breaking news: Banjir Bandang Melanda Vietnam, 20 Orang Tewas Puluhan Lainnya Hilang

image
Login / Sign Up
Image

Yustinus Prastowo

Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA)

Sri, Jangan Pergi Lagi! (Tentang Utang dan Cuti Kewarasan)

Kolom

Image

Yustinus Prastowo, merupakan Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA). | ISTIMEWA/Dok. Pribadi

AKURAT.CO, Hari-hari ini, ruang publik dijejali perbantahan yang membetot perhatian sekaligus menguras energi. Tema utamanya adalah ekonomi, wabil khusus kondisi utang Pemerintah. Kabar baik dari situasi saat ini adalah politik melahirkan banyak ekonom. Kabar buruknya, banyak universitas terancam gulung tikar karena untuk menjadi analis tak perlu sekolah, cukup kepiawaian menjahit angka dan menyusun dalih. Kali ini giliran Sri Mulyani yang ketiban sampur. Menteri Keuangan brilian dengan bereputasi internasional ini tiap detik ditarik-tarik untuk merasakan betapa menjadi gladiator di panggung medsos itu penting, bahkan dijadikan ukuran kecakapan seseorang. Bukan malah bekerja, tapi membuang waktu bersama para pecundang.

Hulu perdebatan adalah janji kampanye Presiden Joko Widodo yang tidak akan menambah utang luar negeri jika berkuasa. Faktanya ia justru menambah utang luar negeri meskipun diklaim penggunaannya untuk tujuan-tujuan investasi yang lebih produktif. Jokowi dianggap cidra janji. Tanpa ampun, para penyinyir menghujani dengan olok-olok tanpa mau tahu bahwa kondisi perekonomian nasional dan keuangan negara memang sedang sulit. Idealnya pajak digenjot sebagai sumber utama pembiayaan pembangunan. Tapi sudikah kita jadi sasaran? Tidak! Justru banyak orang berduit merengek minta pengampunan. Sedikit disenggol, teriaknya bikin Republik terguncang. Dan jangan-jangan, barisan para penyinyir itupun ada pembonceng gelap dan pengelak pajak garda depan. Entahlah!

Kita lebih gemar mengulik angka-angka statistik untuk membenarkan posisi masing-masing ketimbang duduk bersama, berdiskusi hangat sambil menyeruput kopi, mencari solusi buat negeri. Persoalan konstitusi jatuh ke sekadar masalah akuntansi. Diimbuhi, kita kerap menempatkan diri sebagai manusia  agung yang tak pernah bersinggungan dengan kekumuhan dan cacat dunia. Utang itu buruk! Dan pada saat bersamaan kita sesungguhnya bisa memiliki rumah atau mobil lantaran fasilitas pinjaman, meski tak sedikit pengalaman orang terlilit utang, bangkrut, dan gila. Jadi persoalannya bukan apakah saya paham atau tidak logika berutang, tetapi karena perbedaan pilihan politik maka utangmu menjadi masalah, entah esok hari jika peta koalisi ternyata berganti lagi.

baca juga:

Kembali ke Sri Mulyani, ia ketiban sampur. Dalam tradisi Jawa, ketiban sampur itu terpilih secara acak di luar kehendak kita. Bisa ditafsirkan sebagai apes, tapi kadang juga bermakna kambing hitam. Utang Pemerintah itu bukan aksi sepihak, melainkan keputusan bersama antara Pemerintah dan DPR yang terdiri dari partai penguasa dan oposisi, dan tertuang dalam UU APBN. Menteri Keuangan, siapapun itu, menjalankan UU. Jika ingin argumen sedikit bermutu, kenapa harus utang? Karena kita ingin membangun dan tak punya uang. Kita hendak mengejar ketertinggalan, ingin melayani rakyat dengan baik, memberi subsidi dan penghidupan yang layak. Kita butuh uang dan pajaklah yang menjadi andalan. Benar belaka jika Jokowi pernah bilang “gampang karena uangnya ada”. Silakan lihat data amnesti pajak yang menakjubkan itu, hampir Rp 5000 trilyun harta dideklarasikan!

