News

Dugaan Korupsi PT Titan Group di Bank Mandiri Dilaporkan ke Kejagung

Tindakan PT Titan Infra Energi bisa dikatagorikan sebagai tindak pidana kejahatan korupsi

Dugaan Korupsi PT Titan Group di Bank Mandiri Dilaporkan ke Kejagung
Aksi KAKI menuntut Kejagung usut dugaan kredit macet PT Titan Group di Bank Mandiri (Dok. KAKI )

AKURAT.CO, Komite Anti Korupsi Indonesia (KAKI) menuntut Korps Adhiyaksa mengusut dugaan korupsi penyalahgunaan kredit PT Titan Infra Energy (Titan Group) di Bank Mandiri. 

“Kita meminta Kejagung sebagai lembaga penegak hukum di Indonesia segera melakukan pengusutan, dan mengambil tindakan terhadap PT Titan yang merugikan negara,” kata Koordinator KAKI Arifin Nurcahyono di Kejaksaan Agung, Selasa (14/6/2022).

Arifin melaporkan dugaan korupsi ini kepada Kejaksaan Agung, sebab kredit yang dikucurkan oleh Bank Mandiri kepada PT Titan Infra Energy (Titan Group) ini bertatus kredit macet. Diduga adanya pengelapan dana pemebayaran hutang pada Bank Mandiri oleh PT Titan Infra Energi yang berlangsung cukup lama, sehingga pihak Bank Mandiri melakukan langkah langkah hukum dengan melaporkan Pihak PT Titan Infra Energi ke Bareskrim Polri . 

baca juga:

“Secara resmi kami melaporkan kasus yang merugikan keuangan negara ratusan miliar kepada Kejaksaan Agung. Coba bayangkan, uang sebanyak itu bisa dipakai untuk mensejahterakan rakyat,” beber Arifin. 

Arifin membeberkan bahwa, kredit yang dikucurkan oleh Bank Mandiri sebagai lead kreditor sebesar 133 juta dollar AS serta sindikasi bank lainnya mencapai 266 juta dollar AS kepada PT Titan Infra Energy (Titan Group) ini akhirnya macet hingga masuk ke call 5 lantaran adanya unsur dugaan tindak pidana.

“Tindakan PT Titan Infra Energi bisa dikatagorikan sebagai tindak pidana kejahatan korupsi,” kata Arifin. 

Padahal, ungkap Arifin, perjanjian kredit antara PT Titan Infra Energi dan bank sindikasi bahwa 20 persen hasil penjualan batubara disetor sebagai pembayaran hutang, dimana dana harus masuk ke dalam rekening cash management yang dibentuk oleh sindikasi bank pemberi kredit, dan 80 persen untuk operasional usaha PT Titan Infra Energi. 

“Namun selama beberapa tahun belakangan PT Titan Infra Energi justru tidak meyetorkan hasil penjualan batubara tersebut ke cash management sehingga menyebabkan kredit macet. Artinya ada Itikad kurang baik dari PT Titan Infra energi dalam hal ini. Diharapkan Kejaksaaan Agung untuk bisa melakukan penyelidikan terhadap kasus kredit macet PT Titan Infra Energi demi menyelamatkan uang negara yang ada di Bank Mandiri,” pungkas Arifin. 

Sementara itu PT Titan Infra Energy sendiri memilih menempuh jalur hukum dengan menggugat praperadilan Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dirtipideksus), Badan Reserse Kriminal Polri

Pengajuan gugatan itu lantaran Titan menilai penyidikan, penggeledehan dan kemudian dibarengi dengan pemblokiran rekening milik Titan Grup merupakan perbuatan melanggar hukum.

Atas tudingan korupsi, Titan membantah. Titan  beritikad baik berusaha menyelesaikan kewajibannya dengan berbagai cara termasuk mengusulkan penjualan aset non core untuk membayar kewajibannya serta mengajukan permohonan restrukturisasi kepada kreditur sindikasi. Bahkan sejak tahun 2021 Titan kembali telah melakukan pembayaran kepada kreditur Sindikasi mencapai lebih dari USD 60 juta.

"Ini bukti, klien kami tetap beritikad baik dan bertanggung jawab atas kewajibannya berdasarkan Facility Agreement," tegas kuasa hukum Titan Haposan. []