image
Login / Sign Up

Catatan Awal Tahun BUMN

Romys Binekasri

Image

Managing Director LM FEB UI Toto Pranoto | AKURAT.CO/Sopian

AKURAT.CO, Cita-cita terbentuknya BUMN Holding digagas sejak awal Kementerian BUMN dibentuk yang dinakhodai oleh Tanri Abeng. Namun, seiring berjalannya waktu dan bergonta-ganti pemerintahan, proses pembentukan holding tersendat. Padahal, banyak pihak yang mendukung pembentukan holding BUMN tersebut lantaran dinilai dapat memberikan kontribusi lebih baik untuk negara.

Di 2017, Menteri BUMN Rini Soemarno sempat memastikan bahwa akan ada pembentukan holding BUMN di enam sektor. Keenam sektor tersebut diantaranya, sektor minyak dan gas, pertambangan, perbankan dan jasa keuangan, perumahan, konstruksi dan jalan tol, serta pangan. Namun, hingga akhir tahun hanya satu holding saja yang terbentuk, yakni holding pertambangan.

Managing Director Lembaga Management Universitas Indonesia (LM UI) Toto Pranoto mengatakan, urgensi pembentukan holding terutama pada daya saing korporasi.

baca juga:

Ia bercerita, pada tahun 1999 silam, Tanri Abeng mengundang konsultan asal Amerika Serikat untuk membuat sebuah kajian mengenai bagaimana masa depan perusahaan-perusahaan plat merah, termasuk diantaranya usul pembentukan beberapa holding di berbagai sektor. Namun sayangnya, dokumen yang sudah dibuat 1999 silam terpaksa masuk laci, lantaran setiap pemerintahan setelahnya sibuk mengurusi fokus agenda masing-masing.

Soal daya saing, mari kita intip, jika saat ini terdapat sekitar 118 perusahaan BUMN di berbagai bidang usaha, hanya 25 perusahaan diantaranya dapat memberikan kontribusi besar terhadap negara. Artinya, sekitar 25 perusahaan BUMN besar menghasilkan hampir 90 persen dari total keseluruhan BUMN tanah air.

Tujuan spesifik dibentuknya BUMN Holding diantaranya untuk mengefisienkan jumlah perusahaan sekaligus guna memberikan nilai yang lebih baik. Dengan meleburnya perusahaan-perushaan plat merah ini, diharapkan dapat saling bersinergi satu sama lain dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas, baik dari segi aset maupun profit.

BUMN holding diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap daya saing. Sebab, jika holding BUMN dapat terwujud, maka persuhaan milik tanah air dapat sejajar dan bersaing secara regional maupun global. Hal tersebut dapat bercermin dari holding perusahaan plat merah Semen Indonesia maupun Pupuk Indonesia Holding Company.

Membentuk Holding BUMN memamg bukanlah perkara mudah, sebab terdapat aspek-aspek penting yang harus diperhatikan. Jangan sampai penyatuan beberapa perusahaaan malah akan menurunkan kualitas sektor tersebut. Berkaca dari sektor semen dan pupuk 15 tahun silam, banyak aspek dan pengalaman yang dapat dipelajari. Diantaranya, dari segi manajemen, sumber daya manusia (SDM), penyatuan visi dan misi, hingga penentuan pemimpin baru ajang akan memimpin holding sektor tersebut. Sebab, perusahaan-perusahaan yang akan disatukan harus mulai berhenti berjalan sendiri-sendiri dan dapat memberikan sinergi satu sama lain.

Toto menilai, jika dibandingkan dengan holding milik Malaysia Khazanah Nasional dan Singapura dengan Temasek, ke 20 BUMN Indonesia sudah dapat bersaing. Kalau dibandingkan Temasek, 20 BUMN tadi masih relatif kalah. Tapi kalau dibandingkan ke Khzanah dalam beberapa indikator BUMN Indonesia sudah lebih bagus.

Toto menambahkan, pembentukan holding BUMN ini menang tak terlepas dari aspek perpolitikan dalam negeri. Dalam hal ini kementerian BUMN hari dapat menjalin hubungan baik dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Sehingga, gagasan-gagasan baik mengenai pembentukan BUMN ini dapat diterima oleh parlemen.

