image
Login / Sign Up

Eksklusif Destry Damayanti: Kita Harus Optimalkan Perekonomian Domestik

Siti Nurfaizah

Image

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti saat di wawancarai redaksi Akurat.co di Gedung BI, Jakarta, Rabu, (14/8/2019). Destry Damayanti resmi dilantik menjadi Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI). Kecintaannya di dunia moneter membuat karirnya semakin melesat. Bahkan ia pun mempunyai hobi unik bersepeda dan fotografi. | AKURAT.CO/Dharma Wijayanto

AKURAT.CO Perekonomian di seluruh dunia memang sedang diguncang oleh perseteruan dagang antara dua ekonomi raksasa, China dan Amerika Serikat. Perselisihan kedua negara digdaya tersebut, yang pecah sejak 2018 seakan-akan belum mencapai akhir dan masih akan terus berlanjut hingga 2020 mendatang.

Efek dari perseteruan ini pun beragam, bahkan lembaga-lembaga ekonomi Dunia seperti, Bank Dunia, IMF, dan WTO, terus memperingatkan bahwa hasil gesekan kedua ekonomi gajah tersebut bisa membuat keadaan ekonomi dunia makin parah. Perlambatan ekonomi pun nampaknya telah nyata dan harus dihadapi oleh berbagai negara.

Sama halnya dengan di Indonesia, perekonomian domestik juga terkena dampak buruk perang ekonomi AS-China. Lantas bagaimana Indonesia menghadapi situasi yang penuh dengan ketidakpastian ini, agar ekonomi dalam negeri tetap kuat dan tumbuh seperti yang telah direncanakan

baca juga:

Bank Indonesia merupakan salah satu lembaga pemerintah yang cukup sibuk dalam meredam gejolak ketidakpastian perekonomian global ini. Dengan menggunakan instrumen suku bunga, Otoritas tertinggi di bidang moneter ini selalu menjaga agar, nilai tukar rupiah aman, cadangan devisa bertambah, defisit transaksi berjalan yang terjaga, dan ekonomi riil yang terus berjalan dengan bertumbuhnya tingkat kredit dan investasi yang masuk ke Indonesia.

Bahkan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (DGS BI) yang baru saja dilantik, Destry Damayanti, mengaku langsung mendapat tuntutan dari berbagai pihak untuk bergerak cepat mengamankan perekonomian Indonesia dari ketidakpastian global. Kendati baru menjabat dan langsung mendapatkan tugas yang lumayan berat, Destry tidak menunjukkan raut muka pesimisme, bahkan dirinya sangat bersemangat dan ingin segera merealisasikan langkah-langkah penting yang direncanakannya untuk menjaga perekonomian Indonesia.

Kepada tim Akurat.co yang menemuinya pada Rabu (13/8/2019) pekan lalu, Destry masih menunjukkan wajah yang bersinar penuh dengan optimisme. Senyumnya yang khas terpancar dari raut mukanya saat menjelaskan bagaimana kondisi perekonomian Indonesia saat ini dan terobosan yang akan dilakukannya saat arus ketidakpastian global makin kuat. Berikut petikan wawancara Akurat.co dengan Destry Damayanti:

Destry Damayanti. AKURAT.CO/Dharma Wijayanto

Dengan makin kuatnya ketidakpastian global, bagaimana ekonomi Indonesia kedepan?

Itu pasti sesuatu yang tidak bisa kita hindari, apa yang sekarang sedang terjadi, kondisi ekonomi global itu menjadi suatu yang sangat tidak menguntungkan untuk emerging market termasuk juga Indonesia. Karena tadinya kan kita berharap recovery mulai akan terjadi di Amerika Serikat walaupun memang ada konsekuensinya, suku bunga mungkin akan bertahan cukup tinggi, tapi at least dengan adanya recover global dia akan bisa mendorong sektor eksternal kita yang selama ini menjadi tertekan.

