image
Login / Sign Up
Image

Abdul Aziz SR

Dosen Ilmu Politik FISIP Universitas Brawijaya dan Senior Researcher pada Center for Election and Political Party (CEPP) FISIP UI

Nasib Petani dan Subsidi Tersembunyi

Kolom

Image

Petani memanen buah timun suri di Depok, Jawa Barat, Selasa (6/5/2019). Timun suri menjadi salah satu buah favorit yang dijadikan bahan minuman untuk menu berbuka puasa yang dijual Rp15 ribu hingga Rp30 ribu per buah tergantung ukuran. | AKURAT.CO/Dharma Wijayanto

AKURAT.CO, Kemarau panjang tahun ini membawa dampak buruk bagi Petani. Terjadi kekeringan di mana-mana. Lahan pertanian menjadi tandus dan tanaman mengalami puso. Gagal panen mengancam. Lalu, ketika sumber air semakin berkurang, dan desa-desa mengalami kelangkaan air bersih. Derita Petani pun kian bertambah.

Ironisnya, di tengah kondisi sulit yang dihadapi Petani itu, pemerintah justru giat melakukan impor. Garam, misalnya, diimpor besar-besar sehingga membuat garam Petani –produksi dalam negeri– sulit bersaing di pasaran. Impor pangan lainnya seperti beras, daging, dan buah-buahan turut membanjiri pasar membuat produk Petani semakin terjepit. Nilai Tukar Petani (NTP) pun “terjun bebas” ke titik nadir.

Rezim penguasa saat ini, sesungguhnya sejak awal menjanjikan kondisi yang  lebih baik dalam penyediaan bahan pangan bagi warga. Di dalam dokumen Nawacita Jokowi-JK, pada poin ketujuh dikatakan bahwa pemerintah berkomitmen mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik. Poin ini diletakkan sebagai “induk” dari kebijakan pangan. Di dalam RPJMN 2015-2019, ada penegasan: salah satu sasaran utama prioritas nasional di bidang pangan adalah tercapainya peningkatan ketersediaan pangan yang bersumber dari produksi dalam negeri. Ada program produksi padi, jagung, kedelai, gula, daging sapi, ikan, dan garam. Seiring dengan itu, pemerintah juga mengajukan program pembangunan dan peningkatan layanan jaringan irigasi. Tetapi, kenyataan beribicara lain, pemerintah lebih suka impor ketimbang memberdayakan produk pangan dalam negeri. Juga, lebih gemar membuat jalan tol yang tak sedikit mengorbankan lahan-lahan pertanian.

baca juga:

Pada waktu yang sama, beras pemerintah di gudang-gudang Bulog membusuk dan rusak. Padahal sangat banyak rakyat kita yang miskin dan kesulitan membeli beras. Mengapa tidak dibuka kemungkinan beras-beras itu didistribusikan untuk kelompok miskin terutama di desa-desa ketimbang rusak dan dibuang? Bukankah salah satu kewajiban negara adalah membuat dan menjamin warganya sejahtera? Ada indikasi negara abai dan kurang peduli dengan nasib dan kesulitan warganya.  

Dalam konteks politik, Petani republik ini nyaris tak punya nilai tawar. Mereka tidak memiliki wakil di parlemen di semua tingkatan. Artinya, tidak ada anggota parlemen yang secara khusus dan tegas mewakili Petani, meskipun jumlah Petani –sebagai pemilih dalam pemilu– sangat besar. Posisi politik Petani kurang lebih sama dengan kaum buruh dan para guru, tidak ada alamat khusus mereka di parlemen. Parlemen kita –pusat dan daerah– lebih didominasi oleh mereka yang berlatar belakang pebisnis, pejabat birokrasi, militer, kaum intelektual, organisasi sosial-keagamaan, dan aktivis partai politik yang tidak memiliki keterkaitan “ideologis” dengan Petani. Kenyataan ini membuat kepentingan Petani kurang teragregasi dengan baik di dalam agenda-agenda kebijakan.

Kalaupun saat ini ada anggaran desa dari APBN sekitar satu miliar rupiah setiap desa pada dasarnya tidak sebanding dengan kontribusi desa (dan Petani) terhadap kota dan pemerintah. Desa dan Petani sudah sangat lama mensubsidi kota. Subsidi dari desa dan Petani adalah berupa bahan pangan seperti beras, ikan, daging, telor, jagung, garam, sayur-mayur, kacang-kacangan, umbi-umbian, dan lain-lain. Petani telah membuat warga kota terjamin kebutuhan pangan dan nutrisinya. Petani setiap hari membawa hasil produksinya ke pasar-pasar di kota dan dijual dengan harga yang murah sehingga terjangkau oleh semua warga kota.