Mengawali tahun 2018, perlu diulas kembali nilai pentingnya holding BUMN. Berikut nukilan wawancara Romys Binekasri dari AKURAT.CO dengan Managing Director Lembaga Management FEB UI, Toto Pranoto.

Apakah Indonesia sudah siap melahirkan semakin banyak BUMN Holding?

Jadi Sebenernya pertanyaannya bisa dijawab sederhana, kita sekarang memiliki sekitar 120 an BUMN, 118 tepatnya. Tapi angka statistiknya bilang gini, sekitar the top 25 BUMN terbesar menghasilkan hampir 90 persen dari total sales keseluruhan BUMN. Kan nanti namanya 20:80 artinya, yang 20 persen menghasilkan total keseluruhan populasi. Artinya 25 BUMN terbesar menghasilkan hampir 90 persen total seluruh penjualan seluruh BUMN. Jadi perayaannya, ngurusin 118 BUMN buat apa ? Kalau 25 besarnya saja sudah menghasilkan dari total seluruh BUMN.

Artinya kompleksitas mengurus BUMN sekelas Telkom, PLN, Pertamina, akan sama rumitnya dengan kelasnya PN Garam kek, balai pustaka kek, karena waktu akan melakukan aksi korporasi butuh ada persetujuan dari kementerian dan DPR.

Prosedur dan waktunya sama yang harus ditempuh. Sehingga mungkin ada kebutuhan bagi negara, bagi Pemerintah bagaimana caranya itu mengelola BUMN dengan lebih baik, tanpa mengabaikan kepentingan publik, tapi mereka bisa bekerja lebih efektif dan efisien.

Jadi, gagasan mengenai holding company itu sebetulnya bukan gagasan satahun, dia tahun. Tapi sudah dimulai sejak kementerian BUMN sendiri itu dibentuk tahun 1999. Jadi sejak menteri pertama Pak Tantri Abeng sudah mengundang konsultan Amerika namanya untuk membuat kajian, Blue print, bagaimana BUMN Indonesia kedepan itu akan dikelola. Termasuk diantaranya usul pembentukan beberapa holding.

Cuma waktu itu sayang keburu era Presiden Habibie berakhir, ganti Presiden, ganti menteri, ganti kebijakan lagi. Sehingga proses holding di tahun awal 2000 an jadi mandek. Padahal 2 tahun kemudian sekitar tahun 2001-2002 Pemerintah Malaysia mengundang konsultan yang sama membuat kajian holding di Malaysia, akhirnya keluarlah rekomendasi Khazahnah. Dan itu diteruskan oleh perdana menterinya sebagai suatu bentuk korporasi baru di Malaysia. Sehingga Khazahnah 2003 mulai tumbuh sampai sekarang lebih besar.

Nah Indonesia, kajian awalnya dibuat tapi implementasinya "masuk laci". Sehingga gagal dilaksanakan dengan cepat. Lalu di Pemerintahan baru Jokowi untuk mengefisienkan saya kira proses kerja BUMN tadi mulai di kembalikan. Saya rasa itu langkah dan gagasan yang tepat. Karena menurut saya kalau kita kenlakukan pengelolaan BUMN masing-masing berarti kompleksifitas pengelolaannya termasuk tinggi, bagaimana kementerian BUMN bisa melihat dan memonitor semuanya. Karena yang harus diiris itu kan banyak. Kenapa ga "simplifikasi" dengan membentuk BUMN holding.

Tujuannya memang mengurangi jumlah BUMN yang kita kelola tapi bukan hanya sekedar mengurangi jumlah. Tapi holding tadi harus bisa menghasilkan value. Value creation kan artinya sama dengan sinergi. Jadi kalau ada 4 perusahaan tambang mau disatukan kita bikin holding pertambangan. Misalnya Inalum Sebagai Leadernya, nanti aneka tambang, timah, dan bukit asam. Kalau 4 ini dijadikan 1 apakah nilainya sama dengan 4, atau lebih besar dari 4 atau malah lebih kecil gimana ? Kalau lebih dari 4 artinya terjadi sinergi. Kalau sama dengan 4 ga ada nilai yang tercipta. Untuk apa bikin holding. Lebih parah kalau turun, malah mengurangi nilai dari menyatukan mereka.

