image
Login / Sign Up

Buka-bukaan Bambang Brodjonegoro Soal Beban Menjadi Menteri dan Bulu Tangkis

Ade Miranti

Image

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro saat ditemui di kantor Bappenas, Jakarta, Kamis (27/12/2018). Bambang Brodjonegoro kini meneruskan jejak langkah sang ayah, Soemantri Brodjonegoro, yang pernah menjadi Menteri Pertambangan serta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di era Orde Baru. Dilain sisi, diantara kesibukannya yang padat, ia gemar dan rutin dalam berolahraga badminton. | AKURAT.CO/Abdul Aziz Prastowo

AKURAT.CO Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro, Prof., S.E., M.U.P., Ph.D. (lahir di Jakarta, 3 Oktober 1966; umur 52 tahun). Ia merupakan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional atau Kepala Bappenas, Indonesia sejak 27 Juli 2016, di Kabinet Kerja. Sebelumnya di Kabinet yang sama dia adalah Menteri Keuangan Republik Indonesia yang menjabat sejak tanggal 27 Oktober 2014 hingga 27 Juli 2016.

Bambang Brodjonegoro dikenal baik di dalam maupun di luar kalangan akademik. Sebagai akademisi, kariernya dimulai sebagai staf pengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia hingga merangkak naik menjadi Ketua Jurusan Ekonomi, kemudian menjadi Dekan.

Kepakarannya dalam bidang Ekonomi Pembangunan, khususnya wilayah perkotaan, membuat banyak perusahaan dan lembaga pemerintah memberi kepercayaan untuk duduk sebagai dewan komisionaris dan atau konsultan independen.

baca juga:

Bambang juga merupakan keturunan dari Almarhum, Prof. Dr. Ir. R. M. Soemantri Brodjonegoro yang dulu adalah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral pada tahun 1967 hingga 1973 dan juga mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia pada tahun 1973.

Untuk menelusuri lebih dalam mengenai Bambang Brodjonegoro serta jabatan Menteri yang diemban oleh mantan Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) ini, Tim Ekonomi Akurat.co pun berkesempatan untuk mewawancarai khusus pada Kamis (27/12/2018) lalu. Berikut hasil wawancara bersama Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro :

Menjadi Menteri memang sudah cita-cita Anda, karena Ayahanda sebelumnya juga seorang Menteri?

Kebetulan ayah saya itu meninggal ketika saya masih kecil sekali, saya masih 7 tahun. Jadi kalau dilihat apakah ada pengaruh dari ayah secara langsung, saya katakan hampir tidak ada. Yang saya tahu adalah latar belakang bahwa ayah saya pernah menjadi menteri. Dan pengaruhnya yang lebih berkembang di keluarga itu bukan menterinya, tapi sebagai akademisinya. Sebelum menjadi menteri, ayah saya itu menjadi akademisi. Kemudian anak-anaknya, kita bertiga memilih menjadi akademisi, jadi dosen. Jadi yang utamanya adalah jadi dosennya. Ada dosen tetap jadi dosen, ada dosen yang masuk birokrasi, ada yang seperti saya akhirnya terus menjadi menteri.

Menjadi menteri itu bukan sesuatu yang bisa diprogramkan karena ini bukan jabaan politis yang bisa dilalui melalui kampanye, melalui voting. Tetapi, istilahnya ini ditunjuk, ditugaskan. Jadi barang kali pengaruh dari keluarga termasuk ayah saya, bahwa kita cukup tahu mengenai dunia akademik, dunia birokrasi dan masalah menjadi menteri.

Bagaimana pun keluarga kita pernah menjadi menteri, jadi tahu bagaimana kira-kira menjadi menteri. Tapi tidak otomatis, bapaknya jadi menteri anaknya juga jadi menteri. Kenyataannya, mungkin di kabinet sekarang, yang aktif mungkin 4 atau 5, yang ayahnya adalah menteri. Ini bukan sesuatu yang diprogramkan, mungkin ini bisa yang mengarahkan karir kita. Dan membuat kita jadi lebih tahu seperti apa menteri itu.

Infografis Profil Bambang Brodjonegoro. AKURAT.CO

Bisa diceritakan awal mula perjalanan karir dari akademisi hingga menjadi seorang Menteri?

