News

Eks Presiden ACT: Kalau Mental Penyeleweng, Enggak Mungkin ACT Berdiri Sampai 17 Tahun

Eks Presiden ACT: Kalau Mental Penyeleweng, Enggak Mungkin ACT Berdiri Sampai 17 Tahun
Eks Presiden Aksi Cepat Tanggap (ACT) Ahyudin membantah adanya dugaan penyelewengan dana bantuan kepada ahli waris korban kecelakaan pesawat Lion Air JT-610. (AKURAT.CO/Anisha Aprilia)

AKURAT.CO, Mantan Presiden Aksi Cepat Tanggap (ACT) Ahyudin membantah adanya dugaan penyelewengan dana bantuan kepada ahli waris korban kecelakaan pesawat Lion Air JT-610.

Menurutnya, jika sikap penyelewengan dana bantuan sudah menggerogoti internal, maka tak akan mungkin ACT eksis dan berdiri sampai sekarang di usia 17 tahun.

"Insya Allah enggak. Kalau mental kita penyeleweng, enggak mungkin (ACT) berusia 17 tahun. Banyak masyarakat yang bekerja juga di sana bukan hanya di tanah air tapi global. Enggak mungkin mental penyeleweng tuh begitu," kata Ahyudin saat ditemui di Bareskrim Polri, Jakarta, Selasa (12/7/2022) dini hari. 

baca juga:

Lebih lanjut, Ahyudin mengatakan, bentuk kerja sama antara lembaganya dengan Boeing bukanlah dalam bentuk uang, melainkan fasilitas umum.

"Bentuk program yang diamanahkan oleh Boeing kepada ACT itu dalam bentuk program fasum, pengadaaan fasilitas umum. Jadi bukan uang yang diberikan kepada ahli waris itu," sambungnya.

"Jadi jangan diartikan bahwa dana CSR yang diterima oleh ACT dari Boeing itu adalah bentuk santunan uang tunai yang dititipkan oleh Boeing kepada ACT lalu diberikan kepada ahli waris, enggak begitu," lanjutnya.

Ia menyebutkan, progres program CSR Boeing itu telah mencapai 75 persen sejak dirinya hengkang dari lembaga filantropi tersebut.

"Tebakan saya sih, di atas 75 persen, saya yakin. Sampai Januari, kalau tidak salah sampai 11 Januari, kalau tidak salah itu sudah 75 persen," katanya.

Sebelumnya, Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Ahmad Ramadhan mengungkapkan ACT mengelola dana sosial dari pihak Boeing untuk disalurkan kepada ahli waris para korban kecelakaan pesawat Lion Air Boeing JT610 pada tanggal 29 Oktober 2018 lalu.

"Dimana total dana sosial atau CSR sebesar Rp138 miliar," kata Ramadhan dalam keterangannya, Sabtu (9/7/2022).

Menurut Ramadhan, dugaan penyimpangan itu terjadi era kepemimpinan mantan Presiden ACT Ahyudin dan Ibnu Khajar yang saat ini masih menjabat sebagai pengurus. Mereka diduga memakai sebagian dana CSR untuk kepentingan pribadi. []