Jadi prinsipnya bukan cuma mengurangi jumlah BUMN tapi harus mampu menciptakan value menjadi yang lebih baik.

Jadi rasionalitas mengapa penting negara atau Pemerintah membentuk holding BUMN karena meningkatkan efisiensi, meningkatkan daya saing. Sehingga BUMN kita bisa bersaing di pasar regional, atau global.

Bayangkan coba yang selama ini sudah go internasional paling cuma semen Indonesia. Tahun lalu saya bawa eksekutif BUMN pergi ke Vietnam. Saya bawa juga ke pabriknya semen Indonesia memang harus ada kemampuan khusus yang harus mereka kuasai pemahaman tentang budaya setempat. Kedepannya dengan ra semakin cepat kalau daya saing BUMN tidak bisa ditingkatkan, kita akan kesulitan. Holding company sebagai jawaban untuk memiliki budaya yang berdaya saing yang bisa menciptakan efisiensi tinggi sehingga dapat lebih baik Kedepannya.

Sudah dicanangkan sejak lama tapi malah masuk laci bagaimana ? Apa ada kendala yang menghambat atau BUMN-nya sendiri gak mau?

Jadi sebemernya dokumen yang sudah dibuat 1999 saya kira setiap pemerintahan dan Presiden punya agenda fokus masing-masing. Sehingga rencana holding tadi tidak jadi prioritas. Baru Pemerintah Jokowi tadi mungkin baru di canangkan kembali karena memang ada keinginan dan kebutuhan punya daya saing. Karena tiap Presiden sendiri ingin BUMN bisa punya agenda yang berbeda-beda. Baru pemerintahan Presiden ini ditingkatkan.

Kalau dari BUMN sendiri untuk sebagian yang sudah pro kepada persaingan memang mengharapkan sinergi diantara mereka. Dan itu pasti membutuhkan kompetensi baru dan penyesuaian baru bukan proses yang mudah. Tapi kalau sudah disatukan saya kira bagus untuk BUMN nya. Untuk sebagian eksekutif BUMN yang lain dianggap merusak zona nyaman mereka yang sudah nyaman dengan lingkungan mereka bisa jadi memang gagasan-gagasan baru itu menjadi sesuatu yang cukup sulit untuk bisa langsung diterima. Sehingga perlu ada sosialisasi dan inisiasi baru mengenai pentingnya membentuk holding dalam rangka meningkatkan daya saing bumnnya.

Jangan diartikan Pembentukan holding company itu juga di salah artikan dalam rangka terkait penjualan aset negara. Itu kan ngga ada kaitannya. Masih ada kelemahan dan harus didiskusikan lebih lanjut apakah status anak perusahaan BUMN itu dikatakan sebagai BUMN atau bukan. Karena undang-undang perseroan mengamanatkan langsung kalau adanya penyertaan langsung dari Pemerintah. Kalau sekarang statusnya sebagai anak perusahaan masih menjadi BUMN atau bukan itu masih menjadi disukai yang cukup panjang dan harus diselesaikan.

Kalau bukan BUMN Pemerintah masih punya kuasa ngga ?. Itu harus diperjelas sehingga esensi perusahaan BUMN itu betul-betul dirasakan penting dan vital buat masyarakat.

Peleburan BUMN itu apa aspek-aspek yang harus diperhatikan, seperti direksi atau asetnya? Boleh dielaborasi?

Untuk membentuk perusahaan baru atau memilih induk perusahaan itu bukan sesuatu hal yang mudah. Makanya dalam 4 BUMN tambang tadi dibentuk jadi 1. Dari pengalaman semen dan pupuk, dulu awalnya 15 tahun lalu mereka sebagai operating holding. Sifatnya operating holding. Itu mengalami kesulitan karena induk dan anak perusahaan kadang-kadang bersaing sendiri-sendiri. Jadi yang mananya koordinasi dan sinergi kadang-kadang tidak terjadi karena dianggap induk dan anak perusahaan bersaing sendiri. Sehingga Pemerintah memutuskan 5 tahun lalu yang namanya holding semen Gresik berubah menjadi semen Indonesia. Posisi semen Gresik diturunkan tadinya holding sekarang turun jadi anak perusahaan sama seperti semen Padang dan lain-lain. Jadi istilahnya sebagai strategis holding. Bukan operasi langsung tapi bagaimana mengkoordinasikan seluruh anak perusahaannya untuk bisa saling bersinergi dan menghindarkan duplikasi kerjaan dan menciptakan banyak efisiensi. Sehingga arahnya kedepan jika membentuk holding akan sama dengan semen maupun pupuk.