Memang saya awal terjun ke dunia birokrasi di Kementerian Keuangan, waktu saya menjadi Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) mulai Januari 2011. Ada peralihan profesi saya sendiri, yang tadinya full akademisi dari lulus S3 tahun 1997 sampai selesai dan menjadi Dekan tahun 2009. Setelah 12 tahun menjadi akademisi murni, saya ingin mencoba yang lain, waktu itu saya coba bekerja di luar negeri dulu, di Islamic Development Bank sampai 2011. Kemudian saya mencoba bekerja sebagai birokrasi dalam negeri. Karena latarbelakang saya akademisi tidak mungkin saya menjadi birokrat administrator, tapi lebih ke teknokrat.

Jadi, saya lihat di keuangan kebetulan ada kekosongan untuk kepala BKF. Ketika Pak Agus Martowardojo waktu itu Menteri Keuangan menawarkan kepada saya, dan ini saya pikir kesempatan bagus karena bisa menjadi teknokrat yang nantinya juga akan paham mengenai birokrasi. Kemudian dari BKF jadi Wakil Menteri Keuangan. Waktu jadi Wakil Menteri Keuangan itu saya melihat masih satu rangkaian. Dan yang terpenting, tetap di bidang ekonomi.

Ketika saya gabung keuangan kalian kira saya paham keuangan? nggak juga. Ada beberapa aspek mengenai pajak, bea cukai, dan masalah kekayaan negara yang sebelumnya tidak terlalu saya pahami. Justru saya banyak belajarnya ketika gabung di sana (kemenkeu).

Anda lebih prefer kemana, sebagai Menteri Keuangan atau seperti sekarang menjadi Menteri PPN/Kepala Bappenas?

Intinya kalau melihat preferensi dan latarbelakang, yang paling penting adalah saya bisa berkontribusi. Katakan kalau level Menteri, ya yang masih terkait dengan ekonomi. Karena memang sesuai dengan background dan pengalaman. Urusan yang berhubungan dengan ekonomi adalah bidang yang saya bisa terjuni. Jadi, kalau ditanya preferensi yang paling penting masih terkait ekonomi.

Dan ekonomi tidak harus yang benar-benar ekonomi, tapi bisa juga yang merupakan kegiatan ekonomi. Yang pasti bukan bidang pertahanan, atau bidang hukum, pasti nggak mungkin. Lagipula menjadi Menteri kan ditunjuk, bukan keinginan sendiri. Bagaimanapun selagi kita ditunjuk dan ditugaskan pada bidang yang cocok menurut saya itu merupakan amanah yang harus dijalankan.

Bambang Brodjonegoro. AKURAT.CO/Abdul Aziz Prastowo

Sulit mana menjadi Menteri Keuangan dengan Menteri PPN/Kepala Bappenas?

Kesulitannya menjadi Menteri Keuangan dulu, mungkin pressure-nya itu kalau bisa saya katakan harian. Jadi, tiap hari itu ada saja pasti sesuatu yang jadi beban pikiran kita. Misalkan, di kamar kerja saya itu ada semacam dashboard penerimaan hari ini berapa. Dan itu kan ada targetnya dalam setahun. Kalau yang sekarang ini kan, pasti ada kepikiran. Meskipun bukan hari itu misalnya.

Yang tidak boleh dilupakan, menteri keuangan itu banyak memegang policy, itu tentang kebijakan. Apakah itu kebijakan terkait pajak, terkait anggaran, dll, praktis kita harus mengakomodir semua sektor. Jadi, pasti tiap hari itu akan muncul permintaan, akan muncul desakan ini itu yang tentunya tidak mungkin kita iyakan begitu saja. Semua harus dilakukan melalui proses, dikaji dulu. Padahal, kadang-kadang waktunya menjadi sempit. Dan di situlah saya katakan tadi, pressure-nya kalau bisa saya katakan dalam waktu itu bisa harian. Jadi, bisa tiap hari, tiap waktu jadi pemikiran kita.

Ini beda sama Bappenas. Bagaimana pun di Bappenas kan juga memikirkan perencanaan. Paling pendek itu kan perencanaan tahunan, kan rencana kerja pemerintah. Yang menengah 5 tahunan atau lebih panjang. Sekarang ini, saya juga membuat rencana 2045 atau jangka panjang. Mengerjakan juga sampai pemerintahan berikut sampai 2024. Pada saat yang juga harus punya akal untuk 2020. Memang ini sesuatu yang berat, tapi beratnya beda. Jadi bukan sifat pressure-nya yang harian atau sifatnya operasional, tapi lebih ke otak kita, kreatifitas kita ditantang terus.

Membuat RPJMN itu bukanlah mengubah sedikit yang sudah ada. Tapi bagi saya harus ada sesuatu yang baru. Nah, itu sesuatu yang membuat menantang saya. Kalau yang satunya pressure-nya lebih operasional, yang Bappenas pressure-nya lebih conceptual. Di Bappenas, kalau perencanaannya tidak visioner, misalkan jangka menengah tidak menjawab permasalahan, ya kita secara conceptual malu juga.

