breaking news: Banjir Bandang Melanda Vietnam, 20 Orang Tewas Puluhan Lainnya Hilang

image
Login / Sign Up
Image

Crumb Rubber Dicabut dari DNI, Tak Cermat Jadi Kiamat

Image

Menteri Perindustrian yang juga Ketua Umum DPP Golkar Airlangga Hatarto | AKURAT.CO/Sopian

AKURAT.CO, Entah apa yang ada di benak Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto saat Kamis, 8 Maret silam menyatakan niatnya mencabut crumb rubber dari daftar negatif investasi (DNI). Kalau hasrat menteri yang juga Ketua Umum Partai Golkar ini sukses, maka sebentar lagi bakal banjir invastasi asing ke industri karet remah ke dalam negeri.

Saya mencoba berselancar di dunia maya mencari motivasi yang melatarbelakangi niat Airlangga. Sayangnya, tidak ditemukan alasan lain kecuali meningkatkan investasi. Pak menteri sama sekali tidak menyebut kapasitas industri karet kita atau daya serapnya seperti apa. Termasuk juga tidak menyinggung harga karet alam yang terus terjun beberapa tahun terakhir, sehingga membuat nasib petani kian terpuruk saja.

Bahwa kita butuh investasi untuk menggulirkan roda perekonomian dan menggenjot pertumbuhan, sudah pasti iya. Tapi itu mestinya tidak serta-merta kita jadi grasa-grusu apalagi sampai ugal-ugalan mengundang asing masuk. Soal industri crumb rubber alias karet remah, misalnya. Jenis investasi industri ini tidak canggih-canggih amat. Teknologi yang dibutuhkan terbilang sederhana. Begitu juga modal yang diperlukan terbilang kelas ecek-ecek saja.

baca juga:

Inilah yang menjelaskan mengapa dari 157 perusahaan crumb rubber yang ada, 96 di antaranya adalah penanaman modal dalam negeri (PMDN) alias milik swasta nasional. Sedangkan sisanya yang 61 perusahaan adalah penanaman modal asing (PMA) dan atau terafiliasi asing. Tapi kendati jumlah mereka lebih sedikit, kontribusi ekspornya mencapai 63,1%. Sedangkan perusahaan lokal yang 96 unit harus puas dengan 36,9% sisanya.

Data lainnya menyebutkan, total kapasitas terpasang industri karet remah nasional saat ini mencapai 5,6 juta ton. Sayangnya, ketersediaan karet alam sebagai bahan baku hanya 3,6 juta ton. Industri kita masih kekurangan pasok karet 2 juta ton. Itu sebabnya utilisasi pabrik-pabrik itu hanya berkisar 60% alias tidak efisien.

Nyaris sukses
Entah disadari atau tidak, rencana pencabutan industri karet remah dari DNI bakal memuluskan grand strategy asing untuk menguasai industri karet nasional. China, khususnya, sangat agresif ekspansi ke negara produsen karet untuk mengamankan rantai pasokan bagi industrinya. Asal tahu saja, konsumsi karet China sudah mencapai 4,5 juta ton, jauh melampaui Amerika Serikat yang selama ini dianggap konsumen terbesar, yaitu 1,2 juta ton.

Strategi asing untuk melakukan penetrasi besar-besaran nyaris sukses saat Paket Kebijakan Ekonomi ke-10 digulirkan, 11 Februari 2016 silam. Lewat Paket Kebijakan Ekonomi ke-10 itu, Pemerintah menganulir Perpres nomor 39/2014 tentang DNI yang di antaranya masih mencantumkan crumb rubber. Namun, untungnya beleid tadi tidak lahir sendiri. Dia membawa ‘adik kembar’ berupa Perpres nomor 44/2016 dan Permen Perindustrian nomor 09/M-IND/PER/3/2017.

