Olahraga

EKSKLUSIF, Atlet Para Atletik Setyo Budi Hartanto: Tak Perlu Malu jadi Difabel, Ini Semua Karunia Tuhan

Di ASEAN Para Games Solo 2022, Setyo Budi Hartanto menyumbangkan dua emas bagi Indonesia lewat nomor lompat jauh dan lompat jangkit.

EKSKLUSIF, Atlet Para Atletik Setyo Budi Hartanto: Tak Perlu Malu jadi Difabel, Ini Semua Karunia Tuhan
Atlet lompat jauh Indonesia Setyo Budi Hartanto mendapatkan medali emas dalam cabang olahraga lompat jangkit dengan lompatan sejauh 13,07 meter di ASEAN Para Games 2022 di Stadion Manahan, Solo, Jawa Tengah, Selasa (2/8/2022). (ANTARAFOTO/Maulana Surya)

AKURAT.CO, Keterbatasan fisik bukan berarti tidak bisa mencetak prestasi. Hal inilah yang dibuktikan oleh para atlet atletik nomor lompat jauh kebanggaan Indonesia, Setyo Budi Hartanto.

Pria kelahiran 6 Mei 1986 itu merupakan salah satu atlet disabilitas yang tak henti-hentinya menyumbangkan prestasi mengagumkan bagi Indonesia. Setyo sudah memenangkan berbagai medali sejak Porcanas Palembang 2004, hingga yang terbaru adalah dua medali emas dari nomor lompat jauh dan lompat jangkit di ASEAN Para Games Solo 2022

Nah, Akurat.co berkesempatan untuk melakukan wawancara eksklusif bersama dengan Setyo setelah menggondol dua emas. Wawancara digelar secara daring melalui siaran langsung di aplikasi TikTok pada Senin (8/8) sore.

baca juga:

Bagaimana awal mula Anda menjadi para atlet lompat jauh?

Awalnya saya lulus SMA itu tahun 2004 awal. Kalau di kampung sebenarnya saya pengennya kuliah, tapi orang tua itu memandang tetangga kalau ingin menguliahkan anaknya itu jual sawah, nah orang tua saya tidak punya. Jadi saya tidak bisa kuliah.

Nah di dinas sosial itu saya sudah tercatat difabel sejak lahir, mereka memanggil untuk ikut keterampilan di Balai Besar Rehabilitasi Sosial Bina Daksa (BBRSBD) Surakarta, Solo. Jadi ada semacam base untuk latihan keterampilan bagi difabel, jadi saya ke sana

Saat ke sana, saya melihat teman-teman difabel sedang latihan sepak bola. Hobi saya kan sepak bola dari awal, terus saya beranikan diri untuk bergabung. Setelah selesai main, ada pemandu bakat melihat dan memanggil saya. Saya ditanya dulu sekolah suka olahraga apa, lalu saya ingat waktu ujian sekolah terakhir paling bagus itu lompat jauh.

Ditanya bisa berapa, saya keceplosan jawab lima meter. Padahal saya tidak tahu ukurannya semeter saja seberapa, jadi keceplosan saja. Yaudah saya diajak untuk ikut latihan di Stadion Sriwedari.

Sejak saat itu, saya mencari tahu olahraga lompat jauh disabilitas ini (kompetisinya) apa, ternyata Paralimpiade. Sejak itulah saya berdoa ingin bisa ikut Paralimpiade dan saya tekuni. Saya latihan setiap pagi dan sudah senang. Sepak bola akhirnya saya kesampingkan.

Jadi Anda mengenal olahraga lompat jauh karena ujian sekolah?

Iya, jadi waktu itu ada beberapa nomor yang diujikan. Nomor atletik ada lempar lembing dan lompat jauh. Lalu ada bola basket dan lain-lain. Nah saya dulu paling bagus nilainya saat ujian adalah lompat jauh.

Awal mencoba olahraga, apakah merasa terkendala dengan kondisi tangan?

