Akurat.co - Cepat Tepat Benar
Login / Sign Up
Image

Mukhamad Misbakhun

Anggota Komisi XI DPR RI M. Misbakhun

Ketidakpercayaan Yang Dipercaya

Image

Anggota DPR RI Komisi XI Mukhamad Misbakhun saat menjadi pembicara pada acara diskusi | AKURAT.CO/Abdul Aziz Prastowo

AKURAT.CO Ada pertanyaan yang sangat mendasar dan menarik untuk menjadi bahan perenungan sehingga menjadi proses pembelajaran dari sisi kebijakan publik. Kenapa beberapa pengaturan di Kemenkeu di respons negatif oleh media dan masyarakat sehingga diberikan tone pemberitaan yang negatif.

Contoh paling sederhana aturan PMK yang mengatur kembali soal pengenaan PPN pada token listrik dan pulsa yang sebelumnya sudah ada dan sifatnya hanya pengaturan kembali tanpa ada tarif baru atau obyek baru atau subyek pajak baru tapi direspon dengan negatif. Kejadian ini bukan pertama kalinya terjadi. Sebelumnya, soal pengenaan PPN pada market place digital.

Sifat PMKnya hanya pengaturan kembali juga mengalami respon yang sama yaitu respon yang negatif dari media dan masyarakat. Sebelumnya lagi, ketika keluar aturan PMK soal Wajib Pajak yang pada saat diperiksa pajak tidak memberikan datanya maka DJP bisa menetapkan besaran pajak terutang dengan menggunakan penetapan sesuai kewenangan yang dimilikinya sesuai aturan. Juga direspon sangat negatif oleh media dan masyarakat.

baca juga:

Bahkan dalam kasus ini presiden sampai memanggil dirjen pajak langsung ke istana untuk menjelaskan permasalahan ini. Pajak memang hal yang tidak populer tapi masyarakat tahu pajak bahwa pajak adalah bagian kewajiban mereka dalam hidup bernegara dan berkontrak sosial karena pajak memberikan manfaat yang secara tidak langsung dirasakan oleh semua warga negera dalam kehidupan nya sehari-hari.

Jalanan yang bagus, listrik yang menyala 24 jam, telekomunikasi bisa ON 24 jam, pendidikan disubsidi, pasokan bahan bakar terpenuhi dengan merata dan harganya terjangkau, rumah sakit dan pelayanan kesehatan bisa dirasakan semua lapisan masyarakat, pemerintahan berjalan dari pusat sampai ke daerah bahkan pelosok dirasakan kehadirannya.

Sementara gaji dokter, bidan, perawat, polisi, TNI, guru, dosen, menteri, anggota DPR, aparatur sipil negara semuanya bersumber dari pajaknya rakyat. Bantuan sosial yang masif saat Covid-19 ini juga berasal dari pajaknya rakyat termasuk sebagian dari pembelian vaksin Covid-19 yang diberikan gratis untuk seluruh rakyat Indonesia.

Itu semua hanya sebagian dari manfaat dan penggunaan pajak bagi peradaban manusia. Bagi kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini. Kembali lagi, kenapa respons dari masyarakat dan media begitu negatif setiap aturan pajak baru yang keluar dari pemerintah walaupun itu tidak ada tarif baru, obyek pajak baru ataupun subyek pajak baru hanya regulasi yang mengatur ulang aturan sesuai perkembangan dan keadaan jaman? Ini respons ketidakpercayaan pada siapa? Padahal Kemenkeu dipimpin oleh Menteri Keuangan yang reputasi sudah diakui secara global.

Setiap bicara di DPR dan saya hadir, Menkeu selalu juga bicara tiga hal yang selalu serangkai yaitu tata kelola, integritas dan good governance. Tiga kalimat mantra yang jelas arahnya yaitu membangun kepercayaan publik.

Tapi kenapa ketika mengatur soal aturan pajak respon nya jauh dari rasa dipercaya untuk mendapatkan kepercayaan itu. Ada ambiguitas apa yang sedang terjadi di masyarakat soal kepercayaan ini? Sehingga masyarakat terkesan mendua soal respon mereka kepada Menteri Keuangan.

Editor: Denny Iswanto

berita terkait

Image

News

Kemenko PMK Soroti Pembebasan Lahan Untuk PON Papua

Image

Ekonomi

Faisal Basri: Penurunan Rasio Pajak RI Terparah, 8 Tahun Berturut-turut!

Image

News

DPR RI

Wakil Ketua DPR Dukung KPK Usut Dugaan Korupsi di Ditjen Pajak Kemenkeu

Image

Ekonomi

Menperin Ajak Pelaku Industri Otomotif Sukseskan Diskon PPnBM

Image

Ekonomi

BI Catat Cadangan Devisa Februari Sebesar US$138,8 Miliar

Image

News

Ini Nama Pejabat Ditjen Pajak yang Ditetapkan Tersangka Kasus Suap dan Gratifikasi

Image

Ekonomi

Perhatikan 4 Hal Ini Jika Kamu Ingin Kredit Mobil Pertama Kali

Image

Ekonomi

Cara Bank DKI Tingkatkan Animo Masyarakat Bayar Pajak Via Aplikasi

Image

Ekonomi

Sri Mulyani: Insentif Kepabeanan Sangat Berperan Percepat Penanganan Covid-19

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
Ekonomi

KKP Gandeng Pemprov Sulut Perkuat Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan

KKP menggandeng Pemprov Sulut untuk memperkuat pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan di wilayah tersebut.

