image
Login / Sign Up
Image

Analisa Strategi Ekonomi AS dalam Perspektif Geopolitik

Syani Zuraida

Image

Ilustrasi Perang Dagang China-AS | YICAIGLOBAL.COM

AKURAT.CO, Pada Desember 2017, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengesahkan aturan reformasi pajaknya. Dalam perspektif geopolitik, langkah Trump tersebut memiliki tiga efek utama, meliputi: reformasi pajak akan membawa dolar yang tadinya berada di luar negeri kembali ke dalam negeri AS; menyediakan stimulus bagi perekonomian domestik; dan meningkatkan utang negara.

Kombinasi ketiga efek ini, menurut Senior Analis Ekonomi Global Stratfor Mark Fleming-Williams, memiliki peran kunci dalam membentuk prediksi perekenomian AS.

Sebelum adanya reformasi pajak, perusahaan AS memiliki keleluasaan untuk menaruh sisa uang tunainya di luar negeri.

baca juga:

Suku bunga usaha yang tinggi, ditambah dengan absennya tenggat waktu kapan perusahaan harus membawa pulang uang tersebut untuk kepentingan pajak menyebabkan semakin banyak perusahaan yang menaruh dana di luar negeri.

Hasilnya, banyak perusahaan yang manaruh uangnya di luar negeri, khususnya perusahaan teknologi yang nilainya bergantung pada aset tak-berwujud seperti kekayaan intelektual (contohnya perangkat lunak iPhone).

Salah satu penelitian menemukan 63 persen pendapatan luar negeri AS berada di enam negara, Belanda, Bermuda, Luxemburg, Irlandia, Singapura, dan Swiss. Sebagai contoh Apple, yang memiliki keuntungan yang parkir di luar negeri hingga USD216 miliar, Microsoft hingga USD109 miliar.

Melalui reformasi pajak, perusahaan AS harus membayar pajak terhadap keuntungan domestik maupun luar negeri yang mereka peroleh. Ada aturan spesifik juga yang didesain untuk mengeliminasi penempatan laba di negara lain.

Dengan kebijakan ini, perusahaan AS tidak lagi dapat memarkir pendapatan mereka di luar negeri. Walaupun begitu, untuk mempermanis kebijakan, perusahaan hanya perlu membayar pajak yang dikurangi laba repatriasi antara 8 hinggga 15,5 persen.

Dengan pemanis tersebut, Pemerintah AS berharap tidak ada pihak yang dirugikan, kecuali negara yang sebelumnya menampung dana perusahaan AS tersebut. Pada akhirnya, AS akan memiliki sistem pajak yang dilandasi oleh pendapataan perusahaan AS di luar negeri.

Efek selanjutnya dari reformasi pajak AS adalah bahwa kebijakan tersebut akan memberi dampak positif bagi ekonomi domestik AS. Pemerintah telah memangkas tarif pajak perusahaan dari 35 menjadi 21 persen, yang kemudian memberikan manfaat ganda bagi AS.

Pertama, AS kan lebih kompetitif dalam persaingan global. Dengan pemangkasan tarif pajak perusahaan ditambah dengan besarnya pasar domestiknya, AS secara tidak langsung menarik lebih banyak perusahaan asing untuk beroperasi di negaranya. Kedua, Perusahaan AS sendiri akan merasakan peningkatan laba ketika tagihan pajak menurun.

Kebijakan ini sebenarnya dapat dimanfaatkan oleh perusahaan AS dengan berbagai cara. Kecenderungan perusahaan AS dalam beberapa tahun ini, yakni dengan menggunakan dana ekstra yang didapat dari pemangkasan pajak untuk membeli kembali saham mereka atau menaikan saham mereka.

Namun, perusahaan juga dapat menggunakan dana ekstra ini untuk cara-cara yang lebih produktif lainnya, seperti menginvestasikan dana ekstra tersebut untuk memodernisasi aktivitas produksi mereka atau melakukan penelitian dan pengembangan, yang akan bermanfaat bagi pertumbuhan perusahaan. Pola pemanfaatan kebijakan reformasi pajak AS ini sudah terjadi. Pada Januari Apple berjanji menginvestasikan tambahan dana USD30 miliar untuk perusahaannya yang beroperasi di AS.

Meskipun banyak keuntungan yang diperoleh dari reformasi pajak AS, dampak negatif juga ikut muncul, dalam hal ini meningkatnya utang AS.

