Olahraga

EKSKLUSIF, Aspar Jaelolo: Saya Ingin Tutup Karier dengan Emas Olimpiade Paris

EKSKLUSIF, Aspar Jaelolo: Saya Ingin Tutup Karier dengan Emas Olimpiade Paris
Atlet panjat tebing Aspar Jaelolo saat dijumpai untuk wawancara khusus bersama Akurat.co di kawasan Bekasi, Jawa Barat, Rabu (26/10/2022). Aspar Jaelolo pertama kali mengenal panjat tebing pada 2007 ketika ia mengikuti salah satu organisasi pencinta alam di Universitas Ewako, Sulawesi Tengah. Di dalam organisasi itu, ada beberapa divisi. Salah satunya panjat tebing. AKURAT.CO/Endra Prakoso (Endra Prakoso)

AKURAT.CO, Aspar Jaelolo menjadi salah satu atlet panjat tebing andalan Indonesia. Pemanjat asal Wani, Sulawesi Tengah itu semakin dikenal karena punya gaya rambut yang sangat nyentrik dalam setiap turnamen yang diikuti.

Deretan prestasi pun telah diraih oleh Aspar selama berkarier sebagai atlet panjat tebing di nomor speed. Dua di antaranya yang sangat terkenal adalah medali perunggu Asian Games Jakarta-Palembang 2018 dan Piala Dunia Panjat Tebing 2022 seri Jakarta beberapa waktu lalu.

Nah, Akurat.co berkesempatan untuk melakukan wawancara eksklusif bersama dengan Aspar Jaelolo. Atlet berusia 34 tahun itupun sedikit banyak bercerita mengenai awal karier, pencapaian prestasi, masa terberat, hingga target di masa yang akan datang.

baca juga:

Bagaimana awal mula Anda mengenal olahraga panjat tebing? Sejak kapan dan siapa yang memperkenalkan?

Saya pertama kali mengenal panjat tebing pada 2007 di salah satu organisasi pencinta alam di Sulawesi Tengah. Kami sebagai mahasiswa baru diperkenalkan beberapa divisi mapala, ada panjat tebing, susur goa, menjelajah rimba, dan mendaki gunung. Saya lebih memilih panjat tebing karena suka ketinggian. 

Kenapa Anda memilih menjadi atlet olahraga panjat tebing, padahal saat itu olahraga ini belum sepopuler sekarang?

Awal itu saya suka mendaki gunung sebenarnya. Cuma karena ada beberapa basic harus bisa panjat tebing, jadi teman teman yang sehobi itu lebih memilih panjat tebing, karena petualang saat itu.

Kalau untuk sport, kami setiap tahun ada Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNAS), jadi kami diperkenalkan juga untuk olahraga prestasinya. Jadi kami menekuni di olahraga prestasi. Jadi lebih tertarik pada 2009 karena ada POMNAS.

EKSKLUSIF, Aspar Jaelolo: Saya Ingin Tutup Karier dengan Emas Olimpiade Paris - Foto 1
Atlet Panjat Tebing Aspar Jaelolo Atlet panjat tebing Aspar Jaelolo saat dijumpai untuk wawancara khusus bersama Akurat.co di kawasan Bekasi, Jawa Barat, Rabu (26/10/2022). Aspar Jaelolo pertama kali mengenal panjat tebing pada 2007 ketika ia mengikuti salah satu organisasi pencinta alam di Universitas Ewako, Sulawesi Tengah. Di dalam organisasi itu, ada beberapa divisi. Salah satunya panjat tebing. AKURAT.CO/Endra Prakoso Endra Prakoso

Besar di Wani, Sulawesi Tengah. Boleh diceritakan sedikit bagaimana olahraga panjat tebing di sana?

Kelahiran memang saya di Wani, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Panjat tebing di daerah itu tidak kenal karena cuma melihat di televisi. Untuk serius itu ketika di kampus, karena diperkenalkan oleh organisasi. Jadi kenalnya hanya pada saat kuliah saja.

Sejak kapan dan apa yang membuat Anda memutuskan pindah ke Jakarta?

Untuk menekuni panjat tebing pada 2009 karena saat itu ada Pomnas di Palembang. Nah syarat untuk mengikuti itu, kami harus menang di POMDA (Pekan Olahraga Mahasiswa Daerah) Sulteng. Jadi ada beberapa atlet yang terpilih, termasuk saya untuk mewakili tim Sulteng. Di situ awal mula tertarik

Setelah mengikuti POMNAS, (pandangan) saya lebih terbuka lagi ternyata di luar Sulawesi masih banyak pemanjat-pemanjat nasional, kami ketemu semua. Akhirnya niat pengen jadi juara juara nasional. Saya berharap jadi juara nasional.

