Lifestyle

Dukung Penelusuran ODHA LTFU Untuk Eliminasi AIDS 2030

Kebijakan menuju Eliminasi AIDS 2030 dikenal dengan Getting To Zero yaitu Zero New Infection, Zero AIDS Related Death dan Zero Discrimination


Dukung Penelusuran ODHA LTFU Untuk  Eliminasi AIDS 2030
Askesra sebagai Wakil Ketua I KPAP DKI Jakarta (ISTIMEWA)

AKURAT.CO, Kebijakan menuju Eliminasi AIDS 2030 dikenal dengan Getting To Zero yaitu Zero New Infection, Zero AIDS Related Death dan Zero Discrimination. Namun banyak tantangan dalam penanggulangan HIV, salah satunya adalah orang dengan HIV (ODHIV) belum paham manfaat terapi ARV, padahal obat ini harus diminum secara teratur dan seumur hidup untuk menurunkan angka lost to follow yang masih tinggi. ODHIV yang loss to follow up (LTFU) atau berhenti atau putus pengobatan ARV akan meningkatkan resistensi. Pada akhirnya, ini akan meningkatkan resiko untuk menularkan HIV pada orang lain, serta risiko kematian.

Untuk memastikan peningkatan cakupan pengobatan ARV pada ODHA di wilayah DKI Jakarta, pemerintah perlu melakukan pelacakan/penelusuran (contact-tracing). Penelusuran LTFU memiliki peran yang sangat penting untuk mendorong ODHIV memulai lagi untuk terapi ARV dan mempertahankan pasien menjalani terapi.

Disamping itu dalam menjalani terapi ARV, ODHIV juga banyak menghadapi tantangan seperti kejenuhan, bosan, merasa sehat, beralih ke pengobatan herbal, dukungan psikososial yang kurang, penolakan atas penyakit, stigma diskriminasi dan lain-lain. Tantangan tersebut kemudian diidentifikasi berdasarkan perspektif individu, interpersonal, masyarakat, layanan kesehatan, kebijakan dan perlindungan hukum.

 Menurut hasil capaian Fast Track tahun 2016 – 2020 (Desember 2020) pada target 90 persen kedua, yaitu ODHIV yang mengetahui statusnya dan mendapatkan pengobatan ARV sebanyak 60.625. Namun, yang on ART hanya 27.847 orang atau 42 persen.

Salah satu cara memperoleh hasil 100 persen diperlukan dukungan psiko-sosial dari orang-orang terdekat, sekaligus untuk mempengaruhi kepatuhan untuk berobat. Sedangkan faktor psikologis terpenting untuk mempengaruhi kepatuhan berobat pasien HIV/AIDS adalah self efficacy (kepercayaan seseorang atas kemampuannya dalam menguasai situasi dan menghasilkan sesuatu yang menguntungkan).

Pendekatan ini perlu dilakukan dengan mengutamakan kebutuhan pasien (client-centered approach). Pendekatan secara efektif dilakukan dengan upaya pemberdayaan komunitas terdampak bekerja sama dengan layanan kesehatan setempat.

Untuk keberhasilan pengobatan ARV (on treatment), KPAP DKI Jakarta melakukan upaya peningkatan dukungan psiko-sosial, dengan mengacu pada buku panduan yang dibuat tahun 2018 dan hasil penelusuran sebagai berikut :

  • Tahun 2018 hasil capaian sebanyak 458 ODHA LTFU, dan setelah ditelusuri ternyata 231 ODHA telah kembali minum ARV.
  • Tahun 2019 hasil capaian sebanyak 556 ODHA, dan hasil penelusuran sebanyak 318 ODHA telah kembali minum ARV.
  • Tahun 2020 dalam situasi pandemi Covid 19, KPAP tidak melaksanakan program penelusuran ODHA LTFU.

Tahun 2021 KPA kembali melaksanakan penelusuran ODHA LTFU, dengan mengacu pada strategi hilang dan tautkan kembali (SeHATI). Strategi ini untuk memastikan agar setiap ODHIV yang belum memulai ART, pasien yang terlambat berkunjung, alpa dan murni LTFU untuk segera ditindaklanjuti di fasilitas layanan kesehatan PDP (RS/ Puskesmas/Klinik) dengan penelusuran secara bertahap.

Pendekatannya berfokus pada pasien yang mengutamakan kebutuhan, nilai-nilai pasien, dan memastikan nilai-nilai yang dianut pasien mendasari setiap keputusan dalam menangani situasi kesehatannya.

Hasil capaian pelaksanaan penelusuran ODHA LTFU KPAP DKI Jakarta Tahun 2021.

Data yang ditelusuri 500 ODHIV LTFU dengan rincian :  

  • 85 ODHIV pindah alamat/ kota/ dmisili/ pulang kampung
  • 55 ODHIV rujuk keluar / pindah layanan
  • 137 ODHIV meninggal
  • 112 ODHIV tidak ditemukan
  • 111 ODHIV LTFU ditemukan (22 persen),
  • 79 ODHIV (71 persen) yang di temukan bersedia minum ARV kembali (restart ARV)
  • 4 ODHIV bersedia dirujuk ke faskes
  • 28 ODHIV tidak kembali ke layanan dan tidak akses ARV, dengan berbagai alasan.

Adapun Workshop Pelaksanaan Penelusuran ODHA LTFU dilaksanakan oleh Bidang Dukungan dan Layanan Komisi Penanggulangan AIDS DKI Jakarta dibuka oleh Asisten Kesejahteraan Rakyat selaku Wakil Ketua I KPAP DKI Jakarta melalui mekanisme daring/zoom meeting pada hari Senin, 13 Desember 2021 Pukul13.00-selesai.

Dalam acara tersebut narasumber yang dilibatkan antara lain :

  •  Inlicia Cutami, Mmed,Clinic sebagai Manager Klinik Angsa Merah
  • Suryana, sebagai Koordinator Lapangan LSM Yayasan
  • Karisma Marina Nurrahmani, M.PSi, Psikolog, sebagai Psikolog Klinis Puskesmas Kramat Jati
  • dr Taufik Alief Fuad sebagai Kepala Bidang Dukungan dan Layanan KPAP DKI Jakarta

Dalam rangka mengeliminasi kegagalan pengobatan ARV untuk pencapaian 90 persen ke dua, maka diperlukan sinergi untuk peningkatan kualitas dan kuantitas, dukungan penguatan psikososial bagi ODHA mencapai keberhasilanpengobatan mengakses layanan ARV, sehingga dapat mewujudkan “Jakarta Sehat Terhindar Dari HIV dan AIDS serta Maju Kotanya Bahagia Warganya”.

Berbagai upaya dilakukan KPAP untuk memperkuat koordinasi program pencegahan dan penanggulangan HIV agar dapat dilaksanakan dengan baik dan bersinergi, berkolaborasi secara berkesinambungan,sehingga diharapkan program dapat diselesaikan secara kompehensif. Mari kita berkomitmen Perkuat Kolaborasi Tingkatkan Solidaritas menuju Akhir Epidemi AIDS Tahun 2030.[]