image
Login / Sign Up

Jababeka di Tengah Himpitan Utang dan Perebutan Kekuasaan

Dhera Arizona Pratiwi

Indepth

Image

Ilustrasi dari PT Jababeka Tbk | Jababeka.com

AKURAT.CO Bak petir di siang bolong, mungkin kiasan ini pas disandingkan dengan apa yang terjadi dengan salah satu perusahaan pengembang Kawasan Industri terbuka di Indonesia, PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA). Belum lama ini, perseroan telah mengumumkan adanya potensi Default atau Gagal Bayar surat Utang (notes) yang diterbitkan oleh anak perusahaan, Jababeka International BV.

Hal tersebut kala itu disampaikan pihak perseroan melalui surat keterbukaan informasi yang dilayangkan Direktur Utama KIJA Tedjo Budianto Liman ke Bursa Efek Indonesia (BEI).

Dalam keterbukaan informasi yang diterbitkan perseroan, kondisi potensi adanya Gagal Bayar lantaran adanya pengubahan susunan anggota direksi dan anggota dewan komisaris dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) tanggal 26 Juni 2019.

baca juga:

Adapun agenda pengubahan susunan anggota direksi dan anggota dewan komisaris sebagai usulan dari dua pemegang Saham yakni PT Imakotama Investido selaku pemegang Saham perseroan sebesar 6,387 persen dan Islamic Development Bank pemegang Saham 10,841 persen dari seluruh Saham perseroan. Kedua pemegang Saham ini mengusulkan Sugiharto sebagai anggota direksi dan Aries Liman sebagai anggota komisaris.

Alhasil, terjadilah acting in concert dalam RUPS tersebut. Acting in concert ini menyebabkan notes dapat terjadi pengubahan pengendalian karena sebagian besar kuasa diberikan saat voting sesuai dengan syarat dan kondisi notes dengan jatuh tempo tahun 2023.

Pengubahan pengendalian ini menyebabkan perseroan Jababeka International BV berkewajiban untuk memberikan penawaran pembelian (buyback) kepada para pemegang notes, dengan harga pembelian sebesar 101 persen dari nilai pokok notes sebesar USD300 juta ditambah kewajiban bunga.

"Dalam hal perseroan tidak mampu melaksanakan penawaran pembelian tersebut maka Perseroan/Jababeka International BV akan berada dalam keadaan lalai atau Default," kata perseroan dilansir dari keterbukaan informasi.

Sehubungan dengan hal tersebut, Bursa Efek Indonesia (BEI) pun membekukan (suspend) terhadap perdagangan Saham PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA). Suspensi merujuk pada surat Penghentian Sementara Perdagangan Efek PT Kawasan Industri Jababeka dengan nomor surat Peng-SPT-00009/BEI.PP3/07-2019.

"Dalam rangka menyelenggarakan perdagangan efek yang teratur, wajar dan efisien, bursa memutuskan untuk melakukan penghentian sementara perdagangan efek KIJA," kata Kepala Divisi Penilaian Perusahaan BEI Teuku Fahmi Ariandar dalam keterbukaan informasi.

BEI tidak tinggal diam. Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan, pihaknya telah memanggil direksi KIJA untuk memberikan klarifikasi mengenai informasi yang beredar. BEI ingin mendengar langsung penjelasan perseroan sejauh mana masalah yang terjadi.

"Hari ini (Selasa, 9 Juli 2019) kita akan hearing. Saya panggil direksi perseroan untuk bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi," kata Nyoman.

Ia juga belum memastikan bahwa BEI akan membuka kembali perdagangan Saham Jababeka atau tidak setelah disuspensi. "Kami dengar pendapat dulu, nanti kami gali sejauh mana tindak lanjutannya," tuturnya.

Nyoman pun meminta pelaku pasar agar tetap tenang dan menunggu klarifikasi perusahaan.

Miris, Tak Mampu Bayar Utang di Tengah Moncernya Kinerja Keuangan

Akibat dari pergantian pengurus tersebut, Jababeka harus melakukan pembelian kembali (buyback) surat Utang dengan harga 101 persen dari nilai pokok, belum termasuk kewajiban bunga atau lebih dari Rp4,27 triliun.

Surat Utang itu diterbitkan pada Oktober 2016 dengan nilai pokok USD189,15 juta, dan pada November 2017 dengan nilai pokok USD110,15 juta, dengan suku bunga 6,5 persen yang dibayarkan setiap enam bulan atau per semester.

Padahal bila memperhatikan laporan keuangan Jababeka dalam beberapa tahun terakhir, kinerja keuangan perseroan yang mengembangkan Kawasan Industri khusus (KIK) ini tidak buruk dan selalu mencatatkan keuntungan.