Memang kalau keterbatasan ini terasa waktu kecil itu pertama masuk TK. Saya dulu kalau pulang bilang ke orang tua kenapa teman-teman pada ngeliatin saya, nah Ibu saya bilang itu mereka sayang sama kamu. Nah memang awalnya sering minder soalnya saya menganggap dulu hanya saya sendiri yang seperti itu.

Tapi setelah ke Solo, saya malah lebih bersyukur ternyata masih banyak yang lebih berat dan diberikan tanggung jawab oleh Maha Kuasa dengan keterbatasan yang lain. Saya lebih bersyukur dan di Solo itu membangkitkan saya untuk lebih percaya diri lagi.

EKSKLUSIF, Para Atlet Atletik Setyo Budi Hartanto: Tak Perlu Malu jadi Difabel, Ini Semua Karunia Tuhan - Foto 1
Setyo Budi Hartanto Atlet lompat jauh Indonesia Setyo Budi Hartanto mendapatkan medali emas dalam cabang olahraga lompat jangkit dengan lompatan sejauh 13,07 meter di ASEAN Para Games 2022 di Stadion Manahan, Solo, Jawa Tengah, Selasa (2/8/2022). ANTARAFOTO/Maulana Surya

Momen apa yang membuat Anda memutuskan jadi atlet lompat jauh?

Pertama setelah saya menekuni lompat jauh, dulu ada event Peparnas, yang namanya masih Porcanas 2004 di Palembang. Saya baru saja mengikuti latihannya dua bulan sebelum kompetisi. Tapi sama pelatih saya, diperjuangkan untuk bertanding.

Pertama dipertandingkan dulu untuk mewakili Jawa Tengah dan saya menang. Akhirnya saya diberangkatkan ke Palembang. Saya punya beban yang sangat berat soalnya kata teman-teman saya masih baru, bersyukur baru masuk tapi sudah ikut event. Beban itu sangat berat.

Pertandingan yang saya jumpai pertama kali, saya minta dukungan keluarga. Katanya saya disuruh membayangkan hal-hal yang menyenangkan saat bertanding. Akhirnya saya bisa melalui dan mendapatkan medali emas pertama di tingkat nasional.

Porcanas kejuaraan pertama, pasti ada rasa nervous. Bagaimana Anda mengatasinya?

Ya semuanya saya mengkonversi menjadi semangat dan motivasi bahwa saya ingin membahagiakan orang tua. Inilah jalan saya, dan saya waktu itu sudah fokus bahwa ini akan menjadi sumber penghasilan. Masih banyak dari hal ini yang menjadikan sumber untuk mengangkat harkat dan martabatnya tapi di olahraga difabel ini, saya sebagai atlet difabel, saya memutuskan untuk 'ini loh, jalannya.

Tuhan menunjukkan jalan di olahraga untuk saya berprestasi.' Saya alhamdulillah fokus dan menunjukkan yang terbaik. Pokoknya berdoa dan alhamdulillah saya menjadi yang terbaik di kancah nasional pertama

Setelah ikut Pocarnas atau Peparnas, Anda ikut ASEAN Para Games dan membela Indonesia untuk pertama kali. Bagaimana ceritanya?

Setelah saya mendapatkan emas pertama di Porcanas, saya dipanggil oleh ketua umum NPC untuk membela Indonesia dan bertanding di Manila, Filipina 2005. Saat itu saya mengikuti dua nomor, lompat jauh dan lompat tinggi.

Setelah dari daerah, diambil ke pusat untuk ikut pemusatan latihan itu masih marginal, masih dikesampingkan oleh pemerintah. Jadi waktu itu kalau ada apa-apa, sisa dari biaya SEA Games. Dengan hal seperti itu saya termotivasi bahwa pemikiran saya tidak ke arah materialistis.

Saya senang ingin mengharumkan nama bangsa dan setelah diambil pelatnas kan pelatihnya beda lagi, levelnya juga sudah internasional sehingga ada hal-hal baru, program-program baru dan saya tekuni serta ikuti, alhamdulillah menghasilkan. Jadi saat itu saya emas di lompat jauh tapi di lompat tinggi enggak spesialis, jadi cuma mendapatkan perak.

