image
Login / Sign Up
Image

Denny Iswanto

Redaktur Ekonomi di Akurat.co

Candu Uang Elektronik dan Ancaman yang Mengintai

Opini

Image

Petugas melakukan pengisian data pada | ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga

AKURAT.CO Banyak diskon dan praktis itulah ucapan pertama yang muncul dari Heru dan Fajar, yang mewakili generasi milenial, ketika penulis mengobrol santai soal uang elektronik sebagai sistem pembayaran. Gaya hidup tanpa uang tunai atau dalam bahasa kerennya Cashless Society agaknya sudah lekat dengan mereka berdua di kehidupan sehari-hari. Heru dan Fajar memanfaatkan uang elektronik untuk memesan ojek daring, membayar tiket kereta, hingga membeli makanan hampir setiap harinya.

Karena sudah mengandalkan uang non tunai, Heru dan Fajar pun mengaku tidak pernah membawa uang tunai berlebih di dompetnya. Bahkan Heru pernah bercerita jikalau dia pernah merasa sangat malu lantaran uang tunainya tidak cukup untuk membayar seporsi Nasi Padang seharga Rp15.000, karena uang di dompetnya hanya Rp14.000. Dia tidak kepikiran untuk mempersiapkan uang di dompet karena menurutnya semua kebutuhan dia terlengkapi oleh uang elektronik. Alhasil mau tidak mau dia hanya bisa menyerahkan semua uangnya di dompet sejumlah Rp14.000 untuk seporsi Nasi Padang sembari berharap penjual nasi mengikhlaskan kekurangan bayarnya.

Inilah secuil cerita dari Heru dan Fajar yang bisa sedikit banyak menggambarkan euforia Milenial pada sistem pembayaran non tunai yang sudah sangat berkembang di Indonesia. Apalagi gerakan nontunai pada era saat ini memang tidak bisa dijauhkan dengan para milenial. Sebagai generasi yang melek dengan teknologi dan internet, ditambah dengan budaya mereka yang selalu menginginkan kepraktisan dan kemudahan, sistem pembayaran nontunai ini sangat cocok. Pasalnya semua bisa dilakukan dalam satu genggaman, smartphone.

baca juga:

Melihat karakteristik milenial inilah para pelaku usaha, baik penyedia uang elektronik berbasis kartu maupun yang berbasis server dalam smartphone, menilai sistem pembayaran digital di Indonesia akan cerah. Dengan pangsa pasar yang besar karena Indonesia juga akan mendapatkan bonus demografi, para penyedia uang elektronik ini semakin berlomba-lomba untuk menjadi layanan pembayaran yang terdepan.

Misal, PT Visionet Internasional selaku anak usaha dari Lippo Group. Penyedia jasa uang elektronik OVO Cash ini memiliki gimmick unik dalam memasarkan uang elektroniknya kepada masyarakat. Dia memberikan harga promo 1 rupiah untuk 1 kali perjalanan pada aplikasi Grab. OVO juga memakai strategi yang sama di tempat lain, yakni 1 rupiah untuk parkir seharian, dan 1 rupiah untuk pembelian minyak goreng. Belum lagi untuk diskon pembelian makanan dan membayarnya dengan uang elektronik, OVO memberikan diskon atau cashback hingga 30 persen.

GoPay, uang elektronik dari PT Dompet Anak Bangsa sebagai pesaing OVO juga tidak ketinggalan memasarkan uang elektroniknya. Cara yang ditempuh di antaranya melalui diskon-diskon yang menarik, mulai dari diskon tarif perjalanan jika menggunakan GoRide atau GoCar, cashback sampai 20 persen dalam memesan makanan melalui GoFood apabila membayarnya dengan GoPay, dan potongan-potongan harga lainnya.

Yang terbaru adalah dompet digital, DANA, dari PT Elang Mahkota Teknologi (Emtek), yang berani memberikan diskon hingga 50 persen jika menggunakan pembayaran menggunakan uang elektronik yang dia sediakan pada pembelian makanan hingga barang-barang kebutuhan rumah tangga. Pemain baru, LinkAja milik perbankan BUMN juga turut menyemarakkan euforia dalam sistem pembayaran uang elektronik ini. Aplikasi ini juga memberikan diskon yang besar dalam pembelian makanan maupun barang jika bertransaksi pembayaran dengan LinkAja.