Itulah yang bisa disebut Subsidi tersembunyi (hidden subsidy) Petani kepada warga kota. Suatu jenis Subsidi yang tidak begitu disadari, tidak diungkapkan, dan sepertinya juga tidak pernah mendapat pengakuan termasuk dari pemerintah. Sebaliknya ketika pemerintah yang memberi Subsidi ke desa dan para Petani menjadi berita besar, dan pemerintahpun dianggap telah memberikan perhatian serius. Padahal, ungkapan “Subsidi pemerintah” sesungguhnya tidak tepat. Secara politik, itu sejatinya alokasi –barang dan jasa– yang harus dilakukan oleh pemerintah untuk menjamin kehidupan warganya. Lagi pula, apa yang “disubsidi” oleh pemerintah itu berasal dari warga berupa pajak dan berbagai macam retribusi.  Karena itu, suatu program yang dikemas dalam “Subsidi pemerintah” sesungguhnya salah kaprah.

Dalam kondisi demikian, Petani ditempatkan sebagai warga negara kelas dua. Mereka masih menjadi dan dipandang sebagai objek pembangunan, belum menjadi subjek. Posisi politik Petani yang lemah, di satu sisi, dan kecilnya perhatian pemerintah kepada mereka, di sisi lain, membuat Petani sulit mengangkat nasibnya sendiri. Petani –baik yang tergolong farmer maupun lebih-lebih yang peasant (pinjam istilah Wolf, 1966)– menjadi kelompok warga yang tidak diuntungkan dan kurang dipihaki oleh kebijakan-kebijakan. Mereka terhempas di pinggiran dan menjadi mayoritas diam yang tak punya nilai tawar di hadapan negara. Dalam bahasa James Scott (1984), mereka itu hanya hadir sebagai orang-orang yang kalah (losers).   

Kebijakan ekonomi pemerintah, katakanlah di bidang investasi, banyak sekali yang berdampak buruk terhadap Petani dan dunia perdesaan. Ambil contoh investasi di sektor tambang dan air mineral. Kendati memberikan nilai ekonomi yang tinggi, tetapi kerusakan lingkungan yang ditimbulkan sungguh luar biasa. Perusahaan tambang menggali lubang raksasa di gunung dan hutan dalam jangka panjang telah membawa bencana tersendiri yang mengerikan. Perusahaan air minum yang tersebar di hampir seluruh seantero negeri, telah menyedot air tanah di gunung-gunung sepuasnya dan tanpa ukuran membuat sumber-sumber mata air mengering.

Kalangan terdekat secara geografis yang paling merasakan langsung kerusakan alam tersebut adalah warga desa dan para Petani.  Hal itu menunjukkan betapa negara hanya melihat keuntungan ekonomi dari investasi tambang dan air meneral secara hitam-putih. Tidak memperhitungkannya secara komprehensif termasuk dampak yang ditimbulkannya. Dalam konteks ini, negara lebih memihak dan melayani kepentingan serta ambisi bisnis pemilik modal ketimbang menyelamatkan masa depan lingkungan serta nasib masyarakat perdesaan dan kaum tani.  

Ketika di musim Kemarau panjang tahun ini kekeringan begitu meluas dan membuat dunia pertanian –di banyak wilayah– menderita, alam seolah hendak menunjukkan keangkuhannya. Ia berubah dari ramah menjadi marah. Masyarakat desa dan kaum tani tentu bersedih dan seakan sedang diuji kesabarannya oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Dalam konteks ini, negara –baca: pemerintah di semua level kekuaasaan– dituntut bertindak cepat. Warga desa dan kaum tani sungguh menanti perhatian nyata dan belai-kasih pemerintah. Wallahu’alam. []

Editor: Sunardi Panjaitan

berita terkait

Image

News

Mengukuhkan Persaudaraan Sosial

Image

News

Menjual Tubuh

Image

News

Organisasi Penggerak Pendidikan

Image

News

Tapak Ir. H. Joko Widodo dan Tuan Syèkh Ibrahim Sitompul

Image

News

Penentu Sukses Pilkada di Masa Pandemi

Image

News

Kolom

Rebranding Pilkada Serentak 2020

Image

News

Kolom

Kontroversi RUU HIP

Image

News

Kolom

New Normal dan Mengerucutnya Oligarki

Image

News

Kolom

Rasisme Tertolak di Dunia yang Beradab!

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
Ekonomi

Tuman, 8 Alasan Mengapa Gaji Bulanan Selalu Kurang!

Berikut 8 alasan kenapa gaji bulanan anda selalu terrasa kurang.

