Akurat.co - Cepat Tepat Benar
Login / Sign Up
Image

Siswanto Rusdi

Direktur The National Maritime Institute (Namarin)

Nasib Malang Abadi ABK Kapal Ikan

Kolom

Image

Tangkapan layar dari video MBC yang memperlihatkan kotak orange yang akan dilempar ke laut. | Twitter/kamalbukankemal

AKURAT.CO, Anak Buah Kapal (ABK) kapal ikan warga negara Indonesia kembali membentot perhatian publik. Dalam video yang ditayangkan oleh media Korea Selatan MBC baru-baru ini diperlihatkan footage ketika jenazah pelaut Indonesia yang bekerja di atas kapal ikan berbendera China Long Xin dilarung ke laut. Kendati ini prosedur standar tetap saja publik yang awam dengan tradisi dalam dunia pelayaran menangkap kesan tidak manusiawi tatkala jenazah dilepas ke laut. Emosi massa pun teraduk-aduk.

Dalam khazanah pelayaran internasional, manakala ada kru yang wafat di atas kapal namun kapal tidak memiliki fasilitas pendingin (freezer) untuk penyimpanan jenazah atau untuk sampai ke pelabuhan terdekat memerlukan waktu lebih dari 24 jam, maka pemakaman di laut atau burial at sea menjadi pilihan satu-satunya yang harus dijalankan oleh kapten kapal.

Selain soal pelarungan jenazah yang dinilai tidak manusiawi itu, pelaut Indonesia yang bekerja di atas kapal ikan tersebut juga mengalami perlakuan yang bertentangan dengan Hak Asasi Manusia (HAM). Demikian disampaikan Jang Hansol, seorang Youtuber Korea Selatan yang memviralkan video MBC tadi.

baca juga:

Untuk memudahkan, sebut saja pelanggaran HAM itu adalah perbudakan atau slavery, khususnya perbudakan di laut (sea slavery). Isu inilah yang kini menggelinding kencang di tengah masyarakat menyusul hebohnya video pelarungan jenazah. Ini kali kedua isu perbudakan di laut menjadi topik hangat di tengah khalayak dalam negeri. Sebelumnya, pada 2015, sea slavery menjadi perbincangan media dan analis setelah tertangkapnya kapal ikan Benjina milik PT Benjina Pusaka Resources di Kepulauan Aru, Maluku.

Sayang, kehebohan yang dipantik oleh penangkapan kapal ikan Benjina tidak cukup kuat menggerakan sistem hukum dalam negeri untuk mengakhiri, paling tidak mengurangi, perbudakan di laut yang melibatkan anak bangsa. Apa yang berlaku di atas kapal ikan Long Xin yang melarung jenazah pelaut Indonesia adalah bukti kuatnya. Betul bahwa Menteri Perikanan periode 2014-2019 berhasil membuka praktik busuk di atas kapal Benjina tetapi hal itu tidak cukup.

Sampai periodenya berakhir, sang menteri tidak terdengar, paling tidak oleh saya, memiliki peta jalan (road map) terkait penghapusan/pengurangan sea slavery yang melibatkan pelaut Indonesia. Persoalan yang satu ini memang melibatkan banyak kementerian dan lembaga namun sebagai instansi yang mengurusi perikanan dan kelautan di Indonesia kewenangan penuh ada dalam genggaman tangannya. Dia bisa menubuhkan Satgas 115 untuk memberantas penangkapan ikan secara illegal; mengapa tidak dilakukan hal yang sama untuk masalah perbudakan di laut? Ah, sudahlah.

Sea Slavery

Berburu atau menangkap ikan (fish hunting) bisa jadi satu-satunya profesi dari masa purba yang masih tersisa hingga zaman modern ini. Saya meyakini bahwa berburu adalah ekspresi bagi sifat-sifat hewani yang ada dalam diri manusia. Sarana dan prasarana pendukungnya saja yang membedakan perburuan masa purba dengan perburuan era sekarang. Berburu ikan kini dilakukan dengan kapal canggih dengan kapasitas tampung yang besar. Tetapi karakteristik dasarnya tetap sama dari waktu ke waktu. Yaitu, pemburu akan melakukan apa saja demi mendapatkan apa yang dikejarnya. Menipu, menjebak atau yang lainnya. Di zaman sekarang berburu ikan malah menggunakan bahan peledak.

Pada saat fish hunting bertransformasi menjadi industri yang melibatkan banyak orang/pekerja karakteristik personal tadi terbawa dengan sendirinya dan menjadi corporate value bagi perusahaan kapal ikan. Lihatlah bagaimana perusahaan ini merekrut calon ABK. Para pelaut, kebanyakan pemuda di perkampungan nelayan miskin yang tidak memiliki pendidikan dan keterampilan yang cukup, ditipu atau dijebak dengan utang yang tak akan bisa dibayar kecuali dengan bekerja untuk sang pengusaha.

