Akurat.co - Cepat Tepat Benar
Login / Sign Up

Tuman, 8 Alasan Mengapa Gaji Bulanan Selalu Kurang!

Atikah Umiyani

Tuman, 8 Alasan Mengapa Gaji Bulanan Selalu Kurang!

Ilustrasi dompet kosong | BBC.COM

AKURAT.CO, Siapa pun orangnya, pasti menginginkan gaji yang besar. Sehingga bisa memenuhi kebutuhan dan juga semua keinginan.

Namun apakah Anda juga pernah bahkan sering mendengar keluhan di sekeliling Anda bahwa gaji yang diterima tiap bulan tidak pernah cukup, bahkan hanya pas untuk membiayai kebutuhan pokok saja.

Bahkan lebih ironis lagi ketika sebagian orang yang punya pekerjaan tetap namun masih harus “nombok” alias berutang kiri-kanan untuk memenuhi kebutuhan tak jarang terjadi. Padahal gaji pas-pasan sekalipun sejatinya tidak sepenuhnya benar untuk dalih sulit mencukupi kebutuhan pokok. Terlebih lagi beranggapan bahwa kebutuhan hidup cukup sulit dipenuhi selama hanya jadi karyawan.

baca juga:

Sebab jika dipelajari lebih dalam dengan melakukan pengaturan keuangan dengan baik, menjadi karyawan juga bisa kok untuk menutup kebutuhan, dan bisa menabung dengan baik. Bahkan sebenarnya dengan pendapatan yang tetap itu, maka perencanaan keuangan pun lebih mudah pengaturannya.

Maka dari itu, cobalah untuk menghindari beberapa alasan yang membuat gaji terasa selalu kurang, dan kenali penyebabnya. Dilansir dari Cermati.com, berikut penyebab kenapa gaji bulanan Anda selalu terasa kurang :

1. Gaya Hidup Hedon 

Gaya hidup hedonisme memang identik dengan konsumtif. Perilaku yang suka menghambur-hamburkan uang alias boros ini tak lepas dari sifat konsumtifnya akan segala hal yang diinginkan, tanpa berpikir panjang. Sikap konsumtif sudah pasti bertolak belakang dengan produktif. Maka berapapun uang yang ada, tidak akan pernah cukup bila kita memiliki gaya hidup yang ‘hedon’ ini.

Gaya hidup ini seringkali tidak memperhatikan mana yang prioritas dan mana yang tidak. Asal ingin memiliki suatu barang atau sekedar mengikuti tren yang ada, tanpa berpikir panjang, semuanya dibeli. Menghabiskan waktu setiap ada kesempatan untuk cuci mata di mall dan memanjakan diri dengan produk-produk yang sebenarnya tidak dibutuhkan akan menguras cepat menguras dompet dengan cepat.

Tahukah Anda, wisata kuliner yang berlebihan itu pun sebenarnya juga gaya hidup ‘hedon’. Sebab harga jual makanan itu pun umumnya tidak semurah bila kita membeli bahan-bahan makanan untuk memasak sendiri. Satu porsi untuk sekali makan saja, harganya bisa puluhan ribu. Belum lagi di tempat-tempat yang dibilang prestisius.

Demi mengejar dan menikmati kesenangan dari materi sebagai tujuan utama dalam hidup ini adalah yang sebenarnya bisa membuat berapa pun gaji diterima akan terasa kurang terus. Jadi, bijaklah membelanjakan uang Anda dengan tidak membeli barang yang tidak perlu. Jauhkan dari hanya sekedar ‘ingin’ ketika pergi ke pusat perbelanjaan dan tempat-tempat kuliner.