Secara definisi, reformasi pajak atau stimulus fiskal artinya pengurangan pendapatan pemerintah dalam jangka pendek, atau singkatnya peningkatan belanja negara yang pada akhirnya menghasilkan pinjaman untuk membiayainya. Terlebih lagi, keputusan pemerintah untuk meningkatkan belanja militer juga meningkatkan utang. Sehingga, target pemerintah untuk menyeimbangkan anggaran mustahil untuk diwujudkan.

Goldman Sachs memprediksi defisit anggaran sebesar 5,2 persen dari produk domestik bruto (PDB) AS tahun 2019. Hal ini juga akan berdampak pada keseimbangan utang AS: Lembaga Budget Kongres memperkirakan rasio utang terhadap PDB sekitar 77 persen; sementara itu Goldman Sachs memperkirakan angka tersebut akan naik hingga 85 persen pada 2021. Rasio ini dapat dibilang tinggi jika dibandingkan dengan sejarah perekonomian AS, namun standar jika dibandingkan ekonomi negara lain.

Bahaya peningkatan utang adalah apabila pemberi pinjaman meragukan kemampuan peminjam untuk membayarnya. Keraguan ini membuat obligasi kurang menarik, yang akan mendorong investor untuk meminta suku bunga yang lebih tinggi untuk menutupi resiko.

Hal ini dapat memicu lingkaran setan, karena negara yang sudah dililit utang menghadapi utangnya meningkat tepat ketika negara tersebut tidak mampu membayarnya. Banyak negara yang telah menyerah dalam situasi tersebut. Pada akhirnya negara membutuhkan bailout dari sumber eksternal seperti Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF), yang tidak akan mampu menyelamatkan ekonomi sebesar AS.

Beberapa pihak menyatakan efek ini telah terjadi di pasar obligasi AS. Pada beberapa bulan terakhir, suku bunga obligasi AS meningkat untuk pertama kalinya dalam dekade terakhir (dari 2 persen pada September 2017 ke 3 persen pada Februari 2018), seiring dengan prospek utang baru yang diakibatkan oleh kebijakan reformasi pajak dan meningkatnya pengeluaran. Risiko tersebut kemudian mengalahkan efek positif pemangkasan pajak, serta dapat mengganggu perekonomian AS.

Walaupun ada risiko dari utang yang banyak tersebut, AS harus berbangga karena menyandang predikat sebagai negara ekonomi terbesar dunia. Dengan predikat tersebut, AS memiliki senjata ekonomi yang tidak dimiliki negara lain, yakni dolar AS.

Dolar AS adalah mata uang unggulan dalam perekonomian global, dolar merupakan pilihan bank sentral dalam memilih aset aman, 64 persen cadangan mata uang global adalah dalam bentuk dolar. Cara paling umum menginvestasikan dolar, baik bagi bank sentral atau investor swasta, adalah dengan memiliki surat utang AS. Hal ini menghasilkan permintaan global yang unik bagi surat utang AS yang akan berlangsung selama permintaan untuk dolar masih tinggi.

Selanjutnya, kita akan sampai pada pertanyaan, sampai kapan permintaan dolar akan bertahan? Jawabannya adalah, mari kita liat pengalaman dari pendahulu dolar, yakni Pondsterling Inggris. Pound merupakan mata uang cadangan global pada abad ke-19 dan awal abad ke-20 (yang merefleksikan dominasi global Inggris pada masa itu). Pound dapat bertahan dari berbagai tekanan ekonomi, seperti tingkat utang Inggris yang naik 260 persen dari PDB pada 1819, dan tetap diatas 100 persen sampai tahun 1860. Namun, para investor tetap berkomitmen selama hampir satu abad lebih.

Namun, hal yang paling mengejutkan adalah kematian pound tidak diikuti dengan kemunduran Inggris. Beberapa pihak berpendapat, Inggris mengalami kemunduran pada 1890, ketika AS menggantikannya sebagai ekonomi terbesar dunia. Namun yang pasti, kemunduran Inggris terjadi pada 1918, saat Inggris memiliki banyak utang kepada AS yang disusul perang dunia kedua menghantam Inggris sehingga kehilangan negara jajahannya, terutama India.

