News

Ekonomi Masyarakat Sedang Terpuruk, Tidak Tepat Menaikkan Ongkos KRL

"Akibat pandemi, hampir 20 persen jumlah pengguna KAI Commuter Line Jabodetabek turun pada tahun 2021."


Ekonomi Masyarakat Sedang Terpuruk, Tidak Tepat Menaikkan Ongkos KRL
Calon penumpang menunggu kedatangan Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter di Stasiun Manggarai, Senin (13/9/2021). (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO, Anggota Komisi V DPR RI Fraksi PKS, Toriq Hidayat menilai wacana kenaikan tarif Commuter Line, kereta rel listrik yang dioperasikan PT Kereta Commuter Indonesia, anak perusahaan dari PT Kereta Api Indonesia (PT KAI), menodai semangat kebijakan menggalakkan penggunaan angkutan umum oleh masyarakat.

"Kenaikan tarif berpotensi melemahkan semangat masyarakat menggunakan moda transportasi umum masal. Ini tidak sesuai dengan kampanye pemerintah terkait peningkatan kesadaran penggunaan angkutan umum massal perkotaan dan non motorized transportation (NMT) pada hari kesehatan Internasional yang diperingati setiap 7 April," kata Toriq Hidayat dalam rilis tertulisnya yang diterima redaksi di Jakarta, Jumat (14/1/2022). 

Menurut Toriq, saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk menaikkan tarif dasar KRL Commuter Line karena berbagai pertimbangan seperti naiknya sejumlah harga kebutuhan pokok, seperti minyak goreng dan bahan pangan lainnya. 

Selain itu, menurut Toriq, daya beli masyarakat yang ada di berbagai daerah saat ini dinilai masih rendah akibat dampak pandemi Covid-19. 

"Pandemi belumlah usai, bahkan ada potensi varian baru COVID-19, yang hadirkan ancaman gelombang ketiga. Seharusnya pemerintah menambah subsidi atas moda transportasi umum ini, daripada berwacana untuk menaikkan tarif," kata Toriq. 

Ia juga mengingatkan bahwa sepanjang tahun 2021 terjadi penurunan pengguna KAI Commuter Line, yaitu untuk wilayah operasi Jabodetabek turun sebesar 19,6 persen dibanding jumlah pengguna KRL Jabodetabek sepanjang tahun 2020.. 

"Akibat pandemi, hampir 20 persen jumlah pengguna KAI Commuter Line Jabodetabek turun pada tahun 2021. Namun potensi kenaikan ke depan cukup besar, mengingat sebagian masyarakat mengaku tidak punya pilihan lain sebagai transportasi dengan akses cepat dan lebih nyaman," tandasnya. 

Diketahui sebelumnya, Kementerian Perhubungan (Kemhub) melalui Direktorat Jenderal Perkeretaapian, hingga saat ini belum memutuskan kenaikan tarif kereta rel listrik (KRL). Penyesuaian tarif tersebut masih dalam pengkajian. 

“Pemerintah masih mengkaji kapan waktu yang tepat untuk penyesuaian ini mempertimbangkan situasi yang ada. Saat ini, tarif KRL masih merujuk pada Peraturan Menteri Perhubungan No. 17/2018,” kata Juru Bicara Kementerian Perhubungan Adita Irawati dalam keterangan tertulisnya, Kamis (13/1/2022). 

Namun demikian, Adita mengungkapkan  ahwa sejauh ini memang ada wacana untuk menaikkan tarif KRL. Hal ini didasari oleh beberapa pertimbangan. Antara lain pelayanan yang diberikan pemerintah dengan pemberian subsidi atau pun pembangunan prasarana dan sarana kereta api yang sudah semakin baik.