Setelah Pomnas itu saya memutuskan tidak ikut kontingen Sulteng untuk kembali atau pulang, tapi saya memutuskan untuk merantau ke Jakarta. Kemudian ada kenalan dari senior, itu di Kampus Universitas Krisnadwipayana. Jadi saya gabung di situ, ikut latihan selama enam bulan sejak pertama kali datang. Setelah itu ikut event di Jakarta.

Saya pikir kalau persiapan di Sulteng kurang, fasilitas tidak ada. Akhirnya saya putuskan pulang dulu ke Sulteng dan sempat ikut Pra PON mewakili Sulteng. Setelah itu kembali ke Jakarta dan datang lagi ke Krisnapala.

Apakah ada panjat tebing di Sulawesi Tengah yang terkenal dan jadi idola sebelum Anda?

Untuk pemanjat senior di Sulawesi Tengah, ada beberapa yang menjadi panutan buat atlet atlet, senior kami di Mapala. Cuma levelnya masih se-Indonesia Timur, regional. Jadi kami senang juga dengar cerita mereka.

Panjat tebing ada 3 nomor (Boulder, Lead, Speed). Apakah Anda pernah mencoba semua? Lalu kenapa akhirnya memilih speed?

Sebenarnya awal itu basic-nya di Boulder dan Lead. Itu wajib bagi semua pemanjat pemula untuk membangun pondasi, seperti daya tahan dan teknik dasar panjat tebing. Lalu saat memutuskan pindah ke speed itu pada 2012, sebelum Pra PON.

Saya memilih speed karena pengen go internasional, karena waktu itu sering lihat pemanjat-pemanjat tebing dunia dengan dalam waktu dua sampai tiga tahun bisa memanjat beberapa detik. Buat atlet itu cepat prosesnya.

Apa prestasi pertama Anda di olahraga panjat tebing?

Kalau untuk prestasi pertama di daerah, saya peringkat kedua di Kejurprov. Lalu di Pomnas emas.

Saat sudah menekuni karier panjat tebing, Anda kabarnya sempat mendapatkan tawaran di Pangdam Siliwangi. Boleh ceritakan sedikit soal itu?

Waktu itu kan 2009, ada kejurnas pangdam siliwangi. Jadi semua atlet nasional datang semua ke sana, ada. kesempatan buat atlet yang dapat medali ditawarkan untuk menjadi tentara. Sebenarnya secara pribadi, cita cita saya juga mau jadi tentara.

Kebetulan waktu itu juara dua, dan saya langsung ditawarkan pendidikan bintara unggulan. Tapi masalahnya di orangtua, mereka tak mau jauh sama saya karena anak satu satunya. Akhirnya saya memutuskan tidak ikut pendidikan.

Kenapa memilih tampil nyentrik?

Saya sering mengubah penampilan di setiap kompetisi, itu sebenarnya menjadi salah satu cara saya untuk menambah motivasi menjadi juara, terus juga biar dikenal orang. Ternyata ada pemanjat yang tampil nyentrik dari Indonesia. Itu terkenal juga. Jadi itu memang salah satu cara untuk percaya diri dan menunjukkan ke lawan, biar lawan lebih memperhatikan kita sehingga semacam syok terapi

Sejak kapan punya rambut nyentrik?

Kalau awal itu sebenarnya pada saat kompetisi kampus, saya sudah mewarnai rambut kuning di Pomnas. Itu sudah jadi ciri khas, jadi senang saja saya mewarnai rambut, nyentrik terus jadi perhatian para atlet saat pertandingan.

EKSKLUSIF, Aspar Jaelolo: Saya Ingin Tutup Karier dengan Emas Olimpiade Paris - Foto 2
Aspar Gagal Meraih Medali Emas Atlet panjat dinding putra Indonesia Aspar (ketiga kanan) menunjukan medali pada perhelatan Asian Games 2018 di arena Panjat dinding, Jakabaring Sport Center, Palembang, Sumatra Selatan, Kamis (23/8/2018). Aspar kalah dan mendapatkan medali perunggu. AKURAT.CO/Dharma Wijayanto

Setelah Asian Games dan menjelang Kualifikasi Olimpiade Tokyo 2020, Anda sempat menderita cedera panjang karena tendon jari tengah putus. Mungkin boleh ceritakan bagaimana Anda menghadapi situasi yang ada?

Mimpi atlet itu kan sebenarnya prestasi terakhir di Olimpiade, saya pengen ikut ke sana. Tapi seminggu sebelum kualifikasi, saya mendapatkan musibah di Tebing Harau, Padang, Sumatera Barat. 

Saat itu lagi memegang poin pocket, satu jari, kakinya kepleset sehingga sdp.jari tengahnya putus. Sedih juga karena mimpi semua atlet tampil di Olimpiade. Akhirnya setahun lebih saya vakum.tidak memanjat sama sekali

Tapi ada dukungan dari teman, pelatih, orang terdekat keluarga. Coba lagi lah di 2024 akhirnya dlm perjalanannya sambil terapi pemulihan, dan mulai latihan luar biasa berat. Paling sakit itu pemulihannya. Terapi latihan dll selama setahun, itu luar biasa berat

Anda sempat frustasi karena cedera dan ingin pensiun tapi tidak jadi. Apa yang membuat Anda mengurungkan niat itu? Dukungan seperti apa yang diberikan oleh keluarga, federasi, dan yang lainnya?

Sebenarnya pada saat cedera, federasi membiayai semua operasi, pemulihan terapi dll. Secara moril juga teman atlet datang menyemangati. Tapi paling spesial adalah pelatih (Hendra Basir). Dia bilang kasih kesempatan ke saya selama setahun, kalau bisa bersaing, saya bisa bertahan di pelatnas untuk Kualifikasi Olimpiade Paris 2024. Saya dapat kesempatan kedua dari pelatih, dia datang ke rumah dan mengajak saya ke timnas lagi. Saya dikasih kesempatan setahun lagi untuk kembali ke performa 5 detik.

Saat comeback, apakah ada kesulitan yang Anda alami?

Sebenarnya kesulitannya pada saat adaptasi di pegangan karena jari tengah tak bisa ditekuk sampai sekarang. Jadi saat memegang poin, ada jeda untuk memegang poin. Nah itu ada kesulitan di beberapa titik saat start dan lompatan. Itu jadi kelemahan saya, karena sebenarnya kelebihan saya adalah 5 meter awal dan finishing.

Setelah kecelakaan, adaptasi lamban. Terus juga menyesuaikan suasana di lomba karena setahun tidak ikut kompetisi, rasa grogi ada. Akhirnya dicoba lagi

Absen setahun itu lama. Apakah ada perubahan persaingan saat sebelum dan sesudah cedera panjang?

Sebenarnya untuk persaingan di tim sendiri pemegang rekor tercepat ada di Indonesia (Kiromal Katibin dengan 5,10 detik) otomatis jadi motivasi buat diri sendiri. Saya senang ternyata junior junior punya catatan waktu lebih cepat.

Dan untuk catatan waktu sekarang ini sebenarnya lebih cepat dari dulu karena ada beberapa perubahan memanjat. Ada beberapa poin yang dikurangi untuk dipegang sehingga lebih efisien untuk memanjat.

Setelah sekarang saya ikut latihan bareng mereka, dengan perubahan gerakan baru, catatan waktu pribadi sebenarnya memecahkan rekor pribadi dan terus membaik dalam setahun terakhir.

Apakah Anda ingat kejuaraan pertama setelah comeback?

Kompetisi pertama yang saya jadi motivasi untuk bangkit lagi di Jambi. Ada Kejurnas di Jambi, saya peringkat ketiga. Lalu di Piala Dunia Chamonix, Prancis. Itu titik balik, dan ditutup dengan di Piala Dunia Jakarta

EKSKLUSIF, Aspar Jaelolo: Saya Ingin Tutup Karier dengan Emas Olimpiade Paris - Foto 3
Leonardo Veddriq_Panjat Tebing Atlet panjat tebing Indonesia Leonardo Veddriq (kanan) bersiap beradu kecepatan saat kualifikasi Kejuaran Dunia Panjat Tebing 2022 (International Federation of Sport Climbing/IFSC) di Jakarta, Sabtu (24/9/2022). Climbing World Cup seri Jakarta mulai digelar pada Sabtu (24/9/2022) dan berlangsung selama tiga hari hingga Senin (26/9/2022). Kejuaraan Dunia Panjat Tebing seri Jakarta hanya akan menghadirkan dua nomor yakni lead dan speed. AKURAT.CO/Endra Prakoso Endra Prakoso

Selain Kiromal Katibin & Veddriq Leonardo, menurut Anda lagi tidak atlet Indonesia yang jadi saingan di tim?

Di speed sebenarnya, di Indonesia luar timnas ada beberapa orang yang mempunyai standar waktu lima detik karena mereka sempat latihan juga. Tapi kalau di tim, ada enam orang atlet yang bersaing untuk memperebutkan dua tiket ke Olimpiade. Luar biasa persaingannya, ketat.

Bagaimana sosok Kiromal dan Veddriq di mata Anda? Apa keunggulan mereka?

Sebenarnya buat atlet Indonesia ada lima lagi di luar saya, misal Kiromal punya tenaga luar biasa dan powerful. Veddriq lebih lincah. Lalu ada Alfian M Fajri, Rahmad Adi Mulyono, dan Zaenal Aripin. Ini semua pesaing luar biasa. Mereka semua pernah merasakan jadi juara Piala Dunia, jadi persaingan buat tim ketat. Saya harus lebih semangat latihan lagi buat mengejar

Saat menjadi juara di Jakarta, Anda terlihat sangat emosional. Seberapa penting gelar Piala Dunia Seri Jakarta kemarin?

Sebenarnya yang membuat kompetisi terakhir itu karena Indonesia jadi tuan rumah. Didukung sama penonton sama orang dari luar Jakarta, datang semua untuk mendukung atlet. Terus juga ada tuntutan bahwa kita tuan rumah ini, kita sebelumnya selalu juara dunia di negara orang. Jadi ya kenapa sampai emosional sekali, sampai teriak di situ karena kami targetnya di tim adalah harus satu ada yang juara dunia (speed).

Kedua juara umum secara keseluruhan secara seri, dan ketiga juara umum negara, serta memecahkan rekor dunia. Tiga ini bisa kami capai. Cuma satu kan pemecahan rekor dunia, pengen jadi atlet pertama yang memanjat di bawah 5 detik, itu target pelatih

Untuk juara dunia berhasil di tim putra, dapat medali emas. Luar biasa sekali karena juara di negara sendiri, bisa berikan yang terbaik. Itu luar biasa

Menurut Anda, kenapa Indonesia begitu maju dan menguasai nomor speed?

Sebenarnya untuk speed kami butuh waktu lama, kurang lebih 7-8 tahun untuk kembali ke Piala Dunia. khususnya di speed rekor, di tim putri pun persaingan sudah ketat dan level atlet kita juga sudah di level internasional, peluang medalinya besar karena terbukti di kualifikasi catatan waktunya di 6-7 detik dan berhasil menempati posisi teratas saat kualifikasi. Itu gambaran buat tim putra dan putri seimbang. Cuma masalah dapat rezeki medali ini, kan ibarat pembalap motogp, risikonya jatuh ketika berlomba dengan kecepatan penuh.

EKSKLUSIF, Aspar Jaelolo: Saya Ingin Tutup Karier dengan Emas Olimpiade Paris - Foto 4
Kejuaraan Dunia Panjat Tebing 2022 Atlet Panjat Tebing Indonesia Raviandi Ramadhan saat mengikuti Final Kejuaraan Dunia Panjat Tebing 2022 kategori lead putra yang diselenggarakan di kawasan Lot 16-17 SCBD, Jakarta, Senin (26/9/2022). Langkah pemanjat muda Indonesia, Raviandi Ramadhan, terhenti pada putaran final kategori lead Piala Dunia Panjat Tebing 2022 seri Jakarta denga berakhir di posisi kedelapan mencatat skor 22+ poin. Sedangkan untuk jaura pertama di raih atlet Jepang Ao Yurikusa dengan skor -29. AKURAT.CO/Sopian Sopian

Menurut Anda, kenapa Boulder dan Lead di Indonesia tak semaju speed?

Sekarang ini di timnas ada tim junior buat Olimpiade Paris bisa bersaing, berharap bisa masuk di klaster dua atau tiga. Karena pelatih sudah menyusun program latihan jangka panjang ke Olimpiade Los Angeles 2028, target medali untuk nomor lead dan bolder.

Lead sendiri pelatih sudah menyiapkan atlet muda dari umur 16 tahun, sekarang sudah berjalan dan di beberapa kompetisi tim junior ini sudah bisa bersaing di nasional, dan memperkecil ranking dunia. Targetnya masuk di 50 besar tahun ini dan akhirnya tim junior sudah berada di posisi situ

Sekarang satu hingga dua tahun ini pelatih sudah menyiapkan tim junior untuk bersaing di Olimpiade dan Piala Dunia. Berharap ke depannya mereka bisa bersaing di level dunia. Karena sudah jalan juga.

Bagaimana dengan peta persaingan di negara lain? Ada tidak yang maju di semua nomor?

Tahun 2024 ini kan sudah dipisah speed & combine (lead dan boulder). Untuk speed sendiri persaingannya ada beberapa negara di Asia Eropa. Speed putra catatan waktunya beda koma saja, di putri juga.

Jadi peluang kita untuk bersaing itu sangat besar dan ketat, peluang menang juga besar dan berharap ya kita konstan dengan podium di seri berikutnya dengan berharap bisa poin penuh dan lolos ke Olimpiade Paris 2024. Kami fokus medali emas di speed sambil mengejar ketertinggalan di combine

Melihat persaingan tim untuk mewakili Indonesia di Olimpiade bagaimana? Apa yang Anda persiapkan?

Yang pasti persaingan di timnas sangat ketat, kita fokus ke catatan waktu masing masing dan standar untuk menjadi juara, mengamankan emas ada di bawah 5,2 detik. Kalau stabil di situ, bahkan bisa 5,0 detik, peluang medali lebih besar dan semua atlet wajib memperkecil catatan waktu masing masing.

Jadi kami fokus ke diri sendiri dan membuat stabil catatan waktunya. Karena dibutuhkan konsentrasi untuk lebih fokus agar dapat medali emas.

Apa mimpi terbesar Anda? Juara Olimpiade atau rekor dunia tercepat?

Untuk sekarang saya fokus memecahkan rekor pribadi. Sekarang kan 5,24 detik, saya berharap bisa di bawah 5 detik dan memecahkan rekor 4 detik. Jadi atlet pria pertama yang memanjat di bawah 5 detik.

Sama tentunya satu prestasi yang belum didapatkan olimpiade, itu impian semua atlet di dunia, pengen berlaga di Olimpiade. Saya berharap juga bisa menjadi atlet yang menyumbangkan emas di Olimpiade. jadi sejarah buat tim panjat tebing Indonesia

Usia Anda sekarang sudah 34 tahun. Di olahraga panjat tebing, ada batasan atau umur rata-rata atlet pensiun tidak sih?

Untuk usia atlet sebenarnya tidak ada batasan selam masih bisa bersaing. Contoh saya di umur 34, bisa bersaing di level atas Piala Dunia dan bisa mendapat emas..Jadi yang penting arlet bisa jaga pola hidup, latihan disiplin sehingga bisa bersaing hingga 38 tahun. 

Nanti Olimpiade saya 37, berharap bisa bersaing karena selama ini saya jaga pola latihan dan istirahat.

Saya pikir untuk juara dunia mungkin saya yang paling tua di panjat tebing dengan usia 34 tahun. Terbukti kan karena masih bisa menjaga pola latihan.

Setelah Olimpiade apakah Anda memiliki rencana untuk pensiun?

Saya berharap di Olimpiade Paris ini pensiun, kejuaraan terakhir ditutup dengan manis di Paris. Berharap.bisa mewakili Indonesia di Olimpiade dan dapat emas di olimpiade pensiun di situ.

EKSKLUSIF, Aspar Jaelolo: Saya Ingin Tutup Karier dengan Emas Olimpiade Paris - Foto 5
Atlet Panjat Tebing Aspar Jaelolo Atlet panjat tebing Aspar Jaelolo saat dijumpai untuk wawancara khusus bersama Akurat.co di kawasan Bekasi, Jawa Barat, Rabu (26/10/2022). Aspar Jaelolo pertama kali mengenal panjat tebing pada 2007 ketika ia mengikuti salah satu organisasi pencinta alam di Universitas Ewako, Sulawesi Tengah. Di dalam organisasi itu, ada beberapa divisi. Salah satunya panjat tebing. AKURAT.CO/Endra Prakoso Endra Prakoso

Baru-baru ini, Anda dan beberapa atlet ada konflik dengan FPTI DKI. Bisa diceritakan kronologinya?

Sebenarnya ini internal di federasi panjat tebing DKI. Saya sebagai atlet tidak setuju dengan adanya pemotongan gaji atlet beserta bonus 10 persen karena semua ini, atlet harusnya lebih mendapatkan dukungan. Kalau dibicarakan dengan baik, lebih terbuka, kemungkinan atlet bakal legowo juga. Karena kalau bicara berbagi, kita jago juga. Cuma caranya kami tidak suka, seperti pemaksaan yang dilakukan manajemen yang wajib menyetor 10 persen gaji, masukan atlet tidak diterima.