Tapi ternyata situasinya akan berubah tidak seperti itu. Jadi sekarang malah kita lihat global itu trennya memang akan terus mengalami perlambatan bahkan juga kita lihat di Eropa itu juga tekanannya akan semakin besar sehingga ini memang akan sedikit banyak pasti akan mempengaruhi perkembangan ekonomi kita sendiri. Apalagi kalau kita bicara trade war China dengan Amerika, ini adalah dua negara yang merupakan marger traded partner kita partner utama dagang kita, artinya kalau perlambatan ekonomi di mereka itu signifikan, dia pasti akan ada efeknya juga ke Indonesia. Nah kita memang harus waspada seperti itu.

Tapi satu hal yang mungkin kita juga perhatikan adalah bahwa ekonomi Indonesia itu sebenarnya lebih ekonomi domestik, jadi bahwa pertumbuhan ekonomi kita itu lebih banyak di drive oleh sumber-sumber domestic, apakah konsumsi masyarakat, investasi, ataupun pengeluaran pemerintah. Jadi kedepan sebenarnya ini strategi pembangunan mestinya arahnya ke sini.

Ini dalam rangka kaitanya dengan Bank Indonesia tentunya, bagaimana kita bisa mendorong konsumsi masyarakat dan investasi. Dengan kita harus bisa menjaga stabilitas sistem keuangan, khususnya di nilai tukar rupiah kita. Karena kalau stabilitas rupiah kita terjaga, kita bicara inflasi terjaga, itu tentunya akan mempengaruhi konsumsi masyarakat. Karena daya beli masyarakat tidak tergerus jadi mereka tetap bisa konsumsi.

kemudian juga kalau kita bisa menjaga stabilitas di sektor moneter, inflasi bisa kita jaga rendah. Tentunya juga kita akan bisa melihat peluang suku bunga akan ada ruang untuk bisa kita turunkan. ini tentunya akan menjadi satu amunisi buat investasi untuk tumbuh kedepan. Jadi memang kuncinya adalah apakah Bank Indonesia maupun juga Pemerintah, dengan kebijakan fiskalnya ataupun dengan regulator lainnya, bisa bersama-sama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi domestik tersebut.

Destry Damayanti. AKURAT.CO/Dharma Wijayanto

BI sudah menurunkan suku bunga, bisa turun berapa kali lagi?

Saya tidak tahu pastinya berapa kali tapi paling tidak kita lihat bahwa perubahan instrumen yang terjadi di kita ataupun perubahan kebijakan yang terjadi di Indonesia. Hal tersebut pasti tidak akan terlepas dari apa yang terjadi di global. Jadi kalau kita lihat di global sendiri kan memang tren perlambatan ekonomi sudah nyata, nah impact-nya pasti global juga akan melonggarkan kebijakan moneternya ataupun kebijakan fiskalnya. Jadi kita lihat juga kalau di luar, ada ruang untuk penurunan suku bunga atau suku bunga naik, ini sebenarnya akan memberikan keleluasaan juga untuk kita di domestik untuk bisa mengarahkan kebijakan kita.

Tapi intinya bahwa Bank Indonesia, apapun kebijakan yang dikeluarkan, tujuannya adalah selain untuk menjaga stabilitas sistem keuangan kita, itu juga untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan. Jadi instrumen kita pun gak hanya suku bunga, enggak hanya itu tadi yang BI Seven Days Repo Rate (BI7DRR). Bank Indonesia akan melakukan policy mix, jadi ada bauran kebijakan, ada makroprudensial ada moneter, ataupun ada sistem pembayaran yang kita terus kita perbaiki dan kita kembangkan, sehingga memperlancar transaksi jasa dan barang di Indonesia.

Jadi intinya saya nggak bisa katakan berapa kali lagi turun bunga, tapi intinya Bank Indonesia akan selalu menjalankan atau mengeluarkan kebijakannya sesuai dengan kondisi yang dibutuhkan yang saat ini. Memang kita membutuhkan adanya stimulus untuk pertumbuhan ekonomi kita kedepan.

Destry Damayanti. AKURAT.CO/Dharma Wijayanto

Current Account Deficit (CAD) di tingkat 3,03 persen, bahaya tidak bagi perekonomian?