Yang harus disiapkan?

Semua aspek fungsi manajemen harus disesuaikan sebagai kultur perusahaan baru. Contoh bank mandiri butuh 4-5 tahun. Tahapannya :
1. Tim yang sudah dibentuk dalam proses tahapan untuk menjadi holding yang baru harus melihat dari aspek kira-kira dari segi l operasional itu apa aspek gang cepat.
2. Dari aspek organisasi SDM. Kira-kira adaptasi apa yang harus segera dilakukan. Sistem organisasi dan remeneurasi tiap perusahaan berbeda-beda. Sehingga penting untuk dibuat standardisasi dari sisi Karir, remeneurasi, dan pengembangan SDM. Sehingga tidak ada eksistensi dari perusahaan ke perusahaan lain atau dari anak perushaaan ke induk perusahaan. Tapi kalau standar itu belum ada masih akan menimbulkan eksistensi. Untuk menetapkan standar yang sama itu penting untuk hubungan yang harmonis.
3. Bagaimana supaya penyatuan holding bisa diterima seluruh masyarakat dan pekerjanya menjadi cepat dan lebih baik tanpa adanya eksistensi. Yang penting memberikan suatu pemahaman cara fikir dan visi yang sama. Bagaimana induk perushaaan harus dikedepankan dan bagaimana mengakomodasikan masing-masing perusahaan yang berbeda tadi. Tentunya kan induk mempunyai suatu road map dan visi misi yang dibangun sesuai visi misi anak perusahaan.
4. Bagaimana figur para pemimpin yang akan menjadi pemimpin holding tadi. Harus bisa memahami bisnis nature industrinya, tau positioning anak perusahaan yang ada, dan bisa memberikan arah guide kedepan nanti kita mencapai sasaran apa, bagaimana cara mencapai sasaran tadi, dan bagaimana ini di komunikasi kepada seluruh anak perusahaan yang ada untuk bisa mencapai sasaran tadi.

Itu hal-hal saya kira penting. Ada istilah critical time nya tuh dimana sih saat holding itu dibuat. Critical Time nya saat kita melakukan Post merger intergration (PMI) itu pekerjaan sulitnya. Kalau legal gampang tapi setelah itu apa, bagaimana dari segi aspek, penyatuan operasional, organisasi SDM, kultur dan seterusnya. Itu yang harus diselesaikan dalam tempo tanya segera tapi tak bisa cepat juga. Saya kira itu harus dilakukan. Kalau PMI bisa dilakukan dengan sukses, holding nya juga bagus.

Karakteristik leader holding?

Sederhananya, kan yang dipakai sebagai leader BUMN atau anak perusahaan yang paling kuat. Kalau yang paling kuat bisa menurunkan keahlian, transfer knowladge, transfer of resources kepada anak perusahaannya yang akan digabung. Sehingga yang tidak dipilih sebagai induk bisa meniru apa yang dikerjakan oleh induknya. Sehingga proses terjadinya sinergi bisa tercapai.

Sekarang BUMN untuk membentuk ini bagaimana secara hukum, aspek legal, regulasi, bisa cepat dulu pembentukan holding nya. Misalnya kalau ditanya pembentukan holding di pertambangan kenapa inlaum yang diminta sebagai induk bukan bukit asam misalnya dari segi size dan aset lebih besar, itu karena semata-mata di regulasi, inalum adalah satu satunya perusahaan yang belum go public di sektor pertambangan. Cara proses mengatur holding pertambangan lebih mudah daripada perusahaan yang sudah go public misalnya timah, atau aneka tambang atau bukit asam. Karena kalau yang diminta salah satu dari perusahaan itu harus dengan persetujuan seluruh pemegang saham. Setuju atau ngga.

