Ekonomi

Ekonom: Konsumsi Masyarakat Mulai Bergeliat di Akhir Ramadan

Konsumsi masyarakat pada akhir Ramadan mulai bergeliat dibandingkan awal Ramadan yang cenderung landai.


Ekonom: Konsumsi Masyarakat Mulai Bergeliat di Akhir Ramadan
Pedagang melintas di samping dagangan sepedanya di Jalan Pasar Rumput, Jakarta Selatan, Senin (25/5/2020). Penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) berimbas pada daya beli masyarakat. Hal ini dialami oleh para pedagang sepeda di Jalan Pasar Rumput, Jakarta Selatan. Menurut mereka, omzetnya menurun drastis sekitar 50-60 persen dibandingkan dengan lebaran tahun lalu. (AKURAT.CO/Abdul Aziz Prastowo)

AKURAT.CO Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menyebut konsumsi masyarakat pada akhir Ramadan mulai bergeliat dibandingkan awal Ramadan yang cenderung landai.

“Di hari-hari terakhir Ramadan ini sebenarnya beberapa sudah melihat agak kelihatan sedikit naik tapi angkanya. BPS melalui angka inflasi yang tadi diumumkan, secara bulanan angkanya sedikit mengalami kenaikan dibandingkan tahun kemarin,” kata Wakil Direktur INDEF, Eko Listiyanto dalam webinar daring, Jakarta, Senin (3/5/2021).

Eko mencontohkan bukti konsumsi masyarakat yang menggeliat pada akhir Ramadan dengan penumpukan masyarakat yang berbelanja di Tanah Abang, Jakarta Pusat pada Sabtu (2/5/2021).

Ia juga mengatakan pada Ramadan 2021 lebih baik dibandingkan Ramadan 2020 ketika Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diberlakukan dan berdampak pada konsumsi masyarakat. Sehingga pada Ramadan ini mampu mendorong inflasi menjadi 0,13 persen dibandingkan tahun lalu yang sebesar 0,08 persen.

“Ramadan kali ini sebetulnya sedikit-banyak sudah ada peningkatan konsumsi, situasinya juga lebih berbeda ya dibandingkan dengan tahun lalu. Inflasi selama bulan Ramadan di tahun ini sudah sedikit naik yang menggambar daya belinya juga terangkat,” ujar Eko dilansir dari Antara.

Selain itu, Eko menyampaikan bahwa optimisme perbaikan ekonomi juga terlihat pada tren Indeks Keyakinan Konsumen yang meningkat. Utamanya pada pembelian durable goods (barang tahan lama) bulan pada Maret 2021 mencapai indeks 80,0 naik dibandingkan Februari dan Januari 2021 yang masing-masing 76,9 dan 76,6.

“Kalau uangnya terbatas dia kan yang penting untuk kebutuhan primer dulu kan yang penting maka. Kalau konsumsinya udah ke pakaian, elektronik, perabot rumah tangga, berarti orang sudah berpikir kalau capacity dia untuk tetap survive dalam konteks kebutuhan primernya,” jelasnya.

Kendati demikian, ia menyarankan pemerintah agar tak hanya mengandalkan dorongan belanja fiskal jika ingin pertumbuhan ekonomi triwulan II-2021 di atas 5 persen.

“Perlu ada upaya mengalirkan likuiditas kredit ke perekonomian secara memadai,” kata dia.

Adapun Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pergerakan inflasi pada April 2021 sebesar 0,13 persen, sedikit lebih baik dari periode sama tahun lalu yang melambat.

"Inflasi pada April sebesar 0,13 persen ini meningkat dibandingkan April lalu sebesar 0,08 persen," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Setianto.

Dengan terjadinya inflasi pada April, maka inflasi tahun kalender Januari-April 2021 tercatat sebesar 0,58 persen dan inflasi tahun ke tahun (yoy) 1,42 persen. []

Sumber: Antara

Dhera Arizona Pratiwi

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu