image
Login / Sign Up
Image

Yustinus Prastowo

Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA)

Sri, Jangan Pergi Lagi! (Tentang Utang dan Cuti Kewarasan)

Kolom

Image

Yustinus Prastowo, merupakan Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA). | ISTIMEWA/Dok. Pribadi

AKURAT.CO, Hari-hari ini, ruang publik dijejali perbantahan yang membetot perhatian sekaligus menguras energi. Tema utamanya adalah ekonomi, wabil khusus kondisi utang Pemerintah. Kabar baik dari situasi saat ini adalah politik melahirkan banyak ekonom. Kabar buruknya, banyak universitas terancam gulung tikar karena untuk menjadi analis tak perlu sekolah, cukup kepiawaian menjahit angka dan menyusun dalih. Kali ini giliran Sri Mulyani yang ketiban sampur. Menteri Keuangan brilian dengan bereputasi internasional ini tiap detik ditarik-tarik untuk merasakan betapa menjadi gladiator di panggung medsos itu penting, bahkan dijadikan ukuran kecakapan seseorang. Bukan malah bekerja, tapi membuang waktu bersama para pecundang.

Hulu perdebatan adalah janji kampanye Presiden Joko Widodo yang tidak akan menambah utang luar negeri jika berkuasa. Faktanya ia justru menambah utang luar negeri meskipun diklaim penggunaannya untuk tujuan-tujuan investasi yang lebih produktif. Jokowi dianggap cidra janji. Tanpa ampun, para penyinyir menghujani dengan olok-olok tanpa mau tahu bahwa kondisi perekonomian nasional dan keuangan negara memang sedang sulit. Idealnya pajak digenjot sebagai sumber utama pembiayaan pembangunan. Tapi sudikah kita jadi sasaran? Tidak! Justru banyak orang berduit merengek minta pengampunan. Sedikit disenggol, teriaknya bikin Republik terguncang. Dan jangan-jangan, barisan para penyinyir itupun ada pembonceng gelap dan pengelak pajak garda depan. Entahlah!

Kita lebih gemar mengulik angka-angka statistik untuk membenarkan posisi masing-masing ketimbang duduk bersama, berdiskusi hangat sambil menyeruput kopi, mencari solusi buat negeri. Persoalan konstitusi jatuh ke sekadar masalah akuntansi. Diimbuhi, kita kerap menempatkan diri sebagai manusia  agung yang tak pernah bersinggungan dengan kekumuhan dan cacat dunia. Utang itu buruk! Dan pada saat bersamaan kita sesungguhnya bisa memiliki rumah atau mobil lantaran fasilitas pinjaman, meski tak sedikit pengalaman orang terlilit utang, bangkrut, dan gila. Jadi persoalannya bukan apakah saya paham atau tidak logika berutang, tetapi karena perbedaan pilihan politik maka utangmu menjadi masalah, entah esok hari jika peta koalisi ternyata berganti lagi.

baca juga:

Kembali ke Sri Mulyani, ia ketiban sampur. Dalam tradisi Jawa, ketiban sampur itu terpilih secara acak di luar kehendak kita. Bisa ditafsirkan sebagai apes, tapi kadang juga bermakna kambing hitam. Utang Pemerintah itu bukan aksi sepihak, melainkan keputusan bersama antara Pemerintah dan DPR yang terdiri dari partai penguasa dan oposisi, dan tertuang dalam UU APBN. Menteri Keuangan, siapapun itu, menjalankan UU. Jika ingin argumen sedikit bermutu, kenapa harus utang? Karena kita ingin membangun dan tak punya uang. Kita hendak mengejar ketertinggalan, ingin melayani rakyat dengan baik, memberi subsidi dan penghidupan yang layak. Kita butuh uang dan pajaklah yang menjadi andalan. Benar belaka jika Jokowi pernah bilang “gampang karena uangnya ada”. Silakan lihat data amnesti pajak yang menakjubkan itu, hampir Rp 5000 trilyun harta dideklarasikan!

