image
Login / Sign Up

Proteksionisme vs Multilateralisme, Berpihak Kemanakah Indonesia?

Anggi Dwifiani

Kaleidoskop 2018

Image

Ilustrasi Perang dagang | KAPITAL.KZ

AKURAT.CO Tahun ini adalah tahun dimana hubungan dagang Amerika Serikat (AS) dan China lebih memanas daripada tahun-tahun sebelumnya. Memanasnya hubungan kedua raksasa ekonomi lebih dikarenakan oleh saling balas Tarif perdagangan hingga muncullah istilah Perang Dagang.

Perang Dagang ini dipicu oleh sifat agresifnya Presiden AS Donald Trump dalam merealisasikan janji kampanye “America First” sehingga membuat Trump tidak ingin China menguasai pasarnya.

Perang Dagang dimulai ketika Presiden AS Donald Trump pada 7 Maret meminta China untuk mengembangkan rencana mengurangi defisit perdagangan kedua negara hingga USD1 Miliar, dalam setahun kedepan. Setelahnya, China juga diminta untuk mengatasi masalah pencurian hak intelektual produk AS yang membuat China mampu mengembangkan berbagai produk canggih karena pihak Paman Sam sangat dirugikan.

baca juga:

Namun, karena tidak segera ditanggapi oleh Beijing, Washington pada 29 Mei mengumumkan rencananya untuk menjatuhkan Tarif baru yang tinggi pada USD50 miliar produk-produk China. Ancaman Tarif ini justru tidak membuat China tinggal diam. China juga mengancam balik untuk melawan AS dengan Tarif yang serupa demi melindungi kepentingan nasionalnya. China juga mengejek AS karena tindakan ekonominya ini praktis merusak perdagangan global dan membuat negara-negara lain terdampak.

Trump vs Xi Jinping. ISTIMEWA

Ancaman kedua negara pun mulai terealisasikan pada 6 Juli. AS menaikan Tarif Impor untuk USD34 miliar produk China begitupun sebaliknya. Sasaran AS pada Tarif ini adalah sejumlah produk buatan China yang memiliki teknologi tinggi seperti pesawat terbang, robot, manufaktur dan otomotif. Sedangkan, China menyasar produk otomotif, kedelai, dan minyak mentah. Puncaknya pada 23 Agustus, AS menerapkan Tarif Impor tambahan kedua sebesar 25 persen pada USD16 miliar atau 279 kategori produk dari China. Kategori produk tersebut termasuk semikonduktor, plastik, bahan kimia dan peralatan kereta api. China tak mau kalah dan juga ikut menerapkan Tarif Impor yang senilai.

Bahkan pada 24 September, AS menerapkan Tarif Impor tambahan ketiga sebesar 10 persen pada USD200 miliar produk-produk Cina senilai USD200 miliar, termasuk furnitur, dan peralatan. China juga membalasnya dengan menaikan Tarif sebesar 5-10 persen untuk USD60 miliar barang-barang AS dimana sebanyak 5.207 produk berjenis gas alam cair, kopi, minyak makan dikenakan Tarif 10 persen dan 5 persen untuk berbagai produk berjenis sayur beku, tepung kokoa, dan produk kimia.

Pengenaan Tarif ini justru tidak menghalangi surplus perdagangan China dengan Amerika Serikat (AS). China mendapatkan transaksi hingga USD34,1 miliar pada September. Angka ini melebihi angka tertinggi USD31,05 miliar pada Agustus. Angka surplus yang kuat ini, membuat Donald Trump semakin berang, pada 11 Oktober memperingatkan bahwa ia akan "melakukan lebih banyak" cara untuk menyakiti ekonomi China. Dan Trump seakan-akan tak peduli atas dampak terhadap ekonomi global dari kebijakannya ini.

Proteksionisme jadi agenda utama raksasa ekonomi dunia

Agresifnya perwujudan janji kampanye Trump dan sikap pembalasan Xi Jinping ini merupakan bentuk Proteksionisme kepentingan nasionalnya masing-masing. Proteksionisme adalah kebijakan suatu negara yang mengarah pada perlindungan ekonomi dari negara lain melalui cara-cara seperti Tarif barang Impor, batas kuota, dan berbagai peraturan pemerintah.

Proteksionisme dianggap para pendukungnya dapat menciptakan persaingan adil antara barang dan jasa Impor dan dalam negeri. Kebijakan ini berlawanan dengan perdagangan bebas dimana transaksi perdagangan dibatasi pemerintah hanya sedikit. Pada masa modern, Proteksionisme semakin berkaitan dengan anti-globalisasi dan anti-imigrasi.