Pada 2017 perseroan masih membukukan laba bersih sebesar Rp150 miliar walau di tahun 2018 turun 55,3 persen menjadi hanya Rp67 miliar. Sedangkan pada kuartal I-2019 perseroan telah membukukan laba bersih sebesar Rp74 miliar atau melonjak 362,5 persen dibanding periode yang sama 2018 yang hanya mencapai Rp16 miliar.

Pertumbuhan laba bersih ini ditopang oleh naiknya pendapatan bersih sebesar 18,7 persen dari Rp493 miliar pada triwulan I-2018 menjadi Rp585 miliar.

Sumber utama pendapatan Jababeka berasal dari bisnis infrastruktur yakni jasa penyediaan air bersih, pengolahan air limbah, pengelolaan lingkungan, penjualan energi listrik dan dry port yang berkontribusi 68 persen terhadap pendapatan operasional.

Bisnis real estate, dari penjualan tanah industri, residensial, dan komersial serta sewa properti, berkontribusi 29 persen terhadap pendapatan. Sisanya, perusahaan meraih pendapatan dari bisnis leisures and hospitality, yakni dari lapangan golf, vila dan hotel.

Meski kinerja keuangan pada tiga bulan pertama tahun ini positif, kas dan setara kas yang dimiliki perusahaan hanya mencapai Rp873,89 miliar atau turun Rp4,98 miliar dibandingkan periode yang sama 2018.

Dengan kondisi itu, kas perusahaan tidak cukup untuk melakukan buyback surat Utang yang mencapai lebih dari Rp4 triliun.

Dugaan Ada Sejumlah Pihak Ingin Ambil Alih Jababeka

Nama Setyono Djuandi Darmono atau S D Darmono sepertinya bukan lagi penguasa Saham PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA). Malah nama Mu’min Ali Gunawan, pendiri Grup Panin, adalah yang tercatat sebagai pemegang 21,08 persen Saham Jababeka saat ini.

Kemudian pemegang Saham Jababeka yang lain adalah Islamic Development Bank (IDB) yang tercatat punya kepemilikan 10,93 persen dan PT Imakotama Investindo yang memiliki 6,16 persen Saham.

Ada juga nama Setiawan Mardjuki (direktur) sebesar 0,17 persen dan Hadi Rahardja (komisaris) sebanyak 2,8 persen. Adapun investor publik tercatat sebanyak 58,85 persen.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh Akurat.co, per 30 September 2016, tercatat Charm Grow International Ltd yang menguasai 16,12 persen Jababeka. Lalu terdapat nama Intellitop Finance Ltd yang juga menguasai 7,31 persen Saham Jababeka.

Pada 31 Juli 2017, susunan pemegang Saham mulai berubah menjadi Charm Grow International Ltd sebesar 9,97 persen, Credit Suisse AG Singapore Trust 6,92 persen, dan muncul nama Islamic Development Bank yang menguasai Saham sebesar 6,4 persen. Posisi pemegang Saham ini bertahan hingga 31 Agustus 2017.

Hingga akhirnya, pada 31 Desember 2017, muncul nama Mu’min Ali Gunawan yang langsung menguasai 21,08 persen. Sementara, Islamic Development Bank menambah kepemilikan sahamnya menjadi 7,21 persen.

Berlanjut pada Desember 2018, Islamic Development Bank menambah kepemilikan Saham menjadi 9,33 persen.

Per Maret 2019, barulah muncul nama PT Imakotama Investindo yang memiliki 5,39 persen Saham. Sedangkan porsi Saham Mu’min Ali Gunawan dan Islamic Development Bank masing-masing tetap sebesar 21,08 persen dan 9,32 persen.

Per Mei 2019, nama-nama tersebut tak mengalami perubahan, tapi Islamic Development Bank menambah kepemilikan menjadi 10,93 persen. Mu’min Ali Gunawan tetap sebesar 21,08 persen dan Imakotama Investindo 6,16 persen.

Kendati demikian, emiten pengembang Kawasan Industri berkode KIJA kali ini berisiko Gagal Bayar (Default) Utang yang diterbitkan anak usahanya Jababeka International BV sebesar USD300 juta atau setara Rp4,23 triliun.

Risiko ini disebabkan oleh pergantian susunan direksi dan komisaris yang disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 26 Juni lalu.

Fitch dan S&P Beri Jababeka Rating Negatif

Bak jatuh tertimpa tangga, lagi-lagi mungkin ini kiasan yang cocok bagi PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA). Lembaga pemeringkat internasional, Standard & Poors (S&P) menempatkan surat Utang atau obligasi perseroan dalam rating watch negatif (daftar pengawasan negatif).

Obligasi tersebut diterbitkan oleh anak usaha perusahaan yang berlokasi di Amsterdam, Jababeka International BV (JIBV), di mana KIJA dan entitas anak lainnya menjadi penjamin.