Meski di kementerian keuangan saya pressure-nya tiap hari, karena saya sudah terbiasa jadi biasa saja. Walaupun mungkin agak pusing. Ketika di sini, pertama ini memang lingkungan yang baru. Tapi, dilihat dari latarbelakang keilmuan, di sini lebih cocok. Latarbelakang saya waktu sekolah sampai menjadi dosen, Bappenas lebih cocok. Karena basis saya di ekonomi waktu itu adalah ekonomi perencanaan dan daerah. Waktu saya S1 sampai S3 sehingga Bappenas ini sangat banyak berkaitan yang pasti perencanaan dan daerah. Dan sekarang, saya lagi semangat mempelajari yang sektoral.

Dan menjadi menteri keuangan itu, menghabiskan waktu di DPR nya banyak sekali. Saya dulu praktis ngantornya, separuh di kantor, separuh di DPR. Karena semua APBN, harus menteri keuangan. Jadi, interaksi dengan DPR ini banyak sekali.

Bambang Brodjonegoro. AKURAT.CO/Abdul Aziz Prastowo

Dengan segudang agenda dan tekanan bagaimana cara Anda mengantisipasi stress?

Intinya, kita harus menyukai pekerjaan kita sendiri. Jadi, yang paling penting, pagi itu kita berangkat ke kantor itu harus disertai excitement, itu saja sudah membuat kita rileks. Jadi, kalau saya dikasih undangan untuk berbicara, kayak kemarin saya ke Banjarmasin ngasih kuliah umum Universitas Lambung Mangkurat, bagi saya bukan beban. Itu semacam kind of refreshing karena pekerjaan akhir saya dosen. Dan saya sudah lama nggak ngajar. Jadi ketika ada kesempatan itu, kayak dosen saja. Kapan lagi jadi dosen ya kan? Jadi, itu bagi saya sesuatu yang menyenangkan. Kita bisa keluar dari rutinitas dengan kita excitement itu sangat menolong kita mengurangi stres.

Kemudian yang kedua, kita harus menjadi orang yang senang belajar. Jadi ketika kita mempelajari yang baru. Ketika saya masuk Bappenas kan banyak yang baru bagi saya. Tahu-tahu saya harus mempelajari kesehatan, pendidikan, sampai masalah pertahanan itu harus tahu semua karena ini perencanaan. Kalau kita bukan orang yang suka belajar, ini kan beban. Apalagi kita disuruh ngomong soal itu. Tetapi kalau kita tanamkan pada diri kita sendiri, saya ingin tahu ini, saya ingin tahu itu. Kalau anak muda jaman sekarang melampiaskan keingintahuan dengan melihat ke internet, intinya ilmu pengetahuan datang dari sosial media tersebut. Kalau saya, karena memang bahannya sudah ada di sini, makanya saya lebih senang di sini, daripada dikasih bahan begitu saja, lebih baik staf saya atau deputi saya menjelaskan.

Karena bagi saya belajar dengan mendengarkan itu lebih cepat daripada baca. Karena baca itu kita nggak tahu apa saja makna di balik kata-kata. Kedua, kita butuh waktu kan untuk baca. Jadi, kalau mendengarkan sambil belajar, saya otomatis setengah jam meeting sudah dapat bahannya.

Satu lagi, kalau bisa weekend jangan mengambil beban terlalu berat.

Dengar-dengar hobinya main bulutangkis ya?

Intinya ada dua hobi yang bisa saya lakukan dengan mudah saat weekend, bulutangkis atau nonton film. Cuma kalau nonton film nggak olahraga, itu cuman untuk senang-senang saja. Kalau bulutangkis, memang olahraga yang menurut saya pas. Karena dengan 2 jam olahraga sudah dapat keringatnya.

Mainnya rutin, saya usahakan kalau tidak ada perjalanan luar kota seminggu dua kali, Sabtu, Minggu biasanya, tapi lapangannya pindah-pindah. Paling sering main di lapangan bulutangkis DPR, kemudian saya kan grup mainnya dengan Chandra Wijaya yang pernah Olympic Group Medal, dia punya gedung sendiri di Serpong agak jauh sih. Jadi, gantian antara dua tempat itu. Atau kadang-kadang grup kita bertanding ke tempat lain, ya berarti main di tempat di mana kita bertanding.