Image
Ekonomi

Mentan Dorong Pengembangan Agrowisata Buah di Berbagai Daerah

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) mendorong pengembangan agrowisata buah di berbagai daerah dengan membudidayakan buah lokal.

Image
Ekonomi

Pupuk Indonesia Siapkan Stok Pupuk Bersubsidi 4 Kali Lipat di Sulawesi Selatan

Pupuk Indonesia memperkuat stok pupuk bersubsidi sebanyak 108.592 ton di gudang-gudang lini III di Provinsi Sulawesi Selatan.

Image
Ekonomi

Sentil Perbankan, Bahlil Minta Ekuitas 30% untuk Bangun Smelter

BKPM: Perbankan masih belum berpihak kepada pengusaha lokal yang bergerak di sektor pertambangan.

Image
Ekonomi

IGJ: Seruan Benci Produk Asing Tak Diiringi Kebijakan Konsisten

IGJ menilai pernyataan Presiden Joko Widodo soal Anti Produk Luar Negeri tak diiringi dengan bentuk aturan dan kebijakan yang konsisten.

Image
Ekonomi

Bendungan Sindang Heula Mampu Pasok Kebutuhan Air di Daerah Industri

Bendungan Sindang Heula mampu menyediakan kebutuhan air baku bagi daerah industri.

Image
Ekonomi

Menaker Ingin Tingkatkan Kompetensi SDM Industri Pengolahan Logam Berat

Kementerian Ketenagakerjaan menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (PT IWIP).

Image
Ekonomi

Menaker Ida: Kalau BLK Cuma Lahirkan Pengangguran, Tutup Saja!

Menaker Ida Fauziyah mengingatkan pengelola Balai Latihan Kerja (BLK) di pusat dan daerah agar dapat menjawab kebutuhan tenaga kerja.

Image
Ekonomi

Menhub Tinjau Titik Lokasi Pembangunan Stasiun Jatake

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi meninjau titik lokasi rencana pembangunan Stasiun Kereta Api Jatake, Kabupaten Tangerang, Banten.

Image
Ekonomi

Sri Mulyani: Perkembangan Teknologi Beri Kesempatan Difabel Berkarya

Perkembangan teknologi digital yang pesat pada pandemi Covid-19 justru memberikan kesempatan kepada kaum tuli untuk berkarya dan bekerja.

terpopuler

  1. Ramai KLB Demokrat, Akun Anas Urbaningrum Bagikan Foto saat Makan Durian

  2. Polres Jakpus Tangkap Preman yang Kuasai Rumah Orang Lain di Kemayoran

  3. 6 Mobil SUV Mewah Cuma Rp70 Juta, Tampang Gahar dan Mesin Bandel

  4. Baru Diangkat oleh Militer, Duta Besar Myanmar untuk PBB Langsung Mengundurkan Diri

  5. Saking Malunya, SBY Sampai Minta Ampun ke Allah Karena Pernah Tunjuk Moeldoko Jadi Panglima TNI

  6. Pengamat Sebut KLB Demokrat untuk Muluskan Agenda Terselubung Moeldoko

  7. Komisioner KPU Banjar Temukan Pemalsuan Dokumen Pilgub Kalsel

  8. Jualan Ikan Pakai Desain Caleg, Warganet: S3 Marketing!

  9. Program Warisan Jokowi-Ahok Telan Anggaran Besar, Wagub DKI: Rp5 T Hanya untuk Normalisasi Ciliwung

  10. Kamala Harris Telepon Netanyahu, Bela Israel dari Tudingan Kejahatan Perang di Palestina

fokus

Mendorong Pemerataan Ekonomi Secara Digital
Kaleidoskop 2020
Akurat Solusi: Kenaikan Cukai Tembakau
Lawan Covid-19

kolom

Image
Ali Zulfugaroghlu, Elnur Elturk

Genosida Khojaly: Kejahatan Terhadap Kemanusiaan

Image
Ujang Komarudin

Takut Mengkritik

Image
Roosdinal Salim

Mimpi atau Realistis Mencapai 20.000 Kampung Iklim di 2024?

Image
Poetra Adi Soerjo

Pemuda Sumbawa Akui Pemikiran Prof Din Syamsuddin Radikal

Wawancara

Image
Video

Akurat Talk

VIDEO Duh! Laki-laki Sering Jadi Tersangka Toxic di Hubungan, Padahal Mah… | Akurat Talk (3/3)

Image
Video

Akurat Talk

VIDEO Hubungan yang Tidak Sehat Bisa 'Disembuhkan' | Akurat Talk (2/3)

Image
Video

Akurat Talk

VIDEO Toxic Relationship: Ini Salah Aku atau Dia? | Akurat Talk (1/3)

Sosok

Image
News

5 Fakta Anas Urbaningrum, Jabat Ketum Partai Demokrat hingga Terjerat Korupsi

Image
News

5 Fakta Menarik Said Aqil Siroj yang Ditunjuk Jadi Komisaris Utama PT KAI

Image
News

Sederhana! Begini Penampakan Kamar Belva Devara yang Jauh dari Kemewahan