Ekonomi

Ekonom Sarankan Perbankan Salurkan Kredit ke Sektor Pertanian


Ekonom Sarankan Perbankan Salurkan Kredit ke Sektor Pertanian
Petani mengayak gabah kering hasil panen di Kampung Budaya Sindang Barang RW 08, Desa Pasir Eurih, Tamansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (5/9/2020). (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO, Pandemi COVID-19 yang mewabah di ratusan negara termasuk Indonesia tentunya berdampak pada banyak sektor. Wabah virus asal Wuhan, China ini terbukti memukul sektor kesehatan dan perekonomian Tanah Air.

Pemerintah pun telah melakukan banyak kebijakan untuk meminimalisir dampak dari wabah tersebut. Salah satunya merancang program pemulihan ekonomi nasional (PEN). Perbankan dinilai memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung upaya pemulihan ekonomi nasional dari dampak pandemi COVID-19. Peranan itu erat kaitannya dengan penyaluran kredit bagi pelaku usaha di Tanah Air.

Menanggapi hal itu, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede pun menyarankan kepada perbankan Indonesia agar menyalurkan kredit ke beberapa sektor yang memiliki dampak tinggi dari sisi permintaan.

Tak hanya itu, Josua juga menyarankan penyaluran kredit utamanya dialokasikan kepada sektor yang mampu menyerap banyak tenaga kerja dan menyumbang ekonomi dalam jumlah besar termasuk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).

Ia menyebutkan, salah satu sektor yang cukup stabil itu adalah sektor pertanian. Sehingga, ia berharap ke depan perbankan bisa lebih agresif menyalurkan kredit ke sektor tersebut.

“Salah satu sektor yang cukup stabil itu sektor pertanian, meskipun penyaluran sedikit melambat tapi kinerja sektor pertanian ke PDB masih tumbuh positif dan bisa survive. Jadi saya pikir ini kunci untuk mendorong perekonomian,” ujarnya dalam Webinar Akurat Idea bertemakan 'Peran Strategis Industri Jasa Keuangan dalam Pemulihan Ekonomi Nasional', Jakarta, Selasa (22/9/2020).

Lebih lanjut Josua menerangkan, rendahnya peyaluran kredit perbankan yang terjadi sejak Maret hingga saat ini sangat dipengaruhi oleh permintaan kredit itu sendiri yang turun sejalan dengan terganggunya aktivitas ekonomi baik dari sisi konsumsi ataupun investasi.

“Karena investasi menurun tentunya kebutuhan kredit modal kerja atau barang modal sebagai input produksi juga menurun sehingga disitu sebagai penyebab intermediasi dari sektor perbankan cenderung terganggu. Meski saya sepakat bahwa tidak ada masalah dengan likuiditas yang saat ini tersedia dengan baik,” tukasnya. []