Semua kondisi ini akhirnya membuat masyarakat, khususnya Milenial semakin kecanduan dalam menggunakan uang elektronik dalam setiap aktivitas keuangannya.

Respon Bank Indonesia dalam Memfasilitasi Meledaknya Uang Elektronik

E-money atau Uang Elektronik ternyata sudah disebut dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor: 11/12/PBI/2009 tentang Uang Elektronik (Electronic Money) yang kini sudah diperbarui menjadi PBI Nomor: 18/ 17/PBI/2016. E-money diterbitkan atas dasar nilai uang yang disetor terlebih dahulu oleh pemegang kepada penerbit dan nilai uang tersebut disimpan secara elektronik dalam suatu media seperti server atau chip. 

Menurut aturan Bank Indonesia, E-money bukan hanya sebagai pengganti uang tunai fisik dalam bentuk koin dan uang kertas dengan uang elektronik yang setara, namun juga sebagai sebuah sistem yang memungkinkan seseorang untuk membayar barang atau jasa dengan mengirimkan nomor dari satu komputer ke komputer lain. 

Data yang dihimpun dari Bank Indonesia, penggunaan uang elektronik yang berbasis chip dan server dalam setahun terakhir ini menunjukkan peningkatan yang sangat luar biasa. Hingga Juli 2019, rata-rata transaksi uang elektronik sudah menembus angka Rp400 miliar hingga Rp450 miliar per hari. Transaksi uang elektronik tetap tumbuh tinggi mencapai 261,2 persen year on year. Capaian ini mengindikasikan preferensi masyarakat terhadap penggunaan uang digital yang terus menguat dan tendensi integrasi Uang Elektronik dalam ekosistem digital yang meluas.

Sebagai perbandingan, di tahun 2016 transaksinya rata-rata masih di bawah Rp 50 miliar per hari, kemudian mulai merangkak naik hingga di atas Rp 100 miliar per hari pada akhir 2017. Sementara itu dari sisi pembayaran tunai, data BI menunjukkan posisi uang yang diedarkan (UYD) mencapai Rp 720,2 triliun pada akhir Agustus 2019 atau tumbuh 4,5 persen (YoY). 

Sehingga pada 1 September 2019, Bank Indonesia melakukan penyempurnaan kebijakan untuk uang elektronik dengan memperkuat koordinasi lintas otoritas untuk mengoptimalkan penyaluran dan penyerapan bansos nontunai, integrasi moda transportasi, elektronifikasi pedagang di pasar tradisional, dan transaksi keuangan pemda.

Ancaman Tersembunyi Uang Elektronik

Kendati pembayaran digital menawarkan kepraktisan, kemudahan dan banyak sekali keuntungan, ternyata ada efek negatif yang bisa muncul. Salah satunya adalah pemborosan, karena uang elektronik membuat orang menjadi kurang peka dalam mengatur pengeluaran. Hal ini berdasarkan atas penelitian Profesor dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) Drazen Prelec, yang menyatakan bahwa kartu kredit atau pembayaran nontunai lainnya berbahaya. Lantaran berpotensi membuat konsumen tidak lagi merasakan rasa ‘kehilangan’ atau ‘sakit’ saat membayar. 

Kondisi ini diperparah dengan minimnya pengetahuan milenial dalam mengelola keuangan. Menurut riset PwC pada 2014, dari 5.500 responden berusia 23-35 tahun, hanya 24 persen yang memiliki pengetahuan pengelolaan keuangan secara memadai. Selebihnya belum mengetahui bagaimana mengatur keuangannya. 

Ancaman lainnya adalah dari sifat uang elektronik itu sendiri yang tidak bisa diblokir, maka bentuk uang ini sama halnya dengan uang tunai. Jika e-money ini hilang maka hilanglah pula sejumlah nominal saldo kita yang ada di dalamnya, layaknya kehilangan dompet. Fajar (kembali ke perbincangan santai soal e-money) pernah bercerita bahwa dia pernah mengisi uang elektronik sebesar Rp500.000 tapi karena ada oknum yang nakal maka saldo uang elektroniknya berubah menjadi Rp50.000 saja. Uangnya diduga telah disedot oknum, saat bertransaksi di tol. Jadi alangkah baiknya tidak mengisi saldo terlalu banyak di dalam e-money. 

