Ekonomi

Ekonomi Asia Tenggara Diramal Tumbuh 5,8 Persen, Naik 3,7 Persen

Managing Director International ICAEW, Mark Billington memperkirakan, pemulihan yang lebih baik untuk Singapura, meskipun pertumbuhan dinilai cukup lambat.


Ekonomi Asia Tenggara Diramal Tumbuh 5,8 Persen, Naik 3,7 Persen
Mobilitas lalu lalang warga saat jam pulang kerja di kawasan Jalan Sudirman, Jakarta, Senin (14/3/2022). (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO, ICAEW ( Institute of Chartered Accountants di Inggris dan Wales) dalam Economic Insight Forum Q2, mengungkapkan wilayah Asia Tenggara diperkirakan akan melihat pertumbuhan ekonomi sebesar sekitar 5,8 persen.

Managing Director International ICAEW, Mark Billington memperkirakan, pemulihan yang lebih baik untuk Singapura, meskipun pertumbuhan dinilai cukup lambat. Pertumbuhan Singapura sebesar 7,6 persen di tahun 2021 sebagian besar didorong oleh sektor manufaktur dan ekspor, tetapi pertumbuhan itu terhambat oleh adanya tren penurunan yang signifikan selama beberapa bulan terakhir.

"Namun, terdapat peningkatan besar dalam penjualan ritel dan layanan akomodasi pada bulan Maret dan dengan adanya pelonggaran pembatasan, tanda-tanda pemulihan yang lebih luas untuk sektor jasa juga diperkirakan akan muncul," Kata Mark lewat keterangannya, Jumat (24/6/2022).

baca juga:

Kemudian, pertumbuhan Vietnam meningkat lebih dari 6,5 persen pada tahun 2022. Vietnam dinilai mampu bangkit kembali dengan cukup cepat pada tahun 2021 dibandingkan dengan wilayah lainnya. 

Dengan adanya pelonggaran pembatasan dari Q4 tahun lalu yang dibawa ke Q1 tahun ini, telah terjadi pemulihan ekonomi yang cukup signifikan di sektor jasa, didorong oleh pariwisata domestik. 

Namun demikian negatif dari kenaikan harga komoditas di Malaysia. Malaysia cenderung terlindungi dari dampak kenaikan harga minyak akibat perang Rusia-Ukraina, dikarenakan Malaysia merupakan eksportir minyak bersih bersama dengan LNG, dengan pendapatan ekspor yang lebih tinggi. 

Subsidi bahan bakar yang diterapkan oleh pemerintah juga membantu menjaga harga bensin konsumen tetap terkendali. 

Namun demikian, adanya aturan karatina wilayah tahun lalu dari varian Delta dan ketergantungan yang tinggi pada ekspor ke wilayah China, diperkirakan akan mengurangi pertumbuhan PDB Malaysia antara 1 – 1,5 persen lebih rendah tahun ini daripada sebaliknya.

Sementara itu, Indonesia diperkirakan mengalami pertumbuhan PDB di tahun 2022 sebesar 5,7 persen, meningkat dibandingkan periode tahun lalu sebesar 3,7 persen. 

Ia mengatakan meskipun pemulihan ekonomi pasca COVID di wilayah Asia Tenggara tidak merata dengan hadirnya varian Delta, sebagian besar negara-negara seperti Singapura, Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Vietnam mulai melihat kembalinya tingkat PDB dengan level yang setara sebelum terjadinya pandemi – kecuali Thailand, yang pertumbuhannya masih 2 persen di bawah tingkat pra-pandemi, dikarenakan industri pariwisatanya masih terus berjuang dengan pembatasan perjalanan dan mobilitas.

"Hambatan-hambatan eksternal seperti gangguan rantai pasok, lemahnya permintaan dari China (dengan adanya aturan karantina wilayah), serta dampak dari berlangsungnya perang Rusia-Ukraina turut mempengaruhi tingkat inflasi dan harga komoditas di Asia Tenggara," katanya.

Meskipun demikian ICAEW Economic Insight cukup optimis untuk memperkirakan pertumbuhan ekonomi Asia Tenggara sebesar sekitar 5,8 persen atau naik 3,7 persen dari tahun lalu. Hal ini diprediksi dapat terjadi karena dorongan di sektor pariwisata ekonomi dari pembukaan perbatasan serta pelonggaran peraturan perjalanan.[]