Bambang Brodjonegoro. AKURAT.CO/Abdul Aziz Prastowo

Awal tertarik dengan bulutangkis bagaimana ceritanya?

Sebenarnya sih variasi ya. Sebenarnya bulutangkis itu saya tidak ada belajar khusus waktu kecil. Main bulutangkis ya karena orang lain megang raket, ya kita ikutan pegang raket, pukul-pukulan. Terus terang waktu kecil saya tidak pernah datang ke tempat bulutangkis yang proper. Justru saya latihan ada pelatih itu tenis. Jadi SMP sampai SMA itu saya latihan tenis. Kalau tanding sama-sama teman sekelas, mainnya main tenis.

Kemudian voli, itu olahraga paling saya senangi sampai hari ini. Kalau ada kesempatan main, saya akan main. Problem-nya voli itu 12 orang butuhnya. Jadi nggak gampang, main voli saja susah. Kalau voli pantai terlalu berat. Justru saya aktif badminton ketika di Amerika. Main voli bisa kalau 12 orang ada, main basket, kependekan kita. Lawannya orang Amerika jauh lebih tinggi. Sudah gitu, kalau main tenis lapangannya penuh terus karena banyak yang main. Saya lihat yang kosong itu hanya lapangan bulutangkis. Akhirnya saya fokus ke bulutangkis waktu ambil S2-S3 di Amerika, 6 tahun saya main bulutangkis.

Pulang dari sana (AS), pas di UI malah olahraganya saya lebih ke fitness. Mau main bulutangkis nggak punya akses. Di UI saya nggak yakin ada lapangan bulutangkis. Justru kepengen main bulutangkis lagi waktu di BKF, pakai pelatih karena saya nggak pernah belajar bulutangkis. Setelah itu, keterusan sampai sekarang.

Mengidolakan atlet bulutangkis siapa?

Kalau idola agak susah ya karena Indonesia itu banyak jagoannya. Tapi lilihat kualitas nomor satu masih Rudi Hartono, sudah tua sekali dan bagi saya paling perfect.

Bambang Brodjonegoro. AKURAT.CO/Abdul Aziz Prastowo

Apa resolusi Anda pribadi di 2019?

Saya ingin melihat suatu saat Indonesia bisa menjadi negara besar. Apalagi saya pernah traveling ke negara-negara lain dalam hal pekerjaan. Ya kita bisa melihat contoh-contoh negara yang sudah maju, baik maju secara keseluruhan maupun maju dalam beberapa hal. Itulah yang menjadi motivasi saya. Jadi, intinya untuk saya ke tahun 2019 bagaimana memotivasi diri saya sendiri terus agar bisa keluar dengan pemikiran, ide, dan langkah-langkah yang bisa membuat ekonomi Indonesia berjalan pada track yang benar dan menjadi negara maju di 2045. []

Editor: Denny Iswanto

berita terkait

Image

Ekonomi

Menteri Bambang Pastikan BUMN Dilibatkan Dalam Pembangunan Ibu Kota Baru

Image

Ekonomi

Indepth

Menyimak Balada Pemindahan Ibu Kota

Image

Olahraga

Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2019

Indonesia Kirim Empat Wakil di Perempat Final

Image

Ekonomi

Dengan MPN G3, Menkeu Sesumbar Penerimaan Negara Dikelola Lebih Akurat

Image

Olahraga

Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2019

Langkah Ganda Campuran Indonesia Terhenti di 16 Besar

Image

Olahraga

Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2019

Jojo Muluskan Langkahnya ke Perempat Final

Image

Ekonomi

Soal Provinsi Bogor Raya, Kepala Bappenas Sarankan Ini

Image

Ekonomi

Konsep Smart City di Ibu Kota Baru Bukan Sekadar Kecanggihan TI, Lalu Apa?

Image

Ekonomi

Bappenas: 2020 Dimulai Pemindahan Ibu Kota ke Kalimantan

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
Ekonomi

5 Hewan Ternak 'Anti Mainstream' Ini Laku Keras Diekspor ke Mancanegara

Ada banyak sekali hewan yang bisa kita jadikan sebagai peluang usaha untuk beternak dan menghasilkan omzet besar.

Image
Ekonomi

DPR Desak Pemerintah Mempermudah Perizinan Hak Cipta Ekonomi Kreatif

Pemerintah dinilai perlu untuk mempermudah proses perizinan dari hak cipta ekonomi kreatif.

Image
Ekonomi

Cara OJK Agar Pasar Modal Bisa Berperan Tingkatkan Perekonomian

Otoritas Jasa Keuangan menggelar Capital Market Summit & Expo 2019 di JCC, GBK, Jakarta Pusat selama dua hari, Jumat-Sabtu.