Memang dalam hal saldo ini Bank Indonesia juga telah mengatur pengisian saldo uang elektronik maksimal Rp2 juta untuk yang unregistered, yakni tanpa ada identitas diri pemilik uang dan Rp10 juta untuk yang registered dengan artian uang elektronik tersebut juga akan ada data identitas pemiliknya. Sehingga bila terjadi kehilangan uang elektronik atau gangguan sistem maka uang elektronik registered bisa di kembalikan ke pemiliknya.

Penggunaan uang elektronik memang membutuhkan pengamanan sistem yang lebih tinggi. Penerapan e-money menuntut penyedia produk harus membangun infrastruktur keamanan yang canggih dan memperbaharuinya terus menerus. E-money merupakan produk jaringan dalam Internet. Dengan demikian infrastruktur hardware dan software memegang peran penting dalam kelancaran transaksi. Interupsi terhadap sistem akan mengakibatkan masalah luas pada e-money. 

Butuh Gerak Cepat Otoritas

Penerapan e-money secara luas akan berdampak ketergantungan dunia bisnis dengan sistem pembayaran elektronik. Faktor keamanan sistem juga menjadi masalah penting dalam transaksi digital. Legalitas kebijakan pemerintah juga perlu disiapkan untuk mengatur berbagai macam bentuk e-money yang akan muncul di masa yang akan datang. Semuanya ini perlu disiapkan sejak awal untuk mencegah kegagalan sistem. 

Pasalnya secara teoritis, penurunan permintaan uang tunai akan menyebabkan penurunan tingkat suku bunga di pasar uang karena masyarakat akan memilih menggunakan alat pembayaran non tunai yang dibarengi dengan menyimpan uang di bank yang bersangkutan (Mankiw, 2009). Hal ini membuat biaya pinjaman lebih kompetitif, sehingga meningkatkan investasi perusahaan dan meningkatkan Output riil nasional. Sehingga dapat dikatakan bahwa penggunaan e-money akan menyebabkan pertumbuhan ekonomi. []

Editor: Denny Iswanto

berita terkait

Image

Iptek

Perang Siber

Selain Keuangan, Sektor ini Diprediksi Hadapi Tantangan Kejahatan Siber di 2020

Image

Ekonomi

Bank Mandiri Geser Strategi ke Pendapatan Non Bunga dan Digitalisasi

Image

Iptek

Kata Netflix dan Twitter soal Pajak Digital di Indonesia

Image

Ekonomi

Mentan Klaim Kostratani Mampu Ciptakan Ekosistem Pertanian Berbasis Digital

Image

Iptek

Dukung Transformasi Digital Sektor Pendidikan, Microsoft Cs Gelar Edu Summit 2019

Image

Iptek

Peru segera Terbitkan PP Pajak Digital, Indonesia Bagaimana?

Image

Iptek

Perang Siber

Hati-hati! Pelaku Kejahatan Siber Incar Sektor Keuangan di 2020

Image

Ekonomi

Mitra Terpercik Dampak Resesi Ekonomi, Begini Taktik Bukalapak

Image

Ekonomi

BI Ungkap Penyebab Menguatnya Rupiah di Awal Desember

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
Ekonomi

Setelah Ganti Direksi, Saham Garuda Bisa Terus Melonjak?

Harga saham PT Garuda Indonesia Persero Tbk (GIAA) kemarin sore, Rabu (11/12/2019), berada di Rp500.

Image
Ekonomi

Rupiah Terkapar Digebuk Dolar AS Imbas Kebijakan The Fed

Nilai tukar rupiah melawan dolar AS pada pasar spot awal perdagangan Kamis (12/12/2019) kalah 0,04 % atau 5 poin ke Rp14.040.

Image
Ekonomi

Bos KAI Prediksi Kenaikan Penumpang 4 Persen Selama Nataru

KAI prediksi akan ada kenaikan jumlah penumpang selama NATARU 2020 sebesar 4 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Image
Ekonomi

Jokowi Beri Mandat ke Erick Thohir Cari Dirut PLN Berpengalaman

Presiden Jokowi telah memberikan arahan kepada Menteri BUMN untuk mencari figur berpengalaman sebagai calon Dirut PT PLN.