Setelah Perang Dunia II, Inggris menderita krisis mata uang pada 1947, 1949, 1951, dan 1955. Namun, perlu dicatat transisi pound ke dolar tidak terjadi sampai 1956, ketika Krisis Suez menghancurkan Inggris. Namun, proses transisi tersebut berlangsung bertahap, karena kelambaman yang dimiliki oleh mata uang cadangan global dan ada kecenderungan sistem ekonomi dunia yang mempertahankannya.

Sehingga, dapat disimpulkan bahwa ketergantungan dunia akan dolar masih akan berlangsung.

Namun, ada perbedaan antara struktur historis Kerajaan Inggris dan AS yang menunjukan bahwa ‘kemunduran’ yang sama tidak mungkin terjadi. Kerajaan Inggris adalah negara kecil yang mengendalikan output ekonomi dunia melalui kekuatan militer, pengaruh ekonomi, dan muslihat politik.

Seperti kerajaan-kerajaan lain (Spanyol dan Romawi), kekuatan Inggris terletak pada kemampuannya mengontrol wilayah eksternalnya. Ketika Inggris kehilangan mereka, hilang juga peran penting Inggris di dunia.

Latar belakang AS berbeda. Dominasi AS di dunia sejak 1945 merupakan gabungan dari moment dan atribut yang melekat pada AS. Momen karena dalam Perang Dunia II, negara ekonomi besar lainnya tengah menghancurkan satu sama lain, dan meninggalkan AS untk terus melakukan aktivitas produksi hingga mendominasi 50 persen output global. Momen tersebut mendorong AS untuk menciptakan sistem global yang menguntungkannya.

Namun, atribut yang melekat pada AS yang paling penting tidak seperti Inggris, yang merupakan gugusan pulau, AS hampir mendominasi sebuah benua. AS memiliki kekayaan alam melimpah, termasuk pertanian, metal dan hidrokarbon, serta angin, solar, dan sumber hidropower lainnya; AS juga memiliki konektivitas dalam bentuk sistem sungai internal.

Letak geografis AS yang berada di Samudera Pasifik dan Atlantis menyediakan akses maritim maksimal ke berbagai kekuatan ekonomi dunia sekaligus sebagai zona penjaga (buffer zone) dari ancaman. AS dapat menjaga populasinya yang besar tanpa harus berada dalam batas over-populasi seperti negara lainnya. Selain itu, kekuatan AS berasal dari dalam dirinya, tidak seperti Inggris yang kekuatannya bergantung pada wilayah eksternal.

Jadi, AS sebagai unit dasar memiliki klaim kuat untuk menjadi negara ekonomi terbesar hanya dengan memiliki atribut tersebut. Hal ini menunjukan bahwa AS jauh lebih tangguh daripada Inggris, dan akan sulit untuk mengganggu status quo AS dalam waktu dekat.

Suku bunga yang naik akhir-akhir ini bukan merupakan tanda kemunduran AS, namun hal tersebut menjadi bagian penting untuk memahami masa depan yang akan dihadapi AS.

Beberapa komentator pasar yang berpengaruh mendeklarasikan bahwa siklus suku bunga jangka panjang berada dalam fase pembalikan arah. Siklus tersebut adalah tren dimana obligasi meningkat selama beberapa dekade dan kemudian jatuh untuk jangka waktu yang sama sebelum kembali naik.

Puncak siklus terakhir adalah pada tahun 1981, naik mencapai 15,8 persen; sejak itu, siklus berangsur-angsur turun, mencapai 1.5 persen pada tahun 2016. Selain pemikiran sederhana, bahwa apa yang terjadi kini hanyalah masalah periode yang membalikan arah trend, ada penjelasan yang lebih dalam tentang mengapa modal sangat murah selama tiga tahun dan mengapa hal tersebut tidak berlanjut di masa depan. Jawabannya berkaitan dengan pengaruh saingan ekonomi AS, Cina.

Pertumbuhan ekonomi Cina yang luar biasa sangat berdampak pada ekonomi global, khususnya pada modal dan tenaga kerja. Dampaknya pada pasar tenaga kerja global cukup sederhana. Kebijakan ekonomi terbuka Cina menghasilkan arus tenaga kerja baru yang masuk ke pasar global.