Pokoknya harus ada regulasi pasar modal yang diikuti. Sehingga dengan Pemerintah menunjuk perusahaan yang belum go public maka tujuannya proses legalnya lebih mudah. Tapi dengan perjalanannya saya kira apa yang sudah dikerjakan pupuk dan semen berakhirnya proses bukan lagi operating holding tapi strategis holding maka itu saya kita akan lebih baik.

Kalau dilakukan branch Marking kalau kita lihat Singapura dan Malaysia itu juga sebenarnya suatu model yang bukan lagi operating holding tapi ke arah startegi holding atau investment holding. Dia bertindak sebagai manager. Temasek betul betul sebagai manager.

Kalau dilihat negara yang sudah holding, dari ratusan BUMN kita ini butuh berapa lama?

Saya kira kita tidak Harus pesimistik. Awal tahun ini membuat kajian membandingkan kinerja Singapura dan Malaysia dan 20 BUMN Tbk. Hasilnya 2016 ga terlalu jelek. Kalau dibandingkan dengan Temasek dari beberapa segi masih kalah. Dari segi perhitungan mengenai beberapa profit margin bisa diciptakan, return aset bisa dihitung, bagaimana percepatan pertumbuhan revenue. Kalau dibandingkan Temasek, 20 BUMN tadi masih relatif kalah. Tapi kalau dibandingkan ke Khazahnah dalam beberapa indikator kita sudah lebih bagus. Dari laporan keuangannya.

Artinya kalau 20 BUMN kita dikelola dengan baik artinya gini, 20 BUMN tadi sudah melantai dibursa artinya prinsip transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, kan bisa dilihat dan dipantau public sehingga mereka ga bisa kerja sembarangan. Dan ga bisa mengambil keputusan sesukanya karena harus dengan persetujuan pemegang saham. Sehingga kinerjanya lebih baik. Paling tidak dari segi good Corporate governance.

Lebih banyak BUMN go publik lebih bagus untuk negara ini. Karena ekspektasi investor apakah kinerjanya bisa memberikan prospek baik atau ngga. Kalau ngga ada tanda-tanda pasti dilepas. Paling tidak dilakukan anak perusahaan dulu yang go public lebih cepat lebih bagus. Itu juga akan memberikan peningkatan pasar modal. Lebih banyak produk yang jadi pilihan.

Anak perushaan BUMN dipegang Pemerintah juga atau tidak ?

Masih banyak perdebatan status legalnya. Datanya memang agak lucu ya. Dari sekian banyak BUMN tadi mungkin total ada sekitar 700an anak perushaaan BUMN. Kalau induknya 118 BUMN, kalau dihitung anak perusahaan sekitar 700an. Dan dari 700an, 90 persennya statusnya tidak sehat. Jadi kalau tidak sehat orang bisa bilang, anak perusahaan dibikin supaya "BUMN induknya bermain-main di anak usaha". Saya kira perlulah kementerian BUMN membuat suatu standar BUMN induk boleh membentuk anak perusahaan kalau situasinya seperti apa. Misalnya Induknya besi baja tapi anaknya mengelola air minum kan kejauhan dan line bisnisnya berbeda tidak saling mendukung. Sebisanya anak perusahaan itu mendukung dari core bisnis induk. Sehingga kedepannya segeralah BUMN melakukan suatu audit lebih cepat mana yang bisa dipertahankan, mana yang tidak bisa dipertahankan karena terlalu jauh dari core bisnisnya apalagi sekarang perusahaannya rugi. Harus cepat karena BUMN tadi punya anak usaha yang seharusnya bisa menopang bisa tercapai. Jangan justru terus anak usahanya rugi bisa menggerogoti induknya. Sehingga jadi anomali.

Kalau untuk peleburan potensial perusahaan yang belum Tbk, tapi kalau dari aspek pemimpin seperti direksi, karakteristik direksi pemimpin holding itu akan diganti juga atau tidak ?

