image Banner Idul Fitri
Login / Sign Up

Tak Semua Anggota DPR Setuju Usulan Cetak Uang, Mengapa?

Prabawati Sriningrum

Wabah Corona

Image

Suasana Rapat Paripurna ke-4 DPR RI masa persidangan I tahun sidang 2019-2020 di Kompleks Parlemen MPR/DPR-DPD, Senayan, Jakarta, Selasa (27/8/2019). Rapat Paripurna ini membahas penyampaian pidato Menteri Keuangan Sri Mulyani mengenai tanggapan Pemerintah terhadap pandangan fraksi-fraksi DPR terkait RUU tentangg Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun anggaran 2020 beserta nota keuangannya. | AKURAT.CO/Sopian

AKURAT.CO Awal Januari 2020 masyarakat dan para pemimpin dunia tertegun melihat muncul dan berkembangnya virus Corona atau COVID-19 di Wuhan, China. Alhasil tatkala COVID-19 telah menyebar di beberapa wilayah barulah para pemimpin tersentak, dengan reaksi yang berbeda-beda termasuk di Indonesia.

Anggota Komisi XI DPR RI Ramson Siagian menyatakan respons awal para pemimpin dan masyarakat di berbagai negara di dunia atas merebaknya COVID-19, secara bertahap berupaya melakukan berbagai tindakan pencegahan mulai dari sisi disiplin pemahaman kesehatan (mungkin tidak sedikit yang terlambat) hingga bertahap melakukan lockdown di wilayah-wilayah tertentu di negara masing masing.  Sejak awal  Maret 2020, Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) memberikan respons terhadap ganasnya COVID-19.

Kendati, pada proses awalnya tidak sedikit yang membingungkan masyarakat. Adapun upaya Pemerintah untuk mencegah penyebaran COVID-19 secara bertahap antara lain dengan melakukan lockdown di wilayah wilayah tertentu di Indonesia yang disebut PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Bersamaan dengan berprosesnya respons dari sisi disiplin pemahaman kesehatan, selanjutnya juga berkembang respons dari sisi pemahaman ekonomi seiring dengan perkembangan realitas dampak ekonomi COVID-19 sangat cepat. 

baca juga:

Menteri Keuangan, OJK, BI, Kadin, juga para anggota DPR RI ikut memberikan respon terbuka. Ada yang  memberikan respons kepanikan dengan berbagai kekhawatiran dampak ekonomi COVID-19 yang berpotensi terjadinya resesi.

"Malah ada yang mengemukakan perlunya melakukan Quantitative Easing dengan mencetak uang sekitar ribuan triliunan rupiah karena diasumsikan berpotensi terjadi resesi ekonomi dan menyebut-nyebut sebagai contoh resesi ekonomi  di  USA (Amerika Serikat) pada sekitar 1930-an," tutur Ramson Siagian dalam rilisnya di Jakarta, Jumat (22/5/2020).

Ramson menyebutkan memang sekitar pada 1930-an terjadi great depression di Amerika Serikat  dan bertahap dapat diatasi pada zaman Pemerintahan Presiden Franklin Roosevelt yang didukung oleh teori teori pemikir ekonomi John Maynard Keynes. Selesainya reses DPR RI pada pertengahan Maret 2020, Komisi XI DPR RI pun secara resmi memberikan respons dengan segera melakukan rapat-rapat virtual dengan Menteri Keuangan, Gubernur BI, OJK, LPS juga BPS, dan juga dengan perbankan, serta Kadin, dan lain lain yang terkait.

Pada rapat-rapat virtual dengan Komisi XI DPR RI, Menteri Keuangan antara lain menjelaskan untuk mencegah agar krisis ekonomi dan keuangan tidak terlalu mendalam sebagai akibat dampak COVID-19, maka Pemerintah memberikan stimulus ke-3 (istilah Menkeu) dengan anggaran sebesar sekitar Rp405,1 triliun. Perincian anggaran stimulus tersebut, untuk kesehatan Rp75 triliun, dukungan industri Rp70,1 triliun, dukungan dunia usaha Rp150 triliun, dan untuk social safety net Rp110 triliun (terdiri dari jaring pengaman sosial Rp65 triliun, cadangan pemenuhan pokok dan operasi pasar/logistik Rp25 triliun dan penyesuaian anggaran pendidikan untuk penanganan COVID-19 Rp20 trilun). 

