News

Dugaan Investasi Bodong EDC Cash, Kuasa Hukum Korban Minta Bareskrim Polri Sita Seluruh Harta Tersangka

Kantor Hukum Bangun Tuannahodaraja Simbolon & Partner melaporkan tersangka AY atas kasus dugaan investasi bodong E-Dinar Coin (EDC) Cash ke polisi.


Dugaan Investasi Bodong EDC Cash, Kuasa Hukum Korban Minta Bareskrim Polri Sita Seluruh Harta Tersangka
Kuasa hukum korban investasi bodong, Joni Sinaga di Bareskrim Polri

AKURAT.CO, Kantor Hukum Bangun Tuannahodaraja Simbolon & Partner melaporkan tersangka AY atas dugaan investasi bodong E-Dinar Coin (EDC) Cash ke Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dittipideksus) Bareskrim Polri.

“Korbannya ada 57.000 orang, tapi dari klien kami yang baru terdaftar dengan surat kuasa baru 94 orang, nanti ada lagi 200 orang dari anggota TNI/Polri. Kerugian dari klien kita mencapai ratusan miliar. Yang kita dapat info sekarang barang buktinya uang cash mencapai Rp5,8 triliun, mobil mewah ada 14, 30 berlian kecil, 13 berlian besar,” kata kuasa hukum korban, Joni Sinaga, saat ditemui di Bareskrim Polri, Jakarta, Kamis (22/4/2021).

Joni memaparkan, modus tersangka AY menipu para korban adalah dengan menjanjikan anggotanya mendapat keuntungan 0,5 persen atau 15 persen setiap bulannya dari hasil mining (pertambangan).

Bangun Simbolon yang juga menjadi kuasa hukum korban menambahkan, modus mereka adalah menawarkan cyrpto currency atau bitcoin dengan cara membeli Rp20.000 per koin. 

“Tersangka AY ini berjanji akan membeli balik koin berapa pun jumlahnya, tapi harganya Rp15.000. Itu saja dia sudah dapat untung Rp5.000. Belum lagi, diawal kalau mau gabung menjadi anggota harus ada uang pendaftaran RP5.000.000. Kemudian, untuk dapat account supaya dia bisa masuk ke server maintenance account cloud, anggota harus membayar lagi Rp300.000. Jadi bayangkan kalau ada 50 ribu anggotanya dikali Rp300.000, dia dapat Rp15 miliar tiap bulan dari cloud,” ucap Bangun.

Belum lagi, tersangka membuat satu modus baru yakni menciptakan koin baru EDC CB dengan harga mahal hingga Rp90.000 per koin. 

“Banyak di video dia bisa kita lihat, dia berjanji kapanpun bisa diuangkan. Berapa pun jumlahnya koin yang dijual akan mereka tampung," paparnya.

"Ternyata aplikasi withdraw sempat hilang tidak dapat difungsikan. Sekarang difungsikan itupun dibatasi.  Ada orang yang sudah withdraw Rp2.000.000-Rp5.000.000, tetapi yang cair hanya Rp200.000. Mereka bingung kalau cair Rp200.000 yang Rp4.800.000 ke mana?" imbuh Bangun.

Peristiwa penipuan diduga sudah berjalan selama empat tahun, tapi kebanyakan anggota belum withdraw. Kerugian nasabahnya ada yang Rp300.000.000, ada juga yang sampai Rp3 miliar. Sementara, anggota paling lama ada yang 1,5 tahun.

“Kita berharap Mabes Polri maksimal menyita seluruh harta yang didapat dari hasil kejahatan ini. Setelah ada keputusan incracht dari pengadilan bisa dikembalikan ke masyarakat sesuai dengan kerugian masing-masing. Korban minta uangnya dikembalikan. Kami sangat berharap dari Mabes Polri supaya hasil sitaan dimaksimalkan jangan sampai kabur ke mana-mana,” ujar Bangun.

Diketahui, Bareskrim Polri telah menangkap owner dari aplikasi kripto Elektronik Dinar Coin Cash atau EDCCash berinisial AY, tersangka kasus dugaan penipuan, penggelapan dan tindak pidana pencucian uang, sekaligus kepemilikan senjata api ilegal.

Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dirtipideksus) Bareskrim Polri Brigjen Pol Helmy Santika mengatakan ada 9 tersangka yang ditangkap dalam perkara tersebut, enam orang terkait "money game" dan tiga terkait kepemilikan senjata api.

"Pada kelompok ini dikenakan ada 2 peristiwa yakni 'money game kripto' dan kepemilikan senjata api juga senjata tajam," kata Helmy hari ini.

AY merupakan pendiri aplikasi investasi ilegal dinamai EDCCash, bersama tiga rekannya berinisial EK, BA dan AY.

Menurut Satgas Waspada Investasi (SWI), platform aset kripto EDCCash masuk dalam daftar investasi ilegal sejak Oktober 2020.

Helmy mengatakan Dirtipideksus Bareskrim Polri telah menerima laporan masyarakat terkait investasi bodong EDCCash pada Maret 2021.

Namun, jauh sebelum laporan tersebut masuk, lanjut Helmy, pihaknya telah melakukan penyelidikan dan upaya paksa terhadap para tersangka.

Penyidik juga telah melakukan penggeledahan dan penyitaan terhadap aset para tersangka, berupa 18 unit kendaraan roda empat, uang tunai dalam pecahan rupiah maupun mata uang asing, barang-barang mewah, logam mulia, serta senjata api dan juga senjata tajam.

Menurut Helmy, senjata api ditemukan pada saat penggeledahan di rumah tersangka AY, jenis kaliber 9 mm.

"Senjata api ini sedang lakukan pendalaman. Diakui senpi milik tersangka AY," kata Helmy.

Selain itu, juga ditemukan dua pucuk senjata api lainnya dari beberapa tersangka lainnya berdasarkan hasil penelusuran senjata api milik AY.

Dalam perkara ini, lanjut Helmy, pihaknya membuat dua berkas perkara yakni terkait investasi ilegal dan kepemilikan senjata api.

Adapun AY dan beberapa tersangka lainnya dikenakan dengan pasal berlapis terkait penipuan, penggelapan, tindak pidana pencucian uang, transaksi elektronik, serta undang-undang darurat terkait kepemilikan senjata api.[]

Arief Munandar

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu