image
Login / Sign Up

Industri Tekstil Menjerit di Tengah Kinerja yang Katanya 'Apik'

Dhera Arizona Pratiwi

Indepth

Image

Ekshibisi mesin tekstil dalam pameran industri tekstil dan produk tekstil (ITPT) terintegrasi bertaraf Internasional 'Indo Intertex dan Inatex' yang diselenggarakan di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (4/4). Pameran yang menghadirkan 900 perusahaan dari perusahaan lokal dan 23 mancanegara yang bergerak dalam industri tekstil dan garmen. Pameran yang saling terkait yakni Indo Intertex yang menghadirkan permesinan dan peralatan, sedangkan Inatex memamerkan aneka bahan baku serat, benang, kain, pakaian jadi, dan aksesori | AKURAT.CO/Dharma Wijayanto

AKURAT.CO Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) hingga hingga kuartal II-2019 disebutkan oleh Kementerian Perindustrian menunjukkan kinerja yang positif dengan pertumbuhan 20,71 persen dari industri pengolahan non migas keseluruhan. Alhasil, pertumbuhan tersebut juga mendorong meningkatnya ekspor di sektor ini.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan kinerja ekspor industri TPT nasional dalam kurun tiga tahun terakhir terus menanjak. Ekspor TPT pada 2016 mencapai USD11,87 miliar, kemudian USD12,59 miliar pada 2017 dengan surplus USD5 miliar. 

“Tren ini berlanjut sampai dengan 2018 dengan nilai ekspor USD13,27 miliar,” katanya di Jakarta, Selasa (6/8/2019).

baca juga:

Namun, Ikatan Ahli Tekstil Indonesia (IKATSI) menyatakan, angka pertumbuhan tersebut tidak bisa dijadikan patokan gambaran industri TPT saat ini.

Ketua Umum IKATSI Suharno Rusdi menyatakan, angka 20,71 persen itu lebih dipengaruhi oleh kenaikan nilai ekspor garmen. Sedangkan kondisi yang terjadi di sektor produksi serat, benang dan kain justru memperlihatkan kondisi sebaliknya. 

"Jadi pernyataan beberapa pihak bahwa industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional dalam kondisi yang baik-baik saja 100 persen tidak valid," ucapnya dalam acara Textiles Media Gathering di Menara Kadin, Jakarta, Senin (9/9/2019).

Ironis, 9 pabrik tutup di tengah kinerja Industri TPT yang katanya membaik

Sebanyak sembilan pabrik tekstil pun gulung tikar dalam kurun waktu dua tahun terakhir. Menurut Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), hal in diakibatkan oleh banjirnya produk-produk tekstil hasil impor yang memberikan implikasi terhadap lapangan kerja di dalam negeri.

Ketua Umum API Ade Sudrajat mengatakan, produk-produk tekstil hasil impor itu biasanya membanderol harganya lebih murah. Sehingga, membuat produk-produk hasil dalam negeri tidak mampu bersaing.

"PHK sudah pasti (ada). Kalau di dalam domestik pasarnya diisi barang-barang impor yang notabene harganya jauh lebih murah dari posisi mereka, tentu tidak ada pilihan lain selain menutup industrinya. Kalau yang sudah tutup kami catat ada beberapa, kalau tidak salah sekitar sembilan perusahaan. Hampir meliputi angka yang lumayan, 2.000 (tenaga kerja)," ucapnya dalam Textiles Media Gathering di Menara Kadin, Jakarta, Senin (9/9/2019).

Lebih rinci, Ade menerangkan, sembilan pabrik tekstil yang tutup tersebut mayoritas merupakan pemain di sektor menengah seperti pemintalan, pertenunan dan rajut. Namun, ia masih enggan merinci nama-nama perusahaan tersebut.

PHK terjadi lantaran industri tekstil yang berorientasi pasar domestik jauh lebih besar daripada yang berorientasi ekspor. Sebab, industri tekstil yang berorientasi domestik kebanyakan belum memenuhi syarat kualitas barang untuk bisa ekspor. 

"Sehingga mau tidak mau tidak ada pilihan lain sehingga harus berorientasi domestik," sambungnya.

Oleh sebab itu, katanya, jika kondisi pasar di dalam negeri masih dibanjiri oleh produk-produk tekstil impor dan terus dibiarkan, maka akan terjadi anomali di mana pada satu sisi industri ini bisa membuka lapangan kerja, namun di sisi lain malah menutup lapangan kerja.

Pengusaha tekstil 'malu' kinerja ekspor Industri TPT disalip Vietnam

Bahkan, ia pun mengaku malu dengan kinerja ekspor tekstil yang tujuh tahun terakhir kalah dari Vietnam. Padahal, tadinya negara yang beribu kota Hanoi itu posisinya jauh di bawah Indonesia.