Dahulu 2005, ada single event enggak?

Zaman dulu belum ada single event. Nah di 2008 itu ada Paralimpiade Beijing, saya pengen ke sana tapi memang keterbatasan finansial dari pemerintah dan tidak pernah mengikuti single event, jadi saya tidak punya harapan untuk ikut Paralimpiade Beijing 2008.

Setahun berselang, Anda mengikuti Asian Para Games yang dulu bernama FESPIC Games (Asian-Pacific), dapatnya perak dan perunggu ya?

Iya dulu itu negara-negara Asia Pacific masih banyak yang ikut seperti Australia, Selandia Baru, Papua Nugini, dan saya mendapatkan medali perak (lompat jauh) dan perunggu.

Itu ada yang menarik saat saya dapat perak, waktu itu saya sudah memimpin dengan catatan 6,77 meter. Tapi di akhir atlet China, saat itu ada penyerahan medali di negara lain. Jadi kami harus off dulu ikut hormat bendera yang naik. Ternyata saat itu atlet China bisa mengumpulkan tenaga untuk pertandingan dimulai lagi.

Nah dia melompat dan selisihnya hanya satu sentimeter. Padahal saya sudah nazar kalau saya emas, mau potong sapi. Ternyata saat China lompat dan dia memimpin dengan hanya selisih satu sentimeter saja. Itu medali perak di FESPIC Games 2006, senang banget.

Rutin ikut ASEAN Para Games dan dapat emas sejak 2004 hingga 2009. Tapi berhenti di 2011 karena mendapatkan perak, kenapa? Apakah karena ada perbedaan persaingan atau faktor lain?

Dulu gini, jadi memang kemarin saya bertanding di ASEAN Para Games 2022, tuan rumah Solo ini agak 'angker' buat saya karena di 2011 itu saya dapat empat perak dulu waktu ikut empat nomor.

Karena apa? Dulu teman-teman banyak bertubrukan jadwalnya. Nah saya itu ingin memperjuangkan mereka yang banyak bertanding selama sehari bisa dua hingga tiga nomor, kan bentrok. Nah saya memperjuangkan teman-teman untuk bisa mengubah jadwal, saya komplain ke delegasi teknis, di-approve.

Tapi ternyata yang kena rolling jadwal malah saya. Jadi saya tanding empat nomor dalam sehari. Akhirnya saya sampai mual dan itu jadi kendala saya. Tapi enggak apa-apa, itu saya berjuang untuk teman-teman walau saya kena imbasnya.

Tapi secara persaingan, apakah ada perubahan?

Ada perubahan, itu mulai atlet luar negeri dulu dirajai Thailand dan Malaysia. Nah dulu mereka masih sangat bagus itu. Saya juga mempersiapkan dengan bagus tapi kondisi fisik dengan sehari bertanding empat nomor itu sungguh menguras energi.

EKSKLUSIF, Para Atlet Atletik Setyo Budi Hartanto: Tak Perlu Malu jadi Difabel, Ini Semua Karunia Tuhan - Foto 2
Setyo Budi Hartanto Atlet lompat jauh Indonesia Setyo Budi Hartanto mendapatkan medali emas dalam cabang olahraga lompat jangkit dengan lompatan sejauh 13,07 meter di ASEAN Para Games 2022 di Stadion Manahan, Solo, Jawa Tengah, Selasa (2/8/2022). ANTARAFOTO/Maulana Surya

Anda kemudian ikut Asian Para Games 2010 Guangzhou, itu dapat perunggu?

Iya saya ikut Asian Para Games sudah mengikuti empat kali, kalau terhitung sama FESPIC Games 2006. Waktu di Asian Para Games 2010 di Guangzhou, China, saya dapat perunggu di nomor lompat jauh. Itu kondisinya memang di Guangzhou dingin sekali, pertama kali saya datang ke negara yang dingin.

Kedua Asian Para Games 2014 di Korea Selatan, saya mendapatkan perunggu (lompat jauh) dan satu perak (estafet). Itu awal mula saya juga terjun di nomor 100 meter karena menurut pelatih sprint saya bagus, jadi dicoba. Itu saya ikut 100 meter hingga 2016.

Empat kali ikut Asian Para Games, tapi belum pernah dapat emas. Penasaran tidak sih sebenarnya?

Sebenarnya kalau melihat peta kekuatan, China memang sangat kuat dengan nomor satu dunia dan saya targetnya hanya punya cita-cita dulu harus melompat sejauh tujuh meter. Saya akan tenang saat mengakhiri karier kalau itu terwujud

Nah China memang sudah stabil, dia lompat sejauh tujuh meter dan dia juara Paralimpiade, nomor satu dunia. Sementara saya peringkat enam.

Jadi waktu itu memang targetnya perak, tapi waktu lompatan ketiga saya masih bisa bersaing. Tapi setelah dia sudah jauh (Wang Hao, 7,53 meter) memang agak berat dan kekuatan saya tidak seperti itu sehingga saya dapat perak. Tapi itu pencapaian luar biasa di Asian Para Games karena saya bisa melompat sejauh tujuh meter (7,10 meter), melompat sejauh itu orang-orang normal saja banyak yang masih sedikit karena susah.

Sempat ada rencana pensiun setelah Asian Games?

Untuk level Asia itu saya sebenarnya memang pengen pensiun karena saya sudah sadar diri, usia serta efek cedera juga baik di tumit, lutut, dan lain-lain. Saya sudah tidak sanggup lagi dengan beban moral untuk tidak dapat medali bagi Indonesia. Makanya kalau berangkat lagi dan medali, saya sudah enggak lagi. Makanya saya memutuskan untuk level Asia berhenti.

Pokoknya level Asia ke atas saya sudah menyatakan tidak sanggup untuk diberi amanat mengikuti event. Kalau saya yakin dengan kondisi sekarang, sudah tidak bisa mempersembahkan. Mungkin perunggu, karena kami sudah melihat atlet itu kan hitam di atas putih ada rekornya nampak. Nah saya peringkatnya sudah turun, kami bisa memprediksi di website NPC rekor peringkat dan lain-lain terlihat.

Jadi ya sadar diri lah bahwa saya sudah tidak mampu karena biaya dari negara banyak. Memang di.dunia olahraga difabel untuk mencari atlet penerus susah, jadi siapa yang bisa mempertahankan itu, akan bisa bertahan di puncak terus. Karena tidak.semudah atlet-atlet normal, banyak. Kami itu cari orang yang suka dengan olahraga aja susah, apalagi cari yang berbakat.

Selain Asia, Anda juga pernah ikut ajang tingkat dunia, Paralimpiade tiga kali dan Kejuaraan Dunia 2015 di Doha, Qatar. Mungkin bisa diceritakan seperti apa persaingannya?

Kalau di Paralimpiade itu bukan negara yang mengirimkan, jadi dari panitia Paralimpiade sudah punya catatan rekor siapa saja yang layak untuk bertanding. Jadi undangan, tidak seperti ASEAN maupun Asian Para Games. Tidak semua orang bisa ikut Paralimpiade.

Kalau bisa kejuaraan dunia dan dapat medali, itu sudah pasti dapat tiket ke paralimpiade. Berat memang. Tapi kalau orang punya cita-cita yang besar, harus punya standar kualifikasi yang besar juga.

Jadi dulu kalau di nomor luar negeri itu memang mendekati orang normal di Indonesia, harus bisa enam besar, terus larinya harus bisa sepuluh sekian detik.

Secara persaingan negara selain China, ada dari mana saja?

Sebenarnya masih China, nomor satu di Paralimpiade itu ada di Asia. Kemarin kalau Asia Tenggara ada China mungkin susah juga.

Nah tapi memang ada negara lain seperti Amerika Serikat (AS). Waktu saya Paralimpiade London 2012, saya peringkat lima. Juaranya juga dari China. Mereka di olahraga memang sangat mendunia. Makanya di Asia kemarin ya lawan terberat China.

EKSKLUSIF, Para Atlet Atletik Setyo Budi Hartanto: Tak Perlu Malu jadi Difabel, Ini Semua Karunia Tuhan - Foto 3
Setyo Budi Hartanto Atlet lompat jauh Indonesia Setyo Budi Hartanto mendapatkan medali emas dalam cabang olahraga lompat jangkit dengan lompatan sejauh 13,07 meter di ASEAN Para Games 2022 di Stadion Manahan, Solo, Jawa Tengah, Selasa (2/8/2022). ANTARAFOTO/Maulana Surya

Beralih ke ASEAN Para Games 2022, ajang ini kan mundur dan ganti tuan rumah. Sebelumnya 2020 di Filipina juga batal. Waktu itu situasi persiapannya bagaimana?

Itu awal mula mau ke Manila, Filipina pada 2019 sebelum pandemi. Itu setelah SEA Games 2019 para atlet normal sudah pulang dengan kabar dapat bonus sekian. Nah kami euforia karena sudah setara kan sejak zaman Pak Jokowi tidak ada perbedaan

Tapi ternyata sebulan sebelum pertandingan, kami sudah komplet, tapi ya itu ada Covid-19 jadi Filipina membatalkan, diundur tapi tidak ada penentuan akhirnya batal. Padahal kami sudah bersemangat, siap tanding. Tapi kuasa Tuhan dan tidak berangkat, akhirnya semua atlet dipulangkan.

Saat itu dipulangkan dan hanya menyisakan atlet-atlet yang tetap stay di pelatnas yang akan berjuang di Paralimpiade Tokyo 2020 pada 2021 kemarin. Sekitar sepuluh atlet saja.

Setelah pembatalan APG 2020 di Manila dan 2021 di Hanoi, persiapannya mulai dari nol lagi atau bagaimana?

Kalau saya memang bertahan, latihannya tetap setiap hari karena ada pelatnas Paralimpiade Tokyo 2020. Tapi itu juga awal mula cedera saya. Saat itu saya sudah sangat pesimis, tapi masih ada waktu sekalian recovery dan memang kami saling menebak, negara lain bagaimana ya persiapan APG Solo ini.

Kami juga tidak tahu karena selama covid mereka tidak ikut single event. Jadi kami mempersiapkan dengan sungguh-sungguh soalnya takut kejutan mereka. Kami tetap latihan dan tidak menerawang hal buruk ke negara lain

Apalagi dulu awalnya saya mau mengakhiri di Filipina, tapi karena tuan rumah dan dengan umur sekian, saya akhirnya ikut dan masih diberi amanat. Okelah saya akhirnya tetap menjadi atlet dengan semangat muda, tetap berlatih dengan sungguh-sungguh dan agar di tuan rumah ini bisa berikan yang terbaik

Target pribadi di APG Solo kemarin, ada? Atau nothing to lose aja?

Saya sudah nothing to lose saja, karena targetnya saya hanya ingin memecahkan mitos dulu waktu di Indonesia hanya dapat perak. Saya kepikiran, ini harus emas lah untuk membalas 2011. Tapi target emas kemarin saya hanya di nomor lompat jauh. Tapi ternyata alhamdulilah dapat dua medali, satu lagi lompat jangkit

Akhirnya dapat emas APG lagi, dan memecahkan mitos. Bagaimana perasaan Anda?

Senang ya karena saya bercita-cita mendapatkan emas agar bisa mengumrohkan saudara-saudara. Karena sejak presiden memberikan penyetaraan, jadi kami sudah bisa memperkirakan kalau dapat emas akan dapat bonus segini. Jadi itu menambah motivasi eksternal untuk berjuang dan mengangkat derajat dan martabat keluarga, sanak saudara.

Jadi kemarin itu memang hadiah dari Ketum NPC, Presiden yang mau menyelenggarakan APG 2022. Ajang ini secara khusus memang untuk Indonesia, tapi secara umumnya negara lain juga merasa dapat hadiah karena sudah lama tidak bertanding. Mungkin negara lain juga beri apresiasi.