Pasti yang tepat untuk Memilih karakteristik leader adakah yang punya kaliber orang-orang yang punya pengalaman paling baik di bidang bisnisnya. Kalau kebutuhan pembentukan holding cepat maka harus dibentuk seperti tambah tadi jawabannya pasti perlu ada "assesmen" ulang direksi mana yang kira-kira paling pas dan paling cocok sesuai dengan induk perushaan yang dibutuhkan. Yang akan dikerjakan Pemerintah menilai ulang direksi perusahaan yang akan digabung mana yang kira-kira pas sebagai pemimpin disana. Setiap direksi harus melewati assesmen center. Bagaimana perjalanan mereka sampai di level sekarang dan apa prestasi bagus yang sudah dikerjakan. Jadi assesmen Center ditambah track record mereka bisa jadi alat untuk memilih siapa ceo baru untuk memimpin dan anggotanya masuk kepengurusan holding.

Masing-masing BUMN punya kualitas kemampuan perusahaan masing-masing, nah kalau nanti disatukan apakah dari nol lagi atau bagaimana?

Tujuannya kan menyatukan masing2 perusahaan tadi menghasilkan value.  Perusahaan sudah punya positioning sendiri-sendiri. Saling bersinergi. Kalau holding baru diciptakan memang mungkin belum bisa menciptakan revenue tapi sudah pasti bisa menurunkan cost. Karena yang tadinya duplikasi bisa diturunkan. Pembelian, bahan dasar, perawatan bisa disinergikan dan diturunkan. Setahun dua tahun profit bisa meningkat.

Politik?

Soal politik ini stakeholder BUMN banyak. Apalagi DPR, holding ini kan memerlukan persetujuan mereka. Tinggal bagaimana hubungan antara BUMN dan DPR bisa berjalan lebih baik. Lebih dari setahun menteri BUMN ngga bisa RDP artinya macet komunikasi. Kalau itu bisa dilakukan hubungannya bisa lebih diterima dan dikomunikasikan oleh DPR. Ujungnya semua harus bisa memberikan dampak pada masyarakat. Kalau yang berantem diatas, pihak yang dirugikan masyarakat. Komunikasi politik yang buntu sampai sekarang harus bisa dicarikan jalan.

Sampai sekarang masih begini, akankah perusahaan plat merah ini mewujudkan holding dengan berbagai urgensinya?

Sesuatu hal yang ngga mungkin. Kalau tujuannya baik gagasan yang urgent membuat holding company diartikan untuk membuat inovasi baru, meningkatkan daya saing, dan menciptakan value yang lebih tinggi dari BUMN dibandingkan beroperasi sendiri-sendiri. Dan itu bisa diuji. []

Editor: Juaz

berita terkait

Image

News

Balas Fadli Zon, Ngabalin: Kalau Dia Berkuasa Naudzubillahi Mindzalik Kejahatannya

Image

News

Ngabalin Jadi Komisaris BUMN, Ini Kata Demokrat

Image

News

Jadi Komisaris BUMN, Ngabalin Mundur dari Pengurus DPP Golkar

Image

Ekonomi

Pekerja Depot Pertamina Sibolga: Penjualan Aset Dampaknya Sistematis

Image

Ekonomi

Terminal 4 Bandara Soetta Bukan untuk Penerbangan Biaya Murah

Image

Ekonomi

Jokowi Desak Kabinetnya Segera Lakukan Mandatori Biodiesel

Image

Ekonomi

Serikat Pekerja Berontak, Menteri Rini: Pertamina Not For Sale

Image

Ekonomi

Bamsoet Minta Pemerintah Kaji Ulang Soal Jual Aset Pertamina

Image

Ekonomi

Orasi di Depan Serikat Pekerja Pertamina, Menteri Rini Disoraki 'Bohong'

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
Ekonomi

Ini Langkah Bukit Asam Antisipasi Dampak Perang Dagang

Bos Bukit Asam jelaskan langkah antisipasi perseroan terhadap perang dagang yang saat ini tengah terjadi.

Image
Ekonomi

Semester II 2018, Pemerintah Tetapkan ICP USD73 Per Barel

Sehingga, sampai dengan akhir tahun 2018 rata-rata ICP diperkirakan mencapai USD70 per barel.