Keputusan tersebut diambil sebagai tanggapan dari peluang risiko Gagal Bayar (Default) atas kewajiban buyback (pembelian kembali) obligasi senilai USD300 juta dengan bunga 6,5 persen dan periode jatuh tempo tahun 2023.

"Penempatan 'Creditwatch' menunjukkan kemungkinan kita dapat menurunkan (peringkat) Jababeka, ada potensi penurunan beberapa tingkat dalam beberapa minggu ke depan," tulis S&P dalam laporannya, dilansir Reuters, Rabu (10/7/2019).

Di lain pihak, Fitch Ratings juga melakukan hal yang sama dan menempatkan obligasi Jababeka dalam daftar pengawasan negatif.

“Fitch meyakini KIJA tidak memiliki dana yang cukup untuk melakukan buyback terhadap obligasi senilai USD300 juta tersebut,” tulis Fitch dalam laporannya.

Perubahan direksi pasca RUPS yang berbuntut pada kewajiban KIJA untuk melakukan buyback obligasi dinilai Fitch tak realistis.

Jika akhirnya perusahaan gagal memberikan penawaran buyback kepada pemilik obligasi (kreditor), maka akan terjadi wanprestasi.

Fitch juga memproyeksi bahwa meningkatnya persaingan di antara para pengembang properti industri di Cikarang pada paruh kedua tahun ini dapat berpotensi mempengaruhi penjualan lahan industri KIJA dalam jangka menengah.

Namun dari segmen residensial, Fitch memroyeksikan KIJA akan mengalami pemulihan kinerja di semester II-2019.

Untuk diketahui, sepanjang kuartal I-2019, marketing sales KIJA turun 21 persen menjadi Rp193 miliar yang merupakan torehan terendah sejak kuartal I-2016. Hal ini menurut Fitch, disebabkan penundaan peluncuran proyek baru karena Pemilihan Umum di April.

Fitch menilai KIJA tak lebih baik dari para kompetitornya. Fitch melihat KIJA memiliki profil pengembangan yang lebih rendah dibandingkan Modernland Realty Tbk (MDLN) dan Alam Sutera Realty (ASRI). Apalagi KIJA memiliki profil finansial yang lebih lemah dibandingkan dengan ASRI dan MDLN.

Sebagai informasi, pada umumnya jika lembaga pemeringkat internasional menempatkan perusahaan dalam 'Daftar Pengawasan Negatif', maka ada peluang sekitar 50 persen, dalam tiga bulan ke depan peringkat Utang perusahaan akan diturunkan.

Hingga hari ini, belum ada keterangan lebih lanjut yang diberikan oleh BEI maupun perseroan.

Namun, pendiri sekaligus Chairman Jababeka Group Setyono Djuandi Darmono belum lama ini akhirnya angkat bicara perihal perusahaannya, PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) yang berpotensi Default atau Gagal Bayar surat Utang (notes) yang diterbitkan oleh anak perusahaan, Jababeka International BV.

Pria yang akrab disapa S D Darmono itu hanya meminta seluruh pihak untuk bersabar menanti pengumuman lebih lanjut. Pihaknya pasti akan memberikan keterangan terhadap apa yang tengah terjadi di internal perseroan.

"Sabar tunggu pengumuman lebih lanjut," singkatnya melalui aplikasi pesan kepada Akurat.co. []

Editor: Denny Iswanto

berita terkait

Image

Ekonomi

Peningkatan Aktivitas Ekonomi Gairahkan IHSG Hari Ini

Image

Ekonomi

Kabar Baik! IHSG Kembali ke Level Psikologis 5.000-an

Image

Ekonomi

Waralaba Pizza Hut AS Bangkrut, di Indonesia Aman?

Image

Ekonomi

Wabah Corona

Investor Reksa Dana Tidak Perlu Panik di Tengah Pandemi

Image

News

INFOGRAFIS Kawasan Industri Batang

Image

Ekonomi

Gara-gara Hal Ini, BPKN Yakin Jiwasraya Bayar Kewajiban ke Nasabah

Image

Ekonomi

IHSG Terus Menguat Berkat Membaiknya Perekonomian Global

Image

Ekonomi

Pemerintah Terbitkan Samurai Bonds Senilai 100 Miliar Yen untuk Biayai Defisit APBN

Image

Ekonomi

IHSG Masih Berfluktuasi tapi Ada Kecenderungan Menguat

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
Ekonomi

Tegur Jajarannya, Jokowi: Jalan Tol Cisumdawu Penting Sekali tapi Terhambat, Segera Selesaikan!

Presiden menegur jajarannya karena masih banyak aturan teknis yang belum selesai untuk percepatan proyek strategis nasional (PSN).