Sebenarnya kalau untuk suatu negara yang sedang berkembang seperti Indonesia adanya defisit transaksi berjalan itu nggak merupakan suatu hal berarti ekonomi kita parah, nggak. Karena yang menakutkan juga nggak sebenarnya, apalagi kalau defisitnya masih dalam batasan yang terkendali. Nah kita kan defisitnya perkiraan kita antara 2,5% sampai 3%, apalagi kalau defisit terjadi karena adanya pembangunan yang sifatnya produktif. Cuma defisit ini akan jadi masalah kalau pembiayaannya hanya mengandalkan dana-dana yang jangka pendek, tapi kalau pendanaannya menggunakan dana dana jangka panjang seperti investasi yang fisik itu mestinya nggak masalah.

Yaa, logikanya suatu negara yang sedang membangun seperti di Indonesia pasti dia akan memiliki kebutuhan yang tinggi untuk pembiayaan pembangunannya. Nah, oleh karena itu makanya kecenderungan akan terjadinya defisit transaksi berjalan tersebut, itu alasan pertama.

Alasan kedua, kita juga perlu melihat defisitnya itu apa, misalnya karena impor yang berlebihan, kita lihat inputnya apa, kalau impornya banyak konsumsi atau barang konsumsi dia kan nggak bagus karena tidak produktif, langsung pakai habis. Akan tetapi kalau impornya sifatnya produktif, misalnya itu untuk sesuatu yang proses produksi itu sebenarnya hal yang positif. Tinggal kedepannya adalah kita kaji lagi mana yang impor bahan baku ini bisa kita kurangi dan bisa kita lakukan substitusi impor, jadi kita ubah yang tadinya kita harus impor bahan baku itu sekarang kita berusaha memproduksi bahan baku Itu di domestic, sehingga mengurangi impor yang bersangkutan.

Berikutnya juga kalau kita lihat ekspornya, kita lihat ekspornya kenapa melambat, kalau ternyata kita selama ini mengandalkan komoditi, dan kita lihat komoditi ke depan kan nggak bisa berharap terlalu banyak di komoditi jadi harus ada diversifikasi, dari produk mentah ke produk, misalnya manufaktur. Kemudian market nya juga kita lihat kita selama ini mengandalkan China sama Amerika, ini kita mesti melihat kalau China dan Amerika trade war-nya makin memburuk, nah kita kan harus bisa membuka market-market yang baru.

Jadi CAD itu bisa dilihat dari berbagai dimensi, dengan kebijakan yang sifatnya bisa dan harus terintegrasi, gak bisa hanya parsial. Karena CAD, kemudian kebijakannya BI harus melakukan a, b, c, tidak bisa! Pemerintah harus melakukan ini, dia harus merupakan suatu kebijakan yang terintegrasi dan saling mengait. Contohnya BI akan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, dia akan berusaha ini, enggak akan kemana-mana nilai tukarnya supaya eksportir dan importir juga merasa nyaman, tapi di satu sisi sektor riil nya juga harus ada kebijakan yang arahnya untuk reindustrialisasi meningkatkan sektor manufaktur. Sehingga ketergantungan terhadap bahan baku bisa dikurangi, nah ini harus menjadi satu paket yang terintegrasi. Mungkin itu yang bisa saya komentar soal CAD.

Destry Damayanti. AKURAT.CO/Dharma Wijayanto

Jurus yang anda gunakan untuk menjaga perekonomian?

Ada 5 jurus sebenarnya, dan itu saya ambil dari visi misi Bank Indonesia ya. Jadi intinya sebenarnya saya melihat kedepan ini tantangan yang akan dihadapi oleh sebuah Bank Sentral itu akan semakin besar. Dimana pun Bank Sentral itu berada Itu tantangan akan luar biasa besar karena kompleksitas dari masalahnya yang dihadapi juga semakin bervariasi. Nah, oleh karena itu menyatakan bahwa bank Indonesia itu harus menjadi Bank Sentral yang adaptif dan inovatif, karena menghadapi gejolak volatility uncertainly complexity, itu yang bisa disikapi adaptif dan inovatif.

Nah, kemudian Bank Indonesia juga harus bisa berkontribusi nyata terhadap perekonomian Indonesia, jadi apapun kebijakan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia harus benar-benar bisa impact full. Jadi bisa berdampak, tidak hanya nice in paper tapi benar-benar bisa diaplikasikan, itu konsep di awal yang saya punya seperti itu.