Namun dalam situasi perekonomian nasional dan global yang masih muram, maukah kita dikejar-kejar untuk membayar pajak lebih tinggi? Atau akan diamkah para pengemplang pajak jika dijadikan sasaran penarikan pajak? Tidak. Kita hidup bukan di ruang kosong, tetapi di ruang yang penuh tarik-menarik kepentingan. Maka kita saling berbicara, memahami, dan berdamai. Tak mudah namun kadang perlu dicoba. Pilihan kedua kita membelanjakan apa yang kita punyai, tanpa perlu berutang. Konsekuensinya kita akan semakin jauh tertinggal dan imajinasi tentang Indonesia yang adil, makmur, sejahtera itu hanya akan menjadi fiksi belaka.

Lantas perlukah berdebat soal utang? Iya dan tidak. Presiden Jokowi benar ketika mempersilakan siapapun yang ingin berdebat dengan basis data, lawannya Menkeu Sri Mulyani. Kata kuncinya ada pada data, bukan berdebat. Tak heran ada barisan para mantan yang tak mau menyia-nyiakan peluang. Ini panggung besar yang bakal mengerek popularitas, bukan soal kalah menang. Namun bagi Sri Mulyani inilah saatnya menoleh ke petuah para bijak “kalah wirang, menang ora kondang!” (jika kalah akan malu, dan meski menang pun nggak akan terkenal). Dengan segudang data, pengetahuan, dan pengalaman, kita yakin Sri Mulyani akan menang, tapi itu tak menambahkan apapun padanya selain kehilangan waktu untuk bekerja.

Saya lantas teringat Rene Girard dengan teori kambing hitamnya. Dari perspektif korban, kambing hitam itu bukan pelaku yang salah tapi ia memang harus ada untuk dijadikan sasaran, demi kekerasan kolektif yang teredam karena mendapatkan saluran. Lugasnya, Sri Mulyani disalahkan bukan lantaran dia salah, tapi harus ada yang bersalah. Tapi kita bukan bangsa primitif yang hidup dengan peradaban lama. Selain kaya kearifan lokal, kita juga bangsa dengan relijiusitas tinggi dan memeluk demokrasi. Maka tak boleh ada korban jatuh, apalagi Sri Mulyani harus menjadi martir untuk kedua kalinya.

Kita harus menulis sendiri sejarah pemikiran kita, tanpa perlu meminjam angin untuk beretorika dan mengumbar dalih. Negara ini juga bukan hanya setahun atau dua tahun berutang. Bahkan rezim Orde Baru mewariskan bukan hanya jumlah utang yang bertumpuk, juga mentalitas utang yang koruptif karena tak membangun kemandirian melalui pajak. Meski kita sepakat utang itu alternatif pembiayaan, bukan ideologi yang butuh keniscayaan. Di sinilah ruang diskursus yang sehat terbuka lebar: ikut memikirkan dan mencari altrernatif pembiayaan yang bagus dan berkelanjutan. Mengelola utang secara baik pun merupakan prestasi tersendiri. Utang bukan buat konsumsi, melainkan investasi.

Di titik inilah kita harus mengobarkan optimisme. Amat kasihan bangsa ini jika tiap hari dijejali narasi yang murung dan pesimistik, jauh mundur dari idealisme dan imajinasi para pendiri bangsa. Indonesia yang bak potongan sorga jatuh ke bumi ini layak disyukuri, dirawat, dan ditumbuhkembangkan. Kita harus bicara produktivitas, daya saing, semangat berkompetisi, spirit berinovasi, dan keberanian. Nah, ciri corak itu justru melekat pada sosok Sri Mulyani. Ia adalah batu yang dulu dibuang tukang bangunan dan kini menjadi batu penjuru. Kesabaran dan kewarasan memberinya ruang artikulasi mahaluas dengan torehan prestasi berskala global, namun kepicikan membuat kita terpuruk.

Saya makin yakin bangsa ini belum maju bukan karena kekurangan orang hebat, tetapi akal sehat terlalu cepat mengambil cuti, mendahului pengumuman resmi Pemerintah.  Bangsa ini harus membentuk dan menjemput sendiri takdirnya, berani mengelak dari ketiban sampur mala yang merugikan. Koalisi orang-orang baik perlu semakin diperkuat dan defisit kewarasan harus segera diatasi. Tak perlu muluk-muluk seperti berdebat soal ilmu ekonomi atau ideologi. Cukup dengan ‘ngilo githoke dhewe’ (bercermin pada tengkuk sendiri supaya sadar punya kekurangan sehingga bisa merasa).