2. Kebiasaan Merokok dan Minum Alkohol 

Musuh pertama dari sikap hidup hemat adalah gaya hidup kita sendiri. Salah satu gaya hidup orang yang sebenarnya buruk dan jelas berdampak langsung bagi kesehatan adalah kebiasaan merokok. Setidaknya bila masih terus hendak memelihara kebiasaan merokok maka perhatikan hitungan berikut ini :

1 bungkus rokok : Rp20.000

1 Minggu : 7 bungkus x Rp20.000 = Rp140.000

1 Bulan : 30 bungkus  x Rp20.000 = Rp600.000

1 Tahun : 365 bungkus rokok  x Rp20.000 = Rp7.300.000

Perhitungan ini adalah asumsi dasar bahwa dalam sehari, seorang perokok bisa menghabiskan satu bungkus rokok. Kelihatannya mungkin kecil tapi pada dasarnya ini sama saja dengan 20 % dari gaji perbulan yang didapatkan, dengan asumsi gaji adalah Rp3.000.000 per bulan. Tentu kalkulasi ini terus bertambah bila jumlah bungkus rokok yang dihabiskan lebih banyak. Ini hanya satu kebiasaan buruk saja, bayangkan bila ditambah dengan kebiasaan buruk lainnya.

Begitu juga dengan kebiasaan mengonsumsi minuman alkohol. Selain dampaknya yang buruk bagi kesehatan yang ujung-ujungnya juga bisa menelan biaya perawatan dan pengobatan apabila mengidap suatu penyakit akibat minuman ini, alkohol juga dikenal dengan harganya yang tidak semurah minuman ringan.

3. Tidak Bisa Membedakan Mana Irit dan Mana yang Pelit

“Jangan sampai mau untung malah buntung”, ada yang bilang demikian. Terkadang sikap demikan kerap terjadi. Maksudnya ingin irit, malahan terkesan pelit yang ujung-ujungnya jadi rugi lebih banyak.

Sebagai contoh adalah kasus parkir liar, karena orang enggan membayar lebih mahal untuk parkir resmi. Kelihatannya memang murah, karena hanya 2000 sekali parkir, tapi bila dikalikan tentu bisa jadi besar. Ini hanya dari segi biaya parkirnya, yang tidak kelihatan justru adalah risikonya, karena bisa jadi mobil terserempet kendaraan lain, tertabrak, dan yang lebih parah adalah hilang karena dicuri.

4. Obsesi Mengejar "Obral" dan Diskon

Hal lain yang juga perlu dikenali gemar mencari barang-barang yang diobral murah atau potongan harga dengan model diskon. Ini memang memberikan keuntungan bila barang yang sedang didiskon tersebut memang produk yang dibutuhkan.

Namun kebiasaan mengejar diskon ini juga tak selalu baik. Sebab akan mendorong untuk membeli barang tersebut meski sebenarnya tidak diperlukan. Terlebih lagi bia menjadi tergiur untuk membeli dengan jumlah yang banyak.

Dan yang perlu diperhatikan lagi, sesungguhnya harga-harga barang yang didiskon itu tidak selalu benar-benar murah. Tidak sedikit pula sebenarnya harga tersebut sudah dinaikkan terlebih dahulu baru dibanderol dengan label diskon sekian persen, hanya untuk menarik keinginan konsumen untuk membelinya.

Bagaimanapun juga model diskon juga kerap sebagai strategi marketing saja. Memanfaatkan efek psikologis orang untuk tidak enggan membelanjakan uangnya. Jadi cermat dalam melihat promo-promo sangat penting agar tak sekedar tergoda dengan promo semu yang ditawarkan. Sebab barang diskon dari cuci gudang terkadang jumlahnya terbatas, ada kemungkinan mendapatkan yang berkualitas rendah.

5. Tidak Paham Layanan Keuangan

Data dari World Bank menunjukan bahwa 49 persen masyarakat Indonesia masih belum tersentuh dan tidak mengerti pentingnya layanan finansial perbankan. Alasannya pun bermacam-macam, 79 persen mengatakan tidak memiliki layanan perbankan, termasuk juga tentunya rekening bank, dan sisanya mengatakan alasan lain-lain, termasuk tidak merasa mendapat manfaat dari menabung, tidak punya pekerjaan tetap sehingga perlu rekening sebagai sarana pay roll dari bank dan sejenisnya.