Nilai ekspor tekstil Indonesia baru mencapai 1,8 persen dari total pasar dunia atau setara dengan USD13 miliar. Sedangkan nilai ekspor tekstil Vietnam kini nilainya sudah mencapai USD48 miliar. 

Industri tekstil berorientasi pasar domestik pun disebut-sebut memiliki potensi yang besar. Namun sayangnya selama beberapa tahun terakhir ini justru pasar domestik dibanjiri oleh produk-produk impor.

Alhasil, hal ini membuat industri tekstil di dalam negeri tidak memiliki daya saing tinggi.

Adapun industri tekstil berorientasi pasar domestik nilainya diperkirakan USD15 miliar. Sedangkan nilai ekspornya kurang lebih USD13 miliar. Artinya secara total kemampuan industri tekstil di dalam negeri mendekati USD28 miliar.

"Sayangnya, pasar domestik tadi dikuasai produk impor. Kalau begitu artinya produk kita tidak berdaya saing. Suka atau tidak harus akui bahwa industri kita tidak berdaya saing," ucapnya dalam Textiles Media Gathering di Menara Kadin, Jakarta, Senin (9/9/2019).

Ade menerangkan, produk tekstil hasil impor tersebut selama ini membanderol harga produknya lebih murah. Sehingga, mereka bisa merebut pasar di Indonesia dan menjadi juaranya.

Ade menerangkan, produk-produk tekstil hasil impor tersebut berhasil merebut pasar domestik tersebut karena memiliki satu kata kunci yakni efisien. Hal itu terjadi tidak hanya di pabrik, melainkan hingga kepada kebijakan pemerintahnya.

Ade pun menyayangkan kunci efisien itu tidak diterapkan di Indonesia. Sehingga, industri di dalam negeri jadi kalah bersaing.

"Sayangnya di Indonesia government dan pabrik kurang efisien, jadi kita menjadi loser di dalam negeri sendiri," jelasnya.

Efisien yang dimaksud adalah soal lamanya waktu produksi sampai dikirimkan kepada pelanggan (deliver time). Untuk itu, ia menekankan agar industri tekstil di Tanah Air bisa memangkas waktu tersebut menjadi lebih pendek. 

Adapun caranya bisa melalui saling mengintegrasikan antara pemasok lokal dengan garmen ekspor.

Pelaku Industri ubah mindset menjadi orientasi ekspor

Makanya, pihaknya meminta seluruh industri tekstil Indonesia untuk mengubah pola pikir dari berorientasi pasar domestik menjadi ekspor. Hal ini dilakukan demi menahan gempuran impor tekstil yang marak sejak beberapa tahun terakhir.

"Mindset pengusaha kita itu seperti 'saya tidak mau berfikir ekspor. Lokal saja saya kewalahan'. Kalau mindset begitu, susah, bahwa dia lebih senang lokal daripada ekspor," jelas Ade.

Menurutnya, pengusaha industri tekstil yang berpola pikir demikian hanya akan selalu berorientasi untuk meminta perlindungan dari pemerintah.

Makanya, kata Ade, pengusaha industri tekstil didorong agar bisa mengimbangi antara porsi produksi untuk pasar domestik dan ekspor. Dengan begitu, akan tercipta keseimbangan di dalamnya.

Dengan demikian, industri tekstil Indonesia pun diyakini akan bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Apalagi, peluang industri untuk semakin memperbanyak ekspor pun masih terbuka lebar.

"Maka kalau begitu, akan jadi champion. Semangat akan menjadi champion. Masih banyak peluang untuk perbanyak ekspor kita. Tinggal bagaimana speed up ke depan lagi," tegasnya.

Langkah itu harus bisa dilakukan secara agresif, terutama di era seperti sekarang ini dengan adanya perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan Cina.

"(Perang dagang) Pasti memakan korban. Berbagai negara masuk resesi dan kita berharap Indonesia tidak masuk kepada resesi," jelasnya.

Ke depan, ia optimistis industri tekstil Tanah Air akan semakin banyak yang mampu menciptakan lapangan pekerjaan dan memperbesar nilai ekspor.

"Enggak ada cara lain. Kalau create impor lebih besar, saya yakin kita masuk ke dalam resesi," tuturnya.

Pengusaha ajukan Safeguard

Selain itu, API juga bakal mengajukan kebijakan tindakan pengamanan (safeguard) untuk industri tekstil Tanah Air kepada Komite Pengamanan Perdagangan Indonesia (KPPI) Kementerian Perdagangan pada pekan ini. Diharapkan nantinya kebijakan ini akan semakin meningkatkan daya saing industri di dalam negeri.