Image
Ekonomi

Menko Darmin Sindir OJK: Pasar Modal Tumbuh 2.600 Kali tapi Hanya Diisi Perusahaan Besar

Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian Darmin Nasution mengungkapkan pasar modal naik 2.600 kali.

Image
Ekonomi

Menteri Bambang Pastikan BUMN Dilibatkan Dalam Pembangunan Ibu Kota Baru

BUMN bakal dilibatkan dalam pembanguan ibu kota baru.

Image
Ekonomi
Indepth

Ancaman Resesi Ekonomi Global Buat IHSG Rontok Sepekan

Kekhawatiran resesi ekonomi dunia menguat pada Rabu minggu lalu (14/8/2019), ditengah ketidakpastian global. Hal ini melemahkan IHSG.

Image
Ekonomi
Indepth

Menyimak Balada Pemindahan Ibu Kota

Secara mengejutkan, kemarin, pemerintah menetapkan lokasi ibu kota negara yang baru akan berada di Kalimantan Timur.

Image
Ekonomi

Siap-Siap, BUMN Bakal Gelar Rekrutmen Bersama Gelombang Dua Tahun Ini

Kementerian BUMN bakal kembali menggelar program perekrutan bersama untuk menempai posisi yang masih korong di beberapa BUMN.

Image
Ekonomi

Pengamat Pajak Ini Enggan Berkomentar Mengenai Pemindahan Ibu Kota, Kenapa?

Direktur Eksekutif CITA Yustinus Prastowo enggan berkomentar lebih lanjut mengenai rencana pemerintah memindahkan ibu kota.

Image
Ekonomi

Dengan MPN G3, Menkeu Sesumbar Penerimaan Negara Dikelola Lebih Akurat

Menkeu mengatakan bahwa MPN G3 adalah upaya Kemenkeu agar pengelolaan penerimaan negara menjadi lebih akurat dan tepat waktu.

Available
Banner Kemendagri

trending topics

banner jamkrindo

terpopuler

  1. Lagi di Singapura, Uya Kuya Sedih Blackpink Meninggal Dunia

  2. Lukas Enembe Kritik Jokowi, Faizal: Kepala Daerah Tidak Etis 'Menghujat' Presiden

  3. Video Vulgar Tersebar, Duo Semangka Jelaskan Kronologinya

  4. 2 Jam Besuk Galih Ginanjar, Barbie Kumalasari Cuma Bahas Soal Lagu

  5. Soal Cuitan 'Pabrik Susu', Aura Kasih Belum Tentukan Sikap Ke Jalur Hukum

  6. Kehadiran Batu Bronjong, Guntur Romli: Selera 'Seni' Anies Makin Sulit Dicerna Selera Umum

  7. Jadi Ibu Baru, 10 Potret Memesona Aura Kasih Dua Bulan setelah Melahirkan

  8. Terlibat Korupsi, Penangkapan Mantan Menteri Keuangan India Berlangsung Dramatis

  9. Tunda Bulan Madu, Roger Danuarta-Cut Meyriska Pilih Hadiri Pengajian Gus Anom

  10. Bisnis Ternak Hewan 'Nyeleneh' yang Menghasilkan Banyak Uang

Available

fokus

Hari Fotografi Sedunia
Nikah Cepat
HUT Ke-74 RI
Available

kolom

Image
Andre Purwanto

Budget Rp30 Juta, Honda PCX atau Yamaha Nmax?

Image
Ujang Komarudin

Dirgahayu RI ke 74 dari Oligarkis ke Demokratis

Image
Ahmad Irawan

Joko Widodo dan Keutamaan Partai Politik

Image
Dr. H. M. Syarif, MA

Kesan Haji Tamu Raja 2019

Available

Wawancara

Image
Ekonomi

Eksklusif Destry Damayanti: Kita Harus Optimalkan Perekonomian Domestik

Image
Video

VIDEO Jurus Optimalkan Perekonomian Domestik ala Destry Damayanti

Image
Ekonomi

Eksklusif Destry Damayanti, DGS BI yang Mencintai Moneter dan Fotografi

Sosok

Image
News

5 Fakta Frans Kaisiepo, Aktivis Kemerdekaan RI Sejak Muda Asal Papua

Image
News

Terpilih Kembali Jadi Ketum PKB, Ini 6 Fakta Perjalanan Karier Cak Imin

Image
News

5 Ustaz Ini Pernah Bikin Heboh Tanah Air karena Kontroversinya