnya tentu saja, dan tentu  dukungan untuk Tim Nasional Indonesia terus berikan semaksimal mungkin agar sepakbola Indonesia bisa lebih baik lagi.

Jadi jangan hanya memberikan saran-saran yang bersifat negatif, tapi harus juga memberikan kritik yang konstruktif lah, yang positif untuk apa yang harus diperbuat jadi bukan hanya satu sisi negatif saja. Saya rasa itu keinginan saya kepada para penonton sepakbola.[]