Image
Ekonomi

Penyaluran Dana Desa Sulsel Semester-I 2018 Capai Rp1.193,72 miliar

Marni: Dari 21 kabupaten di Sulsel, 18 daerah diantaranya telah mencapai persentase penyaluran ideal 60 persen.

Image
Ekonomi

DPRD Jatim Kritisi Penurunan PMA Tahun 2017

Komisi C DPRD Jatim sayangkan atas rendahnya penyerapan anggaran program peningkatan promosi dan kerja sama investasi sebesar 74,46 persen

Image
Ekonomi

Semester II, Kemenkeu Masih Optimis Perekonomian Tetap Terjaga

Pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan dapat tumbuh mencapai 5,3 persen dari sebelumnya pada semester I 2018 sebesar 5,1 persen.

Image
Ekonomi

HoA Divestasi Freeport Memastikan Adanya Ikatan MoralĀ 

Bambang menjelaskan bahwa jika kita berhenti di tahun 2021, maka Pemerintah akan digugat di pengadilan arbitrase internasional.

Image
Ekonomi

Reaktivasi Lelang SBI Tak Mendadak, Ini Hasilnya

untuk lelang SBI tenor 9 bulan, BI memperoleh Rp4,1 triliun dan tenor 12 bulan sebesar Rp1,7 triliun

Image
Ekonomi

Kembangkan Bisnis, SMF Resmi Dirikan Unit Usaha Syariah

SMF resmi mendirikan Unit Usaha Syariah (UUS) hari ini, Senin (23/7).

Image
Ekonomi

Bupati Bintuni Minta Putra Terbaik se Papua Barat Ikut Program PP TIM

Kabupaten Teluk Bintuni sudah memperlihatkan dukungan terhadap Nawa Cita Pemerintah dengan membangun Pusat Pelatihan Teknik Industri Migas

Image
Ekonomi

Rupiah Kelimpungan Bukit Asam Justru Senang

PTBA mengatakan pelemahan rupiah memberikan dampak poaitif terhadap pendapatan perseroan.

Available

trending topics

Available

terpopuler

  1. Harga Meroket Gila-gilaan, Pedagang Ayam di Temanggung Mogok Jualan

  2. Perubahan Sistem Elektronik, 79 Stasiun KRL Berlakukan Tiket Kertas

  3. Pemkab Kuantan Singingi Harapkan Harga Karet Naik

  4. Semua Pabrik CPO Mukomuko Langgar Aturan Harga TBS

  5. Harga Makin Tinggi, Pedagang Ayam di Magelang Memilih Tak Berjualan

  6. Uang Elektronik dan KMT Belum Bisa Digunakan, Siap-siap Antrean 'Mengular'

  7. Pengusaha Tolak Beli Sawit Sesuai Ketetapan Pemerintah

  8. Antrean Mengular 500 Meter Sejak Subuh, Penumpang KRL Pilih Pulang

  9. Peningkatan Koperasi dan UMKM Dinilai Mampu Kurangi Kesenjangan

  10. KCI Imbau Pengguna KRL Siapkan Uang Pas Rp3.000 untuk Tiket

Available

fokus

Idul Fitri 2018
Mudik Lebaran 2018
Piala Dunia Rusia 2018
Available

kolom

Image
Dradjad Hari Wibowo

Tidak Ada Perang Dagang dengan AS

Image
Denny Iswanto

Harga Mahal dari Sebuah Libur Panjang

Image
Denny Iswanto

'Superioritas' Asia di Perhelatan Piala Dunia

Image
Dita Nurul Aini

Optimisme Ditengah Badai yang Melanda Rupiah

Available

Wawancara

Image
Ekonomi

Investasi itu Perlu Waktu Hingga Menghasilkan, Jangan Buntung Karena 'si Bodong'

Image
Ekonomi

Catatan Awal Tahun BUMN

Image
Ekonomi

UMKM Naik Kelas, Bisnis Penjaminan Makin Maju

Sosok

Image
Ekonomi

Membedah Kisah Hidup Anak Petani yang Ingin Bangun Perekonomian Indonesia

Image
Ekonomi

Sah Jadi Dirut BEI, Ini Ambisi Inarno Djajadi

Image
Ekonomi

Perry Tunjukkan Komitmen BI yang Pro Stability dan Pro Growth