Ada 5 area strategis yang saya highlight, tentunya kebijakan yang sudah dilakukan oleh Bank Indonesia sekarang kan bagus sekali. Dengan bauran kebijakan itu, tidak hanya mengandalkan kebijakan moneter saja, cuma menurunkan dan menaikkan suku bunga, nanti intervensi US Dollar terhadap rupiah, tidak hanya itu. Tapi ada bauran kebijakan, ada kebijakan makroprudensialnya yang tujuannya adalah untuk menjaga keseimbangan makro. Dan juga bagaimana supaya kebijakan itu bisa impact full terhadap ekonomi.

Jadi area strategis pertama adalah bauran kebijakan yang itu akan tetap menjadi baurannya dari Bank Indonesia, kemudian yang kedua adalah pendalaman pasar keuangan, karena saya sadar bahwa kita tidak akan bisa mempunyai stabilitas sektor keuangan kalau pasar kita dangkal. Jadi menjadi tugasnya Bank Indonesia bersama lembaga lain, bagaimana kita bisa memperdalam pasar itu dengan menciptakan instrumen-instrumen baru, mempermudah perizinan, misalnya untuk suatu produk tertentu, dan juga memperbaiki sistem yang ada di dalam

Yang ketiga itu terkait dengan payment system karena kita tahu bahwa eranya sekarang ini era digital, dan itu membutuhkan sistem pembayaran yang bukan konvensional lagi. Karena sekarang, transaksi itu saya bayar cash, tapi banyak yang non cash, terus pelakunya nggak semuanya bank, non bank juga ada. Jadi pelaku bisnis yang berubah, tipe transaksinya juga berubah. Nah oleh karena itu sistem pembayaran kita juga harus mengikuti perkembangan jaman, dan itu dibutuhkan inovasi.

Keempat adalah ekonomi syariah, itu berangkat dari memang pemikiran saya bahwa kita negara muslim mayoritas hampir 90% penduduknya muslim, tapi kok ekonomi ataupun sistem keuangan yang berlandaskan syariah itu kok tidak berkembang, kurang berkembang lah di Indonesia. Ini suatu yang perlu dipelajari lebih lanjut, karena kalau kita lihat hijrah makin tinggi di Indonesia, orang lebih islami, tetapi kalau kita lihat dalam dalam sistem sektor keuangannya belum mencerminkan kesana. Ini harus menjadi PR, kita harus kaji.

Dan yang kelima sebenarnya adalah kompleksitas permasalahan yang semakin tinggi penyelesaiannya pun tidak bisa cuma satu lembaga sendiri Bank Indonesia, tidak akan bisa menyelesaikan permasalahan yang ada. Even kalau kita mau bicara terkait dengan masalah inflasi ataupun nilai tukar, gak bisa hanya berdasarkan Bank Indonesia, karena ada unsur-unsur lembaga lainnya yang terkait. Maka dibutuhkan sinergi dan dan koordinasi antara Bank Indonesia dengan lembaga-lembaga keuangan ataupun regulator. Dan juga perlu peran DPR, supaya kebijakan yang dikeluarkan itu nantinya benar-benar efektif.

Gambaran untuk ekonomi domestik sampai akhir tahun bagaimana?

Memang kalau kita melihat bahwa prospek ekonomi global yang masih agak gloomy tentunya buat ekonomi domestik sendiri juga ikut demikian. Memang kita harus realistis bahwa ekonomi global, bahkan IMF sendiri kan sudah beberapa kali melakukan revisi pertumbuhan ekonomi ke bawah, jadi ya memang kita ke depan saya katakan memang harus bisa banyak menggenjot pertumbuhan ekonomi domestic. Artinya engine of growth nya itu nggak balance nih kalau misalnya kita punya 2 mesin, nah sekarang cuma satu mesin yang bergerak. Jadi memang akhirnya kita nggak bisa ngebut juga, jadi kita harus realistis.

