Ekonomi

Ekonom: Pemulihan Ekonomi Indonesia Belum Merata di Seluruh Sektor

Sementara untuk sektor yang belum mengalami pemulihan diantaranya perhotelan dan tekstil utamanya yang pemain besar


Ekonom: Pemulihan Ekonomi Indonesia Belum Merata di Seluruh Sektor
Ekonom Badan Kebijakan Moneter dan Jasa Keuangan KADIN Indonesia David Sumual saat presentasi dalam Seminar Kajian Tengah Tahun 2022 INDEF pada Rabu (6/7/2022). (Akurat.co/Leofarhan)

AKURAT.CO, Kepala Ekonom PT Bank BCA Tbk David Sumual mengatakan pemulihan ekonomi di Indonesia masih belum merata dirasakan oleh seluruh sektor perekonomian. Sebab, menurutnya, pemulihan hanya terjadi pada sektor-sektor yang terkait dengan komoditas diluar Jawa. 

David menuturkan, berdasarkan pengalaman gatheringnya dengan para pedagang di Pasar Tanah Abang, terlihat ada anomali yang dirasakan oleh para pedagang tersebut. 

"Keliatannya ada anomali untuk tahun ini, biasanya setelah lebaran menurut mereka, penjualan tekstil menurun drastis.Tapi dalam beberapa minggu terakhir penjualan cukup kuat, jadi memang mereka masih berdatangan dari daerah," ujarnya dalam Seminar Kajian Tengah Tahun 2022 INDEF pada Rabu (6/7/2022).

baca juga:

David menilai, hal ini kemudian menjadi salah satu yang berkaitan dengan sektor komoditas yang memang cukup baik kinerjanya di daerah. Adapun yang mendapatkan windfall yang terutama yaitu batubara, logam dasar, mineral dan perkebunan.

Sementara untuk sektor yang belum mengalami pemulihan diantaranya perhotelan yang masih naik turun dan tekstil utamanya yang pemain besar lantaran masih ada kendala di pasar global yang belum pulih sepenuhnya. 

"Dan memang kita perhatikan untuk sektor tekstil yang besar-besar ini ada kendala termasuk kredit macet cukup besar juga yang menjadi permasalahan. Termasuk itu yang belum penuh sepullihnya kita lihat kembali belum kembali ke tren sebelum pandemi yaitu airline," paparnya. 

Dalam kesempatan itu David juga berpendapat bahwa, untuk memanfaatkan wind fall dari harga komoditas yang meningkat, Indonesia perlu mengambil beberapa langkah yang salah satunya melakukan investasi infrastruktur dan pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM).

Di samping itu, perlu dilakukan investasi pada kapasitas produksi manufaktur dan pertanian, menghindari belanja non-produktif dan proyek-proyek tidak efektif yang menambah impor.

Hal tersebut juga sejalan dengan mencegah penguatan rupiah yang justru dapat membuat daya saing industri manufaktur dalam negeri berkurang. Pencapaian reformasi struktural di dalam satu dekade dengan UU Ciptaker juga perlu dijaga sejalan dengan Sovereign Wealth Fund (SWF).

“Pencapaian reformasi struktural dalam satu dekade terakhir melalui hilirisasi dan Undang-Undang Cipta Kerja juga perlu dijaga, dana hasil windfall perlu dikelola secara teknokratif oleh Sovereign Wealth Fund (SWF) Indonesia, serta diversifikasi partner dagang harus terus dilakukan,” pungkasnya.[]