Total stimulus sekitar Rp 405,1 triliun atau sekitar 2,5% dari PDB. Sekaligus Menkeu juga menjelaskan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2020 dengan skenario berat sekitar 2,3% dan skenario sangat berat sekitar -0,4% atau minus 0,4%. 

Menurutnya dalam proses rapat-rapat virtual tersebut, memang timbul berbagai kekhawatiran akan kelanjutan ekonomi nasional. Ada anggota Komisi XI DPR RI dengan berbagai argumentasi yang mendesak agar BI melakukan Quantitative Easing (QE) dengan mencetak uang untuk masuk membeli Surat Utang Negara di pasar primer. 

Di publik juga ada anggota Komisi XI DPR RI dengan mengemukakan perlu segera mencetak uang, ada yang menyebut Rp600 triliun. Ada pula yang mengikuti opini publik yang disampaikan salah satu pimpinan Kadin agar BI melakukan Quantitative Easing dengan mencetak uang sekitar Rp1.600 triliun.

Akan tetapi, lanjutnya, perlu dijelaskan bahwa dalam perdebatan-perdebatan yang terjadi di rapat-rapat virtual antara Komisi XI DPR RI dengan  Menkeu, Gubernur BI dan OJK  tidak semua Anggota Komisi XI DPR RI mendukung upaya mencetak uang ataupun menyebut Quantitative Easing dengan mencetak uang ratusan bahkan ribuan triliunan untuk keperluan stimulus dampak ekonomi COVID-19.

"Saya termasuk yang tegas menolak usulan mencetak uang tersebut, dan memang berkembang argumentasi oleh anggota Komisi XI tertentu seakan- akan kalau “Quantitative Easing” harus melakukan mencetak uang besar-besaran," tegasnya.

Lebih lanjut Ramson Siagian menjelaskan inti dari proses perdebatan di rapat-rapat virtual Komisi XI DPR RI sebagai proses demokrasi sampai hari ini belum pernah ada rekomendasi resmi kepada Bank Indonesia agar melakukan Quantitative Easing dengan mencetak uang. Biarpun tentu ada anggota Komisi XI DPR RI membentuk opini publik mendesak BI melakukan cetak uang. Ini seakan-akan DPR RI Komisi XI DPR RI mengusulkan BI melakukan cetak uang.

Pasalnya, hingga hari ini belum pernah ada kesimpulan rapat-rapat virtual Komisi XI DPR RI dengan Menteri Keuangan, Gubernur BI dan OJK  yang mengusulkan cetak uang kepada Gubernur BI.

"Proses ini perlu diperjelas, terlebih belakangan ini Dr Rizal Ramli dan beberapa ekonom serta pengamat menyampaikan persepsi di publik seakan- akan DPR RI Komisi XI membuat kesimpulan mengusulkan cetak uang kepada Gubernur Bank Indonesia," imbuhnya.

Ramson Siagian mengklaim sebelum munculnya COVID-19 maka untuk merespons perlambatan pertumbuhan ekonomi global dan domestik, dan antara lain atas desakan anggota-anggota Komisi XI DPR RI pada rapat-rapat dengan Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia dan OJK pada bulan November dan Desember  2019,  telah berjalan kombinasi antara  kebijakan moneter dan kebijakan fiskal. 

Bank Indonesia melakukan jalur transmisi penurunan acuan suku bunga secara bertahap dan cukup siknifikan  yang pelaksanaan di perbankan didukung oleh OJK. Dari sisi kebijakan fiskal usulan agar Menteri Keuangan bertahap menurunkan tarif pajak penghasilan dan kemudahan perpajakan.