Pembaca jangan membayangkan perbuatan kotor itu dilakukan langsung oleh pemilik perusahaan kapal ikan itu. Kaki tangannya yang melakukan semuanya dengan memanfaatkan semua pihak, mulai dari oknum pemerintah hingga sindikat perdagangan manusia. Sementara si pengusaha tetap tampil sebagai warga yang terhormat. Ian Urbina, penulis buku “The Outlaw Ocean” punya cerita menarik soal fenomena ini.

Dalam investigasinya seputar kondisi keamanan di perairan Somalia, ia secara tidak direncanakan menemukan tujuh kapal ikan yang dimiliki oleh pengusaha ikan asal Thailand. Dikenal oleh pihak tempatan dengan sebutan Somali 7, kapal-kapal ini mempekerjakan ABK dari Myanmar dengan kondisi yang amat sangat tidak manusiawi. Bahkan, ada ABK yang dibunuh oleh kapten kapal karena dinilai akan berbicara kepada siapa saja perihal kondisi mengenaskan yang dialami oleh kru. Pemilik armada ini, dengan nama keluarga Sangsukiam, adalah orang kaya raya yang dihormati di Negeri Gajah Putih.

Sea slavery paling banyak terjadi di Laut China Selatan dan kapal-kapal ikan Thailand merupakan tempat kejadian perkara (TKP) yang paling dominan. Tentu saja armada China harus disebut pula. ABK yang dipekerjakan kebanyakan berasal berasal dari kampung dan pedalaman Kamboja. Mereka tidak ada latar belakang pendidikan/pelatihan khusus kepelautan. Mereka masuk ke Thailand dengan cara diselundupkan. Oleh para recruiter mereka dijanjikan akan bekerja di perusahaan konstruksi di Thailand. Menariknya, menurut Ian Urbina, dari perekrut ini ada yang berprofesi sebagai biksu.

Para korban perbudakan/trafficking asal Kamboja itu ingin bekerja di Thailand karena kehidupan mereka begitu miskinnya di tempat asal. Sesampai di Thailand, recruiter menjual mereka ke kapten-kapten armada kapal ikan. Rata-rata dibandrol AS$530. Para kapten itu ada yang mempekerjakan mereka langsung di atas kapalnya. Atau, bisa saja menjualnya lagi kepada sejawat yang membutuhkan dengan harga tinggi. Perlu dicatat, tidak sepeser pun hasil transaksi diterima oleh para budak.

Dari berbagai wawancara terhadap ABK kapal ikan asal Indonesia yang dilakukan oleh media nasional pasca kejadian pelarungan jenazah pelaut Indonesia serta mantan korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO) yang berada di Tanah Air, terungkap situasi yang relatif sama dengan kondisi kru kapal ikan Thailand. Media nasional mengungkapkan, banyak dari ABK Indonesia yang bekerja di kapal ikan China ABK berasal berasal dari kampung dan pedalaman dan tidak ada latar belakang pendidikan/pelatihan khusus kepelautan.

Pertanyaannya kini, bagaimana way out untuk masalah perbudakan di laut yang menimpa pemuda-pemuda Indonesia? Sebelum menjawab saya ingin menggarisbawahi dulu bahwa kemiskinan adalah akar persoalan sea slavery. Karena miskin, pemuda-pemuda itu berutang hanya untuk sekedar makan. Utang bisa dilakukan baik oleh mereka sendiri maupun orang tuanya.

Makin hari utang makin bertumpuk karena tidak ada pekerjaan atau penghasilan untuk membayarnya. Tanpa mereka sadari akhirnya bertemu dengan jejaring dari sindikat perdagangan orang yang lantas memberikan pekerjaan sebagai ABK di kapal ikan asing. Dimulailah nasib malang itu. Situasi ini akan berulang terus sampai waktu yang tak terhingga.

Kembali ke pertanyaan di muka, untuk memperkecil ruang gerak perbudakan di laut, ada baiknya penempatan ABK asal Indonesia di kapal ikan asing langsung dilakukan oleh pemerintah dan bersifat G-to-G. Setop penempatan pelaut yang dilakukan oleh swasta, apalagi oleh calo.[]

Editor: Sunardi Panjaitan

berita terkait

Image

News

Demokratisasi di Tengah Badai Pandemi

Image

News

Mengukuhkan Persaudaraan Sosial

Image

News

Menjual Tubuh

Image

News

Organisasi Penggerak Pendidikan

Image

News

Tapak Ir. H. Joko Widodo dan Tuan Syèkh Ibrahim Sitompul

Image

News

Penentu Sukses Pilkada di Masa Pandemi

Image

News

Kolom

Rebranding Pilkada Serentak 2020

Image

News

Kolom

Kontroversi RUU HIP

Image

News

Kolom

New Normal dan Mengerucutnya Oligarki

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
Ekonomi

Pelaku UMKM Harus Utamakan Kreatifitas, Digitalisasi, dan Kolaboratif

Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM Prof Rully Indrawan mengatakan bahwa ada tiga hal yang harus dilakukan pelaku UMKM.