Image
Ekonomi

Capai Rp17,2 Triliun! Ini 5 Perampokan ATM Paling Merugikan di Dunia

Ada yang terjadi hanya dalam waktu beberapa jam saja

Image
Ekonomi

Jokowi Keluhkan Banyaknya Kendala Teknis Proyek Tol Trans Sumatera dan Cisumdawu

Presiden Jokowi meminta peraturan teknis pembangunan proyek strategis nasional (PSN) tersebut bisa segera dirampungkan.

Image
Ekonomi

Mana Lebih Cuan, Investasi di Fintech, Deposito, atau Reksa Dana?

Instrumen investasi produk keuangan kini beragam jenisnya. Mulai dari reksa dana, deposito, dan fintech, kira-kira mana yang menguntungkan?

Image
Ekonomi

Tak Terpengaruh Corona, Penyaluran Pinjaman Fintech Masih Tumbuh Subur

Perusahaan teknologi finansial pinjam meminjam (fintech peer-to-peer lending) masih bertahan di tengah pandemi virus corona saat ini.

Image
Ekonomi

Menteri KKP Klaim Tak Ada Potensi Lobster Punah

Adanya pembudidayaan lobster tentu bisa membantu meningkatkan jumlah lobster yang bisa tumbuh menjadi besar dan dapat dinikmati masyarakat.

Image
Ekonomi

New Normal Transportasi Laut, Pelni Optimis Jumlah Penumpang Meningkat

Pelni tetap mematuhi peraturan yang berlaku terkait kegiatan naik turun penumpang kapal.

Image
Ekonomi

Gerindra Dapat Untung dari Ekspor Benih Lobster, Begini Kata Edhy Prabowo

Pendapatan para nelayan juga menurun, bahkan harus berurusan dengan hukum ketika menangkap benih lobster.

Image
Ekonomi

Komisi XI Tak Ragu 'Kocok Ulang' Pimpinan OJK dan BI Jika Belum Perbaiki Kinerja

Ketua Komisi XI DPR Dito Ganinduto mengatakan pihaknya akan mengevaluasi kepemimpinan di BI dan OJK.

Image
Ekonomi

5 Startup Fintech dengan Layanan Paling Keren, Ada yang Bisa untuk Salurkan Dana Sosial

Dunia fintech Indonesia terus mengalami peningkatan setiap tahunnya

terpopuler

  1. Tanggapi Pelaporan Terhadap Denny Siregar, Mustofa: Sekali-kali Orang Kayak Gini Diborgol di Depan Juru Foto Media, Biar Kapok!

  2. Hati-hati! Begini Modus Baru Penjahat di Ruang ATM

  3. Ditemukan Mutasi Baru Virus Corona, Lebih Cepat Menular namun Sakitnya Tak Lebih Parah

  4. Ancaman Amuba Pemakan Otak Bayangi AS, Warga Dilarang Basuh Hidung Pakai Air Keran

  5. Viviane Tidak Pernah Larang Sammy Simorangkir Touring Motor

  6. Modus Pura-pura Bikin Surat Bebas COVID-19, Pria Berjimat Kelabui ART hingga IRT

  7. 5 Gempabumi Terbesar di Indonesia

  8. Unik dan Kreatif, Cewek Jogja ini Dinamai Dita Leni Ravia Oleh Orang Tuanya

  9. Ini 5 Penyebab Kamu Susah Lepas Dari Hutang

  10. Ayu Ting Ting Ungkap Status Hubungannya dengan Didi Riyadi

fokus

Lebaran di Tengah Pandemi
Pulih dengan Terapi Musik
Wabah Corona

kolom

Image
Achsanul Qosasi

Renasionalisasi BUMN

Image
Muhtar S. Syihabuddin

Kami Cinta Polisi Sekaligus NKRI

Image
UJANG KOMARUDIN

Marah-marah dan Ancaman Reshuffle

Image
Riyanda Barmawi

Lobster Edhy Dalam Bayang-Bayang Susi

Wawancara

Image
News

DPR RI

Interview Ketua Komisi X Soal Kisruh PPDB: Kemendikbud dan Dinas Pendidikan Provinsi Kurang Sosialisasi

Image
Olahraga

Shin Tae-Yong

Ini Petikan Lengkap Wawancara Shin Tae-Yong yang Dipersoalkan PSSI

Image
News

Interview Mardani Ali Sera: Tidak Urgen, Stop dan Batalkan RUU HIP!

Sosok

Image
News

Kenang Masa Awal Pernikahan, Ini 5 Foto Lawas Mesranya Arumi Bachsin dan Emil Dardak

Image
Gaya Hidup

Mengenal Herni Ekamawati, Pecinta Kopi yang Jadi Ratu EO

Image
News

Terseret Kasus Bank Bali hingga Jadi Buronan, 5 Fakta Penting Djoko Tjandra