Dulu kita merindukan Sri, hingga Sonny Josz menggubah lagu “Sri Minggat”, dan lirik ini amat mengguncang “Ndang balio Sri…aku lara mikir kowe ana neng ngendi…” (Sri, segeralah pulang, aku sakit memikirkanmu ada di mana). Kini, ketika Sri sudah kembali, kita mau menyia-nyiakannya lagi. Jangan sampai kita menjadi bangsa yang tak tahu diuntung. Perlulah kita mengingat satu nasehat agung dalam Serat Kalatidha gubahan Ranggawarsita,”sak bejo bejane wong kang lali, isih beja wong kang eling lan waspada.” Seberuntung-beruntungnya orang yang lupa (daratan), masih beruntung orang yang ingat dan waspada. Ingat pada prinsip atau tuntutan, dan waspada dengan berlaku cerdik seperti ular dan tulus bak merpati.

Jika ini zaman edan, jangan takut tidak kebagian. Ingat, resep untuk menjaga kewarasan adalah memproduksi hormon endorfin, yang hanya kita peroleh dengan bercinta atau tertawa. Jika tak bisa mendapatkan keduanya, baiklah kita belajar menertawai diri sendiri yang kerap tak sadar menjadi bahan tertawaan. Jika tetap ingin bercinta, kawinlah! Jika tak punya uang, berutanglah! Bolehlah kita bersama Sri ambil bagian menuntaskan persoalan bangsa dan melukis masa depan gemilang penuh harap. Kali ini, jangan sampai Ibu Pertiwi meratap lirih:”Sri, kowe isih eling, janji sehidup semati, aja lunga, mengko aku lara….”[]

Penulis adalah Direktur Eksekutif Center for Indonesia Tax Analysis (CITA)

Editor: Sunardi Panjaitan

berita terkait

Image

Ekonomi

Pemerintah Targetkan Defisit Anggaran Hanya Rp203,7 Triliun

Image

Ekonomi

Pemerintah Targetkan Penerimaan Perpajakan Rp895 Triliun di Semester II

Image

News

Era Jokowi Wanita Kian Berprestasi, Cawapres Perempuan Perlu Dipertimbangkan

Image

News

Pidato Terakhir Presiden Kolombia Sebelum Turun dari Jabatannya

Image

Ekonomi

DPR Dukung Optimalisasi Kinerja Pajak Untuk Bangun Negeri

Image

Ekonomi

Menhub Budi Sebut Pemerintah Ajak Swasta Kembangkan Kereta Api

Image

Ekonomi

Jonan Sebut Harga Eceran Solar Lebih Rendah dari Harga Pasar

Image

Olahraga

Lalu Muhammad Zohri

"Kaki Telanjang" Zohri Menusuk Kesenjangan Kaya-miskin di Indonesia

Image

News

INFOGRAFIS Misteri Cawapres Dalam Kantong Jokowi

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
Ekonomi

Mayoritas Saham Negeri Jiran Berakhir Menghijau

Indeks KLCI tercatat menguat 3,29 poin atau 0,19 persen menjadi 1.757,96 poin pada penutupan perdagangan Senin (23/7)

Image
Ekonomi

Indeks Hang Seng Ditutup Menguat 0,11 persen

Indeks Hang Seng (HSI) tercatat menguat 31,64 poin atau 0,11 persen menjadi 28.256,12 poin pada penutupan perdagangan Senin (23/7)

Image
Ekonomi

Indeks STI SIngapura Berakhir Melemah

Mayoritas saham di Singapura, berakhir melemah 0,12 persen atau 4,12 poin menjadi 3.293,71 poin pada penutupan perdagangan Senin (23/7)

Image
Ekonomi

Penerapan Mata Uang Digital Masih Perlu Kajian

Penerapan CBDC yang menggunakan teknologi Distributed Ledger di Indonesia perlu untuk terus dikaji penerapannya

Image
Ekonomi

Mayoritas Saham Tiongkok Berakhir Sumringah

Indeks Komposit Shanghai tercatat naik 1,07 persen menjadi 2.859,54 poin.

