image
Login / Sign Up

Titik Nadir Perekonomian RI Beberapa Hari Jelang G30S/PKI

Denny Iswanto

Image

| Lukman Hakim Naba

AKURAT.CO Gerakan 30 September (dalam dokumen pemerintah tertulis Gerakan 30 September/PKI, disingkat G30S/PKI), adalah sebuah peristiwa yang terjadi lada 30 September sampai di awal 1 Oktober 1965, ketika tujuh perwira tinggi militer Indonesia beserta beberapa orang lainnya dibunuh dalam suatu usaha kudeta.

Partai Komunis Indonesia (PKI) merupakan partai komunis yang terbesar di seluruh dunia, di luar Tiongkok dan Uni Soviet. Sampai pada tahun 1965 anggotanya berjumlah sekitar 3,5 juta, ditambah 3 juta dari pergerakan pemudanya.

PKI juga mengontrol pergerakan serikat buruh yang mempunyai 3,5 juta anggota dan pergerakan petani Barisan Tani Indonesia yang mempunyai 9 juta anggota. Termasuk pergerakan wanita (Gerwani), organisasi penulis dan artis dan pergerakan sarjananya, PKI mempunyai lebih dari 20 juta anggota dan pendukung.

baca juga:

Peristiwa G30S/PKI memang telah menuliskan sejarah yang cukup kelam bagi bangsa Indonesia. Akan tetapi mengingat peristiwa ini telah terjadi lebih dari lima dekade yang lalu, pastinya banyak orang yang lupa bagaimana kondisi sosial, politik maupun ekonomi pada hari-hari menjelang peristiwa G30S/PKI.

Memang menurut data Bank Indonesia (BI) dalam “History of Monetary Period 1959-1966", sepanjang periode 1960-1965, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PBD) sangat rendah. Laju inflasi teramat tinggi hingga mencapai 635 persen pada 1966. Investasi pun merosot tajam.

Presiden pertama RI, Sukarno, beserta perangkat pemerintahannya pun telah memberlakukan kebijakan darurat agar perekonomian negara tidak sekarat. Sanering (pemotongan nilai mata uang) hingga redenominasi (penyederhanaan nilai mata uang tanpa mengurangi nilai tukar) diterapkan. Namun, kian rumit dan panasnya situasi politik dengan adanya G30S/PKI, membuat upaya perbaikan moneter menjadi kurang maksimal.

Namun, di tengah samar-samarnya kondisi ekonomi sebelum pemberontakan G30S/PKI terjadi ternyata ada satu hal yang masih melekat, yakni lagu Genjer-genjer yang tetap terus berkumandang.

Untuk mengetahui kondisi perekonomian sebelum terjadinya sejarah besar di akhir bulan September ini Akurat.co mencoba memunculkan kembali tulisan Siswadhi yang berjudul "Hari-hari Sekitar Tanggal 30 September 15 Tahun yang Lalu", seperti pernah dimuat di Majalah Intisari edisi September 1980.

Dalam tulisan tersebut ia dengan gamblang mengungkapkan situasi ekonomi kala itu seperti dikutip Akurat dari laman Intisari Online. Berikut petikan tulisan karya Siswadhi:

Sementara segelintir orang menikmati hiburan di tempat yang paling tinggi di Jakarta, kehidupan sehari-hari rakyat merana.

Keadaan ekonomi makin bobrok.

Keperluan hidup sehari-hari terus membubung karena inflasi merajalela.

Bagi rakyat biasa kenyataannya ialah, harga-harga selalu naik dari hari ke hari, minggu ke minggu.

Yang paling parah ialah orang yang harus hidup dari gaji.

Beras dan minyak tanah sukar didapat.

Pemerintah membagikan kedua komoditi ini dengan harga resmi tetapi dalam jumlah kecil.

Akibatnya di mana-mana terlihat rakyat antre beras atau minyak tanah.

Tanggal 30 September 1965, sebuah surat kabar ibukota memuat catatan harga keperluan sehari-hari yang didapat, dari pasaran beberapa hari sebelumnya.

Bicara tentang harga-harga, menjadi kurang relevan kalau tidak dibandingkan dengan pendapatan orang.

Seorang rekan yang waktu itu bekerja sebagai guru SD di Jakarta, di belakang Hotel Indonesia teringat, gajinya Rp 5000.

Seorang doktorandus ekonomi yang bekerja di bagian pembukuan sebuah perusahaan ekspor impor lebih mujur, gajinya Rp 150.000.

Pesuruh dan tukang masak di perusahaan yang sama mendapat Rp 20.000

Seorang wartawan sebuah majalah kecil mendapat Rp 35.000

Sedangkan wartawan bujangan di majalah lebih besar mendapat Rp 65.000

Yang pasti tingkat gaji pada masa itu umumnya relatif lebih rendah dari sekarang.