Seperti yang dilaporkan Bank of International Settlement pada 2017, kelas pekerja di Cina dan Eropa Timur pada 1990 berjumlah 829 juta, atau 135 juta lebih banyak daripada kelas pekerja di negara maju. Dengan demikian, jumlah tersebut dua kali lipat tenaga kerja yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan produksi global. Melimpahnya tenaga kerja menyebabkan menurunnya upah tenaga kerja di Barat dan mengurangi kecenderungan perusahaan untuk berinvestasi di teknologi baru.

Dampak terhadap modal yang ditimbulkan oleh Cina lebih halus lagi. Dalam model pertumbuhan Cina, perusahaan fokus mengambil keuntungan dari tenaga kerja Cina untuk memproduksi barang dengan kuantitas yang banyak agar harga produk menjadi murah sebelum produk tersebut dikirim ke negara maju.

Namun, modal yang Cina dapatkan dari barang-barang ekspor tidak digunakan untuk berinvestasi atau konsumsi, melainkan Cina meminjamkannya lagi kepada Negara Barat (melalui pembelian surat utang AS dan memegangnya sebagai tabungan). Hal ini menyebabkan tersedianya modal dengan mudah untuk Negara Barat. Peristiwa ini kemudian menjelaskan mengapa tingkat bunga menurun tiga dekade terakhir.

Untuk sementara waktu, Cina dapat merasakan keuntungan akibat jumlah demografisnya. Namun, keuntungan tersebut pelan-pelan memudar. Kini Cina mengalami kejenuhan tanggungan atas pekerja.

Pembalikan tren ekonomi yang kini terjadi merupakan akibat dari demografi Cina. Pertumbuhan Cina sejak 1980 disebabkan dengan jumlah penduduknya yang melimpah, yang didominasi oleh usia produktif. Namun, orang-orang yang kini produktif seiring berjalannya waktu, akan menua sehingga tidak produktif lagi.

Kini, Cina sedang memasuki sebuah fase kejenuhan tanggungan atas pekerja. Perubahan ini ikut mengubah seluruh bentuk ekonomi Cina, dengan Cina yang terus mengurangi ekspornya dan beralih pada konsumsi yang lebih besar. Kini Cina akan menghabiskan uangnya daripada meminjamkannya kembali ke Negara Barat. Hasilnya, modal akan menjadi langka, yang akan menaikan suku bunga. Akibatnya, peningkatan utang AS bukan menjadi masalah besar, terutama ketika kompetitor AS, Cina, tengah menghadapi masalahnya sendiri.

Pertanyaan terakhir adalah kesempatan pertumbuhan ekonomi di masa depan, dan apakah AS akan menikmatinya. Reformasi pajak akan meningkatkan investasi dan pertumbuhan ekonomi AS, namun jika pertumbuhan tersebut di sektor yang tidak terlalu menguntungkan AS, hal tersebut akan sia-sia. Jawabannya lagi-lagi berasal dari pasar tenaga kerja Cina dan perkembangan teknologi.

Kontribusi Cina dalam pasar tenaga kerja global tengah memudar, dan tentu saja meningkatnya upah buruh juga menurunkan efisiensi dari pasar tenaga kerja. Penuaan usia produktif bukan semata-mata fenomena yang hanya terjadi di Cina, di negara maju tren tersebut juga menguat.

Pada periode mendatang, dunia akan dihadapkan pada kelangkaan tenaga kerja, yang kemudian akan mendorong kenaikan upah. Perusahaan yang bergantung pada tenaga kerja murah, akan memiliki insentif yang jauh lebih besar untuk berinvestasi dalam teknologi untuk meningkatkan produktivitasnya (seperti kini yang sudah terjadi, khususnnya di sektor otomotif). Untuk itu, perusahaan akan beralih ke teknologi (kecerdasan buatan/artificial intelligence/AI) untuk menggantikan tenaga kerja yang upahnya semakin meningkat.

Untuk saat ini, masih sulit mengatakan seberapa besar dampak AI di seluruh sektor industri. Namun, ledakan ketersediaan dan penyimpanan data dalam lima tahun terakhir telah menyediakan ekosistem sempurna untuk perkembangan AI.

Ada sebuah urgensi dari tren ini: sebuah survey terhadap 203 eksekutif menemukan bahwa 75 persen responden mengharapkan untuk ‘secara aktif mengintegrasikan’ AI ke dalam perusahaan mereka dalam tiga tahun ke depan, sementara hanya 3 persen responden yang mengatakan bahwa mereka telah melakukannya.

