Ekonomi

Ekonomi Indonesia Tumbuh di Tengah Suramnya Kondisi Global, Bos BI: Ini Belum Pulih Total!

Namun, Perry menegaskan bahwa pemulihan ekonomi yang terjadi di Indonesia masih jauh lebih baik ketimbang dengan negara lain.

Ekonomi Indonesia Tumbuh di Tengah Suramnya Kondisi Global, Bos BI: Ini Belum Pulih Total!
Calon Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo saat mengikuti uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) dengan Komisi XI di Nusantara I, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (28/3). Perry ditunjuk sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia oleh Presiden Joko Widodo untuk menggantikan Agus DW Martowardojo yang berakhir masa jabatannya pada Mei 2018. Dalam fit and proper test ini Ferry memberikan pemaparan dengan tema memajukan ekonomi nasional, menjaga stabilitas, dan mendorong pertum (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyampaikan kabar yang mengejutkan di tengah suramnya kondisi perekonomian global, yakni tumbuhnya ekonomi Indonesia kuartal II-2022 sampai ke 5,44 persen. Akan tetapi, menurutnya, pemulihan ini masih belum terjadi sepenuhnya.

"Rakyat baru bisa makan enak, bisa traveling setelah Ramadan kemarin. Sebelumnya nggak bisa makan enak karena Covid-19. (Saat ini) sudah sehat, tetapi belum pulih benar," kata Perry dalam Peluncuran Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan, Rabu (10/8/2022).

Namun, Perry menegaskan bahwa pemulihan ekonomi yang terjadi di Indonesia masih jauh lebih baik ketimbang dengan negara lain. Hal ini dapat dilihat dari bagaimana situasi di Amerika Serikat (AS) dan China saat ini, situasinya makin memburuk.

baca juga:

Ia menyampaikan keprihatinannya untuk beberapa negara di Amerika Selatan hingga Afrika, di mana negara-negara tersebut sudah jatuh ke dalam lubang krisis.

Lebih lanjut, Perry menegaskan, yang saat ini masih harus terus diperhatikan oleh Indonesia ialah inflasi. Pada akhir Juli, inflasi umum telah mencapai 4,94 persen, didorong oleh inflasi pada harga pangan yang mencapai 10,4 persen.

Terkait hal tersebut, Perry menyatakan, laju inflasi pangan harus segera diredam. "Ingat! Inflasi pangan itu adalah masalah perut, masalah rakyat, dan langsung ke kesejahteraan," tegasnya.[]

Menurutnya, dampak dari inflasi pangan juga tak hanya erat dengan sektor ekonomi semata, tetapi dapat berdampak luas ke sektor sosial karena turunnya daya beli masyarakat. Oleh karena itu, Perry mendorong penguatan kerja sama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dalam upaya menekan laju inflasi pangan melalui operasi pasar dan kebijakan lainnya.

"Mohon inflasi ini seperti layaknya kita ingin menegakkan kemerdekaan. Kita harus turunkan inflasi (pangan) paling tinggi 6 persen, kalau bisa 5 persen," pungkasnya.

Lihat Sumber Artikel di Warta Ekonomi Disclaimer: Artikel ini adalah kerja sama antara AkuratCo dengan Warta Ekonomi. Hal yang berkaitan dengan tulisan, foto, video, grafis, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab dari Warta Ekonomi.
Sumber: Warta Ekonomi