Bisa dibayangkan betapa mahalnya barang sepele seperti korek api yang harganya 75 perak dan sebatang sabun Rp 550.

Namun menurut doktorandus tadi bedanya dulu orang bisa "ngobjek" yang sekarang sulit dilakukan.

Menurut buku sejarah nasional Indonesia jilid VI inflasi tahun 1965 naik menjadi 600 persen.

Tanggal 13 Desember 1965 mulai pukul 8 malam diberlakukan uang rupiah baru.

Nilainya 1000 : 1 dengan uang lama.

Bertambah merosotnya perekonomian bukan saja sangat memusingkan ibu-ibu rumah tangga, tetapi seorang mahasiswa ekonomi pun tidak berdaya dibuatnya.

Sampai-sampai ia putus asa dan mengirimkan surat kepada sebuah surat kabar yang terbit di Jakarta.

Antaranya ia menulis, agar "redaksi menulis atau memberi pemandangan tentang perekonomian kita, dengan penjelasan-penjelasan kalau ada peraturan baru dan efeknya."

Ia minta agar surat kabar itu "memberikan penjelasan mengapa harga-harga selalu meningkat saja".

Ia menambahkan: "bagi saya sebagai mahasiswa fakultas ekonomi saja tidak tahu, tentunya bagi rakyat banyak juga demikian".

Redaksi koran itu tidak memberikan komentar apa-apa.

Sementara itu golongan yang hendak 'mematangkan situasi' memanfaatkan kekacauan ekonomi itu untuk kepentingannya sendiri.

Demonstrasi demi demonstrasi dilancarkan dengan alasan menuntut penurunan harga, ganyang kapbir (kapitalis birokrat) setan kota dan sebagainya.

Pada tanggal 30 September itu dimuat berita tentang demontrasi yang dilakukan oleh 100.000 orang yang menuntut pencoleng-pencoleng ekonomi.

Berita itu terbaca, sebagai berikut:

"100.000 masa rakyat ibukota dengan dipelopori pemuda, pelajar dan mahasiswa yang.tergabung dalam Front Pemuda, PPMI dan MMI yang diikuti pula oleh golongan buruh, tani, wanita, sarjana, seniman dan wartawan hari Rebo siang (tanggal 29-9-1965) mengadakan aksi tunjuk hidung terhadap setan kota, kapbir, pencoleng dan koruptor.''

Mereka kemudian mengajukan daftar nama empat setan kota kepada Menteri/Jaksa Agung, Kastaf KOTRAR dan Menteri/Pangak.

Sementara itu, dalam halaman yang sama Menperdag Brigjen M Yusuf (sekarang MenHankam) menyatakan, masalah ekonomi tidak akan teratasi dengan tuduh menuduh atau mencari kambing hitam.

la menjelaskan, ekonomi merupakan masalah multi-kompleks yang hanya dapat diatasi dengan menaikkan produksi.

Genjer - genjer

Sementara itu Toko Serba Ada Sarinah (salah satu proyek prestis pemerintah Orde Lama) pada tanggal itu juga memasang iklan berbentuk sajak:

“Siapa bilang tanah kita kapur. Indonesia negri yang subur. Buktinya dari palawija Di Toko Pangan Serba Ada”

Agaknya maksudnya supaya didendangkan menurut irama lagu bersuka-ria, "Siapa bilang Bapak dari Blitar, Bapak kita dari Prambanan" lagu yang menjadi 'top hit' tahun 1965.

Siapa yang sering bertugas ke istana waktu itu tentunya tahu bahwa lagu itu sering mengiringi pesta-pesta lenso yang dihadiri menteri-menteri, diplomat-diplomat, bintang film, biduanita dan tokoh lain yang gemerlapan.

Memang meja-meja istana melimpah dengan segala macam hidangan yang enak-enak, sementara rakyat kekurangan bahan pangan dianjurkan untuk makan jagung.

Sementara para pemimpin berpesta, tragedi nasional ada di ambang pintu.

Berbicara tentang lagu, yang sedang 'top' pada waktu itu, barangkali tidak ada yang menandingi lagu "Genjer-Genjer'.

Semula lagu rakyat dari daerah Banyuwangi, kemudian diorbitkan oleh seorang anggota Lekra lalu menjadi semacam lagu kampanye golongan mereka.

Tetapi kenyataannya ialah, lagu itu digemari oleh hampir segenap lapisan masyarakat.

Tetapi jelas bahwa lagu ini tidak akan muncul dalam banjir kaset "Nostalgia" sekarang ini.