Kalau di Bank Indonesia sendiri pun kita kan menaruh sasaran pertumbuhan ekonomi antara 5,1% sampai optimis yaitu di 5,4%,  jadi ya saya melihat ekonomi masih bisa tumbuh di atas 5%. Itu saya rasa dengan kondisi global seperti sekarang saya rasa masih cukup baik bagi Indonesia.

Bank Indonesia. AKURAT.CO

Harapannya untuk perekonomian kedepan?

Harapannya kedepan ya tentunya, pertama, bahwa kita harus mengoptimalkan sumber-sumber yang ada di domestik. Contohnya, private consumption untuk masyarakat, untuk bisa konsumsi kan mereka harus kerja, gampangnya seperti itu. Artinya, bagaimana kita Bank Indonesia bersama-sama juga pemerintah menciptakan iklim usaha yang kondusif, sehingga bisa membuka lapangan pekerjaan yang banyak untuk masyarakat, khususnya di kelompok 40 persen di bawah piramida kita.

Jadi di situ bisa dengan mendorong UMKM misalnya, jadi mereka bisa bekerja dan juga mereka bisa memiliki bisnis, juga mungkin menciptakan lapangan kerja. Berikutnya iklim investasi yang sehat, masalah perizinan, masalah kepastian hukum, karena dengan investasi tumbuh penyerapan tenaga kerja kita juga membaik, itu juga di satu sisi mendorong pertumbuhan konsumsi masyarakat. Di sisi lain juga bisa meningkatkan ekspor kita, jadi karena kita juga ke depan harus mulai meningkatkan produk-produk yang sifatnya produk-produk dari manufaktur. Pemerintah kan sudah punya beberapa produk unggulan.

Dua hal itu sebenarnya yang kita sangat berharap, bagaimana investasi dan konsumsi masyarakat ini nanti bisa menjadi engine of growth, untuk pertumbuhan ekonomi kita kedepannya. Tentunya sangat dibutuhkan inovasi dengan kemajuan teknologi yang ada, dan kita harus bisa mengoptimalkan teknologi dengan tidak menganggapnya sebagai musuh atau disruption. Kita berharap bisa menjadi partner ataupun pengungkit yang bisa mengungkit pertumbuhan ekonomi kita untuk lebih tinggi lagi ke depan. []

Editor: Denny Iswanto

berita terkait

Image

Ekonomi

Rupiah Kena Gebuk Polemik Cukai Rokok, KPK, Hingga Harga Minyak

Image

Ekonomi

IHSG Masih Akan Lesu, Coba Intip Saham-saham Ini

Image

News

ModalSaham Bekali Pengunjung Pameran Bisnis FLEI Tips Investasi dan Franchise

Image

Hiburan

Jill Gladys akan Segera Menikah, Ucapan Samuel Wongso Jadi Kenyataan

Image

Ekonomi

Pelajaran Sukses Berbisnis Ala Bernard Arnault, Mau Coba?

Image

Ekonomi

Jadi K-Popers Bisa Hasilkan Cuan Loh, Coba 5 Ide Ini

Image

News

Sempat Pimpin Al Qaeda, Putra Osama bin Laden Tewas di Tangan AS

Image

Ekonomi

Cek di Sini! Pekerjaan yang Cocok Buatmu Sesuai Golongan Darah

Image

Ekonomi

5 Tips Berhemat Jika Kamu Pengguna Dompet Digital

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
Ekonomi

Cukai Naik, Komunitas Kretek: Ayo Melinting Rokok Sendiri Biar Negara Rugi

Keputusan pemerintah menaikkan cukai rokok sebanyak 23% adalah hal yang gila.

Image
Ekonomi

Rupiah Kena Gebuk Polemik Cukai Rokok, KPK, Hingga Harga Minyak

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan Senin (16/9/2019) melemah 53 poin atau 0,38% menjadi Rp14.018 terhadap USD1.

Image
Ekonomi

IHSG Lesu Karena Cukai Rokok dan Kembali Bergejolaknya Sentimen Eksternal

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka melemah 1,15% atau 72,55 poin di level 6.262,28.

Image
Ekonomi

Bankir Ramal Neraca Perdagangan Agustus 2019 Berpotensi Surplus USD177 Juta

Bankir memperkirakan neraca perdagangan pada Agustus 2019 mengalami suprlus USD177 juta.