Kombinasi kebijakan moneter dan kebijakan fiskal tersebut sangat diperlukan untuk merespons potensi perlambatan pertumbuhan ekonomi global dan domestik pada akhir 2019. Ini antara lain untuk  mendorong peningkatan konsumsi masyarakat ataupun domestic consumption di waktu berikutnya  dan di satu sisi mendorong penguatan dari sisi supply.

"Tujuannya, agar produk produk dalam negeri bisa harganya lebih kompetitif dengan menurunnya cost of money. Sehingga ini bisa meningkatkan kemampuan bersaing di pasar domestik dan pasar global (export)," jelasnya.

Mengingat jika terlalu mengandalkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan atau Bansos untuk menjaga pertumbuhan konsumsi domestik, maka akan berdampak peningkatan belanja negara yang terlalu besar dan berpotensi melebarkan defisit fiskal. Sehingga, untuk akhir 2019 kombinasi kebijakan moneter dan kebijakan fiskal tersebut sebagai upaya yang tepat dan  akan efektif untuk menahan potensi perlambatan pertumbuhan ekonomi di tahun berikutnya agar tetap bisa menjaga pertumbuhan ekonomi sekitar di atas 5%. 

Sedangkan guna merespons dampak ekonomi COVID-19, sejak awal Maret 2020 anatomi perekonomian nasional bergeser cepat dengan bertambahnya belanja negara antara lain peningkatan stimulus dampak COVID-19 dan di satu sisi potensi berkurangnya penerimaan negara secara signifikan.  Otomatis defisit fiskal semakin melebar. Menteri Keuangan menyampaikan bahwa defisit fiskal, defisit APBN 2020 akan mencapai Rp  852, 9 triliun  atau sekitar 5% dari PDB.

"Ini jelas akan memerlukan pembiayaan yang besar dan otomatis akan menambah jumlah utang yang besar pula," serunya.

Seperti diketahui, Menteri Keuangan menyampaikan outlook pembiayaan utang pada 2020 yang antara lain untuk peningkatan belanja stimulus dampak COVID-19  serta warisan utang tahun tahun sebelumnya dengan struktur yang disampaikan, meliputi:

Pembiayaan Defisit Rp 852,9 T

Pembiayaan Investasi dll (net) Rp 153,5 T Pembiayaan Utang Neto (1) + (2) Rp1.006,4 T

Utang Jatuh tempo Rp433,4 T

Pembiayaan Utang Bruto (3) + (4) Rp1.439,8 T Sumber Pembiayaan Utang Rp1.439,8 T

1. Penerbitan Pinjaman Rp150,5 T

2. Penerbitan SBN Rp1.289,3 T Dikurangi,

-Realisasi s.d. 31 Maret 2020 Rp 221,4 T

-Program Pemulihan Ekonomi Nasional Rp150,0 T

-Penurunan GWM Pebankan Rp105,0 T

Total SBN Financing Rp812,9 T +spn /S Jatuh Tempo 2020 Rp43,9 T

Penerbitan SBN Q2 s.d Q4 Rp856,8 T

Dari sisi kebijakan moneter dampak ekonomi COVID-19 juga memerlukan penyesuaian yang cepat. Pada sekitar akhir Maret dan awal April 2020 mungkin antara lain dengan merebaknya isu-isu cetak uang respons market cukup memperlemah  posisi rupiah hingga sempat mendekati Rp17.000 per USD.

Tapi dengan berhasilnya pemerintah memperoleh utang dengan menerbitkan obligasi Global Bond sebesar USD 4,3 miliar, dan pada saat bersamaan Bank Indonesia mengupayakan Quantitative Easing dalam bentuk operasi moneter ( bukan mencetak uang) untuk meningkatkan likuiditas  dengan melakukan Pembelian SBN pemerintah dari pasar sekunder Rp166, 2 triliun, Term Repo Perbankan Rp137, 1 triliun, Penurunan GWM Rp53 triliun dan Rp102 triliun, serta tidak mewajibkan tambahan Giro bagi yang tidak memenuhi PLM Rp15,8 triliun.