Intinya, berdasarkan dua ketentuan itu pembukaan industri ini kepada asing disertai sejumlah catatan. Di antaranya harus terintegrasi dengan pengembangan kebun karet sendiri yang mampu memasok sekurangnya 20% dari kebutuhan, dan 80% bahan baku sisanya harus dipenuhi melalui kemitraan. Syarat lainnya, dari 80% kemitraan tadi, sedikitnya 20% di antaranya harus dalam bentuk inti-plasma.

Sungguh ciamik semangat yang ada dalam Perpres 44/2016. Nuansa melindungi industri lokal nyaris tak tercium di sini. Yang ada justru program penambahan produksi karet alam lewat penambahan lahan perkebunan. Spirit lain yang ditonjolkan adalah, adanya upaya mengangkat petani lokal dalam produksi dan kemitraan, yang ujung-ujungnya diharapkan kesejahteraannya pun bakal naik.

Perpres 44/2016 ini akhirnya menjadi palang pintu yang menghalangi asing menyerbu. Tapi asing tidak kekurangan akal. Maka dilancarkanlah jurus lain, yaitu mengakuisisi perusahaan milik PMDN dan PMA oleh investor dari China dan Thailand.

Sampai di sini niat Airlangga membuka industri karet remah bagi asing memang belum clear. Kalau semata-mata ingin menggenjot investasi, ada yang lebih pas. Yaitu industri karet di sisi hilir yang menghasilkan barang jadi. Jika ini dilakukan, maka daya serap industri hilir pasti bisa didongkrak jadi lebih baik daripada 630.000 ton saat ini.

Kecilnya daya serap industri hilir karet disebabkan jumlah perusahaan yang ada memang belum banyak. Ini disebabkan teknologi yang digunakan lebih canggih dibandingkan sekadar memroduksi karet remah. Selain itu, tentu aja, modal yang dibutuhkan juga lebih besar. Mereka antara lain memproduksi ban mobil, vulkanisir ban, sarung tangan, alas kaki, karpet, barang-barang karet, dan benang karet.

Bagi Tugas
Kenapa Pemerintah tidak mengarahkan perhatian di sini? Dengan begitu ada semacam ‘pembagian tugas’ antara pelaku lokal dan investor asing. Buat remah karet yang teknologi dan modalnya tidak tinggi, biarlah diurus produsen lokal. Sedangkan untuk industri hilir karet yang teknologinya lebih canggih dan rakus kapital, jadi bagian investor asing.

Membuka industri crumb rubber yang saat ini sudah sesak dengan para pemain yang ada, hanya akan membuat kian terjun utilisasi kapasitas. Artinya, tingkat inefisiensi makin tinggi. Biaya produksi per unit cost bakal melonjak. Celakanya, kenaikan biaya tersebut tidak bisa serta-merta dikompensasi dengan menaikkan harga ekspor. Pasalnya, harga ditentukan oleh pasar internasional.

Sayangnya, sebagian besar birokrat kita sering menggampangkan persoalan. Mereka beranggapan dengan membuka industr crumb rubber bagi asing seluas-luasnya, maka pengusaha nasional akan dipaksa berkompetisi melawan asing. Di sinilah kelirunya para birokrat kita. Tanpa bersaing dengan asing saja, produsen karet remah lokal sudah babak-belur akibat rendahnya utilisasi kapasitas terpasang karena bahan baku yang amat terbatas. Bisa dibayangkan kalau jumlah pemain ditambah, apalagi asing, tentu akan kian berdarah-darah.

Birokrat kita juga mestinya paham, jika asing yang dominan sebagian besar nilai tambah industri karet tadi akan direpatriasi ke negeri asalnya. Sedangkan tenaga kerja yang terserap juga tidak akan banyak. Lha wong yang sekarang aja banyak yang idle karena kurangnya bahan baku. Penerimaan perpajakan? Kita lihat saja tambahan apa yang bisa diperoleh dari industri yang kapasitas terpasangnya makin melorot. Sedangkan devisa ekspor yang dibangga-banggakan, sudah pasti wujudnya ada di negeri asing juga. Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Indonesia (BI) hanya kebagian mencatat saja.

