News

Eks Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa Bakal Pulang ke Negaranya yang Dikoyak Krisis

Eks-Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa Bakal Pulang ke Negaranya yang Dikoyak Krisis


Eks Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa Bakal Pulang ke Negaranya yang Dikoyak Krisis
Eks-Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa tiba di Bandara Internasional Don Mueang di Bangkok pada 11 Agustus 2022 (AFP/Thai News/Getty Images)

AKURAT.CO  Mantan Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa, yang kabur dari negaranya, diperkirakan akan kembali pulang minggu depan. 

Menteri Luar Negeri Ali Sabry membocorkan kabar tersebut pada Rabu (17/8) malam. Berbicara kepada CNN, Sabry mengatakan bahwa pemerintah Sri Lanka telah diberitahu tentang kembalinya Rajapaksa 'melalui saluran diplomatik'.

"Secara resmi kami tidak memiliki peran dalam pemulangannya. Dia adalah warga negara Sri Lanka dan dapat melakukan perjalanan sesuai keinginannya," kata Sabry.

baca juga:

Pada Rabu, sepupu Rajapaksa yang terasing, Udayanga Weeratunga, juga memberikan kabar serupa. Menurut Weeratunga, yang pernah menjabat Duta Besar Sri Lanka untuk Rusia, mantan pemimpin itu akan kembali pada 24 Agustus.

Rajapaksa berada di Thailand setelah melarikan diri dari Sri Lanka pada Juli dengan pesawat militer ke Maladewa, dan kemudian melakukan perjalanan ke Singapura. Kaburnya Rajapaksa terjadi usai ribuan pengunjuk rasa yang marah menyerbu kediaman dan kantor resminya.

Mantan presiden itu mengajukan pengunduran dirinya dari Singapura. Namun, kemarahan publik masih membara dengan massa memberi tuduhan pemerintah Rajapaksa telah salah urus ekonomi negara.

Bagaimanapun, keluarnya Rajapaksa dengan tergesa-gesa telah menjadi momen bersejarah bagi Sri Lanka, negara kepulauan di Samudra Hindia dengan penduduk 22 juta jiwa. Selama dua dekade terakhir, anggota keluarga Rajapaksa telah memerintah negara itu dengan tangan besi.

Kemarahan telah tumbuh di Sri Lanka selama berbulan-bulan. Situasi serba runyam ini terjadi setelah cadangan devisa negara itu anjlok ke rekor terendah, dengan dolar hampir habis untuk membayar impor-impor penting termasuk makanan, obat-obatan, dan bahan bakar.

Saudara laki-laki Rajapaksa, Mahinda Rajapaksa, juga terpaksa mengundurkan diri sebagai perdana menteri (PM) pada Mei karena kemarahan publik meningkat atas krisis tersebut.

Kepergiannya terjadi pada hari kekacauan dan kekerasan yang memuncak dengan polisi memberlakukan jam malam di seluruh negeri.

Sementara Rajapaksa dikabarkan akan pulang, Presiden Sri Lanka yang baru, Ranil Wickremesinghe mengemukakan kekhawatiran. Mantan PM itu mengatakan bahwa ini bukan 'waktu yang tepat' bagi Rajapaksa untuk kembali ke Sri Lanka. Mantan PM itu mengatakan pendapatnya pada akhir Juli, menyebut alasan bahwa kedatangan Rajapaksa akan mengobarkan ketegangan politik.[]