Sebab konon lagu ini pernah memegang peranan dalam tragedi pembunuhan para pahlawan Revolusi di Lubang Buaya sehingga tak lama setelah peristiwa Gestapu dilarang.

Hiburan umum sangat terbatas.

Hiburan yang paling mudah terjangkau adalah film, relatif masih murah, sebab belum ada mode gala premiere, gedung mewah pakai AC, midnight show dan sebagainya.

Tapi film Amerika diboikot.

Yang diputar di bioskop umumnya film blok Timur, RRC dan jarang sekali film Barat.

Dari iklan-iklan diketahui bahwa saat itu sedang diputar film "Kanal" di Carya, film Polandia.

Megaria memutar film "Man against Man", tidak jelas dari negara mana.

Di bioskop Seno dipertunjukkan film "De Overval" (tidak jelas dari mana, hanya anehnya judulnya bahasa Belanda).

Pada tanggal satu Oktober koran corong PKI Harian Rakyat memuat karikatur pada halaman pertama yang menggambarkan dua orang jenderal dicampakkan oleh seorang bertopi baja ke dalam lubang yang penuh dengan bambu runcing.

Judul film "De Overval" dicantumkan, tapi diganti menjadi "De Generaals Val" dan diberi terjemahan "Jatuhnya Jenderal-jenderal".

Dari beberapa puluh surat kabar yang terbit di Jakarta, koran-koran yang berafiliasi dengan PKI dan ormas-ormas pendukungnya dan berhaluan kiri lainnya jelas mengeluarkan pernyataan mendukung gerakan pengkhianatan itu.

Setelah tanggal 1 Oktober semua suratkabar Ibukota dilarang terbit kecuali Berita Yudha dan Angkatan Bersenjata yang langsung di bawah pengawasan Angkatan Bersenjata.

Pada tanggal 6 Oktober, kecuali dua suratkabar tadi, 8 buah boleh muncul kembali, yakni Duta Masyarakat, Indonesian Herald, Jakarta Daily Mail, Kompas, Mercu Suar, Nusa Putera, Pelopor dan Suara Islam.

Harian Sinar Harapan baru menyusul dua hari kemudian.

Yang terkena larangan terbit seterusnya karena mendukung G-30-S ialah Harian Rakyat, Bintang Timur, Suluh Indonesia, Warta Bhakti, Ekonomi Nasional, Ibu Kota, Gelora Indonesia, dan dua koran berbahasa Cina Chang Ching Pao dan Hua Chi Pao.

Untuk tulisan ini dipergunakan bahan dari harian Kompas dan Sinar Harapan.

Tetapi kami tidak berhasil menemukan kembali harian-harian lain, terutama yang terlibat, padahal itu merupakan dokumen sejarah.

Beberapa instansi yang seharusnya menyimpannya, ternyata tidak mempunyainya.

Yang jelas kalau ada sarjana peneliti yang memerlukan surat kabar-surat kabar masa itu yang lengkap harus mencarinya di Cornell University.

Sebab di situ koleksinya pasti lengkap.

Seorang sarjana Amerika, Roger K. Paget, pernah menerbitkan daftar lengkap harian dan mingguan yang terbit di Jakarta antara 1965 sampai 1966 dalam majalah indonesia (Cornell) tahun 1967.

Kemudian ia mengadakan penelitian dan menuangkan hasilnya dalam tesis Doktornya.

Semua koran-koran yang disebutkan dalam daftarnya ada di dalam koleksi Universitas Cornell. []

Editor: Denny Iswanto

berita terkait

Image

Ekonomi

Menko Airlangga: Implementasi B30 Bisa Hemat Devisa Hingga US$4,8 Miliar

Image

Ekonomi

Neraca Dagang Surplus, Menko Airlangga: Program Pemerintah Pada Arah yang Benar

Image

Ekonomi

Rupiah Lemas Seharian Akibat Perang Dagang dan Isu Ahok

Image

News

FOTO Senator Jeanine Anez Deklarasikan Dirinya Jadi Presiden Sementara Bolivia

Image

Ekonomi

Ada Bom Bunuh Diri di Medan, Menko Airlangga Minta Keamanan Negara Diperketat

Image

Ekonomi

Ahok Bakal Urus BUMN, Menko Airlangga: Enggak Ada Masalah

Image

Ekonomi

Dongkrak Peran Sektor Perikanan terhadap PDB Nasional, Seafood Show of Asia Digelar

Image

Ekonomi

Menko Airlangga Paparkan 5 Proyek Strategis Nasional Bidang Perekonomian

Image

Ekonomi

FOTO Atasi Krisis Ekonomi, Zimbabwe Kenalkan Mata Uang Baru

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
Ekonomi

5 Bisnis Pertanian Ini Cocok bagi Anak Muda

Untuk kini giliran para pemuda yang berkesempatan menggarap salah satu bisnis yang menjanjikan ini.