Perusahaan konsultan McKinsey memprediksi bahwa layanan jasa finansial, ritel, jasa kesehatan, dan manufaktur akan menjadi sektor utama yang menggunakan AI. Perusahaan konsultan lain, Accenture, memperkirakan AI akan menjadi faktor produksi baru, yang sejajar dengan tenaga kerja dan modal. Bahkan, perusahaan tersebut memprediksi bahwa AS yang sukses mengintegrasikan AI akan mencapai pertumbuhan lebih dari 35 persen pada 2035.

Dari seluruh negara yang ada di dunia, AS adalah tempat terbaik untuk memanfaatkan tren yang sedang berkembang ini. Pertama, AS telah mencuri start. Di Silicon Valley, AS menciptakan pusat inovasi teknologi terdepan, termasuk inovasi AI. Pada 2016, AS menyimpan 66 persen investasi eksternalnya (termasuk modal venture, ekuitas swasta, merger dan akuisisi) di sektor AI. AS juga tengah memproduksi penelitian paling berpengaruh dalam sektor ini. Laporan McKinsey tahun 2017 mengidentifikasi 39 startup AI di AS, sedangkan Cina hanya memiliki 3 startup AI.

Hal kunci lain seputar AI dan perekonomian adalah, bagaimana membantu tenaga kerja beradaptasi dengan perubahan ini, baik melatih orang untuk bekerja dengan robot, atau melatih orang untuk menemukan pekerjaan baru setelah pekerjaan mereka digantikan oleh robot.

AS merupakan salah satu pasar tenaga kerja yang paling fleksibel, artinya AS seharusnya telah siap untuk menghadapi gangguan ini. Namun ada beberapa keberatan, bahwa pergeseran ekonomi ke arah deindustrialisasi membuat sebagian besar masyarakat, terutama masyarakat yang bergantung pada industri, tertinggal.

AS perlu berinvestasi dalam pendidikan dan pelatihan masyarakat agar transisi ekonomi tersebut berjalan lancar. Namun, bagaimanapun juga, hal positif mengenai posisi AS terhadap gelombang tren AI dicerminkan dari penelitian baru-baru ini. Accenture menemukan bahwa AS memiliki potensi melipatgandakan PDB akibat penggunaan AI. Hal itu menyebabkan AS menjadi negara maju yang mengambil keuntungan terbanyak dari tren ini. []

Tulisan ini disarikan dari tulisan Mark Fleming-Williams, Senior Analyst, Global Economy, Stratfor dengan judul asli 'How Tax Reform Will Net the U.S. Big Returns' yang dimuat pada laman World View.

Editor:

berita terkait

Image

Iptek

Setelah Notch, Giliran Layar Bolong yang Jadi Tren

Image

News

FOTO 32 Orang Ditangkap saat Demo Mendukung Hak Imigran di AS

Image

News

Disparbud: Anggaran Rp150 Miliar untuk Perbaikan Monas

Image

Ekonomi

Beda Tanggapan Sri Mulyani dan Darmin Soal Bangun Infrastruktur Tanpa Utang

Image

Ekonomi

Pertumbuhan Ekonomi Global yang Melambat Sikat Harga Minyak

Image

Ekonomi

Harga Emas Tertekan oleh Kuatnya Dolar AS

Image

Ekonomi

Yuan Melempem di Hadapan Dolar AS

Image

Ekonomi

Ketidakpastian Brexit Buat Dolar AS Kembali Melejit

Image

News

Trump Cari Pengganti John Kelly Untuk Isi Jabatan Kepala Staf Kepresidenan

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
Ekonomi

Tahun Politik, Pengamat Imbau Pengembang Bangun Rumah di Bawah Rp500 Juta

CEO Indonesia Property Watch, Ali Tranghanda mengatakan, sebagian besar pengembang masih merasa pasar segmen atas lebih potensial

Image
Ekonomi

Fadli Zon Sebut Liburan Jokowi Pencitraan untuk Tutupi Kegagalan Ekonomi

Wakil Ketua DPR, Fadli Zon, mengawali kegiatan di pagi harinya, Selasa (11/12), adalah dengan menyindir Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada

Image
Ekonomi

Peletakan Batu Pertama Proyek Perkeretaapian Papua Barat Dimulai 2019

Pembangunan awal proyek perkeretaapian ini akan dilaksanakan melalui anggaran pemerintah Provinsi.