China Mulai Menaikan Tarif Untuk Beberapa Produk A. REUTERS/Aly Song

Namun organisasi internasional yang mengawasi aturan perdagangan antar negara anggotanya (termasuk AS dan China) yaitu Organisasi Perdagangan Dunia (WTO/ World Trade Organization) menyatakan bahwa sistem perdagangan seharusnya memiliki lima (5) prinsip, yaitu:

Pertama, tanpa diskriminasi ke negara lain, yang berarti memperlakukan semua negara mitranya secara sama. Namun dalam situasi tertentu, suatu negara diizinkan mendiskriminasi; Kedua, setiap negara dapat menegosiasikan hambatan dagang (seperti Tarif dan kuota) dengan yang lainnya; Ketiga, hambatan dapat diprediksi dan tidak boleh dinaikkan secara sewenang-wenang; Keempat, lebih kompetitif dengan menghindari praktik "tidak adil" (seperti subsidi ekspor dan menjual produk dengan biaya di bawah untuk mendapatkan pangsa pasar); dan kelima, lebih bermanfaat bagi negara kurang berkembang dengan memberikan negara lain lebih banyak waktu untuk menyesuaikan diri berdasarkan fleksibilitas yang lebih besar, dan keistimewaan khusus.

Meski kedua negara telah menyatakan gencatan dagang setelah makan malam bersama di KTT G20 pada 1 Desember 2018 lalu untuk bernegosiasi, gencatan ini tetap tidak bisa memberi kepastian mengenai hubungan dagang kedua negara. Meski terlihat mereda, negosiasi berpotensi sulit mencapai kesepakatan setelah eksekutif Huawei Technologies Co. milik China Meng Wanzhou ditangkap pada waktu yang sama dengan gencatan dagang.

Gencarnya kampanye lawan Proteksionisme

Disisi lain, disaat kedua raksasa ekonomi dunia saat ini tengah berada dalam ketegangan perdagangan dan saling mengeluarkan kebijakan yang semakin mempertebal dinding Proteksionisme, banyak perjanjian perdagangan internasional yang semakin gencar untuk memastikan aliran barang dan modal semakin bebas.

Indonesia sendiri pun gecar mengikuti berbagai perjanjian itu, seperti Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP/ Regional Comprehensive Economic Partnership) oleh ASEAN dan enam negara mitra strategisnya (China, India, Jepang, Australia, Selandia Baru, dan Korea Selatan), dan Perjanjian Komprehensif dan Progresif untuk Kemitraan Trans-Pasifik (CPTPP/ Regional Comprehensive Economic Partnership) oleh sebelas negara Asia Pasifik yang akan mulai berlaku pada 30 Desember, dan Perjanjian Kerja Sama Ekonomi Komprehensif (Indonesia-European Free Trade Association(EFTA)) yang melibatkan 4 negara Eropa meliputi Swiss, Liechtenstein, Islandia, dan Norwegia dan ditandatangani pada 17 Desember.

IMF-WB Annual Meeting. AKURAT.CO/Denny Iswanto

Indonesia pun memosisikan diri untuk melawan adanya Perang Dagang ini, karena akan berdampak buruk bukan hanya bagi dirinya tapi juga bagi negara-negara lain. Seperti yang diucapkan Presiden Joko Widodo dalam pidatonya pada gelaran IMF-WB 2018 di Bali, Jokowi menentang Perang Dagang AS vs China. Menurutnya, Perang Dagang hanya membawa kehancuran ekonomi di seluruh dunia. Dengan Jargon “WInter is ComingJokowi (Panggilan akrabnya-RED) mengajak seluruh negara untuk bersatu melawan Proteksionisme perdagangan.

“Pesan moral utama yang ingin saya sampaikan saat itu adalah bahwa konfrontasi dan perselisihan akan mengakibatkan penderitaan, bukan hanya bagi yang kalah namun juga bagi yang menang,” kata Jokowi. []

Editor: Denny Iswanto

berita terkait

Image

News

Wabah Corona

Tolak Darurat Sipil, Said Didu: Ya Allah Lindungi Kami Dari Kedholiman Ini

Image

Ekonomi

Investor Bersiap Hadapi Ketidakpastian, Dolar AS Melesat

Image

News

Wabah Corona

Politisi Demokrat: Darurat Sipil Ini Kebijakan Cuci Tangan Dan Power Oriented

Image

News

Wabah Corona

Tolak Darurat Sipil, Hamdan Zoelva: Lockdown Cukup dengan UU Tentang Kekarantinaan Kesehatan

Image

News

Wabah Corona

Anggota DPR Desak Jokowi Batalkan Keinginannya Terapkan Darurat Sipil

Image

News

Wabah Corona

Keras! Natalius Pigai Tolak Pemberlakuan Darurat Sipil Hadapi Covid-19

Image

News

Wabah Corona

PP Muhammadiyah Minta Pemerintah Pertimbangkan Karantina Wilayah Secara Nasional

Image

News

Wabah Corona

Darurat Sipil Covid-19, TIDI: Harus Proporsional dan Tetap Penuhi Kebutuhan Warga

Image

News

Wabah Corona

Di Tengah Kekhawatiran Corona, 70 Ribu Orang Lebih Masuk DIY

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
Ekonomi

KAI Daop 1 Jakarta Batalkan 21 Jadwal Operasional Kereta Lokal

PT Kereta Api Indonesia Daop 1 Jakarta memberlakukan pembatalan operasional atau batal jalan pada pelayanan 21 jadwal KA Lokal dalam kurun

Image
Ekonomi

Panik Pelemahan Permintaan, Harga Minyak Runtuh

minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Mei turun 2,17 dolar AS menjadi ditutup pada 22,76 dolar AS per barel.