Jadi seluruh negara sangat berterima kasih kepada NPC Indonesia, presiden, khususnya masyarakat yang mendukung. Apalagi dukungannya semakin tinggi nasionalismenya. Euforianya juga di venue venue pertandingan sangat ramai, tidak seperti dulu. Sudah berubah mulai dukung gitu.

Seperti Tiktok juga yang sudah memberikan dukungan kepada APG 2022, kami jadi diketahui masyarakat luas. Sebenarnya APG ini bisa jadi wisata olahraga dan rohani untuk bersyukur, banyak orang yang berjuang, bertanding. Nah dengan media sosial kami bisa cari bakat atlet lain.

Rencana selanjutnya setelah APG?

Untuk APG mungkin saya akan berkonsultasi dengan manajer, pengurus soal baiknya bagaimana. Saya pengennya menjadi pelatih. Tapi untuk berikutnya ada hitung-hitungan medali, mungkin saya masih bisa ikut satu nomor.

Tapi saya mau melatih saja lah, memang tantangannya lebih berat melatih karena mencari atletnya susah, kemudian melatih mereka untuk berprestasi dapat medali, itu tantangan sangat berat.

EKSKLUSIF, Para Atlet Atletik Setyo Budi Hartanto: Tak Perlu Malu jadi Difabel, Ini Semua Karunia Tuhan - Foto 4
Setyo Budi Hartanto Atlet lompat jauh Indonesia Setyo Budi Hartanto mendapatkan medali emas dalam cabang olahraga lompat jangkit dengan lompatan sejauh 13,07 meter di ASEAN Para Games 2022 di Stadion Manahan, Solo, Jawa Tengah, Selasa (2/8/2022). ANTARAFOTO/Maulana Surya

Kemungkinan besar berarti pensiun sebagai atlet setelah APG 2022?

Insyaallah pensiun. Lihat nanti penerus saya bisa ada di level saya atau tidak

Terakhir, ada pesan untuk para penyandang disabilitas Indonesia, terutama yang ingin menjadi atlet?

Buat teman-teman disabilitas, ada kok olahraga khusus difabel. Ini bukan olahraga rekreasi, ini olahraga profesional jadi kalau punya saudara atau teman-teman yang punya kekurangan fisik, ada olahraga untuk difabel. Di sini adalah tempat untuk bisa memperjuangkan harkat dan martabat kamu untuk bisa meningkatkan kemandirian.

Jadi tidak usah minder lagi, kamu bisa ada di olahraga ini. Suka apa, nanti konsultasikan ke NPC cabang, bisa cari di kabupaten/kota, di situ bisa berlatih dan nanti akan diikutkan ke event-event tingkat provinsi, nasional. Jadi kalau ada yang punya saudara difabel, jangan disembunyikan, tapi diarahkan. 

Tak perlu malu, ini semua karunia Tuhan, kita hanya bisa menilai bahwa kehilangan bagian tubuh atau keterbatasan tidak seperti itu. Jadi kita harus banyak bersyukur, jangan hitung apa yang hilang dari tubuh, tapi hitung apa yang masih tersisa dari tubuh kita. Jadi semangat dan jangan pernah menyerah.

Hanya ada dua pihak yang bisa mengibarkan bendera Merah Putih, seorang atlet yang mendapatkan medali emas dan presiden saat berkunjung ke negara lain. Jadi siapa yang mau mengibarkan bendera Merah Putih? Maka menjadilah atlet yang berprestasi.

Pesan saya untuk atlet-atlet, manajemen hasil dari penghasilan atlet, karena negara sudah memprofesionalkan kita, maka kita harus memprofesionalkan diri. Jangan sampai ada kisah seperti 'Mantan Atlet jadi Tukang Becak' dan yang terpuruk-puruk lainnya. Padahal banyak juga yang memanajemen dan sukses hasil yang didapatkan dari prestasi. Itu hal-hal manfaat untuk investasi ke depan.[]