"Total sebesar Rp503,8 triliun,  serta posisi cadangan devisa yang  membaik, dan upaya kebijakan moneter yang dilakukan Bank Indonesia berhasil memperoleh Repo line dari The Federal Reserve sebesar USD60 milyar,  bersamaan dengan kombinasi tindakan tindakan tersebut posisi rupiah kembali ke posisi sekitar Rp15.000 per USD," pungkasnya.[]

Editor: Denny Iswanto

berita terkait

Image

News

Wabah Corona

Pemerintah akan Terapkan Herd Immunity Setelah PSBB Gagal, Hoaks!

Image

News

Wabah Corona

Info COVID-19 di Indonesia Berakhir 6 Juni, Hoaks!

Image

News

Wabah Corona

Ajakan Jokowi Berdamai dengan Covid-19 Bukan Berarti Negara Gagal dan Menyerah Kalah

Image

News

Wabah Corona

Kapolres Lubuklinggau Makamkan Anggotanya yang Meninggal Berstatus PDP: Kewajiban Seorang Pemimpin

Image

News

Wabah Corona

Roda Ekonomi Harus Tetap Jalan, Berikut Ini Panduan Kemenkes Bekerja di Era New Normal

Image

News

Wabah Corona

Data Warga Positif COVID-19 Seluruh Indonesia Sampai Idulfitri

Image

News

Apresiasi Warga Tak Mudik, KemenPUPR Gandeng Musisi Ciptakan Lagu ‘Anti Mudik’

Image

Iptek

Idulfitri 2020

Hoaks Hoaks yang Mewarnai Pandemi COVID-19 dan Idulfitri Tahun Ini

Image

News

Bertambah 12 Orang, Pasien Sembuh Covid-19 di Kaltim Jadi 117

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
Ekonomi
Perang Dagang

Kapal Minyak Iran Tiba di Perairan Venezuela, AS Berang

Kapal tanker itu, yang disebut Fortune, mencapai perairan Venezuela sekitar pukul 19.40 malam waktu setempat

Image
Ekonomi
Idulfitri 2020

Gelar Griya Virtual, Menperin Ajak Jajarannya dan Asosiasi Industri Bersama-sama Lawan Corona

Di tengah pandemi COVID-19, kita tidak boleh menyerah dan tetap harus semangat menghadapi tantangan ini.

Image
Ekonomi
Idulfitri 2020

Lebaran 2020, Pengguna KRL Anjlok 90 Persen

Volume pengguna kereta rel listrik (KRL) saat pembatasan operasional di hari Lebaran turun 90 persen dibanding hari sebelumnya.

Image
Ekonomi
Wabah Corona

KADIN Gandeng JNM Salurkan Sembako untuk Nelayan Terdampak COVID-19

Nelayan adalah salah satu sektor yang rentan terdampak persebaran pandemic COVID-19.

Image
Ekonomi

Anggota DPR Ini Berharap Pemerintah Beri Stimulus bagi Petani Selama Pandemi COVID-19 

Herman Khaeron menginginkan petani di berbagai daerah dapat diberikan semangat melalui kebijakan stimulus dan bantuan pemerintah.

Image
Ekonomi
Idulfitri 2020

MRT Jakarta Tetap Beroperasi Lho Selama Idulfitri, Cek Jadwalnya di Sini!

Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta menyatakan tetap beroperasi saat Idulfitri.

Image
Ekonomi
Idulfitri 2020

Boleh Dicoba, 3 Hal Ini Bisa Bikin Anda Memanfaatkan THR Lebih Baik

Pada momen Lebaran seperti ini, THR sudah pasti Anda kantongi. Tentu menjadi kabar gembira bagi Anda dan keluarga.

