News

Dukungan Publik terhadap Partai Oposisi Menguat, PDIP dan Gerindra Merosot

Hasil survei LKSP dan CIR menunjukkan dua partai politik (parpol) mengalami penurunan dukungan. Keduanya adalah PDIP dan Partai Gerindra.

Dukungan Publik terhadap Partai Oposisi Menguat, PDIP dan Gerindra Merosot
Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (kiri), Ketua DPP PDI Perjuangan Puan Maharani (kanan) dan didampingi sejumlah petinggi Partai Gerindra dan PDI Perjuangan berpamitan usai melakukan pertemuan di Padepokan Garuda Yaksa, Sentul, Bogor, Jawa Barat, Minggu (4/9/2022). Pertemuan tersebut merupakan bagian safari politik dan komunikasi politik Puan Maharani ke berbagai Partai Politik menjelang Pemilu 2024. Dalam pertemuan itu Prabowo Subianto mengajak Puan Maharani berkuda. (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO, Hasil survei nasional Lembaga Kajian Strategis dan Pembangunan (LKSP) dan Center for Indonesian Reform (CIR) menunjukkan dua partai politik (parpol) mengalami penurunan dukungan. Keduanya adalah PDIP dan Partai Gerindra.

PDIP mengalami penurunan dukungan dari 18,0 persen (survei 2021) menjadi 15,1 persen (2022). Sedangkan Partai Gerindra mengalami penurunan elektabilitas dari 10,0 persen menjadi 6,8 persen.

Di sisi lain, Golkar mengalami kenaikan dari 9,7 persen menjadi 10,0 persen.

baca juga:

Sedangkan PKS, sebagai oposisi, naik elektabilitasnya dari 7,9 persen menjadi ranking ketiga nasional dengan elektabilitas 8,1 persen.

“Responden yang belum menentukan pilihan masih cukup besar, yakni 28,5 persen,” kata Peneliti Senior LKSP Muhsinin Fauzi dalam keterangannya, Jakarta, Jumat (23/9/2022).

Ia mengatakan, kenaikan dukungan yang didapat oleh PKS karena publik menganggap PKS adalah partai yang membela kepentingan rakyat (19,9 persen).

Sementara PDIP hanya mendapat 19,1 persen dukungan responden sebagai partai pembela rakyat.

“Sisanya Partai Demokrat 14,6 persen, Gerindra 14,2 persen dan Partai Golkar 14,0 persen,” kata dia.

Sebaliknya, publik juga mempersepsi PDIP sebagai partai paling koruptif 28,7 persen, diikuti Golkar 11,1 persen, Demokrat 10,7 persen dan Gerindra 2,8 persen. PKS sama dengan NasDem 2,3 persen tidak koruptif.

Kekuatan lain PKS adalah partai yang disukai kalangan muda/milenial (11,1 persen) bersama dengan Partai Demokrat, baru diikuti Partai Gerindra 9,8 persen dan PDIP 9,6 persen.

PKS juga dipandang membela kepentingan kaum perempuan 13,9 persen disusul PDIP 10,0 persen, Partai Gerindra 6,5 persen, PKB 6,4 persen, Partai Golkar 6,2 persen dan Partai NasDem 6,1 persen.

Posisi PKS sebagai kekuatan oposisi di luar pemerintahan disetujui oleh 24,3 persen responden, diikuti Partai Demokrat 12,2 persen.

“Sebagian responden juga melihat Partai Gerindra kadang kritis dengan pemerintah 5,6 persen begitu pula PDIP 3,8 persen melalui beberapa elite yang berbeda dengan arus utama partai,” pungkasnya.

Sebagai informasi, survei dilakukan di seluruh wilayah Indonesia di 34 provinsi, 80 daerah pemilihan dan 138 kabupaten/kota yang terpilih secara random. Adapun waktu pelaksanaannya pada akhir Juli 2022.

Metode pengambilan sampel dilakukan secara stratified multistage random sampling dengan basis populasi DPT (daftar pemilih tetap) 2019. Dari total populasi ditentukan 1.353 responden yang dapat dianalisis datanya setelah wawancara tatap muka. []