Namun dalam situasi perekonomian nasional dan global yang masih muram, maukah kita dikejar-kejar untuk membayar pajak lebih tinggi? Atau akan diamkah para pengemplang pajak jika dijadikan sasaran penarikan pajak? Tidak. Kita hidup bukan di ruang kosong, tetapi di ruang yang penuh tarik-menarik kepentingan. Maka kita saling berbicara, memahami, dan berdamai. Tak mudah namun kadang perlu dicoba. Pilihan kedua kita membelanjakan apa yang kita punyai, tanpa perlu berutang. Konsekuensinya kita akan semakin jauh tertinggal dan imajinasi tentang Indonesia yang adil, makmur, sejahtera itu hanya akan menjadi fiksi belaka.

Lantas perlukah berdebat soal utang? Iya dan tidak. Presiden Jokowi benar ketika mempersilakan siapapun yang ingin berdebat dengan basis data, lawannya Menkeu Sri Mulyani. Kata kuncinya ada pada data, bukan berdebat. Tak heran ada barisan para mantan yang tak mau menyia-nyiakan peluang. Ini panggung besar yang bakal mengerek popularitas, bukan soal kalah menang. Namun bagi Sri Mulyani inilah saatnya menoleh ke petuah para bijak “kalah wirang, menang ora kondang!” (jika kalah akan malu, dan meski menang pun nggak akan terkenal). Dengan segudang data, pengetahuan, dan pengalaman, kita yakin Sri Mulyani akan menang, tapi itu tak menambahkan apapun padanya selain kehilangan waktu untuk bekerja.

Saya lantas teringat Rene Girard dengan teori kambing hitamnya. Dari perspektif korban, kambing hitam itu bukan pelaku yang salah tapi ia memang harus ada untuk dijadikan sasaran, demi kekerasan kolektif yang teredam karena mendapatkan saluran. Lugasnya, Sri Mulyani disalahkan bukan lantaran dia salah, tapi harus ada yang bersalah. Tapi kita bukan bangsa primitif yang hidup dengan peradaban lama. Selain kaya kearifan lokal, kita juga bangsa dengan relijiusitas tinggi dan memeluk demokrasi. Maka tak boleh ada korban jatuh, apalagi Sri Mulyani harus menjadi martir untuk kedua kalinya.

Kita harus menulis sendiri sejarah pemikiran kita, tanpa perlu meminjam angin untuk beretorika dan mengumbar dalih. Negara ini juga bukan hanya setahun atau dua tahun berutang. Bahkan rezim Orde Baru mewariskan bukan hanya jumlah utang yang bertumpuk, juga mentalitas utang yang koruptif karena tak membangun kemandirian melalui pajak. Meski kita sepakat utang itu alternatif pembiayaan, bukan ideologi yang butuh keniscayaan. Di sinilah ruang diskursus yang sehat terbuka lebar: ikut memikirkan dan mencari altrernatif pembiayaan yang bagus dan berkelanjutan. Mengelola utang secara baik pun merupakan prestasi tersendiri. Utang bukan buat konsumsi, melainkan investasi.

Di titik inilah kita harus mengobarkan optimisme. Amat kasihan bangsa ini jika tiap hari dijejali narasi yang murung dan pesimistik, jauh mundur dari idealisme dan imajinasi para pendiri bangsa. Indonesia yang bak potongan sorga jatuh ke bumi ini layak disyukuri, dirawat, dan ditumbuhkembangkan. Kita harus bicara produktivitas, daya saing, semangat berkompetisi, spirit berinovasi, dan keberanian. Nah, ciri corak itu justru melekat pada sosok Sri Mulyani. Ia adalah batu yang dulu dibuang tukang bangunan dan kini menjadi batu penjuru. Kesabaran dan kewarasan memberinya ruang artikulasi mahaluas dengan torehan prestasi berskala global, namun kepicikan membuat kita terpuruk.

Saya makin yakin bangsa ini belum maju bukan karena kekurangan orang hebat, tetapi akal sehat terlalu cepat mengambil cuti, mendahului pengumuman resmi Pemerintah.  Bangsa ini harus membentuk dan menjemput sendiri takdirnya, berani mengelak dari ketiban sampur mala yang merugikan. Koalisi orang-orang baik perlu semakin diperkuat dan defisit kewarasan harus segera diatasi. Tak perlu muluk-muluk seperti berdebat soal ilmu ekonomi atau ideologi. Cukup dengan ‘ngilo githoke dhewe’ (bercermin pada tengkuk sendiri supaya sadar punya kekurangan sehingga bisa merasa).

Dulu kita merindukan Sri, hingga Sonny Josz menggubah lagu “Sri Minggat”, dan lirik ini amat mengguncang “Ndang balio Sri…aku lara mikir kowe ana neng ngendi…” (Sri, segeralah pulang, aku sakit memikirkanmu ada di mana). Kini, ketika Sri sudah kembali, kita mau menyia-nyiakannya lagi. Jangan sampai kita menjadi bangsa yang tak tahu diuntung. Perlulah kita mengingat satu nasehat agung dalam Serat Kalatidha gubahan Ranggawarsita,”sak bejo bejane wong kang lali, isih beja wong kang eling lan waspada.” Seberuntung-beruntungnya orang yang lupa (daratan), masih beruntung orang yang ingat dan waspada. Ingat pada prinsip atau tuntutan, dan waspada dengan berlaku cerdik seperti ular dan tulus bak merpati.

Jika ini zaman edan, jangan takut tidak kebagian. Ingat, resep untuk menjaga kewarasan adalah memproduksi hormon endorfin, yang hanya kita peroleh dengan bercinta atau tertawa. Jika tak bisa mendapatkan keduanya, baiklah kita belajar menertawai diri sendiri yang kerap tak sadar menjadi bahan tertawaan. Jika tetap ingin bercinta, kawinlah! Jika tak punya uang, berutanglah! Bolehlah kita bersama Sri ambil bagian menuntaskan persoalan bangsa dan melukis masa depan gemilang penuh harap. Kali ini, jangan sampai Ibu Pertiwi meratap lirih:”Sri, kowe isih eling, janji sehidup semati, aja lunga, mengko aku lara….”[]

Penulis adalah Direktur Eksekutif Center for Indonesia Tax Analysis (CITA)

Editor: Sunardi Panjaitan

berita terkait

Image

News

Menuju Pilpres 2019

Ini Jawaban Sandi Soal Pembangunan Infrastruktur Tanpa Utang

Image

Ekonomi

BPJN XV Optimis Tol Manado-Bitung Segmen Pemerintah Rampung 2019

Image

Ekonomi

Menkeu Lantik Mantan Direktur Bank Dunia Jadi Staf Ahli

Image

Ekonomi

Sri Mulyani: Pemerintah Sukses Jaga Momentum Pertumbuhan Saat Ekonomi Sulit

Image

Ekonomi

Ekonomi Global Melemah, Pemerintah Perlu Ciptakan Investasi Menarik

Image

Ekonomi

Berita Populer Fadli Zon Bagikan Foto Jalan Rusak Parah hingga Produk Bir Indonesia Merangsek ke Rusia

Image

Ekonomi

Menkeu: Swasta Bangun Infrastruktur Punya Banyak Pilihan

Image

News

Catatan Akhir 2018, Sejarah Baru Kolom Kosong Menang Pilkada Makassar

Image

Ekonomi

Beda Tanggapan Sri Mulyani dan Darmin Soal Bangun Infrastruktur Tanpa Utang

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
Ekonomi

Fraksi Nasdem Kritik Tegas Revisi UU BUMN

Fraksi Nasdem dengan tegas mengkritik revisi UU BUMN yang diinisiasi oleh DPR.

Image
Ekonomi

Jokowi: Pasar Rakyat Perlu Sentuhan Khusus

Pasar rakyat merupakan tempat berkumpulnya produk dan komoditas dari berbagai profesi seperti nelayan, pengrajin, maupun petani.

Image
Ekonomi

Tanggapi Revisi PP 23 Tahun 2010, Pengusaha Hanya Butuh Kepastian Hukum

Pengusaha yang berinvestasi di sektor minerba khususnya batubara memerlukan kepastian hukum dalam rangka menjalankan investasinya ke depan.