Sampai akhir 2017, total industri crumb rubber tercatat 3,629 juta ton. Dari jumlah itu, yang diserap industri hilir karet hanya sekitar 630.000 ton. Sisanya yang 3,226 juta ton habis diekspor dengan devisa yang dihasilkan sebesar USD5,2 miliar. Angka ini naik 61,2% ketimbang tahun sebelumnya. US$5,2 miliar itu lumayan banyak, lho.

Mungkin pak Menteri berasumsi, kalau industri karet remah lebih banyak asingnya, maka pembelian bahan olah karet (Bokar) petani bakal meningkat. Maaf ya, sama sekali tidak ada jaminan ini terjadi. Yang ada, mungkin justru sebaliknya. Lonjakan biaya produksi akibat makin banyaknya pemain, tidak serta-merta bisa dimasukkan ke harga ekspor.

Pada titik ini, pabrikan terpaksa akan menurunkan harga pembelian Bokar petani. Jika sekarang komposisinya masih sekitar 85% dari FOB SIR, bukan mustahil pabrikan bakal menurunkan jadi 80% atau lebih rendah lagi.

Jadi, pak menteri, sebaiknya niat anda itu dikaji lagi dengan benar-benar cermat. Ngeri membayangkan yang terjadi jika rencana tersebut melenggang. Pelaku lokal dipastikan bergelimpangan. Bukan hanya itu, asumsi mendongkrak pendapatan petani juga cuma jadi ilusi. Jangan karena kebijakan tak cermat malah jadi kiamat.

Lain halnya jika memang ini yang dikehendaki Pemerintah. Tapi, 'mosok' iya sih Pemerintah mau ‘jahat’ kepada rakyatnya sendiri dengan cara seperti itu? []


Penulis merupakan Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS).

Editor: Juaz

berita terkait

Image

Ekonomi

DPRD Jatim Kritisi Penurunan PMA Tahun 2017

Image

Ekonomi

Bamsoet Harap Kerjasama Dengan Solomon Dapat Lebih Ditingkatkan

Image

Ekonomi

Kemenperin Optimistis Konsumsi Semen Nasional Tumbuh Signifikan

Image

News

Jokowi: Cawapres Sedang Kita Godok Biar Matang

Image

Ekonomi

Kurangi Impor BBM, Pemerintah Perluas Penggunaan Biodiesel

Image

Ekonomi

Presiden Xi Jinping Janjikan Hubungan Bilateral yang Konstruktif di Afrika

Image

Ekonomi

Angka Kemiskinan di Gorontalo Ditargetkan Turun 14 persen pada 2022

Image

Ekonomi

Bali Giatkan Standarisasi Produk Cengkih

Image

News

Kereta Super Cepat 'Hyperloop' Hadir di China, Kapan di Indonesia?

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
Ekonomi

Mayoritas Saham Negeri Jiran Berakhir Menghijau

Indeks KLCI tercatat menguat 3,29 poin atau 0,19 persen menjadi 1.757,96 poin pada penutupan perdagangan Senin (23/7)

Image
Ekonomi

Indeks Hang Seng Ditutup Menguat 0,11 persen

Indeks Hang Seng (HSI) tercatat menguat 31,64 poin atau 0,11 persen menjadi 28.256,12 poin pada penutupan perdagangan Senin (23/7)

Image
Ekonomi

Indeks STI SIngapura Berakhir Melemah

Mayoritas saham di Singapura, berakhir melemah 0,12 persen atau 4,12 poin menjadi 3.293,71 poin pada penutupan perdagangan Senin (23/7)

Image
Ekonomi

Penerapan Mata Uang Digital Masih Perlu Kajian

Penerapan CBDC yang menggunakan teknologi Distributed Ledger di Indonesia perlu untuk terus dikaji penerapannya

Image
Ekonomi

Mayoritas Saham Tiongkok Berakhir Sumringah

Indeks Komposit Shanghai tercatat naik 1,07 persen menjadi 2.859,54 poin.