Image
Ekonomi

IHSG Masih Akan Tetap Lesu, Amankan Saham-saham Ini

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada hari ini masih cenderung melemah.

Image
Ekonomi
Wabah Corona

OJK Keluarkan Aturan Teknis Kelonggaran untuk Nasabah IKNB, Ini Rinciannya

Otoritas Jasa Keuangan mengeluarkan kebijakan untuk mendorong Industri Keuangan Non Bank (IKNB) memberikan stimulus untuk para nasabah.

Image
Ekonomi
Wabah Corona

Sahara Sembako Berdayakan Warung-warung Kecil Secara Online di Tengah Corona

Sharmila mengajak masyarakat untuk sama-sama memberdayakan warung sembako kecil.

Image
Ekonomi

Dolar AS Kembali Sangar, Emas Tampak Pudar

Emas berjangka juga anjlok 26,2 dolar AS atau 1,59 persen menjadi 1.625 dolar AS per ounce pada akhir pekan lalu.

Image
Ekonomi

Investor Bersiap Hadapi Ketidakpastian, Dolar AS Melesat

Kekhawatiran tentang penyebaran virus corona dan dampak ekonomi dari penutupan terus mendominasi pasar valuta asing.

Image
Ekonomi
Wabah Corona

Meski Ada COVID-19, Erick Pastikan Proyek 35 Ribu Megawatt PLN Tetap Jalan

Salah satu proyek strategis yang tetap harus dilakukan yaitu proyek 35.000 MW milik PLN yang tetap harus berjalan.

Image
Ekonomi
Wabah Corona

Antisipasi Kejatuhan Akibat Corona, Hipmi Dukung Realisasi Kartu Pra Kerja

Saat ini sertifikasi menjadi acuan bagi pengusaha untuk menentukan diterimanya seseorang untuk bisa bekerja atau tidak.

Image
Ekonomi

BI Luncurkan Indeks Literasi Pengembangan Ekonomi dan Keuangan Syariah

BI mengeluarkan Indeks Literasi Ekonomi Syariah pada Senin (30/3/2020).

terpopuler

  1. Pasien Corona Asal Surabaya: Jangan Percaya Hoaks, Covid-19 Nyatanya Bisa Disembuhkan, Penularan Penyakit Ini Bisa Dicegah Jika Kita Tak Sering ke Luar Rumah

  2. Khofifah ke Warganya: Biasanya Perantau Mudik Pada Idul Fitri, Tapi Tahun Ini Sebaiknya Pulkam Saat Idul Adha

  3. Pemerintah Sudah Periksa Lebih Dari 6.500 Orang dan Mengapa Kasus Positif Covid-19 Bertambah Terus?

  4. Jubir Penanggulangan Covid-19 Riau: Kabar Bahagia untuk Kita Semua, Pasien Positif Sudah Dinyatakan Sembuh

  5. Filippo Inzaghi Ungkap Siapa Pemain yang Bisa Hapus Kutukan Nomor 9 di Milan

  6. 5 Pose Seksi Model Fitnes Rusia yang Bikin Hati Berdesir, Tak Sangka Sudah Punya 3 Anak

  7. Peneliti Temukan Virus Corona Paling Menularkan di Minggu Pertama Setelah Terinfeksi

  8. Anggota DPR Ingatkan Wali Kota Tegal: Jangan Menentang Pemerintah Pusat

  9. Jadi Garda Depan Tangani Pandemi Corona, 10 Potret Cindri Wahyuni Istri Mendiang Bani Seventeen

  10. Sebelum jadi Pandemi, Virus Corona Diduga Sudah Bertahun-tahun Menjangkiti Manusia

ibunda jokowi

fokus

Pulih dengan Terapi Musik
Wabah Corona
Hutan Kecil Terarium

kolom

Image
Bisman Bhaktiar

Aspek Hukum Perpanjangan Pengusahaan Pertambangan Batubara PKP2B

Image
Abdul Aziz SR

Omnibus Law dan Kuasa Kaum Kapitalis

Image
Achmad Fachrudin

Covid-19, Media dan Kekuasaan

Image
Reza Fahlevi

Mari Sudahi Polemik Tuntutan Lockdown

Wawancara

Image
Video

Terapi Musik

VIDEO Pulih dengan Terapi Musik

Image
Asian Games

Pria Paruh Baya Diduga Epilepsi Ditemukan Tewas Tenggelam di Kolam Majalaya

Image
Gaya Hidup

Literasi

Kala Buku, Akses dan Minat Baca Orang Indonesia Belum Sinkron

Sosok

Image
News

Wabah Corona

Cosplay Jadi Sultan Maroko hingga Raja Minyak Urut, 5 Potret Fahri Hamzah saat WFH

Image
News

Wabah Corona

Kisah Debryna Dewi Lumanauw, Dokter yang Ikut Tangani Pasien COVID-19 di Wisma Atlet

Image
Ekonomi

Masuk Forbes hingga Hobi Berkebun, Ini 5 Fakta Menarik Amanda Susanti, Pendiri Sayurbox