Image
Ekonomi

IHSG Masih Akan Lesu, Coba Intip Saham-saham Ini

Adanya potensi koreksi lanjutan pada pergerakan IHSG sehingga berpeluang menuju ke area support.

Image
Ekonomi

Kenaikan Cukai Pengaruhi Nasib Industri Rokok, Ini 2 Saran Gapero

Kenaikan cukai menjadi kekhawatiran bagi kalangan pelaku industri hasil tembakau (IHT) di wilayah Jawa Timur.

Image
Ekonomi

Menkop: Sehebat-hebatnya Revolusi Industri 4.0 Tak Bisa Kalahkan Offline

Meskipun revolusi industri 4.0 telah mengubah cara bisnis ke sistem online namun tidak akan total menggusur bisnis offline.

Image
Ekonomi

Pengangguran di Singapura Melonjak, Kok Bisa?

Tingkat pengangguran di Singapura pada kuartal II tahun ini mengalami kenaikan, berdasarkan laporan Kementerian Tenaga Kerja.

Image
Ekonomi

RUU Perkoperasian Melaju ke Paripurna, dengan Beberapa Catatan

Komisi VI DPR RI memutuskan untuk menerima dan melanjutkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perkoperasian ke pembahasan tingkat dua.

Image
Ekonomi

Iran Tepis Tudingan AS Sebagai Otak Penyerangan Minyak Saudi

Iran menolak tuduhan-tuduhan yang disampaikan oleh Amerika Serikat bahwa pihaknya berada di belakang serangan-serangan fasilitas minyak.

Available
Banner Mandiri

trending topics

terpopuler

  1. Ngaku Pernah Tinggal di Amerika, Barbie Kumalasari Malah Pamer Foto Hasil Editan

  2. Viral, Guru Tampan Digombalin Muridnya Ini Bikin Baper Warganet

  3. Bikin Terenyuh, Curhat Pemuda Karawang yang Menganggur di Kota Penuh Industri

  4. Deddy Corbuzier Akhirnya Ungkap Alasannya Selalu Pakai Kacamata Hitam

  5. Anak Meninggal, Penyebab Haedar Putra Elvy Sukaesih Alami Gangguan Mental

  6. Merek Minuman Kopinya Dinilai Tak Senonoh, Lucinta Luna Kembali Banjir Hujatan

  7. Fahri Hamzah Kritik KPK Hanya Berani Buru Kasus Bupati, Camat dan Kepala Dinas

  8. Pakar Hukum Tata Negara: Seolah-olah KPK Tidak Dapat Diawasi Tanpa Dewan Pengawas

  9. Lenovo Luncurkan Jam Tangan Pintar Terbarunya

  10. Farhat Abbas Disindir Habis-Habisan Nikita Mirzani-Hotman Paris, Sunan Kalijaga: Semangat Bro!

Available

fokus

Abortus
BJ Habibie Tutup Usia
Lindungi Perempuan
Available

kolom

Image
Mujamin Jassin

Bamsoet dan Agenda Modernisasi Golkar

Image
Ujang Komarudin

Membunuh KPK

Image
Hasan Aoni

Menonton Bakat Anak Dalam Imajinasi Eksploitasi

Image
Hendra Mujiraharja

Bisnis Tembakau Djarum di Antara Pembinaan dan Eksploitasi Anak

Available

Wawancara

Image
Hiburan

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan

Jadikan JILF Sebagai Pemantik Imajinasi

Image
Ekonomi

Eksklusif Mochamad Soebakir: Sebagai 'Jembatan' Konsultan Pajak Fungsinya Vital

Image
Olahraga

Bianca Andreescu

"Memenangi AS Terbuka Sebenarnya Terasa Aneh"

Sosok

Image
News

10 Potret Syarif Muhammad Fitriansyah, Asisten Ajudan Jokowi yang Curi Perhatian

Image
News

10 Potret Regina Nadya Suwono, Anggota Legislatif Muda yang Memesona

Image
News

5 Fakta Karier Saut Situmorang, Mulai dari BIN hingga Jabat Wakil Pimpinan KPK