Image
Ekonomi

Indeks KOSPI Ditutup Melemah 0,87 persen

KOSPI tercatat merosot sebesar 19,88 poin atau 0,87 persen, menjadi 2.269,31 poin pada penutupan perdagangan, Senin (23/7) di Seoul

Image
Ekonomi

Soal Pendanaan Divestasi Freeport, Inalum: Seluruhnya Bank Asing

Kalau pendanaan dari bank lokal, ada kemungkinan mempengaruhi fluktuasi rupiah.

Image
Ekonomi
Saham, Australia, Indeks S&P/ASX 200, Commsec, Steven Daghlian

Mayoritas Saham Australia Ditutup Melemah 58,30 poin

Indeks S&P/ASX 200 merosot 58,30 poin atau 0,93 persen menjadi 6.227,60 poin pada penutupan perdagangan Senin (23/7) di Sydney

Image
Ekonomi

BRI Sediakan ID Card Terintegrasi BRIZZI Untuk Volunteer Asian Games

Bank BRI berikan ID Card terintegrasi Brizzi bagi 3000 volunteer Asian Games sebagai komitmen menyukseskan pagelaran empat tahun sekali itu

Image
Ekonomi

Bukit Asam Bakal Pelajari Dua Hal Ini Dari Freeport

Bos Bukit Asam Arviyan Arifin menjelaskan setidaknya ada dua hal yang bisa dipelajari oleh pihaknya dari Freeport.

Image
Ekonomi

Bamsoet Soroti Layanan Garuda Indonesia yang Sering Delay

Garuda Indonesia harus bisa mencari solusi atas persoalan internal yang berimbas kepada kualitas layanan bagi pelanggan.

Image
Ekonomi

Freeport Kembali ke Pangkuan Ibu Pertiwi

Penguasaan 51% saham Freeport akan memberikan sejumlah manfaat ekonomi

Available

trending topics

Available

terpopuler

  1. Harga Meroket Gila-gilaan, Pedagang Ayam di Temanggung Mogok Jualan

  2. Jasa Marga Klaim Tol Medan Kualanmu-Tebing Tinggi Dorong Perekonomian Lokal

  3. Bos Bukit Asam Pamer, Pihaknya Sendiri Mampu Beli Saham Freeport

  4. Perubahan Sistem Elektronik, 79 Stasiun KRL Berlakukan Tiket Kertas

  5. Harga Makin Tinggi, Pedagang Ayam di Magelang Memilih Tak Berjualan

  6. Uang Elektronik dan KMT Belum Bisa Digunakan, Siap-siap Antrean 'Mengular'

  7. Antrean Mengular 500 Meter Sejak Subuh, Penumpang KRL Pilih Pulang

  8. IFRA 2018 Tumbuhkan Semangat Entrepreneurship Mulai Usia Muda

  9. Kurs Tiongkok Tercatat Menguat 6,7593 atas USD

  10. Harga Bawang di Piru Mulai Turun

Available

fokus

Idul Fitri 2018
Mudik Lebaran 2018
Piala Dunia Rusia 2018
Available

kolom

Image
Dradjad Hari Wibowo

Tidak Ada Perang Dagang dengan AS

Image
Denny Iswanto

Harga Mahal dari Sebuah Libur Panjang

Image
Denny Iswanto

'Superioritas' Asia di Perhelatan Piala Dunia

Image
Dita Nurul Aini

Optimisme Ditengah Badai yang Melanda Rupiah

Available

Wawancara

Image
Ekonomi

Investasi itu Perlu Waktu Hingga Menghasilkan, Jangan Buntung Karena 'si Bodong'

Image
Ekonomi

Catatan Awal Tahun BUMN

Image
Ekonomi

UMKM Naik Kelas, Bisnis Penjaminan Makin Maju

Sosok

Image
Ekonomi

Membedah Kisah Hidup Anak Petani yang Ingin Bangun Perekonomian Indonesia

Image
Ekonomi

Sah Jadi Dirut BEI, Ini Ambisi Inarno Djajadi

Image
Ekonomi

Perry Tunjukkan Komitmen BI yang Pro Stability dan Pro Growth