Image
Ekonomi

Harga Pantas Untuk Pembelian Saham Freeport

Arbitrase yang memakan waktu panjang tidak hanya berpotensi merugikan Indonesia maupun PTFI, karena tertundanya kegiatan operasional.

Image
Ekonomi

Garuda Indonesia Bakal Beroperasi di Bandara Kertajati Mulai 18 Desember

Garuda Indonesia bakal terbang dari Bandara Kertajati pada 18 Desember 2018.

Image
Ekonomi

Kopi Arfak Papua Barat Dipromosikan di Jakarta

Berbagai Komoditas dipamerkan pada kegiatan yang digelar di Gedung Sate Bandung itu. Selain kopi, rombongan dari Papua Barat menampilkan kak

Image
Ekonomi

Beda Tanggapan Sri Mulyani dan Darmin Soal Bangun Infrastruktur Tanpa Utang

Pemerintah menilai rencana itu bisa meningkatkan kepercayaan pada perekonomian Indonesia tapi bukan hal baru.

Image
Ekonomi

Pertumbuhan Ekonomi Global yang Melambat Sikat Harga Minyak

Kekhawatiran atas perlambatan pertumbuhan ekonomi global jadi penyebab utama harga minyak anjlok.

Image
Ekonomi

Kemlu Gelar OPWP Beri Pelatihan Pengelolaan Sawit

Selain menggandeng Unja, Kemlu juga bekerja sama dengan mitra lain dalam pelaksanaan pelatihan ini, yaitu dengan PT Perkebunan Nusantara VI

Image
Ekonomi

Harga Emas Tertekan oleh Kuatnya Dolar AS

Dolar AS naik terhadap mata uang utama lainnya, di tengah ketidakpastian Brexit.

Available

trending topics

Available

terpopuler

  1. Budiman: Boleh Aja Kaya dari Lahir, Tapi Saranku Jangan Belagu Sama Orang Miskin

  2. Istri Buka Rahasia Kekuatan Sandiaga: Air Lemonnya Dibuat dengan Cinta Loh, Jadi Lebih Enak Rasanya

  3. Agar Karyawan Tak Dipaksa Pakai Aksesoris Natal, Polisi akan Kumpulkan Pengusaha

  4. Tak Terima #2019GantiPresiden Disebut Kalah dari #JokowiLagi, Erick Diminta Beri Info Sesuai Data

  5. Pesan WhatsApp Khashoggi Terungkap, Bukti Pangeran Arab Terlibat Pembunuhan?

  6. Begini Sosok Yunita yang Bantu Napi Narkoba Kabur dari Rutan Cipinang

  7. Sambil Jongkok, Jokowi Beri Penghargaan ke Putu Wijaya, Fans: Pakde, I Love You Full, Ada Salam dari Ibuku

  8. Guntur Romli: Kapal Prabowo-Sandi Oleng, Penumpangnya Berlompatan Keluar

  9. Survei LSI: Mayoritas Masyarakat Percaya Pemerintah Serius Berantas Korupsi

  10. Fadli Zon Bagikan Foto Akses Jalan yang Rusak dan Berlumpur

Available

fokus

Semangat Pahlawan di Dadaku
Info MPR RI
Tragedi Lion Air
Available

kolom

Image
Awalil Rizky

Mencermati Penerimaan Negara yang Melampaui Target APBN

Image
Hendra Mujiraharja

Pantaskah Persija Ungguli PSM?

Image
Pangi Syarwi Chaniago

Narasi Capres yang Dangkal dan Tak Berkelas

Image
Ujang Komarudin

Adu Kuat Jokowi versus Prabowo

Available

Wawancara

Image
Olahraga

Eko Yuli Irawan (3)

"Saya Masih Memikirkan Siapa yang Bakal Gantikan Saya"

Image
Olahraga

Eko Yuli Irawan (2)

"Atlet Junior Harus Bisa Mengalahkan Senior"

Image
Olahraga

Eko Yuli Irawan (1)

"Asian Games Membuat Olahraga Bukan Hanya Sepakbola dan Bulutangkis"

Sosok

Image
Iptek

Hebat! Pendiri GoJek Masuk Daftar 'Bloomberg 50'

Image
Ekonomi

Founder GOJEK Terpilih Jadi Tokoh Penentu Bisnis Global

Image
Ekonomi

Twitter Indonesia Umumkan Jokowi Sosok Paling Populer