Image
Ekonomi

Langkah Mitigasi OJK Agar Sektor Keuangan RI Tak Kian Terpuruk Akibat COVID-19

Fluktuasi dan gejolak pasar modal global di masa awal pandemi membuat ketahanan pasar modal nasional benar-benar diuji.

Image
Ekonomi
DPR RI

Ancaman Pengangguran Masih Menghantui Akibat COVID-19

Per 27 Mei 2020, sebanyak 3.066.567 pekerja terdampak COVID-19 di-PHK maupun dirumahkan.

Image
Ekonomi

Bos PP Optimis Mampu Rampungkan Pelabuhan Patimban Sesuai Target

Saat ini progres pembangunan proyek proyek Terminal Patimban telah mencapai 77,38 persen.

Image
Ekonomi

Tes Jiwa Entrepreneur Kamu dengan 5 Cara Ini!

Di Indonesia sendiri, 7 dari 10 milenial punya keinginan untuk banting setir menjadi pengusaha.

Image
Ekonomi

Ngeri! Adiknya Ernest Prakasa Ungkap Batik Air Tak Terapkan Protokol COVID-19

Ernest bagikan pengalaman adiknya saat melakukan perjalanan dengan salah satu maskapai penerbangan yang tidak menerapkan protokol kesehatan.

Image
Ekonomi

Begini Tips Ajukan Kenaikan Gaji Tanpa Perlu Memelas!

Besaran gaji yang didapatkan oleh seseorang, sepatutnya sesuai dengan kemampuan kerja serta tanggung jawab yang dimilikinya.

Image
Ekonomi

6 Zodiak Ini Paling Ceroboh Kalau Pegang Uang!

Sebagian lainnya mungkin lebih ceroboh saat mengelola keuangan mereka.

Image
Ekonomi

Resep Canggih Steve Jobs Sehatkan Apple, Pasca Hampir Bangkrut!

Nyatanya Apple pernah berada di situasi terburuk sebagai perusahaan.

Image
Ekonomi

Gelorakan Semangat Pelaku UMKM Minangkabau, Sandi: Kita Harus Bangkit Walau Terjepit COVID-19!

Sandi Uno : meski kondisi ekonomi terjepit, namun masyarakat harus bangkit dan menang lawan COVID-19.

terpopuler

  1. Menimbang Qiraa’ah Mubadalah untuk Kesetaraan Gender

  2. Tampil Buruk, Performa Hazard Tuai Kecaman

  3. Hindari Penumpukan di Yogyakarta, LIB Tambahkan Venue di Magelang

  4. Setelah Karantina Sejak Maret, Pebulutangkis India Kembali Berlatih

  5. Harumkan Nama Afrika Selatan di MotoGP, Binder Banjir Pujian

  6. Hasil NBA: Lakers Dikalahkan Pacers, Bucks Tumbang dari Mavericks

  7. Ronaldo Sampaikan Sebuah Pesan Melegakan untuk Penggemar Juventus

  8. Klasemen MotoGP: Menangi GP Ceko, Peringkat Binder Melonjak

  9. Cetak Sejarah, Pembalap Afrika Selatan Rebut Gelar MotoGP Pertama

  10. Gibran Jokowi Kalah dari Kotak Kosong di Pilwalkot Solo Versi Survei Iwan Fals

fokus

Tokopedia Dorong Digitalisasi UMKM dan Inklusi Keuangan
UMKM Pahlawan Ekonomi
Strategi UMKM Berjaya di New Normal

kolom

Image
DR. ABDUL MUID N., MA

Menimbang Qiraa’ah Mubadalah untuk Kesetaraan Gender

Image
Achsanul Qosasi

Gerakan ABCD untuk Pemulihan Ekonomi

Image
UJANG KOMARUDIN

Demokrasi dalam Genggaman Oligarki

Image
Dr. Abd. Muid N., MA

Islam Yang Mewarna-Warni

Wawancara

Image
Video

VIDEO Menristek Bambang Brodjonegoro Buka Bukaan | Siapkan 250 Juta Vaksin Covid-19 Dalam Setahun

Image
News

Menristek Bambang Brodjonegoro Buka Bukaan Siapkan 250 Juta Vaksin, Bisa Digunakan Pertengahan 2021

Image
Ekonomi

Eksklusif Memulihkan Perekonomian Desa dengan Digitalisasi dan Menggerakkan Anak Muda

Sosok

Image
Ekonomi

6 Fakta Menarik Sumber Kekayaan Jerinx SID, Bisnis Clothing hingga Brand Ambassador Berbagai Produk

Image
Ekonomi

Foto Lawas Cita-cita Masa SD Desainer Asal Medan ini Viral, Bikin Bangga!

Image
Hiburan

5 Potret Memesona Dian Syahfitri, Guru SMK di Deli Serdang yang Jadi Idola Para Murid