Ade mengungkapkan, permintaan kebijakan safeguard ini sudah disusun sejak dua bulan terakhir. Ada sekitar delapan indikator atau kategori yang akan dimintai fasilitas kebijakan safeguard.

"Minggu ini men-submit hampir delapan kategori ke KPPI untuk meminta safeguard dan kami sudah komunikasi intens mengenai poin di safeguard ini, agar memenuhi persyaratan mengenakan bea masuk sementara," ucapnya dalam Textiles Media Gathering di Menara Kadin, Jakarta, Senin (9/9/2019).

Ia menuturkan, usulan penerapan kebijakan safeguard tersebut akan didiskusikan oleh tiga kementerian terkait yakni Kementerian Perdagangan, Kementerian Keuangan, dan Kementerian Perindustrian.

Lebih lanjut, nantinya kebijakan safeguard dengan mengenakan bea masuk sementara diberlakukan selama 200 hari selama menunggu hasil investigasi.

Ketua Umum IKATSI Suharno Rusdi menambahkan, kebijakan safeguard tidak bisa berdiri sendiri untuk menahan gempuran impor. Langkah tersebut harus dibarengi dengan perbaikan Permendag Nomor 64/2017.

Untuk segera menyelamatkan industri TPT nasional, ia meminta pemerintah untuk segera menghentikan impor sementara hingga ada perbaikan aturan impor melalui revisi Permendag 64 tahun 2017 yang dianggap sebagai salah satu akar permasalahannya.

“Kita telah menyurati Presiden dan beberapa kementerian terkait untuk memperbaiki keadaan ini," jelas Rusdi.

Menurutnya, pembenahan sektor TPT adalah langkah strategis bagi pemerintah untuk menjadikan neraca perdagangan kembali positif dan mencegah dampak buruk ekonomi makro lainnya. 

"Kalau sektor ini sakit, neraca pembayaran pemerintah akan terdampak, sektor perbankan akan terdampak, setoran BPJS dan pembayaran listrik juga terdampak, makanya harus segera diperbaiki sebelum terlambat," tegasnya.

Adapun usulan IKATSI secara singkat adalah sebagai berikut:

1. Jangka Pendek (enam bulan): Penyelamatan industri TPT nasional

• Stop izin impor TPT kecuali untuk kepentingan ekspor melalui Kawasan Berikat (KB) dan Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE)

• Revisi Permendag 64 tahun 2017;

2. Jangka Menengah (tiga tahun): Pemulihan dan Penguasaan Pasar Domestik (Substitusi Impor) melalui penerapan trade remedies;

3. Jangka Panjang (lima tahun): Peningkatan daya saing untuk mendorong ekspor yaitu dengan menjalankan agenda peningkatan daya saing di sektor bahan baku, energi, SDM, teknologi, keuangan dan lingkungan. []

Editor: Denny Iswanto

berita terkait

Image

News

Meski Diprediksi Akan Turun Hujan, BNPB Terus Bergerak Atasi Karhutla di Sejumlah Daerah

Image

News

Hujan Buatan dan 29.039 Personel BNPB Dikerahkan untuk Memadamkan Karhutla

Image

News

Pergantian Anggota Komisi XI: Golkar Kian Amburadul dan Airlangga Makin Sewenang-wenang

Image

Olahraga

Piala Asia U-16 2020

Bagaimana Indonesia Jika tanpa 27 Gol dan Imbang Lawan China?

Image

Ekonomi

China dan Korsel Ingin Bangun Pabrik Karena Larangan Ekspor Nikel

Image

Ekonomi

Kemenperin Fokuskan Investasi Industri Semikonduktor

Image

News

Polisi Temukan Senjata Laras Panjang dan Ratusan Butir Peluru di Rumah Warga di Aceh

Image

News

BNPB: 2.288 Titik Api Masih Terpantau di Wilayah Indonesia

Image

Ekonomi

APSyFI Harap Pemerintah Segera Berikan Perlindungan Seluruh Rantai Industri TPT Nasional

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
Ekonomi

Pukul Perajin Lokal, Pemerintah Diminta Setop Impor Tekstil Batik

Kemunculan tekstil bermotif batik di pasaran lebih dari lima tahun terakhir cukup dirasakan oleh perajin batik lokal.

Image
Ekonomi

Kenaikan Cukai Rokok Harus Dikoordinasikan dengan Menko Perekonomian

Langkah ini diharapkan bisa ditempuh sebelum cukai rokok efektif berlaku 1 Januari 2020.