Image
Ekonomi

Pengusaha Tolak Revisi PP Soal Rokok, Kenapa?

Industri tembakau adalah industri legal yang menjadi sumber mata pencaharian lebih dari 6,1 juta masyarakat Indonesia.

Image
Ekonomi

Pengamat: Rencana Pemerintah Naikkan Cukai Vape Keputusan Tepat

Piter Abdullah menilai rencana Direktorat Jenderal Bea dan Cukai untuk menaikkan cukai rokok elektronik atau vape mulai 2020 keputusan tepat

Image
Ekonomi

Jurus Bahlil Rayu Investor Jepang Untuk Investasi

Para investor ingin sekali mendengarkan langsung terobosan-terobosan Kepala BKPM baru.

Image
Ekonomi

RI-Meksiko Bahas Peningkatan Hubungan Dagang

Pertemuan bilateral ini membahas upaya peningkatan perdagangan kedua negara.

Image
Ekonomi

Investor Jepang Pendam Kekecewaan terhadap Indonesia, Lho Kenapa?

Investor Jepang berharap Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia segera berkunjung ke Negeri Sakura.

Image
Ekonomi

Selain Saham dan Emas, Mau Tahu Jenis Investasi Lainnya?

Investasi tidak hanya emas dan saham saja. Banyak lho jenis-jenis investasi lainnya.

Image
Ekonomi

7 Cara Cepat Jual Barang Bekas, Tak Perlu Menunggu

Barang-barang bekas (preloved) bisa lho cepat laku di jual asal tahu caranya.

Image
Ekonomi
Perang Dagang

AS-China Kembali Tak Serius Akhiri Perang Dagang

Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping masih belum menemui kesepakatan.

Image
Ekonomi

Menko Airlangga: Implementasi B30 Bisa Hemat Devisa Hingga US$4,8 Miliar

Airlangga Hartarto menyebutkan implementasi mandatori B30 dapat menghemat devisa negara hingga sebesar US$4,8 miliar.

Available

trending topics

terpopuler

  1. Sarankan Menteri BUMN Konsultasi dengan KPK Soal Ahok, Andre Rosiade Kena 'Tampar' Profesor USU

  2. Salmafina Tak Lagi Main Medsos, Sunan Kalijaga: Yang Penting Gak Keluar dari Rumah

  3. Politisi ini Sebut Penganut Khilafah Pasti Gak Suka Ahok di BUMN

  4. Aset First Travel Tak Dikembalikan ke Korban dan Disita Negara, Tengku Zulkarnain: Negara Rugi Apa?

  5. Bakal Jadi Sarjana Termuda di Dunia, 7 Fakta Menarik Laurent Simons si Bocah Berusia 9 Tahun

  6. Soal Pengangkatan Ahok di BUMN, Erick Thohir: Sandi Aja Nilai Positif!

  7. Aksinya Saat Lawan Arah Viral, Ini Klarifikasi Pelaku dan Istrinya

  8. Deddy Corbuzier Singgung Anggaran Aica Aibon, Anies: Itu Emang Malu-maluin

  9. Banyak Perusahaan Kehilangan Karyawan Akibat Menjamurnya Startup, Lalu Sistem Jaminannya?

  10. Tim Dokter yang Menangani Persalinan Anak Kedua Selvi Ananda Sama Seperti Kelahiran Jan Ethes

Available

fokus

Nasib Sumber Air
Tantangan Pendidikan
Pejuang Kanker Payudara
Available

kolom

Image
Erizky Bagus Zuhair

Heritage Port Sunda Kelapa, dari Rempah-rempah ke Pariwisata

Image
UJANG KOMARUDIN

Memerangi Radikalisme

Image
Abdul Aziz SR

Pentingnya Tenaga Ahli DPRD

Image
Hasan Aoni

Secuil Kabar dari Amerika tentang Sri

Available

Wawancara

Image
Video

VIDEO Sepak Terjang Erna Hernawati Mengawal UPN Veteran Jakarta

Image
News

Pemidanaan Korporasi Atas Karhutla Di Mata Praktisi Hukum

Image
Olahraga

Wawancara Seto Nurdiantoro (Bag 2 - selesai)

'Pertandingan Paling Berkesan Adalah Menang'

Sosok

Image
Ekonomi

Pendidik hingga CEO, Ini 5 Fakta Menarik Ken Ratri Iswari, Pendiri Geekhunter

Image
News

6 Potret Hangat Fadli Zon Antar Ibunda Pulang Kampung ke Payakumbuh

Image
News

Liburan ke Lombok hingga Nongkrong di Kafe, 8 Potret Terbaru Mantan Menteri ESDM Ignasius Jonan