Image
Ekonomi

Menabung di Bank Sudah Biasa, Nih Cobain Alternatif Lainnya

Jangan berpikir bahwa dengan menyimpan uang di Bank menjadi jalan kamu untuk mencapai kekayaan.

Image
Ekonomi

Ajak Blibli.com, Begini Gaya Menkop Teten Rangsang UKM Naik Kelas

Blibli.com memiliki 60 ribu UKM yang merupakan peserta perlombaan Big Start.

Image
Ekonomi

Menkop Teten Sebut Impor Cangkul Simbol Ketertinggalan

Pemetaan kebutuhan cangkul baik dari swasta, maupun pemerintah termasuk melakukan pemetaan terhadap kemampuan produksi.

Image
Ekonomi

Pahala Beli Saham BTN Hampir Rp1 Miliar, Ini Kata Analis

Seminggu menjadi Direktur Utama Bank Tabungan Negara (BBTN), Pahala Mansury membeli saham lagi di perusahaan tersebut.

Image
Ekonomi

BPJS Kesehatan Permudah Layanan Turun Kelas Kepesertaan Melalui MCS

MCS dapat melayani seluruh administrasi kepesertaan BPJS Kesehatan.

Image
Ekonomi

Omnibuslaw Jadi Sentimen Positif, IHSG Menguat

IHSG kembali menguat setelah kemarin sore ditutup lesu. Pada Kamis pagi (12/12/2019),IHSG tercatat menguat 0,09% atau 5,31 poin ke 6.185,41.

Available

trending topics

jamkrindo umkm

terpopuler

  1. Ayah Terseret Kasus Penyelundupan Harley di Garuda Indonesia, Ini Kata Devano Danendra

  2. Wanita yang Ditangkap Polres Jakbar Terkait Narkoba Ternyata Mantan Model Malaysia

  3. 5 Fakta Unik Lolosnya Atalanta ke 16 Besar Liga Champions, Kalah Melulu di Awal dan Minjem Stadion

  4. Nadiem Bakal Hapus UN, Begini Respon Anies Baswedan

  5. Napoli Resmi Tunjuk Gattuso untuk Gantikan Ancelotti

  6. Beredar Kabar Pemilik Warung Legendaris Sate Klathak Pak Pong Meninggal, Pegawai: Nama Aslinya Dzakiron

  7. Viral Video Anggota Banser Diintimidasi, PSI: Kebayangkan Negara yang Diidamkan Radikalis seperti Ini?

  8. Termasuk Berkumur, 5 Kebiasaan yang Harus Dilakukan Usai Berhubungan Seks

  9. Kelompok Homoseksual di Semarang yang Terpapar HIV/AIDS Capai 5.703 kasus

  10. Kurangi Beban Guru, Mendikbud Sederhanakan RPP Jadi Tiga Poin Saja

Available

fokus

Stop Pelecehan Seksual
Kursus Calon Pengantin
Puasa Plastik
Available

kolom

Image
Achsanul Qosasi

Haruskah TVRI Kembali Mati Suri?

Image
Achmad Fachrudin

Revitalisasi Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat

Image
Hervin Saputra

Ego Tuan Rumah dan Reputasi SEA Games yang Kian Meragukan

Image
Alfarisi Thalib

Paradoks Pemberantasan Korupsi

Available

Wawancara

Image
Sea Games

Milos Sakovic

"Polo Air Indonesia Butuh Liga dan Banyak Turnamen"

Image
Gaya Hidup

Pertama Kali Akting Bareng, Giorgino Abraham Langsung Nyaman dengan Sophia Latjuba

Image
Video

Joshua Rahmat, CEO Muda yang Menggawangi Mytours

Sosok

Image
News

Dari Balita hingga Jadi Menhan, 10 Potret Transformasi Prabowo Subianto

Image
Iptek

Orang Baduy Juga Melek Teknologi

Image
News

10 Potret KSAU Marsekal Yuyu Sutisna bersama Istri, Kompak di Berbagai Kesempatan