Image
Ekonomi
Idulfitri 2020

H-1 Lebaran, Jasa Marga Catat 465.582 Kendaraan Tinggalkan Jakarta

Pada periode H-7 hingga H-1 Lebaran 2020, Jasa Marga mencatat total 465.582 kendaraan meninggalkan Jakarta melalui Timur, Barat, Selatan.

Image
Ekonomi
Idulfitri 2020

Rizal Ramli Doakan Indonesia Keluar dari Krisis hingga Said Didu Rayakan Lebaran Bersama Tukang Sayur Langganan

Ekonom Senior Rizal Ramli, dalam perayaan lebaran ini mendoakan agar krisis ekonomi, Pandemi Covid 19, dan krisis sosial bisa terselesaikan

Image
Ekonomi
Idulfitri 2020

Kemenhub: Arus Mudik Lebaran Selama Pandemi COVID-19 Berjalan Baik dan Terkendali

Kemenhub menyatakan, pengendalian transportasi khususnya pada hari pertama Idulfitri 1441 H dilaporkan berjalan dengan baik dan terkendali.

terpopuler

  1. Ma’ruf Amin Minta Maaf Covid-19 Belum Hilang, PDIP: Kita Harus Apresiasi, Beliau Tidak Mau Berpolemik di Ruang Publik

  2. Kapolsek Kemayoran Tegur Pengendara Motor: Sana-sana, Jangan Putar Balik di Sini

  3. Tengku Zul: Orang Kaya Arab Borong Saham Facebook, Semoga Tulisan Sinis 'Jangan Pakai Produk Kafir' Bisa Lenyap

  4. 5 Ucapan Idulfitri dari Klub Eropa Ini Bikin Fans Tersentuh

  5. Sebelum Kembali ke Jakarta, Perhatikan Dulu Titik-titik Penyekatan Jalur Balik, Argo: Jangan Sampai Kita Jadi Korban Ya

  6. KKB Tembak Dua Petugas Medis Covid-19, Salah Satunya Tewas di Tempat

  7. Meski Pandemi, 7 Keluarga Artis Ini Rayakan Lebaran di Rumah Saja dengan Sukacita

  8. Ustaz Abdul Rahman: Obat Paling Ampuh Penangkal Virus Corona, Kesabaran dan Iman

  9. Beli Rumah di Usia 21 Tahun, Irsyad Raharjo Ungkap Rahasia Miliki Properti Sejak Dini

  10. Puji Siti Fadilah, Mbah Mijan: Terblow Up-nya Beliau Ancaman Sekaligus PR Berat Mereka Dimasa Mendatang, Selangkah Lagi, Jualan Virus Udah Nggak Pakai Sense

Jamkrindo Lebaran

fokus

Lebaran di Tengah Pandemi
Pulih dengan Terapi Musik
Wabah Corona

kolom

Image
Achmad Fachrudin

Idulfitri Sebagai Instrumen Kritik Sosial

Image
Achsanul Qosasi

Berlebaran Secara New Normal

Image
Ujang Komarudin

Matinya Reformasi

Image
Egy Massadiah

Point Break, Beradaptasi dengan Corona

Wawancara

Image
News

Interview Siti Fadilah, dari Keadaannya di Penjara yang Mengharukan, Blak-blakan Covid-19 sampai Fitnah yang Menyerangnya

Image
News

Interview Rizal Ramli: Indonesia Diberi Berkah Luar Biasa oleh Tuhan, Cuma Kita Harus Punya Visi Mau Ngapain ke Depan

Image
News

Interview Leony Si Driver Ojol Lulus Cum Laude Sampai Raih Beasiswa Ilmu Hukum

Sosok

Image
News

Intip Gaya 6 Istri Kepala Daerah yang Hits Abis!

Image
News

Wabah Corona

Tetap Patuhi Protokol Kesehatan, 7 Potret Prabowo Subianto Bertugas di Tengah Pandemi COVID-19

Image
News

Dari Komandan KRI hingga Jadi KSAL, 5 Fakta Penting Laksdya TNI Yudo Margono