Ekonomi

Ekonom Ramal Ekonomi RI Kuartal III Minus 3,13, Berikut Rinciannya!

Ekonom Bank Permata ramal ekonomi RI kuartal II 2020 masih -3,13 persen atau tidak sedalam kuartal II 2020 yang tercatat -5,32 persen


Ekonom Ramal Ekonomi RI Kuartal III Minus 3,13, Berikut Rinciannya!
Warga berswa foto dengan latar belakang gedung-gedung tinggi Jakarta, Senin (30/12/2019).  Jelang pergantian tahun Indonesia menghadapi tantangan berat untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 5,2% tahun depan. Pasalnya, kondisi perekonomian global masih menghadapi ketidakpastian dan dinilai belum menunjukan arah yang lebih positif. Ketidakpastian perang dagang Amerika Serikat (AS) - Tiongkok, menyebabkan ekspor melemah. Indonesia, lanjutnya, bisa saja mendorong ekspor. Namun, hal itu tergantun (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO, Badan Pusat Statistik (BPS) bakal mengumumkan pertumbuhan ekonomi kuartal III 2020 besok, Kamis (5/11/2020). Beberapa ekonom pun memproyeksikan ekonomi RI bakal kembali negatif seperti kuartal II 2020 yang berkisar -5,32 persen. Apabila ekonomi RI kembali negatif di kuartal III 2020, maka Indonesia dipastikan mengalami resesi lantaran pertumbuhan ekonominya minus dua kuartal berturut-turut.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memperkirakan ekonomi kuartal III 2020 bakal berada dikisaran -3,13 persen atau kontraksinya tidak sedalam kuartal sebelumnya.

Proyeksinya itu didasarkan pada pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang telah mengalami perbaikan meski tetap terkontraksi. Ia menyebutkan pertumbuhan rumah tangga diperkirakan mengalami -3,54 persen pada kuartal III 2020 atau tidak sedalam kuartal II 2020 yang tercatat -5,51 persen.

“Hal ini dipengaruhi oleh kebijakan PSBB transisi di berbagai daerah di Indonesia yang mendorong peningkatan pada pergerakan masyarakat, meskipun situasinya belum kembali ke level normal,” ujarnya kepada Akurat.co, Rabu (4/11/2020).

Josua Pardede menuturkan, beberapa data yang mengindikasikan konsumsi rumah tangga menunjukkan perbaikan yang terbatas sepanjang kuartal III tahun 2020 dimana laju pertumbuhan penjualan ritel pada periode Juli hingga September 2020 tercatat terkontraksi minus 7,3 persen yoy dibandingkan laju penjualan ritel pada kuartal III 2019 yang tercatat 0,7 persen yoy.

Ia menambahkan meskipun trennya membaik, indeks kepercayaan konsumen pada kuartal III 2020 tercatat minus 31,6 persen yoy dari akhir kuartal sebelumnya yang tercatat -33,7 persen yoy. Selain itu, laju pertumbuhan nilai tukar petani pada kuartal III 2020 cenderung stabil dengan tercatat 0,13 persen yoy dari kuartal III tahun 2019 yang tercatat 2,23 persen yoy.

“Pertumbuhan penjualan mobil mengalami kontraksi -55,0 persen yoy dari kuartal III tahun 2019 yang tercatat -10,4 persen yoy. Selain penjualan mobil yang mengalami pertumbuhan negatif, penjualan motor juga mengalami kontraksi -41,5 persen yoy dari kuartal III tahun 2019 yang tercatat -1,5 persen yoy. Selain itu, impor barang konsumsi sepanjang kuartal III tahun 2020 tercatat tumbuh -19,1 persen yoy dari periode yang sama tahun 2019 yang tercatat -7,8 persen yoy,” paparnya.

Selain itu, Josua juga memperkirakan pertumbuhan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atau investasi pada kuartal III 2020 berada di kisaran -7,9 persen yoy dibandingkan kuartal sebelumnya yang tercatat -8,61 persen dimana investasi bangunan dan non-bangunan cenderung masih terkontraksi.

Hal tersebut terindikasi dari pertumbuhan penjualan semen yang terkontraksi -10,5 persen yoy pada kuartal II tahun 2020, dari kuartal III tahun 2019 yang tercatat -1,8 persen yoy. Kontraksi penjualan semen mengindikasikan investasi bangunan sepanjang periode Juli hingga September 2020 masih mengalami penurunan.