Ini tentu mengejutkan, karena dengan demikian maka ada kemungkinan banyak masyarakat yang belum melek terhadap pentingnya layanan finansial. Padahal memahami adanya layanan finansial ini memberikan banyak manfaat sebagai pengelola keuangan lebih baik.

6. Selalu Defisit? 

Defisit keuangan terjadi ketika pendapatan tidak sebesar pengeluaran. Peribahasa ‘besar pasak daripada tiang’ ini merupakan bencana keuangan. Bagaimana tidak? Sebab pendapatan yang diperoleh setiap bulannya ternyata tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok dan masih harus mencari pinjaman sana-sini untuk menutupnya.

Gaji bulanan pun seolah hanya numpan lewat saja. Padahal kebutuhan untuk masa depan sangat penting untuk dipersiapkan dari sebelumnya. Untuk itu bijak menggunakan pendapatan dan cermat dalam membelanjaan sangat penting diperhatikan bila tidak ingin hanya ‘gali lobang tutup lobang, pinjam uang tutup utang’.

7. Enggan Buat Anggaran Perbulan dan Tak Sadari Pentingnya Investasi

Meski layanan investasi dan panduan dalam membuat anggaran bulanan sudah banyak ditemukan, namun nyatanya tidak sedikit yang masih belum memanfaatkannya. Padahal dengan membuat pos anggaran per bulan dengan baik, maka akan melatih diri untuk disiplin dan bijak menggunakan penghasilan.

Begitu juga dengan investasi, tak sedikit orang masih menganggap bahwa menabung saja sudah cukup, padahal ada faktor lain seperti misalnya inflasi dan gangguan finansial makro lainnya. Dengan memanfaatkan layanan investasi artinya kita memutar uang kita untuk lebih berkembang dan mendapatkan untung lebih.

Sehingga uang tidak hanya berdiam di dalam dompet atau di bawah bantal saja, tapi dimanfaatkan untuk memperoleh return yang tinggi. Tentu yang harus diperhatikan juga adalah memilih instrumen investasi yang baik dan aman serta nyaman sesuai keinginan.

8. Menganggap Sepele Asuransi

Jangan sekali-kali menyepelekan pentingnya memiliki asuransi, baik kesehatan maupun asuransi jiwa. Tentu hidup aman-aman saja dan terhindar dari sakit dan penyakit itu harapan semua orang. Namun kita tidak pernah tahu kapan sakit atau bencana itu datang menghampiri. Sudah pasti mengantisipasi atau mempersiapkan diri dengan segala kemungkinan itu penting daripada tidak sama sekali.

Bisa dibayangkan ketika ketika sakit, biaya perawatan dan pengobatan tidaklah murah. Bila memiliki asuransi, maka beban tagihan itu bisa dilindungi oleh asuransi. Bila tidak, bisa-bisa seluruh harta benda dijual hanya untuk biaya pengobatan.

9. Punya Terlalu Banyak Kartu Kredit dan Minim Bayar Tagihan

Punya kartu kredit sebenarnya adalah keuntungan, asal tau cara mengelola dengan benar. Bila tidak, maka akan jadi bencana keuangan, apalagi bila sudah sukses aplikasi kartu kredit yang pertama. Selanjutnya bisa kecanduan dengan kemudahannya, dan akhirnya terus mengajukan hingga terlalu banyak pegang kartu kredit.

Sementara itu, kemampuan membayar tagihan kartu kredit hanya sampai batas jumlah minimum, tidak termasuk bunga cicilan tagihan kartu kreditnya. Padahal yang demikian akan memperparah keuangan. Pasalnya, bila belum lunas tagihan di bulan sebelumnya akan diakumulasikan di bulan berikutnya. Semakin menunggak maka semakin besar pula bunga yang harus dibayarkan. Nah, kebayang kan bila jumlah kartu kreditnya banyak?

Gaji akan Cukup dengan Cermat Mengelola Keuangan

Setiap bulan, selalu saja merasa gaji yang diterima tidak pernah cukup untuk memenuhi kebutuhan. Jika gaji kecil, tampaknya wajar saja bila banyak hal yang tidak bisa dipenuhi. Alih-alih bisa merasa sejahtera, tidak mengalami defisit dan ‘gali lubang tutup lubang’ saja sudah untung.

Namun berbeda halnya bila sebenarnya gaji yang diterima sudah cukup lumayan, terlebih lagi bila jumlahnya besar. Selain bisa memenuhi kebutuhan pokok, tentunya juga ada uang lebih untuk sesuatu yang lain. Tak jarang meski gaji sudah besar, tapi rasanya tetap saja kekurangan uang menjelang akhir bulan. Nah, kondisi seperti ini menunjukkan bahwa ada yang salah dalam pengelolaan keuangan Anda.

Bijak dalam mengelola keuangan pribadi dengan tahu alasan-alasan di atas adalah sumber dari kecukupan keuangan dari gaji setiap bulannya. Selain itu, juga akan menghindarkan diri dari stres yang mengganggu kesehatan yang ujungnya akan mengganggu keuangan bisa sakit.

Untuk itu mulailah dengan cermat menggunakan gaji bulanan Anda bila tidak ingin selalu kesulitan tiap akhir bulan. Sehingga gaji bulanan pun akan terasa menjadi suatu hal yang patut disyukuri.[]

Editor: Prabawati Sriningrum

berita terkait

Image

Ekonomi

DPR RI

Anggota DPR Ini Akui Industri Keuangan Jadi Obat Dalam Perekonomian

Image

Ekonomi

Hati-hati Modus Phishing, Begini Tips Menghindarinya!

Image

Ekonomi

Menko Airlangga: 15 KEK Jadi Daya Tarik Investor Asing Berinvestasi ke RI

Image

Ekonomi

RI Miliki Banyak Potensi Investasi Dibandingkan Vietnam

Image

Ekonomi

Maraknya Kasus Gagal Bayar Asuransi, Buat Masyarakat Merasa Terpecundangi!

Image

Ekonomi

DPR RI

Komisi XI DPR Ungkap Penyebab Kasus Gagal Bayar Asuransi Marak di Indonesia!

Image

News

Kementan Ajak Petani Sikka Manfaatkan Asuransi

Image

Ekonomi

Akhirnya, Subsidi Gaji Tahap IV Cair ke 2,8 Juta Pekerja

Image

News

Eks Petinggi Jiwasraya Dituntut 18 Tahun Penjara

komentar

Image

1 komentar

Image
suki yaki

Hanya perlu modal dikit aja kita bisa jadi kaya, gimana caranya yaa...??? buruan dech ke qqharian bikin hati senang kondisi dompetpun tenang.... TAPI jangan lupa join now, kalo mau cepat ikutan kaya...

terkini

Image
Ekonomi

TPPI Kembangkan Proyek Revamping Kilang Senilai US$180 Juta

TPPI langsung tancap gas mengembangkan Proyek Revamping Platforming dan Aromatik senilai US$180 juta.

Image
Ekonomi

2 BUMN Kerjasama Bangun Dermaga di Pelabuhan Tarakan

Pelindo IV dan Nindya Karya kerja sama bangun dermaga 200 x 25 meter persegi beserta CC di Pelabuhan Tarakan

Image
Ekonomi

BNI dan Jenius Kolaborasi Permudah Transaksi Nontunai

BNI dan Jenius bekerjasama lengkapi layanan guna memudahkan transaksi nasabah dan pengguna

Image
Ekonomi
DPR RI

Anggota DPR Ini Akui Industri Keuangan Jadi Obat Dalam Perekonomian

Anggota Komisi XI DPR RI Anis Byarwati mengatakan peran industri keuangan, termasuk asuransi memiliki peran besar dalam perekonomian

Image
Ekonomi

BUMN Salurkan Program Kemitraan UMKM Capai Rp563 Miliar

Kementerian BUMN salurkan program kemitraan bagi UMKM sebesar Rp563 miliar selama semester I 2020

Image
Ekonomi

Hati-hati Modus Phishing, Begini Tips Menghindarinya!

