Ekonomi

Dukung Transformasi Pendidikan, Platform HarukaEDU Luncurkan Pintaria


Dukung Transformasi Pendidikan, Platform HarukaEDU Luncurkan Pintaria
CEO sekaligus Co-founder HarukaEDU, Novistiar Rustandi (AKURAT.CO/Rizal Mahmuddhin)

AKURAT.CO, HarukaEDU, perusahaan teknologi edukasi yang berfokus pada sistem pembelajaran daring dari lndonesia secara resmi meluncurkan Pintaria (www.pintaria.com) di Ocha & Bell Morrissey Hotel, Jakarta, Selasa(24/7).

CEO sekaligus Co-founder HarukaEDU, Novistiar Rustandi mengatakan, Pintaria adalah online platform berbasis pendidikan dan pelatihan sebagai dukungan pihaknya dalam memecahkan masalah terkait minimnya kompentensi pekerja yang ada di Indonesia.

Selain itu, platform tersebut juga untuk membantu masyarakat yang ingin meningkatkan pendidikan dan keahlian demi percepatan karir dan taraf hidup yang lebih baik.

"Banyak yang mengatakan bahwa kita punya masalah dalam talent. Apa sih masalahnya? Nah, Bank Dunia pernah melakukan survei ke industri. Dan mereka menemukan bahwa 84 persen industri atau perusahaan mengatakan, susah sekali mengisi posisi managemen atau posisi supervisor di perusahaannya," paparnya dalam konferensi pers.

Kemudian, kata Novistiar melanjutkan, dari survei Bank Dunia tersebut juga terkuak bahwa sebesar 69 persen perusahaan atau industri di Indonesia menyatakan kesulitan dalam mencari pegawai atau karyawan yang sesuai dengan keahlian yang dibutuhkan.

Dengan kata lain, dewasa ini Indonesia kekurangan tenaga kerja yang berpendidikan tinggi dan memiliki keahlian yang dibutuhkan industri.

Meminjam data dari Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2017, dari 115 juta pekerja di lndonesia, hanya 8 persen yang memiliki gelar sarjana.

"Kalau kita lihat stasistik, tahun 2017 di Indonesia ada 115 juta orang yang sudah bekerja. Nah, dari 115 yang sudah bekerja ternyata baru 9,5 juta atau 8 persen yang memiliki gelar sarjana. Jadi persentasenya sangat kecil," beber dia.

Kemudian, terdapat 34 juta pekerja Indonesia yang sudah bekerja namun hanya mengantongi ijazah Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) atau sederajat. Hal itu tentunya menjadi salah satu masalah yang dihadapi negeri ini dan mesti dicarikan solusi.

Pasalnya, tuntutan akan tenaga kerja Indonesia di era digital ekonomi semakin tinggi dengan adanya digitalisasi, otomasi dan kecerdasan buatan.

Dikutip dari sebuah studi yang dilakukan oleh McKinsey Global Institute, (Skill Shift Automation and the Future of the Workforce, McKinsey Global Institute, Mei 2018), kebutuhan higher cognitive skills dan technological skills akan meningkat sebesar masing-masing 8 persen dan 55 persen pada tahun 2030 dibanding tahun 2016.

Selain itu, permintaan terhadap tenaga kerja kompeten dan memiliki keahlian di Indonesia akan meningkat pesat hingga 113 juta orang pada tahun 2030 sehingga menyebabkan kekurangan tenaga kerja ahli sebesar 9 juta (The archipelago economy: Unleashing Indonesia's potential, McKinsey Global Institute, 2012).

Novistiar mengungkapkan, sebenarnya keinginan para pekerja untuk meningkatkan pendidikan dan keahlian cukup tinggi, namun demikian, mereka tersandung sejumlah kendala diantaranya yakni terkait biaya yang tinggi dan kesulitan untuk mengikuti program kuliah reguler karena jadwal kerja yang tidak memungkinkan untuk pergi ke kampus setiap hari/malam.

”Sudah saatnya dunia pendidikan beradaptasi dengan percepatan teknologi informasi, dimana masyarakat bisa menempuh pendidikan tinggi dan meningkatkan keahlian secara fleksibel, terjangkau, namun tetap berkualitas," pungkas Novistiar.[]

Denny Iswanto

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu