News

Eks Wali Kota Cimahi Segera Duduki Kursi Pesakitan

Eks Wali Kota Cimahi Segera Duduki Kursi Pesakitan
Wali Kota Cimahi Ajay Muhammad Priatna (Instagram/ajaympriatna)

AKURAT.CO Jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah melimpahkan surat dakwaan mantan Wali Kota Cimahi, Ajay Muhammad Priatna ke Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Bandung.

Pria kelahiran Bandung, 18 Desember 1966 itu bakal didakwa dalam kasus dugaan penerimaan gratifikasi di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Cimahi dan pemberian suap eks penyidik KPK.

"Jaksa KPK Asril telah selesai melimpahkan berkas perkara dan surat dakwaan dengan terdakwa Ajay Muhammad Priatna ke Pengadilan Tipikor pada PN Bandung," ujar Jurubicara Bidang Penindakan KPK, Ali Fikri dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (25/11/2022).

baca juga:

Saat ini KPK menunggu jadwal perdana sidang Ajay. Ali juga mengatakan, kewenangan penahanan tersangka kini ada di tangan pengadilan. Ajay bakal mendekam di Rumah Tahanan (Rutan) KPK pada Kavling C1.

"Persidangan awal dengan agenda pembacaan surat dakwaan masih menunggu terbitnya penetapan hari sidang sekaligus penetapan penunjukan majelis hakim dari panmud Tipikor," jelasnya.

Ajay kembali ditahan KPK terkait dugaan pemberian uang suap kepada eks penyidik KPK Stepanus Robin Patujju dan penerimaan gratifikasi.

Kasus suap tersebut berawal saat Ajay yang masih menjabat sebagai Wali Kota Cimahi periode 2017-2022 mendapat informasi bahwa tim KPK tengah mengusut dugaan korupsi terkait penyaluran dana bantuan sosial (bansos) pada wilayah Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

"Atas informasi tersebut, AMP (Ajay) diduga berinisiatif untuk mengkondisikan agar jangan sampai KPK juga melakukan pengumpulan bahan keterangan dan informasi di Kota Cimahi," kata Deputi Penindakan dan Eksekusi Karyoto di kantornya, Kamis (18/8/2022) lalu.

Ajay kemudian mencari referensi kenalan terpercaya di KPK melalui warga binaan di Lapas Sukamiskin yakni Radian Ashar dan Saiful Bahri.  "Rekomendasi yang sampaikan Radian Ashar dan Saiful Bahri pada AMP (Ajay) yaitu salah seorang penyidik KPK bernama Stepanus Robin Patujju alias Roni," ujarnya.

Kemudian pada Oktober 2020 lalu, keduanya bertemu untuk pertama kali. Namun saat itu Stepanus mengaku bernama Roni. Keduanya bertemu di salah satu hotel di wilayah Bandung untuk membicarakan detail masalah yang tengah dihadapi oleh Ajay.

Setelahnya pertemuan itu, Stepanus lantas menawarkan bantuan kepada Ajay agar segala pengumpulan bahan keterangan dan informasi di Kota Cimahi tidak berlanjut.

Dengan begitu, nama Ajay tidak akan menjadi target operasi lembaga antirasuah. Namun hal itu diselipkan berupa kesepakatan pemberian sejumlah uang.

"Merespons tawaran tersebut, AMP (Ajay) diduga sepakat dan bersedia untuk menyiapkan dan memberikan sejumlah uang pada Stepanus Robin Patujju dan Maskur Husain," tuturnya.

Stepanus awalnya diduga memalak Ajay sebesar Rp1,5 miliar, namun hanya disanggupi Rp500 juta. Serah terima dilakukan di salah satu hotel di Jakarta. Ajay menyerahkan langsung uang sebesar Rp100 juta sebagai tanda jadi, sisa uangnya diberikan ajudan Ajay. "Adapun jumlah uang yang diduga diberikan AMP (Ajay) pada Stepanus Robin Patujju alias Roni dan Maskur Husain seluruhnya sekitar Rp 500 juta," beber Karyoto.

Uang yang diperuntukkan Stepanus tersebut diduga berasal dari gratifikasi yang disetorkan sejumlah aparatur sipil negara (ASN) di Kota Cimahi.

"Masih terus akan dilakukan pendalaman," tukas dia.

Atas perbuatannya tersebut, Ajay disangkakan melanggar Pasal 5 ayat 1 huruf a atau uruf b atau Pasal 13 UU 31/1999 tentang pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU 20/2001 te tang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. []