Ekonomi

Ekonom Ramal Ekonomi RI Kuartal III Bakal Melambat Hanya Tumbuh 3,5 persen

Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro memperkirakan pertumbuhan ekonomi triwulan III 2021 berpotensi sedikit melambat yakni sekitar 3,5%


Ekonom Ramal Ekonomi RI Kuartal III Bakal Melambat Hanya Tumbuh 3,5 persen
pertumbuhan ekonomi (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO, Chief Economist PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Andry Asmoro memperkirakan pertumbuhan ekonomi triwulan III 2021 berpotensi sedikit melambat yakni sekitar 3,5%.

Andry Asmoro mengungkapkan bahwa pemulihan ekonomi dunia memang mulai terjadi pada triwulan II 2021, di mana hampir seluruh perekonomian dunia mencatat pertumbuhan positif. Namun berdasarkan perkembangan terakhir menunjukkan adanya potensi perlambatan laju pemulihan ekonomi global akibat merebaknya varian delta.

"Dengan berbagai perkembangan terakhir, kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi berpotensi sedikit melambat namun masih akan mencatat pertumbuhan positif di triwulan III pada 3,51% yoy. Dengan demikian untuk keseluruhan tahun, pertumbuhan ekonomi diperkirakan mencapai 3,69% yoy," jelasnya dalam Macroeconomic Outlook 2021 Bank Mandiri “Ekonomi Indonesia 2021-2022: Menjaga Momentum Pertumbuhan"  Kamis (9/9/2021).

Andry mengakui, pertumbuhan ekonomi sektoral sudah menunjukkan arah pemulihan yang positif. Pertumbuhan ekonomi semua sektor yang sudah positif pada triwulan II 2021 menunjukkan bahwa secara teknikal semua sektor sudah keluar dari zona krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19. 

Namun demikian, sambungnya, laju pemulihan ekonomi berpotensi terhambat pada triwulan III akibat merebaknya varian delta yang sempat menyebabkan tekanan pada sektor kesehatan di Indonesia. Ia menyebutkan gelombang pandemi Covid-19 kedua ini direspon oleh penerapan pembatasan (PPKM) yang lebih ketat oleh Pemerintah.

Katanya, penerapan PPKM berpotensi berdampak pada penurunan signifikan konsumsi masyarakat. Namun seiring dengan relaksasi PPKM, belanja masyarakat menunjukkan perbaikan signifikan. 

Andry juga menilai, kebijakan fiskal, moneter, dan perbankan masih sangat akomodatif di tengah ketidakpastian pandemi Covid-19. Suku bunga BI masih dipertahankan pada level terendah sepanjang sejarah pada 3,5% untuk mendukung pemulihan ekonomi. Stimulus fiskal juga dipercepat realisasinya. 

"Koordinasi antar otoritas semakin kuat dengan dilanjutkannya sinergi antara BI dan Pemerintah dalam pembiayaan fiskal. Berbagai kebijakan pendukung di sektor perbankan dan keuangan seperti perpanjangan masa relaksasi restrukturisasi kredit akan membantu dunia usaha dan perbankan dalam menghadapi dampak dari pandemi gelombang kedua ini," terang Andry.

Oleh karena itu, ia berpendapat ke depan strategi pemulihan ekonomi harus sejalan dengan upaya pengendalian pandemi. Penyebaran kasus Covid-19 harus dapat ditekan melalui penerapan prokes, testing dan tracing di tengah berlanjutnya percepatan vaksinasi.