Image
Ekonomi

Indeks KOSPI Ditutup Melemah 0,87 persen

KOSPI tercatat merosot sebesar 19,88 poin atau 0,87 persen, menjadi 2.269,31 poin pada penutupan perdagangan, Senin (23/7) di Seoul

Image
Ekonomi

Soal Pendanaan Divestasi Freeport, Inalum: Seluruhnya Bank Asing

Kalau pendanaan dari bank lokal, ada kemungkinan mempengaruhi fluktuasi rupiah.

Image
Ekonomi
Saham, Australia, Indeks S&P/ASX 200, Commsec, Steven Daghlian

Mayoritas Saham Australia Ditutup Melemah 58,30 poin

Indeks S&P/ASX 200 merosot 58,30 poin atau 0,93 persen menjadi 6.227,60 poin pada penutupan perdagangan Senin (23/7) di Sydney

Image
Ekonomi

BRI Sediakan ID Card Terintegrasi BRIZZI Untuk Volunteer Asian Games

Bank BRI berikan ID Card terintegrasi Brizzi bagi 3000 volunteer Asian Games sebagai komitmen menyukseskan pagelaran empat tahun sekali itu

Image
Ekonomi

Bukit Asam Bakal Pelajari Dua Hal Ini Dari Freeport

Bos Bukit Asam Arviyan Arifin menjelaskan setidaknya ada dua hal yang bisa dipelajari oleh pihaknya dari Freeport.

Image
Ekonomi

Bamsoet Soroti Layanan Garuda Indonesia yang Sering Delay

Garuda Indonesia harus bisa mencari solusi atas persoalan internal yang berimbas kepada kualitas layanan bagi pelanggan.

Image
Ekonomi

Freeport Kembali ke Pangkuan Ibu Pertiwi

Penguasaan 51% saham Freeport akan memberikan sejumlah manfaat ekonomi

Available

trending topics

Available

terpopuler

  1. Harga Meroket Gila-gilaan, Pedagang Ayam di Temanggung Mogok Jualan

  2. Jasa Marga Klaim Tol Medan Kualanmu-Tebing Tinggi Dorong Perekonomian Lokal

  3. Bos Bukit Asam Pamer, Pihaknya Sendiri Mampu Beli Saham Freeport

  4. Perubahan Sistem Elektronik, 79 Stasiun KRL Berlakukan Tiket Kertas

  5. Harga Makin Tinggi, Pedagang Ayam di Magelang Memilih Tak Berjualan

  6. Uang Elektronik dan KMT Belum Bisa Digunakan, Siap-siap Antrean 'Mengular'

  7. Antrean Mengular 500 Meter Sejak Subuh, Penumpang KRL Pilih Pulang

  8. IFRA 2018 Tumbuhkan Semangat Entrepreneurship Mulai Usia Muda

  9. Kurs Tiongkok Tercatat Menguat 6,7593 atas USD

  10. Harga Bawang di Piru Mulai Turun

Available

fokus

Idul Fitri 2018
Mudik Lebaran 2018
Piala Dunia Rusia 2018
Available

kolom

Image
Dradjad Hari Wibowo

Tidak Ada Perang Dagang dengan AS

Image
Denny Iswanto

Harga Mahal dari Sebuah Libur Panjang

Image
Denny Iswanto

'Superioritas' Asia di Perhelatan Piala Dunia

Image
Dita Nurul Aini

Optimisme Ditengah Badai yang Melanda Rupiah

Available

Wawancara

Image
Ekonomi

Investasi itu Perlu Waktu Hingga Menghasilkan, Jangan Buntung Karena 'si Bodong'

Image
Ekonomi

Catatan Awal Tahun BUMN

Image
Ekonomi

UMKM Naik Kelas, Bisnis Penjaminan Makin Maju

Sosok

Image
Ekonomi

Membedah Kisah Hidup Anak Petani yang Ingin Bangun Perekonomian Indonesia

Image
Ekonomi

Sah Jadi Dirut BEI, Ini Ambisi Inarno Djajadi

Image
Ekonomi

Perry Tunjukkan Komitmen BI yang Pro Stability dan Pro Growth