Saya berharap PON 2024 di Aceh & Medan, DKI kembali menjadi juara umum. Makanya saya kasih usulan beri tambahan pelatih untuk penanganan serius di nomor speed.

Kalau masalah pemotongan gaji sebenarnya bisa dibicarakan. Cuma karena mereka tetap dengan keputusannya, mewajibkan pemotongan gaji 10 persen lalu masukan dari atlet tidak diterima dan beberapa kali ada arogansi pelatih, saya pikir itu sangat mengganggu teman teman atlet.

Saya berharap dengan adanya kejadian di Jakarta ini, federasi cabang regional bisa lebih memperhatikan atlet. Atlet lebih dihargai untuk prestasi dan perjuangannya. Memang kalau bicara perjuangan untuk atlet, luar biasa kami melakukan pengorbanan untuk provinsi dan negara. Jadi seharusnya dukungannya lebih dan kita harusnya maju bersama-sama.

Kalau tidak, kasusnya kayak sekarang ada beberapa atlet dicekal, tidak bisa mengikuti pra pon dan PON 2024. Kalau saya pribadi, tidak terima dengan beberapa masalah ini. Yang pasti berharap mereka yang terlibat dalam kasus ini bisa diusut.

*Sejak kapan manajemen FPTI DKI melakukan pemotongan gaji?*

Sudah dua bulan, dari Juli saat mulai Pelatda DKI. Dua bulan itu sempat ada pemanggilan beberapa atlet untuk berbicara kontrak dan federasi. Jadi beberapa atlet tidk setuju. Sekarang sudah tiga bulan, masuk bulan keempat.

Dua bulan awal sudah terjadi pemotongan, tapi atlet beberapa tidak setuju. Tapi karena mereka punya kekuasaan, kalau atlet tak setuju ya siap mundur dari Pelatda. Saya pun ditantang sama pelatih yang belum punya prestasi tapi menantang atlet untuk mundur ketika tidak setuju dengan kebijakan manajemen

Saya sudah 13 tahun membela DKI, selama itu memberi banyak medali untuk Jakarta. Jadi buat perkembangan panjat tebing Jakarta, luar biasa perjuangan saya dan teman teman atlet ini, yang sudah banyak memberi medali buat Jakarta. Tapi dikeluarkan dari tim

Langkah apa yang sudah Anda dan kawan-kawan lakukan sejak muncul masalah itu?

Sebenarnya sebelum saya membagikan ke Instagram, saya sudah melakukan beberapa langkah dengan bertemu sama KONI DKI diwakili bidang prestasi, dipertemukan dengan Ketua FPTI DKI. Akhirnya kami dengan usulan pelatih speed dan membenahi manajemen. Itu sebenarnya yang kami ingin dibenahi, beberapa kebijakan yang tidak merugikan atlet

Tapi hasil pertemuan tetap dengan kebijakan mereka, dan usulan atlet tak diterima. Akhirnya yang mental atlet, karena mereka yang punya kekuasaan. Akhirnya surat pengunduran kami diterima

Langkah kedua kemungkinan, saya berharap.di Kemenpora, KONI Pusat, dan NOC Indonesia karena masalah ini sangat mengganggu buat saya & Zaenal Aripin karena ada di timnas menuju Olimpiade Paris. Masalah ini sangat mengganggu, makanya berharap pemerintah, khususnya Kemenpora, NOC, dan KONI Pusat menyelesaikan permasalahan karena KONI DKI sampai sekarang belum ada kelanjutan.

Setelah saya juara dunia tidak ada ucapan ke atlet juga. Jadi seolah olah didiamkan padahal ini sangat berpengaruh, merugikan DKI dan saya pribadi karena mengganggu fokus latihan. Berharap komite atlet ikut mengawal kasus ini dan Kemenpora beserta KONI Pusat.

Jika masalah ini terus berlarut, apakah ada kemungkinan Anda keluar dari DKI dan bela provinsi lain di PON?

Sebenarnya saya masih berharap masih di DKI untuk 2024 dan pensiun di Paris 2024, berharap masih memberikan medali untuk DKI. Cuma kalau misalnya sekarang tidak ada yang menyelesaikan permasalahan ini, kemungkinan besar saya akan pindah. Pilihan pertama saya untuk pindah adalah ke kampung halaman di Sulawesi Tengah.[]