Image
Ekonomi

Permintaan Sukuk Ritel SR013 di Bank Mandiri Sudah Capai Rp1,35 Triliun

Permintaan SR013 yang telah diterima Bank Mandiri sebagai salah satu agen penjual telah mencapai Rp1,35 triliun.

Image
Ekonomi

Pengamat Ramal Penjualan Kendaraan Tetap Stagnan hingga Akhir 2020

Pengamat memprediksi penjualan kendaraan baru dan bekas hingga akhir tahun akan cenderung stagnan.

Image
Ekonomi

Kadin: Tak Perlu Khawatir, Eksportir Produk Perikanan ke China Tetap Jalan

Eksportir komoditas kelautan dan perikanan RI tidak perlu khawatir dengan adanya kabar larangan masuk produk RI ke China.

Image
Ekonomi

Dompet Tipis tapi Ingin Tetap Makan Enak dan Sehat? Begini Caranya

Manfaat dari memasak, bukan hanya menghemat keuangan kamu.

Image
Ekonomi

Tajir Melintir, Ternyata Ini 5 Sumber Kekayaan Bill Gates

Berikut ini sumber-sumber kekayaan Bill Gates.

Image
Ekonomi

Terkesan Sepele, Profesi dari Gim Ini Bikin Kamu Kaya Raya

Bisa sukses dari hobi main gim enggak selalu harus menjadi seorang gamer pro atau YouTuber gaming. Masih banyak profesi-profesi unik lainnya

Image
Ekonomi

Begini Cara Buat Brand Usahamu Sendiri, Yuk Simak!

Selain bingung mau buka bisnis apa, biasanya orang juga bingung saat memilih nama untuk brand atau mereknya.

Image
Ekonomi

Trik Jual Rumah di Tengah Pandemi COVID-19

Menjual rumah di saat mendesak memang tidak mudah, apalagi di tengah pandemi seperti ini.

Image
Ekonomi

Indah Karya Kembali Ekspor Limbah Kayu ke Malaysia dan Singapura

Indah Karya ekspor perdana limbah kayu ke Malaysia dan Singapura serta berbagai negara lainnya.

terpopuler

  1. Tunda Pergi Haji Demi Temani Valentino Rossi, Komeng: Dia Itu Anak Tongkrongan

  2. Viral, Foto KTP Wanita Ini Sukses Bikin Iri Warganet karena Kelewat Cantik

  3. Wabup Mabuk dan Tabrak Polwan Hingga Tewas, Fahira Idris: Hancur Hati Ini

  4. Niat Jadikan Kawasan Hijau, Hutan Mini di Apartemen China Justru Jadi Ladang Nyamuk

  5. Polling Soal Vaksin Covid-19, Netizen: Saya Ingin Sehat, Halal-Haram Biar Urusan Saya dan Tuhan

  6. Telah Bercerai, Song Hye Kyo Diduga Masih Rayakan Ulang Tahun Song Joong Ki

  7. Napi Asal China Lapas Tangerang Kabur, Kapolda : Kita Akan Kejar

  8. Ariel NOAH Didoakan Tambah Soleh oleh Putrinya, Alleia Anata

  9. Tanggapi Mutilasi Rinaldi, Pimpinan DPR Imbau Anak Muda Hati-hati di Sosial Media

  10. Permintaan Istri, Jenazah Korban Mutilasi Kalibata City Dimakamkan di Sleman

fokus

Akurat Solusi : Roadmap IHT
Webinar Akurat: Resesi Ekonomi
Tokopedia Dorong Digitalisasi UMKM dan Inklusi Keuangan

kolom

Image
Achsanul Qosasi

Kerjasama Tim, Inkonsistensi Kebijakan dan Covid-19

Image
Khalifah Al Kays Yusuf dan Tim Riset ALSA

Dampak Kebijakan PSBB Terhadap Hak Pekerja

Image
Dr. Arli Aditya Parikesit

Pandemi COVID-19 dan Bencana Ekologis Planet Bumi

Image
Dr. Abd. Muid N., MA

Dilema Mayoritas-Minoritas dalam Islam

Wawancara

Image
Iptek

Saat Dominasi Kontraktor Besar Masih Kejam

Image
Video

Akurat Talk

VIDEO Fahri Hamzah: Saya Dari Kecil Jualan Kopi | Akurat Talk (2/2)

Image
Video

Akurat Talk

VIDEO Ngomongin Hobi Sampai Harga Outfit Fahri Hamzah | Akurat Talk (1/2)

Sosok

Image
News

5 Potret Pramono Anung saat Bersepeda, Capai Puluhan Kilometer!

Image
News

5 Potret Annisa Yudhoyono saat Berhijab, Pesonanya Terpancar!

Image
Ekonomi

Celana Dalam Bekas Laku Rp50 Juta, Kepoin Harta Kekayaan Fantastis DJ Dinar Candy!