Teknologi digital diiringi dengan meningkatnya risiko penyalahgunaan data tersebut, salah satu modus tindak kejahatan marak terjadi phishing

Image
Ekonomi

Menko Airlangga: 15 KEK Jadi Daya Tarik Investor Asing Berinvestasi ke RI

Airlangga Hartarto: 15 KEK yang menjadi peluang Indonesia untuk menarik investor asing berinvestasi ke Indonesia.

Image
Ekonomi

Mendag: Ekosistem Logistik Nasional Percepat Ekspor Impor

Menteri Perdagangan Agus Suparmanto mengatakan Ekosistem Logistik Nasional dinilai akan dapat mempercepat kegiatan ekspor dan impor

Image
Ekonomi

RI Miliki Banyak Potensi Investasi Dibandingkan Vietnam

Kemenko Perekonomian: Indonesia lebih banyak memiliki potensi sebagai tempat berinvestasi dibandingkan dengan Vietnam.

Image
Ekonomi

Menko Airlangga: RI Telah Gunakan Paradigma Ekonomi Baru untuk Pulihkan Ekonomi

Pemerintah telah memformulasikan langkah akselerasi pemulihan ekonomi melalui adaptasi paradigma ekonomi baru.

terpopuler

  1. Indonesia Resesi, Ferdinand Hutahaean: Negara Super Kaya Lebih Dahulu Zona Resesi!

  2. JK: Indonesia Bakal Hadapi Puncak Hujan Sekaligus Puncak Pandemi Pada Masa Pencoblosan Pilkada

  3. 5 Potret Harmonis Tantowi Yahya dan Istri, Tetap Kompak di Usia Pernikahan Ke-31 Tahun

  4. Amalan dan Doa Ketika Memasak, Agar Makanan Menjadi Lezat

  5. Takut TikTok dan WeChat Diblokir, Warga AS Ramai-ramai Gunakan VPN

  6. Kisah Sahabat Nabi Terkaya yang Selalu Menangis Karena Hartanya

  7. Ogah Cabut Laporan untuk Angel Lelga, Vicky Prasetyo: Ini Kehormatan Keluarga

  8. Kondisi Pasar Cempaka Putih Memprihatinkan, Ketua Koperasi: Anies Baswedan Mana Ngerti

  9. Azyumardi Azra Ogah Nyoblos di Pilkada, Politisi PDIP: Tak Semua Tokoh Patut Dicontoh

  10. Cerita Pasien Covid-19 Soal Fasilitas di Wisma Atlet: Kamarnya Nyaman, Ber AC  

fokus

Akurat Solusi : Roadmap IHT
Webinar Akurat: Resesi Ekonomi
Tokopedia Dorong Digitalisasi UMKM dan Inklusi Keuangan

kolom

Image
Arif Hidayat

3 Cara untuk Anda Bisa Menjadi Karyawan Terbaik

Image
Muhtar S. Syihabuddin

Jalan Berliku Politik Gus Ami

Image
Achsanul Qosasi

Kerjasama Tim, Inkonsistensi Kebijakan dan Covid-19

Image
Khalifah Al Kays Yusuf dan Tim Riset ALSA

Dampak Kebijakan PSBB Terhadap Hak Pekerja

Wawancara

Image
Iptek

Saat Dominasi Kontraktor Besar Masih Kejam

Image
Video

Akurat Talk

VIDEO Fahri Hamzah: Saya Dari Kecil Jualan Kopi | Akurat Talk (2/2)

Image
Video

Akurat Talk

VIDEO Ngomongin Hobi Sampai Harga Outfit Fahri Hamzah | Akurat Talk (1/2)

Sosok

Image
News

5 Gaya Kasual Najwa Shihab saat Jadi Host, Kece Abis!

Image
News

5 Potret Harmonis Tantowi Yahya dan Istri, Tetap Kompak di Usia Pernikahan Ke-31 Tahun

Image
News

5 Potret Mentan Syahrul Yasin Limpo Jalankan Tugas, Ikut Bajak Sawah hingga Tanam Bawang