Image
Ekonomi

Ketimbang Naikkan Cukai, Pemerintah Mending Perbanyak Tempat Bebas Asap Rokok

Kebijakan pemerintah menaikkan cukai rokok merupakan lose-lose solution.

Image
Ekonomi

Belum Puas Dengan Akselerasi di Kemaritiman, Menko Luhut: Tapi Sudah Sesuai Target

Banyak program kerja sektor kemaritiman yang telah dikerjakan oleh pemerintah selama lima tahun.

Image
Ekonomi

Pindah Ibu Kota, Permintaan Penyediaan Rumah Makin Merata

Minat dan proyeksi perumahan utamanya di sekitar wilayah Kalimantan ikut mengalami tren kenaikan.

Image
Ekonomi

Mantan Gubernur BI Arifin Siregar Meninggal Dunia

Mantan Gubernur BI Arifin Siregar meninggal dunia di RS.Medistra, Jakarta, Senin (23/9/2019).

Image
Ekonomi

Kemenkeu Klaim Telah Berikan Banyak Insentif Untuk Hambat Dampak Ekonomi Global

Kemenkeu menganggap banyak insentif fiskal sudah diberikan pemerintah untuk menahan dampak negatif perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia.

Image
Ekonomi

Hanif Dhakiri Akui Jam Kerja Indonesia Tak Kompetitif Dibandingkan Negara ASEAN

Hanif menilai jam kerja di Indonesia tidak kompetitif dibandingkan negara Asean lainnya lantaran jumlahnya yang lebih sedikit.

Image
Ekonomi

Cukai Rokok Naik, Menteri Hanif Harap Tak Ada PHK Industri Rokok

Tidak adanya PHK dari industri rokok sebagai dampak kenaikan cukai rokok sesuai ketetapan pemerintah mulai Januari 2020.

Image
Ekonomi

Gara-gara Mafia Nakal, Realisasi Penyaluran Beras BPNT Tak Akan Capai Target

Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso mengatakan bahwa realisasi Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT) akan tidak tercapai.

Available

trending topics

terpopuler

  1. Mantan Sesmenpora Bakal Beberkan Cara Imam Nahrawi Memperkaya Diri Sendiri

  2. Jokowi Kumpulkan Para Menteri, Jansen: Inilah Akibat Semua Masalah Tumpuk Jadi Satu

  3. Pengakuan Tjahjo Kumolo, Satu-satunya Menteri Jokowi yang Tidak Pernah ke Luar Negeri

  4. Lebih Cepat dari Barbie Kumalasari, Arief Muhammad Ngaku Bisa ke Amerika Hanya dalam 3 Jam

  5. Denny Siregar: Pemberian Gelar 'Putera Reformasi' untuk Jokowi adalah Kecentilan Politik

  6. Rachel Maryam: Kalau Merasa RKUHP Bermasalah, Batalkan Saja Bukan Hanya Menunda

  7. Ganjar Pecat 7 Kepsek Terindikasi Radikal, Teddy Gusnaidi Mention Anies Baswedan

  8. Dukung Aksi #ReformasiDikorupsi, Putri Gus Dur: The Game Has Changed Tuan Puan Penguasa

  9. Gubernur Papua: Saudara, Hentikan Seluruh Kegiatan yang Berbau Kejahatan!

  10. Romy Minta Dakwaannya Gugur Usai Kembalikan Uang Suap Jual-beli Jabatan

Available

fokus

Bencana Lingkungan
Abortus
BJ Habibie Tutup Usia
Available

kolom

Image
Abdul Aziz SR

DPR dan Parlemen Modern

Image
Alfarisi Thalib

Era Airlangga, Golkar Cenderung Feodal dan Oligarkis

Image
Ujang Komarudin

Gigitan Terakhir KPK

Image
Damai Mendrofa

Menangani Penyu, Sampai Tak Ada yang Ganggu

Available

Wawancara

Image
Hiburan

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan

Jadikan JILF Sebagai Pemantik Imajinasi

Image
Ekonomi

Eksklusif Mochamad Soebakir: Sebagai 'Jembatan' Konsultan Pajak Fungsinya Vital

Image
Olahraga

Bianca Andreescu

"Memenangi AS Terbuka Sebenarnya Terasa Aneh"

Sosok

Image
News

Dikabarkan Hengkang dari PAN, 7 Fakta Menarik Faldo Maldini

Image
News

8 Potret Hangat Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri bersama Keluarga, Ayah Idaman!

Image
News

Jadi Plt Menpora Gantikan Imam Nahrawi, Ini 5 Fakta Sepak Terjang Karier Hanif Dhakiri