Image
Ekonomi

Selamatkan Perdagangan dengan China, Trump Akan Intervensi Kasus Huawei

Presiden AS Donald Trump mengatakan dia akan campur tangan dengan Departemen Kehakiman AS dalam kasus penangkapan eksekutif Huawei China unt

Image
Ekonomi

Ekonom Mandiri Sebut Kondisi Ekonomi Global Cenderung Lebih Baik di 2019

Selama ini kondisi ekonomi global yang bergejolak tersebut sebenarnya dipicu oleh kondisi di Amerika Serikat yang normalisasi suku bunga.

Image
Ekonomi

Sandiaga: Jika Saya Ingin Hidup Tenang, Saya Mau Kembali Jadi Pengusaha

Calon wakil presiden nomor urut 2, Sandiaga Salahuddin Uno atau akrab disapa Sandi ini, pada postingan Twitternya

Image
Ekonomi

Demi Ketahanan Energi, IRESS Minta Pemerintah Batalkan PP 23/2010

Kesejahteraan rakyat harus menjadi poin utama pemerintah ketika mengeluarkan sebuah program kebijakan.

Image
Ekonomi

Tahun Depan, Zone Bidik Pertumbuhan Laba 23 Persen

ZONE targetkan pertumbuhan laba sekitar 23 persen menjadi Rp43 miliar di 2019 dibandingkan Rp35 miliar prediksi tahun ini.

Image
Ekonomi

Jemput Persaingan Global, Vokom UI Fokus Cetak SDM Unggul Bidang Industri

Institusi VOKOM UI, yang dipimpinnya sangat consern dalam membetuk SDM berkualitas di sektor Industri.

Image
Ekonomi

Gencatan Perang Dagang AS-Tiongkok, IHSG Berakhir Melonjak

Para pelaku pasar global merespon positif keinginan Tiongkok untuk memangkas bea impor produk-produk asal AS dari 40% menjadi 15%.

Available

trending topics

Available

terpopuler

  1. Komite Pedagang Pasar Minta Sandi Tak Lagi Kampanye di Pasar

  2. Mulai 15 Januari 2019, Garuda Bisa Terbang dari Bandara Halim Perdanakusuma

  3. Perusahaan Perekrutan Saudi Sebut Kualitas Perawat Indonesia Bisa Kalahkan Filipina

  4. Neville: di Zaman Now, Kok Lukaku Bisa “Kelebihan Otot”?

  5. Menurut Feng Shui Letak Rumah Ini Bawa Peruntungan, Arah Barat yang Terbaik

  6. Butuh Ide Anti Maistream untuk Acara Ulang Tahun? Coba Cara Ini

  7. 31 Juta Pemilih Belum Masuk DPT, Tim Prabowo-Sandi: Berpotensi Kecurangan

  8. Harga Ekspor Merosot Pengaruhi Produksi Kelapa Sawit Nasional

  9. Begini Sikap TNI AL Soal Pembakaran Polsek Ciracas

  10. Tampil Pertama Kali, Gloria Coba Tampil Enjoy

Available

fokus

Semangat Pahlawan di Dadaku
Info MPR RI
Tragedi Lion Air
Available

kolom

Image
Achmad Fachrudin

Problematik Pemilih Perumahan Mewah

Image
Awalil Rizky

Mencermati Penerimaan Negara yang Melampaui Target APBN

Image
Hendra Mujiraharja

Pantaskah Persija Ungguli PSM?

Image
Pangi Syarwi Chaniago

Narasi Capres yang Dangkal dan Tak Berkelas

Available

Wawancara

Image
Hiburan

Ketinggian Falsafah Sastra Melayu Tidak Tertandingi oleh Sastra Moderen

Image
Olahraga

Eko Yuli Irawan (3)

"Saya Masih Memikirkan Siapa yang Bakal Gantikan Saya"

Image
Olahraga

Eko Yuli Irawan (2)

"Atlet Junior Harus Bisa Mengalahkan Senior"

Sosok

Image
Iptek

Hebat! Pendiri GoJek Masuk Daftar 'Bloomberg 50'

Image
Ekonomi

Founder GOJEK Terpilih Jadi Tokoh Penentu Bisnis Global

Image
Ekonomi

Twitter Indonesia Umumkan Jokowi Sosok Paling Populer